16 PESERTA PENDETA DAN VIKARIS IKUT PELATIHAN JURNALISTIK

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, 16 orang peserta yang terdiri dari 14 pendeta dan 2 orang vicaris GMIT mengikuti pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh UPP Komunikasi dan Informasi MS-GMIT, Selasa, 4/07-2017 bertempat di aula jemaat GMIT Anugerah Eltari-Kupang.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari dengan tema “Menjadi Pewarta Yang Pintar Menulis dan Melukis Berita” ini difasilitasi oleh 3 orang nara sumber yakni Pdt. Yetty Maakh-Leyloh, M.Th, yang memberi pendasaran teologis terkait teologi dan komunikasi, Matheos Viktor Messakh mantan jurnalis harian berbahasa Inggris “Jakarta Post” menjadi fasilitator terkait materi-materi teknik dasar menulis jurnalistik dan Danny Wetangterah, fotografer profesional, menyampaikan materi tentang foto jurnalistik.

Teologi dan Komunikasi yang Bertanggungjawab

Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon saat membuka kegiatan ini mengungkapkan bahwa komunikasi dan informasi yang merupakan bagian dari aspek marturia gereja sangat penting untuk dikelola dalam rangka pengembangan pelayanan di GMIT. Melalui pemberitaaan, kata Pdt. Mery, gereja mempromosikan nilai-nilai kerajaan Allah yakni perdamaian, keadilan dan keutuhan ciptaan. Namun, ia juga mengingatkan peserta bahwa dalam bersaksi gereja tidak hanya memberitakan kabar baik yang baik-baik tetapi juga mengecam ketidakadilan.

“Kita perlu belajar bahwa informasi dan komunikasi gereja tidak hanya tentang mengabarkan kabar baik. Tugas marturia yang tidak kalah penting tetapi cenderung disangkali dan dijauhi gereja adalah mengecam ketidakadilan, meratapi kehancuran, mengeritik eksploitasi terhadap orang-orang miskin.”

Dalam kaitan dengan kesaksian gereja tersebut ketua Majelis Sinode GMIT juga mengungkapkan keprihatihanannya terkait menurunnya kualitas teologi dan komunikasi dari mimbar-mimbar gereja. Menurutnya, sebagai murid Kristus, para pendeta yang dipanggil dan diutus untuk memberitakan Firman Allah mesti sungguh-sungguh menggumuli teks-teks Alkitab melalui upaya-upaya hermeneutik yang bertanggungjawab.

“Komitmen untuk menjadi murid yang terus-menerus belajar saya harap menjadi komitmen bergereja kita. Para pendeta yang menyebut diri sebagai murid Kristus harus berkomitmen untuk belajar seumur hidup supaya kualitas informasi kita, pemberitaan kita, khotbah kita, dapat dipertanggungjawabkan kepada Sang Guru tetapi juga kepada mereka yang mendengar berita kita.”

Selain serius menggumuli teks-teks tua dalam Alkitab, ia juga mengingatkan pentingnya membaca konteks sosial, ekonomi, politik, budaya dalam masyarakat dan mendialogkannya dengan teks-teks kitab suci sehingga menghasilkan pemberitaan yang berkualitas. Namun di atas semua itu, kesaksian gereja juga mesti dibangun di atas fondasi berteologi yang berpihak pada kaum yang lemah.

Terkait keberpihakan gereja pada kaum yang lemah, pada kesempatan yang sama Ketua Majelis Sinode GMIT juga menyinggung fenomena pembangunan fisik gedung-gedung gereja dan juga rumah-rumah pelayan yang angkanya menukik hingga beratus-ratus juta rupiah serta status-status pejabat gereja di media sosial yang mengupload perilaku hedonisme sementara jemaat yang dilayani sedang menderita.

“Saya cukup prihatin dengan status-status facebook kawan-kawan pendeta. Menjadi pendeta sekaligus menjadi penjual on line. “Mau beli sepatu yang seragam dengan tas?” Begitu kira-kira status yang  dicontohkan Pdt. Mery.

“Status-status facebook kita menjelaskan siapa kita sesungguhnya dan apa yang sedang kita prihatinkan dengan masyarakat,” lanjutnya. “Kalau status-status itu menceritakan hari ini kami makan 4 sehat 5 sempurna sedangkan jemaat di sebelah kekurangan, dia gelisah karena anaknya hilang dari kampung dan tidak tahu ke mana, kita mesti bertanya apakah kita pewarta yang baik?” tuturnya.

Belajar dari dokumen misi Dewan Gereja se-Dunia 2013, “Mission and Evangelism in Changing Landscapes”,  terutama pokok mengenai  “Mission from the Margins” (misi dari pinggiran), GMIT dengan jemaat-jemaatnya yang masih bergumul dengan kemiskinan, kata Pdt. Mery, misi gereja harus menjadi misi dari pinggiran. Dan di situlah persisnya titik berangkat komunikasi dan informasi menyentuh penderitaan rakyat atau umat” ujarnya menutup suara gembala.

Materi Pelatihan

Selama tiga hari, peserta dibekali dengan teori dan praktik di lapangan. Materi yang dipelajari berupa: definisi, unsur dan nilai berita, perbedaan straight news/hard news dan soft news/news feature, proses pencarian berita, seni mewawancarai, teknik menulis berita, seluk beluk fotografi dan komposisi.

Vicaris Frans Nahak salah satu peserta dari klasis Pantar Barat mengaku senang mengikuti kegiatan ini karena materi-materi yang dipelajari memberinya bekal untuk mengekplor lebih dalam peristiwa-peristiwa di jemaat yang bisa menghasilkan berita.***

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *