BERMUSIK BAGI ALLAH (MAZMUR 33)

BERMUSIK BAGI ALLAH[1]

MAZMUR 33

Pengantar

GMIT dengan tradisi liturginya sedang berupaya untuk mempersiapkan dan menyusun model-model ibadah yang mengakomodir musik dan seni tradisional. Mengapa musik? Karena musik merupakan bagian integral dalam hidup manusia. Kita terlahir dengan melodi dan irama. Demikian juga dengan gereja. Hampir seluruh ibadah diwarnai musik. Ragamnya pun beraneka. Ada musik untuk nyanyian jemaat, musik untuk paduan suara, musik instrumental dll. Semuanya memiliki arti simbolik tertentu.

Memasuki Perayaan Bulan Bahasa dan Budaya di minggu ketiga ini, marilah kita menjadikannya sebagai momentum untuk merenungkan penggunaan musik bagi Allah. Banyak usulan ibadah alternatif telah dihasilkan, demikian pula dengan kontekstualisasi unsur-unsur budaya, musik dan seni lokal. Semua ini mesti dikaji dengan baik sehingga ibadah tetap berfokus untuk memuliakan Tuhan dan menciptakan persekutuan di antara sesama warga jemaat.

Pemahaman Teks[2]

  • Mazmur 33 adalah salah satu dari 40 mazmur yang tergolong mazmur pujian. Mazmur ini diawali dengan perintah rangkap lima untuk memuji Tuhan (ay 1-3).
  • Bersorak-sorailah dalam Tuhan.
  • Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi.
  • Bermazmurlah bagi Tuhan dengan gambus sepuluh tali.
  • Nyanyikanlah bagi Tuhan nyanyian
  • Petiklah kecapi dengan sorak-sorai.
  • Perintah untuk memuji Tuhan tersebut mengandung dua model pujian Israel. Model yang pertama berupa pujian dalam bentuk kesaksian, pesan atau pengakuan iman yang diungkapkan dengan perkataan. Sementara model yang kedua dilakukan dengan pekik sorak, permainan alat musik, tepukan tangan, atau menari. Bagi Israel, pujian kepada Tuhan mesti mencakup seluruh ekspresi kreatif manusia.
  • Namun Israel juga menyadari bahwa penekanan yang berlebihan terhadap musik, nyanyian dan tarian dapat membahayakan pujian itu sendiri. Pujian dapat terjerumus dalam praktek yang salah sebagaimana dilakukan oleh bangsa-bangsa di sekitar mereka, misalnya pelacuran bakti. Ini penting diperhatikan oleh gereja masa kini, yang sering terjebak untuk mengagung-agungkan alat musik di dalam ibadah. Terlalu banyak energi dan fokus hanya untuk menghasilkan musik yang Belum lagi niat “berburu” alat-alat musik terbaru. Mereka menjadikan musik sebagai tujuan dan Tuhan diabaikan. Agustinus, seorang Bapa Gereja pernah memperingatkan bahwa hati kita tidak boleh lebih terpikat pada musik melebihi kerinduan terhadap Allah.
  • Agar manusia dapat memuji Tuhan dengan benar, maka setelah perintah untuk memuji Allah (ay. 1-3), pemazmur menjelaskan tentang motif yang benar dari setiap pujian (ay. 4-19), yang mencakup dua aspek. Pertama, Tuhan dipuji karena karakter-Nya yang agung. Ia digambarkan sebagai benar, adil (ay. 4-5), serta yang ditakuti dan menimbulkan kegentaran (ay. 8). Tapi Ia juga Tuhan yang penuh dengan kasih setia (ay. 5,18,22). Kedua, Tuhan dipuji karena perbuatan-perbuatan-Nya yang besar terhadap umat- Ia digambarkan sebagai Tuhan yang “sudah biasa, sejak dahulu kala, atau pada segala waktu melakukan sesuatu bagi umatNya.” Tindakan Allah itu tidak hanya terbatas di masa lampau, namun akan terus dikerjakanNya sekarang dan di masa depan.
  • Motif ini menolong Israel untuk memahami bahwa memuji Tuhan adalah respons terhadap karakter dan perbuatan Allah. Tuhan adalah inisiator, kita adalah penanggapnya. Setiap ibadah kita mesti berusaha untuk merefleksikan pola itu. Kita mulai dengan panggilan beribadah, diikuti dengan bagian Kitab Suci yang berbicara tentang siapakah Allah dan apa yang telah Dia lakukan. Lalu kita meresponsnya dalam pujian
  • Motif karakter dan tindakan Allah ini juga menghasilkan perspektif bahwa memuji Tuhan tidak tergantung pada situasi dan kondisi Israel. Mereka mesti selalu memuji Tuhan, entah baik atau tidak baik kondisinya. Mazmur ini mengajarkan bahwa kondisi buruk umat yang terjadi akibat rancangan bangsa-bangsa (ay. 10-11) serta maut dan kelaparan (ay. 19) tidak boleh mempengaruhi pujiannya kepada Tuhan. Artinya, Israel tidak hanya memuji Tuhan bila suasana hidupnya menyenangkan. Justru sebaliknya, pujian kepada Tuhanlah yang memberi landasan iman kepada umat untuk mampu menghadapi segala situasi hidup, entah untung atau malang.
  • Itulah sebabnya Mazmur 33 diakhiri dengan nasehat untuk menantikan Tuhan, bersukacita, dan berharap (ayat 20-22). Pemazmur tidak mengetahui semua hal yang bergulir dalam hidup manusia. Ia tidak dapat menjamin hal-hal yang akan terjadi. Tapi Pemazmur yakin akan Allah. Itu sebabnya ia bersukacita dan berharap dengan iman: “Karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya (ayat 21).

 

Aplikasi

  • Semua penjelasan teks di atas kiranya menolong GMIT dalam upaya mengembangkan pujian, khususnya di bidang musik gerejawi. Implikasi teks ini terkait Perayaan Bulan Bahasa dan Budaya biarlah dihasilkan oleh pembaca sendiri.
  • Renungan ini hanya akan membahas implikasi politik Mazmur ini dalam kaitan dengan kondisi bangsa kita sekarang.
  • Mazmur mengundang pemeriksaan ulang atas iman Tuhan dicirikan sebagai yang mencintai keadilan dan hukum (ay. 5) yang mengerjakan segala sesuatu dengan kesetiaan (ay. 4). Hal ini Tuhan wujudkan dalam kebijakan-Nya untuk membebaskan orang dari kelaparan dan maut (ay. 19). Kita mesti menjadi orang Kristen yang memerankan fungsi-fungsi ini dalam dunia.
  • Tuhan mengelola bumi dengan kasih setia-Nya, suatu realitas yang jauh lebih penting dan dipercaya mampu mengatasi kondisi bangsa yang penuh dengan ancaman dan gejolak disintegrasi. Bangsa-bangsa boleh saja merancangkan hal yang jahat, namun kita percaya bahwa kasih setia Tuhan yang akan berlaku atas seluruh ciptaan.
  • Mazmur memanggil kita untuk bersaksi bahwa kekuatan ekonomi, sosial, dan militer adalah harapan sia-sia untuk pembebasan. Kekuatan-kekuatasan tersebut bukanlah satu-satunya solusi bagi persoalan dunia. Harapan demokrasi dunia tidak terletak pada kuasa dan kekuatan tsb (ay. 16-17), tetapi pada Allah yang mengendalikan dunia ciptaan-Nya (Pdt. Jahja A. Millu).

[1] Bahan PA di Rumah Bersama, Jumat 19 Mei 2017.

[2] Didasarkan terutama pada bukunya C. Barth, Teologi PL 3, hlm. 116-125.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *