Allah, Bahasa, dan Kemanusiaan Kita – Pdt. Dr. John Campbell Nelson

sumber foto: http://umbuspiderno.blogspot.com/2011/10/sejarah-dan-agama-asli-suku-sabu-bagian.html

KUPANG,www.sinodegmit.or.id, “Pada mulanya adalah Firman.” Demikian permulaan Injil menurut Yohanes. Tidak ada sapaan pada siapa-siapa, atau basa-basi apapun juga; Yohanes mulai pada permulaan dengan sebuah ungkapan yang pasti mengingatkan para pembaca yang berlatarbelakang Yahudi pada Kitab Kejadian: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. … Berfirmanlah Allah…”. Seolah-olah Yohanes mau mengatakan bahwa dengan Yesus Kristus ada ciptaan baru, atau paling sedikit bahwa kehadiran Yesus menuntut kita untuk memikirkan kembali segala sesuatu, mulai dari penciptaan.

Tapi mengapa Yohanes mulai dengan Firman, dan bukan dengan Kristus atau Allah?  Memang dia segera menjelaskan Firman itu adalah Firmannya siapa: “…dan Firman itu adalah Allah.”  Dan berikut: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.”  Demikian dengan gaya puitisnya yang khas, Yohanes menghubungkan “Firman” dengan Allah, penciptaan, Yesus Kristus, dan manusia. Di situ kita bisa melihat mengapa peranan Firman begitu sentral bagi Yohanes, karena Firmanlah yang menghubungkan semua. Melalui Firman, Allah menciptakan langit dan bumi, melalui Firman manusia beroleh hidup dan terang, sebagai Firman Yesus Kristus menyatakan Allah kepada manusia, dan manusia menjawab dengan memuji dan bersaksi.

Pdt. Dr. John Campbell Nelson

Dalam hal ini Yohanes melanjutkan dan mengembangkan suatu ciri khas dari tradisi iman Yahudi:  Allah kita adalah Allah yang berfirman, yang berbicara, yang berjanji, yang mendengar dan menjawab –Allah yang berhubungan dengan manusia terutama melalui bahasa.  Hal ini tidak begitu lazim di antara agama-agama manusia.  Kebanyakan tradisi agama suku misalnya mencari tanda-tanda kehendak Allah dalam posisi bulan dan bintang, urat hati binatang korban, pecahan telur, mimpi dan penglihatan, dsb.  Manusia mohon kepada Allah melalui ritus dan korban, dan memperoleh jawaban melalui tanda-tanda alam atau peristiwa apa yang menyusul permohonannya, apakah sesuai dengan permintaan atau tidak. Tapi Allah yang berbicara dengan manusia seperti dengan Adam di taman Firdaus, Musa di depan pohon semak atau Elia di goa adalah hal yang agak istimewa. Keistimewaannya bukan bahwa dengan demikian kita lebih mengenal kehendak Allah dari penganut agama yang lain, tapi bahwa pada inti iman kita terdapat keyakinan bahwa Allah hendak berelasi dengan manusia, hampir bagaikan sahabat dengan sahabat, dan relasi itu terjalin terutama melalui bahasa.

Hal itu tercermin dalam perilaku beragama kita, yang begitu terfokus pada bahasa:  kita berdoa, bersaksi, berkhotbah, mengajar, mengaku, dan memuji Tuhan terutama dengan bahasa. Begitu penting peranan bahasa dalam tradisi iman kita, sampai ada yang mengaitkan kemampuan berbahasa sebagai imago dei (citra Allah) dalam diri manusia.  Sejauh kita tahu, manusia adalah satu-satunya makhluk yang berbahasa, dan dalam kisah Kejadian karya ciptaan Allah belum selesai sampai Adam memperoleh “kawan bicara” dalam diri Hawa. Karya manusia yang pertama (menurut Kejadian) juga berkaitan dengan bahasa: Allah menciptakan segala jenis binatang dan membawa mereka pada Adam untuk diberi nama. Dengan demikian, menamakan seisi dunia adalah partisipasi manusia dalam karya ciptaan Allah. Pemberian nama adalah bagian manusia dalam penataan ciptaan Tuhan—logos dari Allah disambut dengan logika dari manusia.

Sebaliknya, sesuatu yang belum diberi nama, belum juga dirangkul dan diberi tempatnya dalam tatanan ciptaan Tuhan.  Sebagai contoh: Kalau kita bertamu di sebuah kampung di pedesaan NTT, di sekitar kita ada sejumlah bukit, batu, hutan, kebun, padang, mata air dan kali. Alam semesta tampil pada kita kurang lebih sebagaimana diciptakan Tuhan. Tapi hati-hati: kalau kita masuk ke dalam hutan itu, kita bisa cepat kesasar. Lain halnya bagi penduduk asli. Bagi mereka, setiap batu yang besar ada namanya dan ada ceritanya: Nua Bi Eli adalah tempat dimana nenek berlindung sebelum rumah yang pertama dibangun; Maun Ana adalah lokasi di mana Belanda pertama-tama menurunkan anakan kopi, dan suruh ba’i untuk jaga anakan-anakan itu “seperti anak ayam.” Setiap pohon dikenal menurut jenisnya dan manfaatnya, dan setiap tanaman diketahui fungsinya sebagai obat atau makanan paceklik. Seluruh alam yang bagi kita “anonim” justru dicoret dengan nama-nama dan kisah-kisah yang mengandung riwayat kehadiran manusia di sana serta kearifan lokal yang menyokong kehidupan sehari-hari.

Contohnya diambil dari TTS, tapi di seluruh NTT lingkungan hidup kita ditandai dan dikisahkan, masing-masing tempat menurut nama kampung dan bahasa kampungnya.  Bagi kita itu hal yang biasa saja, tapi dari segi teologis, ini semua adalah wujud dari kemitraan manusia dengan Allah dalam mengelola dan mengembangkan dunia ciptaanNya. Keanekaragaman hayati yang kita terima sebagai ciptaan Allah disambut oleh manusia dengan keanekaragaman bahasa dan budaya.

Kekayaan yang tercipta oleh ko-kreasi yang kolektif ini tidak terbatas pada lingkungan alam. Bahasa adalah wahana utama dalam pembentukan persekutuan dan jati diri manusia sendiri. Sama seperti alam yang harus diberi nama baru menjadi bagian dari “dunia” kita, demikian juga dengan kemanusiaan kita. Di seluruh dunia, dengan sekian banyak bahasa dan budaya, tidak ada satupun yang tidak memiliki kebiasaan untuk memberi nama pada setiap bayi yang lahir. Nama itu boleh berubah di kemudian hari untuk mencerminkan identitas atau status yang baru, tapi pada dasarnya tidak ada manusia tanpa nama.

Demikian juga dengan pengalaman dan perasaan batin kita—ia harus dinamakan dan dikisahkan baru menjadi bagian dari diri kita. Perhatikan saja apa yang terjadi setelah sebuah peristiwa besar dalam kampung, misalnya ada gempa bumi. Tetangga berkumpul dengan tetangga, keluarga dengan keluarga, dan mereka mulai bercerita.  Cerita menyambung cerita, diulangi, ditambah, dikurangi, dibumbui, sampai pada akhirnya pengalaman yang “liar” dan membingungkan itu telah menjadi bagian dari riwayat hidup, baik pribadi maupun kolektif. Apa yang tidak diceritakan berlalu seolah-olah tidak terjadi.

Dalam skala besar, proses penceritaan itu yang membentuk dan melangsungkan identitas sebuah suku atau bangsa. Kita ambil contoh dari Alkitab: pada waktu Abraham baru mau ke luar dari Ur, suku Hit berdaulat atas suatu wilayah yang luas; Mesir pun takut keperkasaan prajurit-prajurit Hit. Tapi di mana suku Hit sekarang? Tidak ada. Musnah. “Tidak ada dia pung cerita.” Sedangkan bangsa Israel yang masih anonim waktu itu, yang hanya ada sebagai sebuah janji yang dipegang dalam hati Abraham–mereka masih ada sampai sekarang.  Karena cerita mereka masih dikisahkan.

Apa yang berlaku bagi sebuah bangsa, berlaku juga bagi pribadi-pribadi. Dari pengalaman pastoral kami alami bahwa pengalaman dan perasaan batin yang belum “dibahasakan” belum juga mendapat tempat dalam jati diri seseorang. Ada seorang isteri yang menyatakan cinta kasih terhadap suaminya, “meskipun ia sering keluar sampai lat…meskipun ia kurang memberi perhatian pada anak-anak…meskipun ia suka marah kalau makanan terlambat…”  Sekian banyak “meskipun” menyembunyikan apa?  Ibu ini sebenarnya marah, tapi dia belum sanggup menyatakannya, dan oleh karena itu sebagian dari hatinya masih gelap, bahkan pada dirinya sendiri. [Sebaliknya seorang bapak bisa memarahi anaknya terus-menurus: Jangan ke luar sampai lat malam, jangan ngebut dengan motor, jangan minum mabuk! Sepertinya dia marah, tapi sebenarnya dia mengasihi anaknya dan takut jangan sampai terjadi apa-apa.] Sebagian besar dari pendampingan pastoral justru terdiri dari upaya untuk menolong orang menemukan bahasa yang tepat untuk menamakan isi hati mereka. Seperti dalam contoh tentang batu dan hutan di atas, aspek kepribadian kita yang belum dikisahkan dalam “bahasa hati” bagaikan hutan rimba dalam diri kita.

Dari beberapa contoh di atas, kiranya jelas bahwa bahasa adalah aspek yang sangat sentral dalam kemanusiaan kita. Bahasa bisa mempersatukan atau mengasingkan, memberitakan kebenaran atau membohongi, menyatakan cinta atau kebencian.  Terlebih, bahasa adalah wahana komunikasi kita dengan Allah dan keikutsertaan kita dengan karya ciptaanNya.  Begitu besar peranan bahasa, sampai ada seorang teolog yang mengatakan bahwa gereja yang sejati justru ditandai oleh pemanfaatan bahasa:  Gereja adalah tempat di mana kita mengalami komunikasi timbal-balik yang terdalam, baik dengan sesama maupun dengan Tuhan.

Kalau kita mengamini dan meyakini pemahaman eklesiologis seperti yang di atas, kita harus juga meninjau kembali praksis pelayanan kita. Bagaimana kalau orang yang sehari-hari berkomunikasi secara akrab dalam bahasa kampungnya, tapi tiba-tiba kalau ke gereja harus mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan dalam bahasa yang dia hanya setengah mengerti, dan hanya dipakai kalau ada urusan dengan orang “luar”?  Apa dampaknya terhadap iman kalau ia berdoa pada Allah di gereja dan kepada Uis Neno, Lahtal, Deo, Nai Maromak atau Lama Tua kalau di kebun? Apakah dia masih memahami bahwa dia berdoa kepada Allah yang Maha Esa, ataukah tersirat dalam perbedaan bahasa itu adalah suatu implikasi bahwa ada Allah yang satu untuk gereja dan Allah yang lain untuk kebun?

Pertimbangan-pertimbangan seperti ini menuntut kita untuk lebih menghargai pemanfaatan bahasa lokal dalam pelayanan.  Inilah salah satu alasan mengapa GMIT memiliki Unit Bahasa dan Budaya untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa daerah di NTT, dan mengapa GMIT menetapkan bulan Mei sebagai Bulan Bahasa.  Dalam hal ini gereja setia pada peristiwa Pentakosta: kalau Allah berkenan menghampiri manusia masing-masing dalam bahasa mereka sendiri, maka panggilan gerejaNya pun demikian.  Sebab sama halnya dengan iman seperti dalam penciptaan: “Pada mulanya adalah Firman.” ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *