Di Pangkuan Bapa – Yesaya 46:1-13

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. (Yesaya 46:4)

Seorang anak perempuan menemui pendeta untuk meminta agar ayahnya yang sakit dikunjungi dan didoakan. Saat pendeta itu berkunjung, ia mendapati ayah anak itu berbaring di tempat tidur dalam stroke dan hampir tidak bisa bergerak sendiri.  Terdapat sebuah kursi kosong terletak di samping ranjang. Pendeta berpikir bahwa kursi kosong itu disiapkan untuk dirinya maka ia pun berterima kasih karena sudah ditunggu dan dipersiapkan kursi baginya namun jawaban terbata-bata yang ia dapatkan dari orang sakit itu adalah, “Oh maaf ini bukan kursi untuk anda. Anda siapa?”

Pendeta pun memperkenalkan diri, “Saya pendeta yang diminta anak anda untuk datang mendoakan anda. Saya kira kursi kosong ini untuk saya.”

Terbata-bata orang sakit itu berkata, “Pak pendeta saya mau bercerita pada anda tapi berjanjilah anda tidak akan menertawai saya dan tidak akan menceritakannya pada siapapun.” Pendetapun menyetujui perjanjian itu. “Sebenarnya saya tidak tahu cara berdoa lalu seorang teman berkata bahwa doa adalah seperti mengadakan percakapan dengan Tuhan. Ia meletakkan kursi itu dan menyuruh saya berbicara kepada Tuhan seolah-olah Tuhan duduk di situ dan saya sangat menyukai ide itu sehingga sampai saat ini saya melakukannya setiap saat.”

Dua hari setelah perkunjungan itu, pendeta ditelpon anak perempuan orang sakit itu dengan berita bahwa ayahnya telah meninggaldunia. Dalam telp, anak perempuan bercerita hal yang menurutnya aneh, “Aneh sekali karena saat saya ke kamar ayah, ia sudah meninggal dengan kepalanya diletakkan di atas kursi di samping ranjang. Anda tahu sendiri bahwa ayah tidak bisa menggerakkan kepalanya sendiri. Menurut anda apa yang telah terjadi?” Si pendeta diam cukup lama lalu berkata, “Ayahmu meninggal dalam pangkuan Allah. Sungguh kematian yang indah. Saya berharap bisa meninggal dengan cara demikian.”

Saudara, hidup kita ada di dalam tangan Tuhan. Indahnya hidup di dalam Tuhan adalah, bukan saja Ia memelihara kita tapi bahkan Ia mau menggendong kita maka apapun bahaya yang harus dihadapi, ada kepastian bahwa kita tidak perlu takut karena Allah akan terus menopang kita. Saat perjalanan hidup semakin berat, Ia mau menggendong kita hingga tujuan. Kalau begitu apakah lagi yang harus ditakuti mereka yang hidup dan berjalan dalam jalan Allah?

Saat hidup dalam dunia yang penuh pergumulan, Allah tidak akan kasih tinggal. Saat harus meninggalkan dunia, Allah kita adalah Allah yang akan tetap beserta kita. Selamat menikmati penyertaan Allah, selamat digendong oleh Allah. (LM)

Leave a Reply

Your email address will not be published.