BAHAN MINGGU SENGSARA 2017

TEMA PASKAH 2017:

“Kebangkitan Kristus Membebaskan Kita dari Kuasa Kematian”
(Roma 6:10)

 

 

Tata Ibadah Minggu Sengsara 1

Minggu, 26 Februari 2017

 

TINGGAL BERSAMA ALLAH DALAM FIRMAN-NYA

 


Persiapan

  • Saat Teduh/doa pribadi
  • Pembacaan Pokok-pokok warta Jemaat
  • Penyalaan Lilin

Panggilan Beribadah

Pnt           :  Minggu-minggu Sengsara adalah saat di mana kita melekatkan diri pada Tuhan dengan lebih intensif. Kita mengenang karya kasih Tuhan dalam derita dan sengsara yang mesti dipikul-Nya. Dengan satu hati, mari kita memasuki Ibadah Minggu Minggu Sengsara 1 ini dengan menengadah kepada-Nya, memohon berkat-Nya!

Nyanyi     :  KJ 58:1,3 (Jemaat berdiri, sementara itu pelayan ibadah memasuki ruang ibadah)

MAHAKASIH YANG ILAHI

do = bes    4 ketuk

Mahakasih yang ilahi, nikmat sorga turunlah

mendiami hati kami; Kau mahkota kurnia.

Yesus, Kau berlimpah rahmat, sumber kasih yg besar!

Datanglah membawa s’lamat bagi kami yang gentar.

Penebus, yang mahakuasa, b’rilah kami hidup-Mu.

Datang dan senantiasa tinggal dalam umat-Mu,

hingga beserta malaikat yang mengabdi, menyembah,

kami turut memuliakan kasih-Mu selamanya.

 

Votum

Pelayan   :  Pertolongan kita adalah di dalam nama Tuhan, Pencipta  langit dan bumi, yang senantiasa setia dan tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya.

Nyanyi     :  Amin, amin, amin!

Salam

Pelayan   :  Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai Saudara sekalian.

Jemaat    :  Dan menyertai Saudara juga. (duduk)

Nas Pembimbing

P               :  Dalam Minggu Sengsara 1 ini kita diarahkan agar tinggal bersama Allah dalam Firman-Nya. Karena itu, ingatlah akan firman-Nya: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yoh. 15:7)

Nyanyi     : KJ 405:1-3

KAULAH, YA TUHAN, SURYA HIDUPKU

do = es    3 ketuk

Kaulah, ya Tuhan, Surya hidupku;

asal Kau ada, yang lain tak perlu.

Siang dan malam Engkau kukenang;

di hadirat-Mu jiwaku tenang.

Kaulah Hikmatku, Firman hidupku;

Kau besertaku dan ‘ku serta-Mu.

Engkau Bapaku, aku anak-Mu

dengan-Mu, Tuhan, ‘ku satu penuh.

Kaulah bagiku tempat berteduh;

Kaulah perisai dan benteng teguh.

Sukacitaku kekal dalam-Mu;

Kuasa sorgawi, Engkau kuasaku.

Pengakuan Dosa

Pnt           :  Sebagai manusia, seringkali hati kita mudah tergiur dengan hal-hal yang membuat kita kurang melekat kepada Tuhan. Kita cenderung tergoda melekat pada manusia dan hal-hal duniawi…

Nyanyi     :  KJ 44

TUHAN, KASIHANILAH

la = fis    6 ketuk (2×3)

Jemaat     :  Tuhan, kasihanilah!

Kristus, kasihanilah!

Tuhan, kasihanilah!

Pnt           :  Dunia ini porak poranda,

dosa melanda umat manusia;

banyak sengsara, itu akibatnya.

Jemaat     :  Tuhan, kasihanilah!

Kristus, kasihanilah!

Tuhan, kasihanilah!

Pnt           :  Banyak yang hidup tanpa harapan,

lapar dan miskin; siapa menolongnya?

Banyak yang mati; siapa mengingatnya?

Jemaat     :  Tuhan, kasihanilah!

Kristus, kasihanilah!

Tuhan, kasihanilah!

Pnt           :  Juruselamat, Maha Pengampun,

dosa Kauhapus di atas salib-Mu.

Bangkitkan kami di kebangkitan-Mu.

Jemaat     :  Tuhan, kasihanilah!

Kristus, kasihanilah!

Tuhan, kasihanilah!

Berita Anugerah

Pelayan   : “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan dibangkitkan untuk mereka. Dan semuanya ini dari Allah yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami“ (2 Kor. 5:15,18).

Sebagaimana Tuhan telah memperdamaikan kita dengan diri-Nya, marilah kita berdamai satu dengan lainnya.

(umat saling berjabatan tangan sambil mengucapkan “damai Tuhan bersamamu”)

Nyanyi     :  PKJ 14

KUNYANYIKAN KASIH SETIA TUHAN

do = c      4 ketuk

Kunyanyikan kasih setia Tuhan

selamanya, selamanya.

Kunyanyikan kasih setia Tuhan selamanya,

kunyanyikan selamanya.

Kututurkan tak jemu kasih setia-Mu, Tuhan;

Kututurkan tak jemu kasih setia-Mu turun temurun.

Kunyanyikan kasih setia Tuhan

selamanya, selamanya.

Kunyanyikan kasih setia Tuhan selamanya,

kunyanyikan selamanya.

Pujian Mazmur 99 (berdiri)

Pnt           :  TUHAN itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar.

Jemaat     :  IA DUDUK DI ATAS KERUB-KERUB, MAKA BUMI GOYANG.

Pnt           :  TUHAN itu maha besar di Sion,

Jemaat     :  DAN IA TINGGI MENGATASI SEGALA BANGSA.

Pnt           :  Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat;

Jemaat     :  KUDUSLAH IA!

Pnt           :  Raja yang kuat, yang mencintai hukum,

Jemaat     :  ENGKAULAH YANG MENEGAKKAN KEBENARAN;

Pnt           :  hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub,

Jemaat     :  ENGKAULAH YANG MELAKUKANNYA.

Pnt           :  Tinggikanlah TUHAN, Allah kita,

Jemaat     :  DAN SUJUDLAH MENYEMBAH KEPADA TUMPUAN KAKI-NYA! KUDUSLAH IA!

Pnt           :  Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya,

Jemaat     :  DAN SAMUEL DI ANTARA ORANG-ORANG YANG MENYERUKAN NAMA-NYA. MEREKA BERSERU KEPADA TUHAN DAN IA MENJAWAB MEREKA.

Pnt           :  Dalam tiang awan Ia berbicara kepada mereka;

Jemaat     :  MEREKA TELAH BERPEGANG PADA PERINGATAN-PERINGATAN-NYA DAN KETETAPAN YANG DIBERIKAN-NYA KEPADA MEREKA.

Pnt           :  TUHAN, Allah kami, Engkau telah menjawab mereka,

Jemaat     :  ENGKAU ALLAH YANG MENGAMPUNI BAGI MEREKA, TETAPI YANG MEMBALAS PERBUATAN-PERBUATAN MEREKA.

Pnt           :  Tinggikanlah TUHAN, Allah kita,

Jemaat     :  DAN SUJUDLAH MENYEMBAH DI HADAPAN GUNUNG-NYA YANG KUDUS! SEBAB KUDUSLAH TUHAN, ALLAH KITA!

Nyanyi     :  PKJ 7

(umat duduk)

PS/VG

Pelayanan Firman Tuhan

Pnt  :  (Doa Epiklese)

Pujian Pengantar Firman KJ. 53:1 “Tuhan Allah T’lah Berfrman”

Refr:  Tuhan Allah t’lah berfirman, Haleluya,

pada umat sabda hikmat, Haleluya!

Buka telinga, hai umat-Nya, kabar yang baik dengarkanlah!
Buka hatimu: Tuhan datang, hai yang beriman. (Refr)

Pnt  :  (Membaca Keluaran 24:12-18, diakhiri dengan berkata:) Demikianlah Sabda Tuhan.

P     :  Yang berbahagia adalah mereka yang mendengar Firman Allah dan yang memeli­haranya. Hosiana!

J     : Menyanyikan KJ 473a “Hosiana”

P     :  (berkhotbah)

PS/VG

Pengakuan Iman (berdiri)

Pnt            :  Bersama dengan umat Tuhan di segala abad dan tempat, marilah kita memperbarui iman percaya kita dengan menyanyikan pengakuan iman seturut KJ 280

Nyanyi     :  KJ 280:1-3

AKU PERCAYA

do = f    2 ketuk

Aku percaya Allah yang kekal,

yang oleh Sabda kita kenal:

Bapa Pencipta alam semesta,

yang mengasihi manusia.

Aku percaya Putra Tunggal-Nya

yang disalibkan di Golgota.

Yang dari kubur bangkit dan menang,

naik ke surga dalam terang.

Aku percaya pada Roh Kudus

yang mendiami kita terus.

Aku percaya G’reja yang esa;

ku jadi suci di dalamnya. (duduk)

Persembahan

Dkn          :  Saudara-saudari kekasih Tuhan, dengan penuh syukur mari kita haturkan persembahan yang telah kita siapkan dari rumah seraya mengingat firman-Nya dalam 1 Tawarikh 29:11-13, demikian: “Ya Tuhan, punyamulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya Tuhan, punyamulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya. Sekarang, ya Allah kami, kami bersyukur kepada-Mu dan memuji nama-Mu yang agung itu.”

Marilah berdoa: ….

Nyanyi     :  PKJ 25:1-2

MULIAKAN NAMA TUHAN

do = g       4 ketuk

Muliakan nama Tuhan bersama rebana dan nyanyian.

Sajikan persembahan bersama pujian dan tarian.

Refr:  Hai, mari bersama-sama kita nyanyi

dan menari bersukaria.

Kendati adapun susah dalam hati,

Tuhan pasti menghibur kita.

Nyanyikan lagu baru bersama gend’rang bertalu-talu.

Dengungkanlah suaramu selembut suara suling bambu.

Doa Syafaat

Nyanyian Pengutusan

Nyanyi     :  PKJ 165:1-3

JANJI YANG MANIS

do = as       4 ketuk

Janji yang manis: “Kau tak Kulupakan,”

tak terombang-ambing lagi jiwaku.

Walau lembah hidupku penuh awan,

nanti ‘kan cerahlah langit di atasku.

Refr:  “Kau tidak ‘kan Aku lupakan,

Aku memimpinmu, Aku membimbingmu;

Kau tidak ‘kan Aku lupakan,

Aku Penolongmu yakinlah teguh”.

Yakin ‘kan janji: “Kau tak kulupakan,”

dengan sukacita aku jalan t’rus.

Dunia dan kawan tiada kuharapkan,

Satu yang setia: Yesus, Penebus.

Dan bila pintu sorga dibukakan,

Selesailah sudah susah dan lelah.

‘Kan kudengarlah suara mengatakan:

“Hamba yang setiawan, mari masuklah”.

Berkat

Pelayan   :  Tetap melekatlah kepada Tuhan dan jadilah saksi Tuhan di manapun Saudara berada!

Jemaat    :  Syukur kepada Tuhan! Kami mau menjadi saksi-Nya.

Pelayan    :  Sekarang arahkanlah hati Saudara kepada Tuhan dan terimalah berkat-Nya:

“Tuhan memberkati saudara dan melindungi saudara. Tuhan menyinari saudara dengan wajah-Nya dan memberi saudara kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepada saudara dan memberi saudara damai sejahtera”

J               :  AMIN

Nyanyi     :  KJ 410:1,3

TENANGLAH KINI HATIKU

do = d    4 ketuk

Tenanglah kini hatiku: Tuhan memimpin langkahku.

Di tiap saat dan kerja tetap kurasa tangan-Nya.

Refr:  Tuhanlah yang membimbingku;

tanganku dipegang teguh.

Hatiku berserah penuh,

tanganku dipegang teguh.

Tak kusesalkan hidupku, betapa juga nasibku.

Sebab Engkau tetap dekat, tangan-Mu kupegang erat

 

Tata Ibadah Minggu Sengsara 2

Minggu, 05 Maret 2017

 

KEMATIAN MELALUI ADAM, KEHIDUPAN MELALUI KRISTUS

 

 

 

Persiapan

  • Saat Teduh/doa pribadi
  • Pembacaan Pokok-pokok Pewartaan
  • Penyalaan lilin

Panggilan Beribadah

Pnt           :  Minggu ini kita memasuki Minggu Sengsara 2, masa kita merenungkan sengsara Yesus Kristus menuju penggenapan maksud Bapa di Yerusalem. Setiap kali kita mengenang dinamika dan pasang surut perjalanan Kristus dalam memenuhi panggilan tugas dari Bapa, kita dapat merasakan betapa agungnya hati Kristus. Tantangan, tekanan dan godaan berlalu lalang menyerang Dia namun Dia tetap taat dan patuh, fokus pada tugas utama-Nya, memenuhi panggilan Ilahi. Dia mengajar kita tentang bagaimana menempatkan Bapa sebagai pusdat kehendak dan menepiskan hasrat diri yang berorientasi pada kepentingan diri.

Mari kita berdiri dan memuliakan keagungan hati Kristus dengan menyanyikan kembali PKJ 2.

Jemaat     :  TUHAN YANG MAHAHADIR, MAMPUKANLAH KAMI MENGERTI TUJUAN TUHAN DALAM HIDUP KAMI.

Nyanyi     :  PKJ 2:1 (berdiri, sementara itu pelayan ibadah memasuki ruang ibadah)

Votum

P               :  Ibadah Minggu Sengsara kedua ini berlangsung dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Nyanyi     :  AMIN, AMIN, AMIN.

Salam

Pelayan   :  Tuhan beserta Saudara!

Jemaat    :  DAN BESERTA SAUDARA JUGA. (duduk)

Kata Pembuka dan Pengakuan Dosa

Pelayan   :  Manusia diciptakan sungguh amat baik! Namun manusia juga rentan terhadap goda dan coba.  Terbukti Adam dan Hawa jatuh dalam dosa ketika digoda dan dicoba oleh Setan. Di Minggu Sengsara 2 ini marilah kita mengingat sengsara Kristus. Setiap kita merenungkannya, kita tunduk menilik diri: apakah kita masih menempatkan Kristus sebagai pusat cinta, cita, nalar, rasa dan kehendak kita? Ataukah sesungguhnya acap kita melakukan apa saja demi kepentingan pribadi, lepas dari tuntunan Ilahi? Nafsu akan harta, kenikmatan tanpa batas, popularitas dan pembenaran sering kita kemukakan sebagai bentuk kompromi dengan godaan. Jabatan dan fasilatas kita manfaatkan sedemikian rupa sehingga memperbesar peluang untuk meraup keuntungan pribadi. Sedemikian sesatkah manusia di hadapan Allah?

(saat hening, umat berdoa secara pribadi mengaku kelemahan diri atas segala godaan duniawi. Kemudian Pelayan mengakhiri dengan doa bersama melalui nyanyian KJ 28:1-6)

Nyanyi     :  KJ 28:1-6

YA YESUS, TOLONGLAH

do = d    4 ketuk

Jemaat     :  Ya Yesus, tolonglah, hapuskan dosaku
dan dari nafsu dunia lepaskan hambaMu.

Wanita     :  Ya Yesus, dengarlah seruan hatiku,
lengkapi aku yang lemah sebagai laskarMu.

Pria          :  Ya Yesus, yang menang, sertai hambaMu
b’ri di sengsara dan perang percaya yang teguh.

Jemaat     :  Ya Yesus, pmpinlah, tetaplah Kau dekat,
supaya ke neg’ri baka jalanku tak sesat.

Wanita     :  Ya Yesus, lihatlah serangan seteru,
lumpuhkanlah senjataNya dengan kuasaMu.

Pria          :  Ya Yesus Penebus, berilah akhirnya
kesukaan-Mu yang kudus di negeri baka.

Berita Anugerah

Pelayan    : Di dalam Tuhan, Saudara diampuni!

Jemaat     :  DI DALAM TUHAN, SAUDARA JUGA DIAMPUNI.

Pelayan    :  Marilah kita merespons pengampunan ini dengan itikad baik memperbarui diri sesuai dengan Firman-Nya: “Karena itu, kalau kamu dibang­­kitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.  Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. (Kolose 3: 1-2)

Demikianlah berita Anugerah dari Tuhan.

Jemaat     :  SYUKUR KEPADA ALLAH!

(umat saling berjabatan tangan sambil mengucapkan “damai Tuhan bersamamu”)

Nyanyi     :  PKJ 258:1-2

‘KU INGIN SELALU DEKAT PADA-MU

do = es    3 ketuk

‘Ku ingin selalu dekat pada-Mu,

mengiringi Tuhan tiada jemu.

Bila Kau pimpin jalan hidupku,

tidak ‘ku takut ‘kan s’gala set’ru.

Refr:  O Jurus’lamat, pegang tanganku;

bimbingan-Mu itu ‘ku perlu.

B’ri pertolongan kuat kuasa-Mu.

O Tuhan Yesus, pegang tanganku!

Gelap perjalanan yang aku tempuh,

namun teranglah dalam jiwaku.

Susah sengsara kini kud’rita;

damai menanti di sorga baka.

Pujian Mazmur 32 (berdiri)

Pria          :  Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya,

Wanita     :  yang dosanya ditutupi!

Pri            : Berbahagialah manusia,

Wanita     :  yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!

Pria          : Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu

Wanita     :  karena aku mengeluh sepanjang hari;

Pria          : sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat,

Wanita     :  sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas.

Pria          : Dosaku kuberitahukan kepada-Mu

Wanita     :  dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan;

Pria          :  aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,”

Wanita     :  dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.

Nyanyi     : KJ 293:1

PUJI YESUS! PUJILAH JURUSELAMAT!

do = g   6 ketuk

Puji Yesus! Pujilah Juruselamat!

Langit, bumi, maklumkan kasih-Nya!

Haleluya! Nyanyilah, para malaikat:

kuasa, hormat b’rilah kepada-Nya.

Selamanya Yesus Gembala kita,

siang malam kita didukung-Nya.
Puji Dia! B’ritakan keagungan-Nya!

Puji Dia! Mari bernyanyilah! (duduk)

Pelayanan Firman Tuhan

Pnt           :  (berdoa dan membaca Roma 5:12-21, diakhiri dengan berkata:)

Demikianlah sabda Tuhan!

P               :  Yang berbahagia adalah mereka yang mendengar sabda Tuhan dan yang memeli­haranya, Hosiana!

Nyanyi     : KJ 473a “Hosiana”

P               :  (berkhotbah)

Saat teduh 

Pengakuan Iman (berdiri)

Pnt            :  Bersama dengan umat Tuhan di segala abad dan tempat, marilah kita memperbarui iman percaya kita dengan mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli, demikian:

Pnt + J     :  Aku percaya …..

Nyanyi     : KJ 38

T’LAH KUTEMUKAN DASAR KUAT

do = f     4 dan 2 ketuk

T’lah kutemukan dasar kuat,

tempat berpaut jangkarku.
Kekal, ya Bapa, Kau membuat

Putra-Mu dasar yang teguh:
Biarpun dunia lenyap, pegangan hidupku tetap!

Persembahan

Dkn          :  Ketika mendapat kesempatan menyampaikan persembahan syukur ini, marilah kita mengingat bahwa yang Tuhan inginkan bukan sekadar persembahan materi, melainkan kesung­guhan hati dalam memberi hidup untuk memuliakan Tuhan, seperti tertulis, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembah­kan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Mari kita berdoa: …

Nyanyi     :  KJ 363:1-4

 

BAGI YESUS KUSERAHKAN

do = f    4 ketuk

Bagi Yesus kuserahkan hidupku seluruhnya;

hati dan perbuatanku, pun waktuku milik-Nya.

Bagi Yesus semuanya, pun waktuku milik-Nya.

Bagi Yesus semuanya, pun waktuku milik-Nya.

Tanganku kerja bagi-Nya, kakiku mengikut-Nya;

mataku memandang Yesus; yang kupuji Dialah!

Bagi Yesus semuanya, yang kupuji Dialah!

Bagi Yesus semuanya, yang kupuji Dialah!

Ya, sejak kupandang Yesus, kutinggalkan dosaku;

pada Dia ‘ku terpaut, Dia Jurus’lamatku.

Bagi Yesus semuanya, Dia Jurus’lamatku.

Bagi Yesus semuanya, Dia Jurus’lamatku.

O betapa mengagumkan! Maharaja semesta

mau memanggilku sahabat; aku dilindungi-Nya!

Bagi Yesus semuanya; aku dilindungi-Nya!

Bagi Yesus semuanya; aku dilindungi-Nya!

Doa Syafaat

Pengutusan

Pelayan    :  Tuhan menunjukkan teladan bagaimana bersikap bijak memandangjabatan dan wewenang.

Jemaat     :  MAMPUKANLAH KAMI MENELADANI-MU, YA TUHAN!

Pelayan    :  Tuhan menghendaki agar kita menang terhadap setiap pencobaan!

Jemaat     :  MAMPUKANLAH KAMI, TUHAN, DENGAN KUASA ROH-MU!

Pelayan    :  Marilah kita nyatakan kesediaan kita dalam nyanyian KJ 436:1-3

Nyanyi     : LAWANLAH GODAAN

do = as     6/4

Lawanlah godaan, s’lalu bertekun; tiap kemenangan
kau tambah teguh; nafsu kejahatan harus kautentang;
harap akan Yesus: pasti kau menang.

Refr: Mintalah pada Tuhan, agar kau dikuatkan;
Ia b’ri pertolongan: pastilah kau menang.

Tinggalkan yang jahat, dosa dicegah; tindakanmu
tulus tiada bercela: junjung kebenaran, hidup dalam
t’rang, harap akan Yesus: pasti kau menang.

Allah memberikan tajuk mulia bagi yang berjaya
di dalam iman; Kristus memulihkan kau yang
tertekan, harap akan Yesus: pasti kau menang.

Berkat

Pelayan   :  Arahkanlah hati dan pikiranmu kepada Tuhan, dan terimalah berkat-Nya: “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Amin.

Nyanyi    :  NKB 225 HOSIANA [5x] AMIN [3x].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kerangka Khotbah Minggu Sengsara 1

Minggu, 26 Februari 2017

 

TINGGAL BERSAMA ALLAH DALAM FIRMAN-NYA

Keluaran 24:12-18

 

 

 

Pengantar

Perjalanan Umat Israel dari Mesir ke tanah perjanjian menyimpan banyak cerita. Kitab Keluaran Yang paling sering kita baca dan kita renungkan adalah kisah penderitaan. Pasal pertama langsung bercerita tentang suasana penindasan di Mesir. Kisah Israel yang menderita menjadi model untuk membangun iman umat masa kini. Bahwa perjalanan Israel atau pengembaraannya di padang gurun sebelum sampai ke tanah kanaan memang menuai banyak penderitaan tetapi pada saat yang sama Tuhan tidak tinggal diam. Penderitaan kerap dialami dalam perjalanan pengembaraan itu tetapi pada saat yang sama tangan Tuhan yang kokok dan kuat itu menolong mereka keluar dari berbagai kesulitan selama perjalanan itu.

 

Ulasan Teks

Teks Keluaran 24:12-18 menceritakan permintaan Tuhan Allah kepada Musa dan  Yosua naik ke atas gunung Sinai untuk menerima Loh Batu yang berisi hukum dan perintah bagi umat Israel.kalau kita membaca dengan baik teks ini, ternyata teks berakhir tanpa kita mendapatkan informasi apakah  Musa dan Yosua kembali membawa Loh Batu yang dijanjikan oleh Tuhan atau tidak. Teks berakhir pada ayat 18 di mana Tuhan Allah menjumpai Musa dalam awan yang tebal. Ia bahka tinggal empat puluh hari empat puluh malam di atas gunung. Justru Loh Batu baru diberikan oleh Tuhan Allah di pasal 31.

Umat diminta untuk menunggu sedangkan Musa dan Yosua naik ke puncak gunung. Meninggalkan umat dalam kondisi yang kurang kondusif bukan tanpa risiko. Di pasal-pasal berikutnya, ternyata ketika Musa kembali dari gunung justru umat telah menyimpang dari hadapan Tuhan. “Seluruh bangsa menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun dan dibuatnya anak lembu tuangan (32:3-4). Rupanya meninggalkan umat empat puluh hari empat puluh malam bukan waktu yang pendek untuk tetap bertahan dalam iman dan pengharapan menghadapi situasi sulit dan penderitaan karena perjalanan yang belum kenal ujungnya. Musa belum turun dari gunung sinai tetapi Tuhan Allah sudah tahu persis apa yang dilakukan oleh Umat di bawah sana. “Pergilah, turunlah sebab bangsamu  yang engkau pimpin dari tanah Mesir telah rusak lakunya (32:7)”. Empat puluh hari Musa bersama Tuhan dan masuk ke dalam kemuliaan Tuhan di atas gunung Sinai dan selama itu umat tidak bertahan untuk menunggu. Durasi empat puluh hari itu terlalu lama bagi umat untuk bertahan dalam iman kepada Tuhan Allah. Ketidaksabaran Umat menunggu kembalinya Musa bukan saja mencederai iman mereka tetapi sekaligus mengingkari akan pengakuan bahwa Tuhan Allah lah yang membawa mereka keluar dari Mesir dan akan terus membawa mereka masuk ke tanah Kanaan , tanah Perjanjian.

Transfigurasi yang dialami Musa di atas gunung sinai kemudian terulang lagi pada zaman Yesus. Petrus, Yakobus dan Yohanes menyaksikan bagaimana Musa hadir lagi saat   Yesus berubah rupa dengan pakaian putih berkilat-kilat (Mark 9:2,3). Sebuah simbolisasi kepemimpinan Musa yang diagungkan oleh Israel turun temurun terulang kembali. Pada konteks Perjanjian Baru, kehadiran Musa dan  Elia yang diakui sebagai tokoh besar yang dijunjung dan dihormati pada saat Yesus dimuliakan dalam kisah Injil Markus dapat juga dibaca sebagai simbolisasi baru kepemimpinan di dalam Israel. Musa dan Elia telah tiada. Mereka meninggalkan kesan kepemimpinan yang kuat atas Israel. Sekarang , model kepemimpinan itu mendapat format baru di dalam Yesus. Di dalam Yesus, Israel dituntun menuju masa depan kehidupan yang menyelamatkan. Yesus bukan saja wakil Allah yang memimpin Israel tetapi Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia. Di dalam Yesus kepemimpinan atas Israel mendapat format baru yakni pemimpin yang menderita.

Musa marah kepada Israel yang menyimpang dari imannya ketika ia berada di atas gunung Sinai. Kemarahannya di luapkan dengan melempar dua loh batu sampai hancur di tanah. Yesus menghadapi umat yang ingkar imannya dengan memberi diri dan menderita. Menanggung semua hukuman yang mesti ditanggung oleh umat karena dosa mereka.

 

Relevansi

Iman kristiani terbuka terhadap penderitaan. Penderitaan tidak disangkal atau dihindari tetapi selalu dihadapi. Bahkan kehidupan iman mengalami pertumbuhan kalau ada pengalaman hidup penderitaan. Melaluinya orang kristen belajar hidup dekat kepada Allah. Selalu ada hikmat yang kita petik dari jalan hidup bergelimang penderitaan.

Kehidupan ini perlu tuntunan. Orang kristen hidup dalam tuntunan Allah. Yang perlu kita dalami adalah bahwa Tuhan tidak memperlakukan manusia seperti kanak-kanak. Pada saat tertentu mungkin ada perasaan manusia dibiarkan berjalan sendiri seolah-olah tuhan menjauh. Justru pada saat seperti itulah Tuhan sedang memberi kita kesempatan untuk bertumbuh dan beranjak dewasa. Karena itu tetaplah teguh dalam iman bahwa Tuhan selalu memimpin jalan hidupmu apapun situasinya. Jangan ingkar!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kerangka Khotbah Minggu Sengsara 2

Minggu, 05 Maret 2017

 

KEMATIAN MELALUI ADAM, KEHIDUPAN MELALUI KRISTUS

Roma 5:12-21

 

 

 

Pengantar

Bolehkah kita menikmati hasil tanpa usaha dan kerja keras? Boleh. Ini dia ceritanya. Pohon-pohon besar yang ada di halaman rumah dan kebun-kebun kita, bisa jadi bukan kita yang menanamnya. Tanaman-tanaman umur panjang ini sudah ditanam oleh kakek nenek kita. Sekarang, anak cuculah yang menikmati hasilnya. Kita tidak berlelah dan berusaha tetapi kita menikmati hasilnya. Warisan ini kita peroleh dengan cuma-cuma. Karena ini adalah warisan maka anak dan cucu-cuculah yang berhak untuk menikmatinya. Dalam hubungan dengan Dosa, manusia juga mengalami apa yang sekurang-kurangnya, sama dengan ilustrasi di atas. Dosa satu orang menyebabkan semua orang berdosa. Tetapi pada akhirnya semua orang diselamatkan oleh karena pengorbanan satu orang.

 

Ulasan Teks

Teks Roma 5:12-21 mempersandingkan dua figure, yakni Adam dan Kristus yang berhubungan dengan dosa dan anugerah.  Adam adalah penyebab masuknya dosa ke dalam dunia. Dari Adam semua manusia menjadi berdosa. Karena Adam, maka maut menjadi berkuasa atas manusia. Sebaliknya karena satu orang yakni Yesus Kristus, kasih karunia Allah dilimpahkan. Melalui Yesus Kristus, anugerah kebenaran hidup dan berkuasa.

Harus juga dipahami bahwa Kasih Karunia Allah tidak dapat disandingkan dengan dosa. Menurut Paulus dalam surat Roma, Kasih karunia Allah tidak sama dengan pelanggaran karena dosa. Kasih karunia Allah jauh lebih besar dari dosa karena satu orang. Antara Dosa dan Kasih karunia Allah ada Hukum Taurat. Menurut surat Roma, Hukum Taurat ditambahkan supaya pelanggaran menjadi semakin banyak. Kita pasti kaget dengan pernyataan ini. Bukankah Hukum Taurat menjadi pedoman yang memungkinkan seseorang menjadi mawas diri dan bercermin untuk hidup dalam kebenaran. Larangan dan perintah dalam hukum taurat yang menuntut ketaatan manusia akan berujung pada prilaku manjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Posisi hukum Taurat dalam hubungan dengan Dosa menegaskan bahwa manusia pada dirinya tidak mampu keluar dari lingkaran dosa. Tuntutan taurat sangat berat dan kompleks sama sekali tidak memberi kemungkinan untuk manusia bisa memenuhinya secara sempurna.

Relevansi

Pergumulan manusia dengan dosa tidak akan pernah berakhir sekiranya manusia mengandalkan kekuatan dirinya saja. Hanya karena intervensi Allah (campur tangan Allah) yang dapat membebaskan manusia dari dosa. Di pihak lain, kehidupan dalam dosa seringkali sangat memikat. Dosa menampakkan wajahnya dengan cara yang menggoda sehingga siapapun dapat hanyut di dalamnya. Tetapi segala hal yang memikat karena dosa biasanya bersifat semu. Kesenangan yang tercipta karena dosa biasanya tidak langgeng. Bahkan selalu berakhir dengan penderitaan dan maut. Manusia tidak punya kekuatan yang penuh untuk melawan dosa. Manusia perlu di tolong. Hanya saja tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang mumpuni untuk menolong manusia. Surat Roma dengan tegas menyatakan bahwa dosa menjadi berlimpah karena manusia tidak sanggup memenuhi tuntutan hukun taurat tetapi ada Kasih Karunia Allah di dalam Yesus Kristus yang membebaskan manusia dari maut karena dosa.

Mansusia menerima pembebasan dari dosa karena kasih anugerah Allah. Manusia tidak berlelah, tidak berjuang tetapi menerima pembebasan itu karena anugerah Allah.

 

 

 

 

Kerangka Khotbah Minggu Sengsara 3

Minggu, 12 Maret 2017

HIDUP BARU

DI DALAM KRISTUS

Yohanes 3:1-12

 

 

Pendahuluan

Manusia modern dengan aneka kecanggihannya tidak mengurangi permasalahan kehidupan. Sebaliknya, kemajuan ilmu dan teknologi menimbulkan banyak masalah baru yang semakin rumit. Ketidak adilan sosial dan kemiskinan ekonomi, kesimpangsiuran informasi dan kesembrautan sistem politik, keserakahan kuasa dan eksploitasi terhadap alam makin menjadi-jadi, semakin tak terkontrol.  Perdebatan tentang hukum yang semakin intens terjadi di ruang publik justru menunjukkan betapa lemahnya penegakkan hukum bagi kaum rakyat jelata. Kerangka Khotbah ini dibuat untuk dipakai pada hari minggu ke-3, masa raya sengsara Tuhan Yesus. Harapan yang ada di balik pengadaan kerangka khotbah ini adalah agar perayaan kita bermakna bagi penyegaran iman dan pemantapan komitmen pelayanan untuk mengambil bagian dalam karya solidaritas Allah. Kiranya, dengan memandang kepada Kristus yang menderita sampai mati tersalib di tiang gantungan Golgota, kita makin berdaya dan makin aktif berkarya bagi perubahan dan pembaharuan diri, gereja dan masyarakat.

Seorang Kristen tidak memiliki tujuan pada dirinya sendiri. Menjadi pengikut Yesus menuntut komitmen untuk hidup menurut jalan yang ditunjukkan Kristus, rela menderita sampai mati demi menyelamatkan dunia dari ancaman kematian oleh dosa. Misi Kristen menyatu pada misi Kristus yang tersalib untuk membaharui hidup. Dosa manusia mengancam kehidupan yang diciptakan Allah. Manusia dicurangi dan disakiti oleh dosa. Alam dikuras dan dihancurkan. Ketika semua ciptaan terancam kemalangan, karya Kristus membaharui hidup dengan cara menunjukkan kasih Allah yang menjamin masa depan kehidupan. Kekristenan muncul di atas panggung sejarah sebagai agen Allah untuk membaharui kehidupan. Misi kekristenan bukan sekedar melekatkan diri pada Kristus melainkan meneladani kristus yang berkarya bagi pembaharuan  kehidupan di dunia. Tiap orang dan komunitas Kristen dikaruniai panggilan hidup baru di dalam Kristus, yakni menjadi agen Allah untuk pembaharuan hidup.

 

Tafsiran: Perjumpaan, percakapan dan keterlibatan

Nas kita, Yohanes 3:1-21, berisi kisah perjumpaan dan percakapan antara Nikodemus dengan Yesus. Dalam nas kita disinggung beberapa hal tentang pribadi Nikodemus. Pertama, Ia adalah seorang pemimpin agama Yahudi, dari golongan orang Farisi. Dalam cerita Injil golongan Farisi sering disebut. Kesannya, bahwa di kalangan masyarakat Yahudi golongan Farisi sangat dikenal dan dihormati. Golongan ini dekat dengan kaum ahli Taurat, sebagai kelompok yang sangat berminat kepada penerapan hukum Taurat. Mereka mendirikan sinagoge dan sekolah-sekolah. Mereka ingin melindungi agama Yahudi dari pengeruh  budaya asing dan ingin membaharuinya dengan memberlakukan hukum Taurat secara ketat, misalnya tentang Sabat, puasa, makanan yang halal dan haram. Nikodemus, seorang guru Yahudi, datang kepada Yesus di malam hari, dengan membawa sebuah pernyataan keyakinan. Ia sangat yakin bahwa Yesus adalah seorang guru yang diutus Allah. Keyakinannya itu didasarkan pada tanda-tanda yang diadakan Yesus. Nikodemus berkeyakinan bahwa hanya orang yang disertai Allah saja yang dapat melakukan tanda-tanda seperti yang  Yesus lakukan. Nikodemus telah melihat sejumlah tanda pada karya Yesus, tanda-tanda itulah yang meyakinkan Nikodemus bahwa Yesus adalah seorang guru yang diutus Allah. Perjumpaan Yesus dengan Nikodemus melahirkan sebuah percakapan mengenai pernyataan keyakinan tentang Yesus.

Nikodemus mengatakan kepada Yesus tentang keyakinannya. Ia sangat yakin bahwa Yesus adalah Guru yang diutus oleh Allah. Pernyataan itu tidak terjadi serta merta, melainkan muncul dari pengamatan berkali-kali, bahwa Yesus sering melakukan tanda-tanda keilahian. Tentang tanda-tanda itu, pada perikop sebelumnya ada cerita tentang Tuhan Yesus merubah air menjadi angggur ketika perjamuan kawin di Kana. Dikatakan juga bahwa ada banyak tanda yang dilakukan Yesus di Yerusalem selama hari raya Paskah sehingga banyak orang percaya dalam nama-Nya (2:23). Jelas bahwa Nikodemus telah sungguh-sungguh mengarahkan pandangannya kepada Yesus, dan menemukan sejumlah tanda-tanda penyertaan Allah pada diri dan karya Yesus. Setelah sekian lama mengamati dan menemukan tanda keilahian pada diri Yesus,  kini Nikodemus berkesempatan berjumpa Yesus dan mengatakan kesimpulannya dalam bentuk rumusan keyakinannya tentang Yesus.

Bagaimana tanggapan Yesus terhadap pernyataan keyakinan Nikodemus? Tuhan Yesus menunjukkan sebuah isu lain. Tuhan Yesus membawa Nikodemus ke dalam sebuah percakapan tentang kerajaan Allah, “…sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah” (3:3). Pokok ini membingungkan bagi Nikodemus. Ia butuh penjelasan panjang lebar untuk memahami tentang hal “kelahiran kembali”. Yang dimaksudkan dengan “kelahiran kembali” bukanlah peristiwa kelahiran secara biologis (ayat 4), melainkan sebuah peristiwa rohani yang menandai seseorang telah terhubung dengan Allah melalui Roh Kudus (ayat 5-8). Kemudian, Tuhan Yesus membuka pandangan Nikodemus mengenai kasih Allah yang sedmikian besar untuk menyelamatkan dunia. Tuhan Yesus juga mengajak Nikodemus untuk melakukan perbuatan yang benar, menurut jalan yang ditunjukkan Allah. Menurut hemat saya, poin pentingnya bukan mengenai kelahiran kembali, melainkan tentang “tanda-tanda kerajaan Allah”.

Perjumpaan dan percakapan antara Tuhan Yesus dan Nikodemus membantu Nikodemus memahami tentang tanda kerajaan Allah pada kekiniannya. Belajar dari percakapan Yesus dan Nikodemus, menurut saya, ada tiga aspek dari tanda kerajaan Allah. Pertama, tanda Kerajaan Allah  itu dapat dilihat (ay. 3). Kedua, tanda kerajaan Allah itu menunjukkan karya penyelamatan dunia dari kebinasaan (ay. 16). Dan ketiga, tanda kerajaan Allah itu berkaitan dengan perilaku hidup yang dikehendaki Allah (ay. 21). Perjumpaan dan percakapan antara Nikodemus dengan Tuhan Yesus melahirkan pandangan iman yang menuntun kepada keterlibatan manusia dalam menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah.

 

Pokok Pikiran: Aplikasi

Hingga saat ini penderitaan manusia dan alam sedang berlangsung di banyak tempat dan bidang kehidupan. Dalam kasus perdagangan orang, misalnya. Para pelaku mendagangkan sesamanya yang lemah. Mereka mengejar keuntungan dan mengabaikan harkat para kurban. Di tengah arus modernisasi, industrilisme mengancam kelestarian alam. Pertanyaan untuk direnungkan adalah bagaimana peran orang Krsiten terhadap rupa-rupa penderitaan manusia dan alam di zaman ini?

Panggilan iman bagi umat kristen, baik secara perorangan maupun secara kolektif, tidak hanya untuk mengenal Tuhan Yesus. Di minggu sengara ini kita mempertegas identitas Yesus sebagai Kristus yang menanggung sengsara. Tentu saja, untuk mengenal Tuhan Yesus dibutuhkan kesungguh-sungguhan dan totalitas belajar. Nikodemus memperhatikan, mengamati, sampai akhirnya berhasil membuat sebuah rumusan pernyataan keyakinan bahwa Yesus adalah utusan Allah. Dalam hal belajar mengenal Yesus maka masa raya 7 minggu sengsara ini dapat dimanfaatkan dengan upaya maksimal untuk mengenal Tuhan Yesus. Kita harus sungguh-sungguh belajar tentang Yesus agar bisa tiba pada rumusan pengakuan yang otentik: berdasarkan pengalaman, pengamatan dan perenungan yang mendalam. Tuhan Yesus adalah sosok kasih Allah yang sempurna, yang rela menderita bagi keselamatan dunia. Penderitaan-Nya adalah tanda hakiki dari kasih Allah. Lebih dari sekedar mengenal Yesus, orang Kristen terpanggil untuk mengenal dan meneladani-Nya.

Sebagaimana Tuhan Yesus telah menderita agar manusia dan dunia diselamatkan, begitu pula misi kekristenan mesti mengambil jalan yang sama, jalan penderitaan, jalan salib. Memang ada pepatah mengatakan bahwa “ada banyak jalan ke Roma”, tetapi untuk meluputkan manusia dan alam dari kebinasaan hanya satu jalan yang ditunjukkan Yesus. Jalan satu-satunya itu adalah “via dolorosa”, jalan penderitaan. Tuhan Yesus menujukkan jalan itu sebagai jalan yang dipilih Allah untuk meluputkan dunia dari kebinasaan oleh dosa. Setelah memahami jalan keselamatan itu, marilah kita terus melangkah dijalan itu, menjadi pribadi, menjadi gereja dan menjadi masyarakat yang rela menderita demi memperbaiki kerusakan, merawat kehidupan dan menunjukkan harapan.

Mengenal Tuhan Yesus dan menaladaniNya berarti mempraktekan hidup secara baru di tengah realitas permasalahan manusia dan alam. Lewat penyelenggaraan masa raya sengsara Tuhan Yesus, kita mengaminkan lagi bahwa penderitaan Kristus merupakan tanda kasih Allah yang menyelamatkan. Tanda kasih yang demikian diperlukan untuk pembaharuan hidup manusia dan dunia. Hakekat keterlibatan Kristiani dalam menganggapi berbagai permasalahan dan keprihatinan adalah ikutserta menanggung kesengsaraan kaum lemah demi pembaharuan hidup agar makin terbuka, makin adil dan makin berpengharapan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kerangka Khotbah Minggu Sengsara 4

Minggu, 19 Maret 2017

ALLAH MELIHAT HATI

1 Samuel 16:1-23

 

 

Pengantar

Pada awal Februari 2017 yang lalu atau yang santer disebut peristiwa 212, polisi menangkap 10 orang terduga kasus makar. Makar adalah upaya menggulingkan pemerintah (presiden dan wakil presiden) di luar jalur hukum. Ada sederet nama-nama terkenal dalam kasus ini: Rachmawati Soekarno Putri, Sri Bintang Pamungkas, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Mayjend. (Purn) Kivlan Zen dan lainnya.

Kasus makar sebagaimana definisi di atas, merupakan kasus yang sangat berbahaya dalam sebuah negara. Oleh karena itu ancaman hukuman kasus makar tidak main-main. Dalam KUHP pasal 107 dan 207 ancaman hukumannya 20 tahun hingga hukuman mati.

Dalam cerita pengutusan Samuel oleh Tuhan ke Betlehem untuk mengurapi salah seorang anak Isai menggantikan Raja Saul yang masih berkuasa, sesungguhnya kita menemukan salah satu contoh kasus tindakan ‘makar’ yang dikehendaki Tuhan oleh karena raja Saul menolak menaati Tuhan.

 

Tafsiran

Ay. 1-5 Saul, raja pertama Israel gagal menjalankan tugas sesuai kehendak Tuhan. Kegagalan itu mendukakan hati Samuel. Tuhan juga menyesal memilih Saul menjadi raja atas Israel (Pasal 15:35). Apa tindakan Tuhan selanjutnya? Ia menghendaki pergantian raja. Pergantian itu sangat mendesak. Tuhan tidak mau menunggu hingga Saul wafat. Untuk tugas tersebut Tuhan mengutus Samuel ke Betlehem untuk menemui Isai dan mengurapi salah satu dari anak-anaknya. Samuel terkejut dangan rencana dan keputusan Tuhan tersebut. Ini ‘misi politik’ yang sangat berbahaya. Sebuah tindakan makar. Bagaimana bisa mengangkat seorang raja baru secara diam-diam sementara raja yang sah tidak tahu dan masih berkuasa? “Bila Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku,” protes Samuel kepada Tuhan.

Untuk menghindari kecurigaan terutama tua-tua atau pejabat-pejabat di kota Betlehem, Tuhan mengutus Samuel dengan alasan kedatangannya ke Betlehem hendak mempersembahkan ibadah korban. Dengan kata lain, tindakan Samuel tidak punya dampak politis karena itu tidak usah dikuatirkan apalagi patut dicurigai.

Ayat 6-10 Tibalah Samuel di Betlehem. Seperti dugaan sebelumnya, para tua-tua kota menyambut kedatangan Samuel dengan penuh tanda tanya. Samuel menerangkan maksud kedatangan bertujuan mulia yakni menyembah Tuhan melalui ibadah korban. Karena itu ‘misi politik’ berbaju agama itu berjalan mulus tanpa curiga sama sekali. Isai dan anggota keluarga diundang. Proses seleksi pun dimulai. Eliab, putra sulung Isai, seorang pemuda yang elok paras, tinggi besar dengan postur tubuh yang tegap. Penampilannya memukau Samuel. Ia berpikir, pasti anak muda ini lah yang dimaksud Tuhan. Ternyata tidak.

Di mata manusia, penampilan sangat menentukan. Perhatikan syarat-syarat dalam lowongan kerja. Salah satu yang menjadi pertimbangan dalam penerimaan karyawan adalah berpenampilan menarik. Namun, Tuhan tidak demikian. Pengalaman raja Saul membuktikan hal itu. Pasal 9:2 dengan jelas menyatakan betapa tidak ada satu orang pung di Israel yang menandingi ketampanan Saul. Namun, fakta membuktikan bahwa ketampanan bisa mengecoh. Penampilan luar bisa menipu. Saul memang tampan secara fisik tetapi hatinya jauh dari Tuhan.

Melihat Eliab, Tuhan berfirman kepada Samuel, “Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah. Manusia melihat yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Setelah Eliab, satu persatu adik-adiknya bernasib sama. Tidak ada yang berkenan di mata Tuhan.

Ayat 11-13 Samuel heran dan tak menduga tujuh anak Isai yang gagah perkasa tersebut tidak ada satu pun yang cocok di mata Tuhan. Lalu siapa? Ada di mana dia? “Inikah anakmu semuanya?” Tanya Samuel pada Isai. “Masih tinggal yang bungsu tapi sedang menggembalakan kambing domba,” jawab Isai. “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan sebelum ia datang ke mari.” Kata Samuel.

Samuel mengurapi Daud menjadi raja dan kemudian ia pergi dari Betlehem sebab misi rahasia Allah yang sangat berbahaya namun mengandung harapan itu telah usai. Bisa jadi sepanjang perjalanan pulang segudang pertanyaan mengganjal di hatinya. Bagaimana bisa seorang anak muda penggembala kambing domba, yang tidak punya pengalaman berperang yang lebih banyak bergaul dengan hewan dipilih Tuhan menjadi raja? Itu Bukan tanggung jawab Samuel, Tuhan yang nanti mengaturnya. Tuhan menggunakan keahlian musik Daud sebagai pintu masuk menuju takhta istana. Bahkan Tuhan mengaruniakan Roh-nya untuk melengkapi Daud.

Aplikasi

Khotbah bisa dimulai dengan contoh kasus makar sebagaimana disebutkan di pengantar atau kasus lain yang relevan dengan kebutuhan jemaat. Bagi jemaat yang menggunakan in fokus, bisa memutar cuplikan video penangkapan atau proses hukum kasus makar dengan catatan durasinya hanya sekitar 1 menit. Sedangkan beberapa point yang dapat dikembangkan dalam khotbah misalnya:

  • Upaya politisasi agama untuk kepentingan kekuasaan sebagaimana yang belakangan terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Hal yang sama terjadi ketika Samuel memakai alasan agama untuk tujuan politik. Betapa pun bertujuan positif namun dari kisah ini memberi sinyalemen betapa agama rentan dipakai untuk tujuan atau kepentingan terselubung.
  • Hingga hari ini masyarakat masih terjebak dan terkecoh dengan penampilan pemimpin. Integritas, kredibilitas dan kapabilitas yang menjadi syarat pemimpin ideal terkadang diabaikan. Orang cenderung memilih pemimpin yang ‘bertopeng’ daripada yang jujur apa adanya. Mengapa? Karena pemimpin yang bersih tidak bisa diajak bekerja sama untuk meraup keuntungan tertentu.
  • Tuhan Yesus juga di tolak oleh sebagian orang Yahudi karena sikap dan penampilannya yang berbeda dari para pemimpin Yahudi seperti ahli-ahli taurat, orang Farisi dan Saduki. Penangkapan dan penderitaan Yesus jelas-jelas terkait erat dengan politisasi agama yang dilakukan oleh para pemimpin agama Yahudi yang menuduh Yesus melakukan ‘makar’ karena mau merubuhkan Bait Allah. Bahkan tuduhan itu ditulis di atas salib “Yesus orang Nazaret Raja Orang Yahudi”.

Penutup

Pepatah, “dalamnya laut dapat di duga dalamnya hati siapa yang tahu” menunjukan bahwa tidak mudah mengetahui isi hati. Namun, justru di situlah segala yang baik dan jahat berasal. Karena itu, tuntutan untuk mengenal hati ketimbang paras menjadi hal yang urgen untuk diperhatikan dalam berbagai keputusan entah itu dalam soal memilih pemimpin, teman, mitra kerja, pasangan hidup dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kerangka Khotbah Minggu Sengsara 5

Minggu, 26 Maret 2017

Hidup oleh Roh

Roma 8:1-17

 

 

 

 

 

Kerangka Khotbah Minggu Sengsara 6

Minggu, 02 April 2017

Hamba yang mengosongkan diri

Filipi 2:1-11

 

 

Pendahuluan: Konteks JemaatFilipi

  1. Jemaat Filipi merupakan jemaat hasil pekabaran injil oleh rasul Paulus dansahabat-sahabatnya, termasukTimotius. Kedekatan rasul Paulus dengan jemaat menjadikannya berani dan jujur mengungkapkan nasihat dan kritik terhadap jemaat. Rasul Paulus hanya ingin yang terbaik bagi mereka.
  1. Rasul Paulus mengetahui adanya konflik dalam jemaat yang dapat mengarah kepada perpecahan. Itu sebabnya ia menasihatkan mereka, “sempurnakanlah sukacita kudengan ini; hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.” Dalam hal ini, sasul Paulus menyadari bahwa kesatuan hati jemaat tidak terjadi dengan mudah, tidak terjadi dengan sendirinya. Kesatuan harus diusahakan dan dikerjakan bersama-sama oleh semua jemaat.
  1. Dalam konteks yang demikian, rasul Paulus mengingatkan jemaat bahwa yang mereka butuhkan adalah perubahan sikap yang mendasar. Dan perubahan itu sendiri pun bukanhal yang terjadi dengan sendirinya. Melainkan mesti diupayakan dengan sengaja dan serius secara bersama-sama oleh semua anggota jemaat, dalam kesadaran bahwa mereka hanya bisa bersatu jika mau sungguh-sungguh berubah.
  1. Pergumulan jemaat Filipi sangat mungkin menjadi pergumulan kita dan relevan dengan kehidupan jemaat-jemaat GMIT yang bergumul dengan tantangan untuk selalu mengerjakan dan memelihara kesatuan, sekaligus bergumul untuk selalu melakukan perubahan untuk kehidupan jemaat yang lebih baik. Ada beberapa pokok pembelajaran dari jemaat Filipiyang dapat kita terima bersama.

Pokok Perenungan 1: Kepentingan Bersama Yang Utama

  1. Rasul Paulus mengingatkan jemaat akan berbagai perilaku negatif yang menjauhkan jemaat dari harapan akan adanya kesatuan, yakni kecenderungan sikap mencari kepentingan diri sendiri atau puji-pujian yang sia-sia”. Sebaliknya ia mengajak jemaat untuk menghidupkan perilaku yang positif, “hendaklah dengan rendah hati yagn seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinyasendiri”. Rasul Paulus menggunakan pola kontras, “janganlah… hendaklah…”
  1. Marilah kita merenungkan: hidup bersama kita sebagai jemaat mungkin diwarnai berbagai kontras, tetapi hendaknya kita berupaya mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan diri sendiri.

PokokPerenungan 2: Jalan Yang Utama, Jalan Menurun

  1. Nasihat untuk mengutamakan kepentingan bersama ini membutuhkan syarat lain, yaitu kerelaan untuk menempuh jalan kerendahan hati. Rasul Paulus menggunakan istilah “mengosongkan diri”. Jalan itu tidak mudah, tetapi jalan kerendahan hati atau pengosongan diri itu juga tidak usah dan tidak mungkin kita buat sendiri. Ada contoh atau teladan terbaik yang sempurna yang dapat memandu kita, yakni teladan dari Yesus Kristus sendiri. Yesus Kristus sudah membuka jalan pengosongan diri itu. Dan rasul Paulus mengarahkan pandangan jemaat kepadaYesus Kristus. “Jalan menurun” yang ditempuh oleh Yesus Kristus adalah jalan satu-satunya agar Allah dapat berjumpa dengan dunia yang dikasihi-Nya, agar Allah dapat berjumpa dengan manusia yang dicintai-Nya.
  1. Marilah kita renungkan: jalan ini mengajarkan kepada kita betapa Allah sangat mengasihi dunia.Pengosongan diri adalah jalan bagi gereja juga agar dapat berjumpa dan melayani dunia, dan bukan menjauhi nyada nmenganggapnya jahat.Tanpa pengosongan diri, gereja dan jemaat hanya akan menjadi pribadi dan komunitas yang asing dan jauh dari dunia yang dikasihi oleh Allah dan itu berarti jauh juga dari Allah sendiri.

Pokok Perenungan 3: Penerimaan Allah, PeninggianYesus

  1. Allah menerima karya Yesus Kristus  yang  ditempuh dengan jalan pengosongan diri itu, “jalan menurun”, merendahkan diri menjadi seorang hamba. Bukti penerimaan Allah itu nampak dalam “peninggianYesus”, mengaruniakan kepada-Nya Nama di atas segala nama dan membuat semua lidah  mengaku bahwaYesusKristus adalah Tuhan. Peninggian ini menjadi tanda penerimaan Allah atas karya Yesus dan ini hanya terjadi karena kerelaan menempuh jalan perendahan diri, pengosongan diri.
  1. Gereja pasti berharap segala karyanya diterima oleh Allah, maka tidak ada jalan lain selain merendahkan diri, mengosongkan diri. Pengosongan diri itulah dapat dilihat dari sikap anggota jemaat yang tidak mementingkan diri sendiri demi mengutamakan kebersamaan dan kesatuan.

Penutup

Dalam konteks hidup dan pelayanan gereja, ada beragam persoalan yang bisa mendukung pertumbuhan iman jemaat, mempererat persekutuan, dan merawat kesatuan. Tetapi ada pula dinamika yang juga bisa membuat jemaat sulit bertumbuh dan senantiasa ada dalam konflik. Sebagaimana jemaat Filipi menerima pengajaran dan nasihat dar irasul Paulus, marilah kita belajar menyadari pergumulan kita dan mengerjakan bersama-sama dan terus-menerus untuk menjaga kesatuan jemaat, melalui jalan yang telah dibuka oleh Yesus Kristus bagi kita, jalan pengosongan diri, jalan mengosongkan kepentingan dirisendiri, jalan yang pada akhirnya membawa kita berjumpa dengan Allah dan dunia pun dapat berjumpa dengan Allah melalui gereja-Nya. Amin.

 

Kerangka Khotbah Minggu Sengsara 7

Minggu, 09 April 2017

Hamba yang menderita

Yesaya 52:13-53:12[1]

 

 

 

Pengantar

Bacaan ini sangatang akrab bagi kita di saat-saat minggu sengsara. Gambaran Hamba yang Menderita yang di uraikan oleh nabi Yesaya menjadi gambaran mengena Yesus yang menderita yang dicatat di Perjanjian Baru.

Tafsiran

Kata ‘hamba’ digunakan 23 kali dalam Kitab Yesaya. Dari pasal 41-53 disebut 19 kali. Sebutan hamba bagi Yakub/Israel disebut 11 kali. Ada pandangan kata ‘hamba’ ini merujuk pada satu orang atau sekelompok orang. Tampaknya hamba ini menanggung hukuman untuk orang lain tapi pada akhirnya dia diberi keudukan tinggi. Dengan pemakaian kata ‘kita’, ‘mereka’ membuat anggapan bahwa ‘hamba’ ini berhubungan denga sekelompok orang. Di awal pasal kata ‘kita’ berkonotasi negative, tidak menghargai, tidak senang melihatnya, tidak menarik. Namun ‘hamba’ menanggung dosa kita, menanggung kelemahan kita, oleh bilur-bilurnya kita disembuhkan. Allah lalu memuliakan hamba itu setelah kematiannya.

Kita percaya bahwa ‘hamba’ ini merujuk pada Yesus Kristus. Sebagaimana Yesus menderita dan sengsara bagi banyak orang. Dialah Mesias, Juruselamat dunia, sekalipun bagi orang-orang Yahudi, mereka percaya bahwa Hamba ini adalah Mesias yang dinantikan.

Ayat 4: ‘Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya’. Ayat ini dikutip oleh penginjil Matius dalam pasal 8:17 dalam hubungan pelayanan Yesus kepada orang sakit. Bagi orang-orang percaya, Tuhan Yesus memberi kesembuhan bukan hanya ‘rohani’ yaitu pengampunan dosa, tapi juga kesembuhan jasmani, yaitu sakit-penyakit kita, beban dan penderitaan kita, Roma 4:25, I Petrus 2:24.

Ayat 5: “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita….” Yesuslah yang menggantikan kita dalam menanggung hukuman dosa-dosa kita. Yesuslah yang ‘tertikam’ Yohanes 19:31-37. Selaku pengganti kita, Ia menerima hukuman yang seharusnya kita terima dan menanggung hukuman dosa-dosa kita, karena itu kita

Ayat 9: nubuat ini digenapi oleh Yesus dengan kematian dan pemakamannya Matius 27, Markus 15:20-47, Lukas 23:33-56

Ayat10-12: Menyatakan bahwa pada akhirnya hamba itu dimuliakan Allah.

 

Pokok Pikiran

  1. Istilah hamba memang identik dengan mereka yang ‘terhina’, dan tidak diperhitungkan. Hamba adalah mereka yang mengabdi tanpa ada hak. Hamba yang menanggung segala penderitaan, hina dan kutuk telah menanggung segal doasa, derita dan penyakit kita, Dialah Kristus sang Juruselamat.
  2. Penderitaan Kristus telah menghapus segala dosa-dosa kita.
  3. Posisi kita sebagai ‘Hamba’ Kristus mestinya membuat kita juga siap menanggung ‘penderitaan’ sebagai konsekuensi sebagi hamba Kristus.

Kerangka Khotbah Jumat Agung

Minggu, 14 April 2017

Hamba yang ditinggalkan

Markus 15:33-47

 

 

Kerangka Khotbah Paskah 1

Minggu, 16 April 2017

IA TELAH BANGKIT  DARI ANTARA

ORANG MATI

Matius 28:1-10

 

 

 

Kerangka Khotbah Paskah 2

Minggu, 17 April 2017

Paskah: merangkul mereka yang tercecer

Lukas 24:13-35

 

 

Latar Belakang

Injil Lukas adalah Injil yang memberi perhatian kepada mereka yang terpinggirkan, terabaikan dalam kehidupan social masyarakat pada jaman itu. Perempuan, orang sakit, pemungut cukai adalah antara lain mereka-mereka yang di abaikan dalam masyarakt namun mendapat perhatian dalam pelayanan Tuhan Yesus dan dicatat oleh Injil Lukas. Kisah perjalanan Kleopas dan temannya ke Emaus (dari Yerusalem) hanya dicatat oleh penginjil Lukas.

Tafsiran

‘Kegaduhan’ terjadi Yerusalem dengan peristiwa kematian Yesus dengan penyaliban. Belum reda kegaduhan penyaliban ditambah lagi dengan tersebarnya berita kebangkitan Yesus yang mati disalibkan itu.

Ayat 13-16 menceritakan bahwa di ujung hari itu, pada waktu senja, berjalanlah pulang seorang bernama Kleopas dan temannya, mereka ini adalah murud-murid yang biasa bersama dengan Yesus selama Yesus mengajar dan melayani selama kurang lebih 3 tahun. Mereka berjalan diwaktu senja, saat matahari terbenam. Jarak Yerusalem ke Emaus sekitar 12 kilometer.  Sambil berjalan mereka bercakap-cakap sedemikian seriusnya mengenai berita kebangkitan yang menggemparkan, sehingga mereka tidak mengenali bahwa ada seorang yang dating bergabung dengan mereka dalam perjalanan adalah Yesus yang mereka bicarakan. Dicatat oleh Lukas bahwa ada sesuatu yang menghalangi mata mereka sehingga mereka tidak mengenali Yesus. Apakah itu yang menghalangi mata mereka? Kemungkinan pertama karena perjalanan mereka menuju arah barat (lihat peta no.3 di belakang Alkitab), matahari terbenam, maka mata mereka terhalang cahaya senja matahari.  Kemungkinan lain karena mereka begitu asik dalam percakapan dan diskusi mereka sendiri sehingga mereka tidak mengenali Yesus ataupun juga karena hati mereka yang sedang galau, sedih bingung dan kacau. Mereka masih bersedih dengan kematian guru mereka, dengan pupusnya harapan-harapan mereka terhadap Yesus, lalu kini mereka di kejutkan lagi dengan berita kebangkitan Yesus.

Ayat 17-24: ayat-ayat ini mencatat dengan cukup detail tentang percakapan Yesus dan murid-murid ini. Ketika di ayat 17 Yesus berupaya mencari tahu apa yang menjadi pokok pembicaraan ini, berhentilah mereka dengan muka muram (heran), mereka bingung kalau ada orang yang tidak tahu akan berita yang menggemparkan seluruh penduduk. Ayat 18 menunjukkan bahwa Yesus ingin mendengar dari mereka sendiri apa yang mereka ketahui tentang situasi itu. Ayat 20 tampaklah harapan mereka terhadap Yesus yang mereka pikir akan membawa pembebasan bagi bangsa Israel yang sedang dalam pendudukan bangsa Romawi.

Ayat 25: Teguran keras Yesus kepada mereka ‘Hai kamu orang bodoh’. Di sini yang dimaksud dengan kata ‘bodoh’ adalah ‘lambat’, lambat mengerti apa yang Yesus pernah para nabi nubuatkan dan Yesus ajarkan tentang Mesias. Lalu Yesus kembali mengajarkan lagi kepada mereka tentang Mesias mulai dari kitab-kitab Musa lah berjumpa, sampai kitab Nabi-nabi

Ayat 28-32: Ketika mereka semakin mendekat ke tujuan, Yesus ingin mengetahui hati mereka, apakah mereka masih merasa perlu untuk mendengar dan bercakap dengan Yesus (ayat 28). Oleh karena mereka masih ingin bersama dengan Yesus maka mereka meminta kepada Yesus untuk masih tinggal bersama dengan mereka. Maka mereka makan malam bersama. Pada waktu Yesus mengambil roti, mengucap berkat lalu memecah-mecah roti itulah mereka menjadi sadar bahwa itulah Yesus, kemungkinan karena mereka tahu benar cara itu ketika Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan. Sadarlah mereka bahwa sejak dalam perjalanan Yesus telah membuat hati mereka berkobar-kobar.

Ayat 33-35:  Seketika mereka menyadari bahwa mereka telah berjalan, bercakap, belajar bahkan makan bersama dengan Yesus,  maka mereka menjadi begitu bersemangat, tidak merasa letih dan membuat   mereka bersemangat untuk segera kembali ke Yerusalem untuk berjumpa dengan murid-murid lainnya dan mengabarkan kabar sukacita bahwa mereka sungguh-sungguh telah berjumpa dengan Yesus yang bangkit.

Pokok Pikiran

Dari pembacaan ini paling tidak kita melihat bahwa:

  1. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup kita terkadang membuat kita tidak dapat melihat atau menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan Yesus sedang berjalan dengan kita. Kesedihan, tantangan dan pergumulan hidup atau bahkan kebahagiaan sekalipun, terkadang menutup ‘mata’ kita akan kehadiran Tuhan. Kita terlalu sibuk dengan pikiran, dugaan ataupun perasaan kita.
  2. Kebangkitan Tuhan Yesus adalah kabar sukacita bagi semua orang, bagi orang kota diperhitungkan. Tuhan Yesus datang menghampiri Kleopas dan seorang temannya  dan menemani perjalanan mereka pulang ke kampung Emaus yang berjarak sekitar 12 km dari Yerusalem. Tuhan bercakap-cakap bahkan mengajarkan mereka. Kehadiran Tuhan yang bangkit membawa sukacita dan semangat baru bagi mereka (hati mereka berkobar-kobar).
  3. Kleopas dan teman-temannya menyadari bahwa itulah Tuhan, ketika mereka melihat cara Tuhan memecah roti (sebagaimana mereka melihat ketika Tuhan memberi makan 5000 orang). Tuhan hadir di tengah keluarga, jemaat, masyarakat kita dengan cara kita mengingat kebaikan-kebaikan Tuhan, mujisat-mujisat yang di perbuat-Nya. Sehingga kita dapat terus menyadari bahwa Dia selalu ada bersama kita
  4. Sukacita kebangkitan Tuhan harus kita bagikan kepada banyak orang, kepada sesama kita. Sukacita itu menghapus kesedihan dan kelelahan Kleopas dan temannya. Sehingga dengan semangat mereka kembali lagi berjalan ke Yerusalem untuk membagikannya kepada saudara-saudara dan murid-murid Tuhan lainnya.

[1] Bahan diambil dari Wikipedia

Attachments

4 thoughts on “BAHAN MINGGU SENGSARA 2017

  1. Liturgi minggu sengsara yg tahun ini belom-belom juga selesai ya, pada hal kami dikampung ini sangat membutuhkannya. Kalau bisa tolong di percepat sahabat dalam kristus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *