DALIL NATAL

Dalil Natal

Oleh: Pdt. Yuda D. Hawu Haba, M.Th

(Melayani di Kantor Sinode GMIT Bagian Perencana, Penelitian dan Pengembangan Pelayanan – BPPPPS GMIT)

 

KINI, kita memasuki perayaan Minggu Advent dan tak seberapa lama akan usai. Sesaat lagi kita akan merayakan Natal. Kita akan bersalaman dan memahami diri apa adanya karena Natal. Apa itu Natal sebenarnya? Bagaimana menghayati serta merayakan Natal dengan benar? Natal itu memberi atau menerima?

Bunyi dalil pertama dari merayakan Natal dengan benar adalah Jangan memberi sebelum menerima! Menyusul dalil yang kedua, berbunyi: jangan menerima tanpa memberi!

Mungkin saja, di Nusa Tenggara Timur (NTT), Natal tampaknya adalah kesempatan untuk memberi. Bisa saja, sejak akhir bulan November, kita telah menyusun sebuah daftar panjang: siapa yang harus diberi saat Natal nanti. Boleh jadi, tidak boleh ada yang terlupakan! Sebab, orang akan merasa amat tersinggung dan dilalaikan, bila ia merasa cukup dekat, tetapi kita lalai memberi hadiah Natal kepadanya! Jadi, agaknya Natal di lingkungan dimana kita berada, minimal membeli…, dan memberi…!

Kita bisa membayangkan, di penghujung tahun 2016 ini berapa jumlah uang yang dipakai untuk membelanjakan atau membeli hadiah Natal. Rasanya, orang yang berpenghasilan paling rendah sampai yang berpengahsilan tinggi, membelanjakan tidak kurang dari seperlima seluruh penghasilannya sebulan untuk membelikan hadiah Natal bagi dirinya, dan orang lain.

Kita mungkin mengatakan, “Alangkah murah hatinya umat kristiani di hari Natal! Alangkah tinggi gairah dan semangat memberi yang mereka miliki”. Benar demikian? Memang ada benarnya, tetapi tidak seluruhnya. Kalau kita cermati lebih dalam, apa yang paling mengesankan ketika mereka merayakan Natal: memberi atau menerima? Hal yang paling mengesankan adalah perasaan tegang, berdebar-debar, penuh antisipasi dan sekaligus misteri pada waktu mereka membuka bungkus kado-kado Natal itu. Apa yang kira-kira akan saya terima?

Jadi, pada akhirnya, yang lebih dominan adalah, “Apa yang saya terima, bukan apa yang saya beri”. Apa sebenarnya yang kita harapkan pada hari Natal ini? Bukankah kita menerima atau mengalami sesuatu yang luar biasa, atau minimal sedikit lain dari biasa? Mungkin yang ingin kita terima memang bukan kado dalam bentuk benda, tetapi boleh merasakan atau mengalami sesuatu yang istimewa, yang menggembirakan. Acara beribadah atau perayaan Natal yang istimewa. Khotbah Natal yang istimewa. Bagi siapa pun, Natal, kalau kita jujur, adalah kesempatan untuk menerima, mengalami, merasakan sesuatu yang lain daripada biasa. Lebih daripada untuk memberi.

Salahkah itu? tidak juga. Natal memang pertama-tama adalah pemberian Allah, kado atau hadiah dari Allah. Ini adalah kado yang amat amat luar biasa! Sebagaimana dikatakan Yohanes 3:16, “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.  Itulah kado Natal dari surga: Putra Allah yang Tunggal.

Oleh karena itu, bagaimana merayakan Natal dengan benar? Tidak ada pilihan lain: dengan menerima Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal itu, sebagai Tuhan dan Juruselamat kita pribadi. Karena itu, sebelum hal ini kita lakukan, sebelum kita bersedia menerima kado Natal paling istimewa ini, singkirkan dulu kado-kado Natal yang telah kita sediakan untuk orang lain. Betapa pun indahnya, betapa pun mahalnya, yang kita ingin berikan kepada orang lain di hari Natal ini tidak ada gunanya, sebelum kita mau menerima “Cahaya Abadi”.

Jangan memberi sebelum menerima!, begitu bunyi dalil pertama dari merayakan Natal dengan benar. Selanjutnya, dalil yang kedua, berbunyi: “jangan menerima tanpa memberi!, sebagaimana dikatakan di atas.

Kalau kita mengikuti Natal seperti yang diceritakan di Alkitab, kita dapat membagi orang-orang yang terlibat pada waktu itu ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang cuma ingin menerima. Hasilnya? Mereka malah tidak memperoleh apa-apa. Kelompok kedua adalah orang-orang yang bersedia menerima maupun memberi. Bagaimana hasilnya? Mereka harus kehilangan banyak, tetapi kemudian memperoleh jauh lebih banyak. Natal, bukan “mempunyai lebih banyak” (to have more) melainkan “menjadi lebih baik” (to be more), demikian kata Sri Paus Yohanes Paulus II dalam salah satu ensikliknya.

Pemahamannya demikian. Kelompok pertama, yaitu, kelompok yang maunya hanya ingin menerima (tetapi menolak Yesus). Misalnya, pemilik rumah penginapan di Betlehem. Hal yang dipikirkannya hanya satu: bagaimana pada waktu kebutuhan atas penginapan sedang berada di puncak-puncaknya, ia dapat mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Karena itu, ia menolak Yusuf dan Maria. Hasilnya: ia mungkin dapat uang banyak, tetapi kehilangan kesempatan yang tak akan terulang, yaitu menjadi tuan rumah bagi kelahiran Sang Putra Allah! Sayang sekali, bukan?

Awas! Banyak di antara kita yang sebenarnya sama seperti si pemilik losmen itu. Di hari Natal ini, kita memperoleh banyak dan bermacam-macam kado, tetapi bukan kado Natal duniawi yang paling istimewa, melainkan kado Natal dari surga!

Pada kelompok yang sama, dapat dimasukkan pula Raja Herodes. Ingat pesannya kepada orang-orang majus itu, ”pergi dan selidikilah dengan saksama hal-hal yang mengenai Anak itu dan segera sesudah menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia” (Mat. 2:8). Apa betul Herodes ingin menemui Yesus? Betul! Namun, motifnya justru karena ia tidak mau kehilangan apa-apa karena Yesus. Ia ingin menemukan Yesus untuk dibunuh! Hasilnya? Nol! Apa yang ingin dipertahankannya, yaitu kekuasaan dan takhtanya, akhirnya lenyap. Sebaliknya, Yesus yang ingin dibunuhnya, hidup dan kerajaan-Nya terus berjaya!

Kelompok kedua adalah orang-orang yang mau menerima Yesus, sekaligus juga bersedia kehilangan sesuatu bagi Yesus. Misalnya, Yusuf dan Maria, keduanya telah mempersembahkan dan rela kehilangan seluruh kenyamanan hidup mereka untuk Yesus! Para gembala di Efrata, ada di tempat ke dua. Mereka memberi apa? Yang jelas mereka terlalu miskin untuk memberi apa-apa, tetapi mereka memberikan apa yang paling disukai Tuhan: hati mereka. Hati dan mulut yang memuji dan memuliakan Allah – begitu kita baca dalam Lukas 2:20. Lalu, para Majus. Jangan kita sangka bahwa apa yang mereka bawa hanyalah emas, kemenyan dan mur. Persembahan mereka yang lebih berharga adalah perjalanan jauh dan penuh resiko yang bersedia mereka tempuh. Kemudian, persembahan mereka berupa lulut yang mau bertelut di hadapan Yesus. Siapa yang memberikan persembahan Natal yang paling mahal dan paling berharga? Bayi-bayi Betlehem! Apa yang mereka berikan? Jiwa mereka! Diri mereka! Hidup mereka!

Jika demikian, di hari Natal ini, pertanyaan mendasarnya adalah: apa yang hendak kita terima dan beri secara sukarela…?! Ternyata ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan juga menuntut pengorbanan. Bahkan apa yang bersedia kita korbankan kepada Tuhan, itulah bukti sampai di mana ketaatan dan kasetiaan anda kepada-Nya. Allah tidak membutuhkan pemberian Anda. Ia menyenangi hati yang senang memberi dan berbagi! Selamat Natal 2016!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *