BERKAT TANAM AIR, PAK KRIS TAK PERNAH KRISIS AIR

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Suara gembala bagi sebagian orang mungkin hanya untuk didengarkan bukan untuk dilakukan. Kalaupun ada niat untuk melakukan sesuatu, akan timbul banyak pertimbangan yang akhirnya mematikan niat. Namun bagi anggota jemaat dari Gereja GMIT Kasih Karunia Oesao ini, suara gembala sungguh merubah hidup keluarganya.

Bersama Pdt. Niftrik Tanau, mantan ketua Majelis Jemaat Kasih Karunia yang kini menjabat Ketua Majelis Klasis Kupang Timur, kami menjumpainya. “Sekarang baru orang omong gerakan tanam air, beta sudah mulai bekin jebakan waktu dengar suara gembala majelis sinode dari tahun 2009,” ujar Pak Kris Kapitan.

Pak Kris mengajak kami ke halaman belakang rumahnya.  Sebuah sumur gali di pinggir rumah tampak terisi air hampir penuh. Sambil menyusuri pematang sawah miliknya yang baru saja ditanami, ia mengisahkan ikhwal pengerjaan jebakan air dimaksud. “Waktu itu kebetulan ada exsavator yang sedang kerja proyek lewat depan rumah. Beta tanya sopir, kalau gali jebakan air bayar berapa? Dia bilang, ganti uang solar sa. Jadi beta kasi dia 500 ribu, tidak sampai satu jam, jebakan su selesai.”

Jebakan air milik Pak Kris hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya. Ukurannya 50 M X 5 M dengan kedalaman 3 M sedang terisi penuh air lantaran hujan yang terus turun sepanjang bulan Januari 2017. “Jebakan air ini memberi pasokan air untuk sumur di belakang rumah itu,” katanya.

Sumur sedalam 9 meter tersebut sebelum ada jebakan kapasitas airnya hanya mencapai 1-2 meter, tapi sejak ada jebakan air kedalaman air naik hingga mencapai 7 meter atau hanya 2 meter dari permukaan tanah. Inilah satu-satunya sumur paling pendek dengan volume air paling besar dan tidak pernah kering di kampung bernama Kayu Putih ini. Pak Kris bersaksi bahwa akibat debitnya yang besar ia memanfaatkan air sumur untuk menyiram padi pada musim tanam yang kedua di bulan Juni-September. Dulu, katanya, sawah dibelakang rumahnya hanya sekali tanam di musim hujan, namun dengan adanya jebakan air ini mereka bisa menanam padi dua kali setahun dengan memanfaat air dari sumur.

“Bagaimana bisa Pak Kris siram padi dengan mengandalkan air sumur untuk airi sawah seluas 2,5 hektar ini, tanya saya tidak yakin. “Memang tidak semua pake air sumur. Kami pompa air dari kali untuk sawah di bagian bawah, sementara untuk bagian atas kami siram pakai air sumur. Yang perlu diketahui, kata Pak Kris yang sehari-hari bekerja sebagai penyuluh pertanian, “Padi bukan jenis tanaman air. Ini yang banyak orang salah mengerti. Padi itu tanaman yang tahan genangan air tapi bukan tanaman yang butuh banyak air. Padi ladang, buktinya.”

Selain untuk menyuplai  air untuk sumur dan sawah, di samping rumah ada juga jebakan air yang berfungsi sebagai kolam ikan. Ratusan ikan nila dipelihara di kolam berukuran 5 X 5 Meter. Di sisi kanan, Pak Kris juga menanam 200 pohon mahoni yang kini ukuran batangnya kira-kira sebesar tiang listrik. Tak heran, suasana disekitar rumah terasa sejuk. Sementara di ujung barat rumahnya, ada lagi satu jebakan air berukuran 40 X 20 X 3 Meter. “Kalau jebakan yang ini selain untuk mengairi sawah, juga menjadi peresapan untuk sumur-sumur tetangga sekitar,” tambahnya.

Pak Kris Kapitan telah memberi contoh manfaat tanam air. Ia melakukan ini bukan hanya untuk diri dan keluarganya, tapi juga sesama di sekitarnya. Semoga makin banyak warga jemaat terdorong untuk melakukan hal yang sama. Di musim hujan ini, mari kita tanam air. Jangan biarkan air hujan mengalir percuma ke laut karena ikan di laut tak minum air tawar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *