Agung Laksono, Ketua Dewan Pakar DPP Golkar Bertemu Majelis Sinode GMIT

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Kamis, (7/3), Ketua Dewan Pakar DPP Golkar, Agung Laksono bertemu Majelis Sinode (MS) GMIT. Agung yang didampingi Melki Laka Lena, (Ketua DPD I NTT) dan Mohammad Ansor (Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT) tiba di kantor MS GMIT sekitar pukul 8.30, dan diterima Ketua MS GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit ini, Agung berbicara mengenai posisi Golkar yang mengusung Jokowi dan Amin Ma’ruf pada Pilpres April mendatang.

Dalam pandangan Golkar, kata Agung, perjuangan partai berlambang pohon beringin ini bukan sekedar memenangkan pasangan ini melainkan terutama menutup jalan bagi kelompok ekstrim kanan yang disinyalir ingin berkuasa dengan menumpang pada ormas-ormas keagamaan yang bisa jadi mengancam keutuhan bangsa di masa mendatang.

“Dalam rangka mengusung calon presiden Jokowi dan Amin Ma’ruf, kami berpandangan bahwa Partai Golkar bukan sekedar berjuang bagaimana memenangkan pasangan ini tapi untuk menghindari lebih jauh jangan sampai kehidupan kebangsaan kita terganggu oleh kelompok ekstrim kanan yang menumpang pada beberapa ormas Islam, dan menggunakan kendaraan tersebut sebagai modus operandi untuk mendominasi kehidupan negara, termasuk merubah konstitusi,” ungkap Agung.

Oleh karena itu, menurut Mantan Menteri Koordinator Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat periode 2009-2014 ini, kelompok ekstrim kanan harus diwaspadai sebab bisa lebih berbahaya dari ekstrim kiri.

Lebih lanjut, Agung mengharapkan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sejak dulu merupakan basis Golkar dapat dan terus memberi kontribusi politik yang konstruktif pada nilai-nilai keragaman.

Terhadap hal yang dikemukakan oleh Ketua Dewan Pakar DPP Golkar tersebut, Ketua MS GMIT mengatakan perjuangan Partai Golkar menjaga keutuhan bangsa juga merupakan komitmen Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT).

“Tadi Pak Agung bicara tentang realitas bangsa kita hari ini dan kami juga melihat hal yang sama, di mana pertarungan ideologi begitu luar biasa. Dan saya kira sikap Golkar itu adalah juga menjadi sikap kami elemen-elemen masyarakat di NTT. Yaitu ide besar kita pada NKRI dan Pancasila. Ini mesti terus-menerus kita dorong menjadi ideologi mayoritas di negeri ini. Untuk itu, kami memberi apresiasi kepada Partai Golkar untuk sikapnya yang seperti itu,” jelas Pdt. Mery.

Sebagai partai nasionalis, Ketua MS GMIT meminta Golkar teguh dalam merangkul perbedaan dan tidak boleh terjebak pada ideologi sektarian yang bisa memicu perpecahan bangsa.

Tentang politik, Ketua MS GMIT menegaskan bahwa politik bukanlah hal yang kotor. Berdasarkan pandangan teologis ini, GMIT secara khusus telah melakukan pendidikan politik bagi warganya yang terjun dalam politik praktis.

“Kita harus menolak pandangan bahwa politik itu kotor. Bagi kami politik itu sesuatu yang mulia dan luhur untuk mengupayakan kesejahteraan bersama. Di lingkup jemaat, klasis dan sinode, kami mendoakan, mendampingi dan meminta perhatian warga gereja kami untuk maju ke medan politik dengan integritas dan menjaga nilai-nilai.”

Sebagai partai yang cukup mendapat kepercayaan masyarakat NTT sejak masa Orde Baru, Ketua MS GMIT juga mengingatkan Partai Golkar agar memberi perhatian pada nasib masyarakat NTT yang masih bergumul dengan persoalan kemiskinan.

“Sebagian besar masyarakat NTT masih percaya Golkar. Bahkan, dulu orang NTT selalu bilang, onme-onme nunuk. Apa pun yang terjadi: beringin. Karena itu, kami berharap Golkar juga memperjuangkan NTT. Sampai hari ini NTT masih menjadi salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Dan karena rakyat percaya Golkar maka kami berharap anggota-anggota legislatif yang ada di pusat maupun di provinsi memperjuangkan nasib rakyat kami,” kata Pdt. Mery.

Selain isu kemiskinan, ia juga menyinggung masalah buruh migran dan kejahatan perdagangan orang yang marak di NTT beberapa tahun terakhir. Untuk itu dirinya mengapresiasi DPD Golkar NTT yang telah membentuk satgas anti human trafficking pada Mei 2018 yang diharapkan bersama-sama Gereja memerangi kejahatan kemanusiaan ini.

Upaya bersama itu kata Pdt. Mery, bukan hanya pada mendampingi para korban tetapi terlebih pada tindakan pencegahan melalui komitmen pemerintah membangun kesejahteraan masyarakat desa.

Merespon masalah buruh migran, Agung berjanji akan mendorong pemerintah baik eksekutif maupun legislatif untuk memberi perhatian pada aspek law inforcement sebab menurut keyakinannya jika penegakan hukum di hulu bermasalah maka hilirnya juga demikian.

Pertemuan diakhiri dengan doa bersama dipimpin Pdt. Mery.

Sebelum meninggalkan ruangan, Agung yang pernah menjabat Ketua DPR RI periode 2004-2009 bercerita singkat mengenai kehidupan keluarganya. Istrinya, Sylvia Amelia Wenas beragama Kristen.

“Dua orang anak ikut ibunya, Kristen. Yang bungsu, ikut saya muslim,” ujar Agung. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *