Filipi 3:1b-16 – Pdt. Tera D. Klaping, M.Th

LATAR BELAKANG TEKS

Rasul Paulus, penulis surat Filipi adalah tokoh penting dalam kehadiran gereja perdana. Keriunduannya adalah agar jemaat-jemaat bertumbuh dalam iman kepada Yesus Kristus dan terus hidup dalam cinta kasih persaudaraan supaya mereka bisa mengalami damai sejahtera dalam hiodup bersama. Ia tidak menghendaki ada pertikaian di antara jemaat. Paulus juga tidak lagi mengingat kepentingan dirinya sendiri tapi ia selalu berusaha menolong jemaat-jemaat dari berbagai pengaruh luar yang melemahkan iman mereka. Paulus setia dalam berjuang demi kemurnian iman jemaat kepada Yesus Kristus, Tuhan. Paulus yang sebelumnya menjadi tokoh yang menganiaya pengikut Kristus berubah menjadi pelopor gereja.

Saat berada di dalam penjara, Paulus memberi perhatiannya kepada jemaat di Filipi yang sedang berhadapan dengan banyak soal. Filipi adalah kota penting karena menjadi pusat perdagangan sebab disana terdapat  tambang emas dan perak. Filipi juga daerah strategis karena menghubungkan

Eropa dan Asia. Di Filipi juga terdapat pangkalan militer Romawi. Sebagai kota yang ada dalam wilayah kekaisaran Romawi, daerah itu kental dengan adat istiadat Romawi. Di sana hidup manusia dari berbagai suku bangsa dan strata sosial.

Beberapa catatan dari Paulus tentang jemaat di Filipi antara lain. Pertama, ia berterima kasih kepada jemaat di Filipi karena jemaat itu telah turut membiayai pelayanan Paulus. Jemaat Filipi adalah satu-satunya jemaat yang membiayai pelayanan Paulus. Sementara untuk biaya pelayanan Paulus ke jemaat lain ditanggung sendiri oleh Paulus dengan membuat tenda dan menjualnya. Sepertinya banyak anggota jemaat Filipi yang kaya sehingga mereka mampu membiayai pelayanan. Kedua, Paulus meneguhkan hati jemaat supaya tetap teguh dan setia beriman kepada Yesus Kristus serta tidak boleh terpengaruh. Ketiga, Paulusmenasehati mereka untuk tetap memelihara persatuan hidup sebagai jemaat Kristen. Secara khusus ia meminta kepada Eudia dan Sintike supaya mereka tidak terus bertikai. Ia juga meminta teman yang lain supaya memperhatikan kalau ada pertikaian diantara anggota gereja. Kepada jemaat Filipi, Rasul Paulus menyatakan kerinduan agar jemaat jangan terbiasa dengan roh pertikaian tapi belajar rendah hati dan setia menunjukkan kesetiaan mereka kepada Yesus Kristus.

ANALISIS TEKS

Beberapa persoalan serius yang Paulus temukan terjadi di Filipi antara lain:

  1. Pertentangan dengan orang-orang Yahudi. Tentang mereka, Paulus memakai kata anjing. Anjing bagi dunia Palestina menunjuk kepada anjing liar yang biasanya jalan berkelompok dan suka memakan sampah serta menakuti manusia. Anjing juga selalu berarti rendah dan menjijikkan seperti dalam cerita orang kaya dan Lazarus, anjing menjilati borok Lazarus artinya menunjuk pada hal menjijikkkan. Dalam kitab Wahyu anjing menunjuk pada hal yang cemar. Matius 6:7, barang yang kudus tidak boleh dilempar kepada anjing. Sementara dalam masyarakat Yunani, anjing selalu berati segala seaatu yang bersifat najis. Penggunaan kata anjing terkesan kasar karena Paulus mau menunjukkan kepada orang Yahudi yang menurut Paulus sedang memutar balikkan Injil Yesus Kristus dan bagi Paulus itu menjijikkan dan tidak benar serta patut dijauhi. Bagi Paulus orang Yahudi sedang melakukan hal yang jahat maka Paulus mengingatkan supaya orang Kristen tetap berpegang teguh pada kebenaran dalam Kristus. Pauluspun mengingatkan bahwa jemaat tidak boleh bermegah pada hal lahiriah, seperti mau menjadi Yahudi tulen maka mesti disunat. Paulus lalu memberi contoh dirinya yang adalah orang Yahudi tulen. Hal terpenting adalah penyerahan diri yang sungguh-sungguh kepada Tuhan. Paulus mau supaya orang Kristen menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Sunat yang sejati adalah penyerahan diri secara total melalui hati , pikiran dan perasaan yang diserahkan kepada Kristus. Perjanjian Lama juga telah menegaskan tentang hal terpenting bukan sunat tubuh tapi sunat hati. Misalnya Imamat 26 menegaskan untuk setiap orang harus sunat hatinya. Yeremia menyerukan sunat telinga. Ulangan 10:16, sunat hati. Dengan demikian menurut Paulus orang yang benar hidup dalam kebenaran, dan beribadah kepada Tuhan dalam roh dan kebenaran.
  2. Setiap orang percaya mesti bermegah di dalam Kristus dan tidak bermegah atas diri atau perbuatan sendiri.
  3. Setiap orang percaya menaruh keyakinan bukan pada apa yang dibuat manusia tapi pada Allah.
  4. Paulus mengingatkan bahwa orang Kristen mesti menyerahkan hidup pada Tuhan sebab Ia telah memberi hidup-Nya bagi keselamatan manusia. Paulus menunjuk pada kematian dan kebangkitan Kristus dan mengingatkan bahwa melalui kebangkitan Kristus maka kita mesti menyadari bahwa tubuh kita telah kudus maka harus menjaga kekudusan. Paulus juga mengingatkan bahwa tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah maka tetaplah setia.
  5. Penegasan bahwa ibadah yang kita lakukan jangan menjadi ibadah formal tapi mesti menjadi penyembahan yang sungguh kepada Tuhan.

PERTANYAAN

  1. Persoalan apa yang dihadapi gereja dan strategi apa yang bisa kita lakukan untuk melandasi persoalan tersebut, sebagaimana yang dilakukan Paulus?
  2. Masih adakah Paulus masa kini dalam gereja khususnya GMIT?
  3. Model peribadahan manakah yang dapat membantu jemaat-jemaat agar berpaut kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat sehingga ibadah tidak menjadi ibadah formal belaka?

TANGGAPAN DAN RELEVANSI

  1. Teks menekankan adanya pertentangan tentang kebenaran menurut Kristus dan kebenaran yang diberikan pihak lain karena itu Paulus mengingatkan jemaat untuk hati-hati terhadap pengaruh itu. Ungkapan hati-hati dalam ayat 2 sebenarnya kalimat yang mesti dilihat sebagai kalimat yang pantas diberikan kepada mereka yang kerja tidak betul sehingga pantas disebut anjing. Orang tidak perlu tersinggung kalau kata anjing ditujukan kepada mereka yang berperilaku sebagai anjing. Pertentangan yang terjadi ini, dijawab dalam ayat 8 dimana kelompok yang mencoba mencari sesuatu yang benar dengan tekun dan melaksanakan tuntutan Taurat diperhadapkan dengan kelompok yang mencari dan melakukan kebenaran serta dibenarkan karena Allah di dalam Kristus. Manusia dibenarkan bukan karena perbuatannya sebab tidak ada seorang pun yang baik dan benar. Anda dibenarkan karena kasih karunia Kristus. Maka jangan berdebat soal kebenaran karena tidak ada kebenaran sejati melalui perbuatan baik. Tanggung jawab kita adalah meresponi kasih karunia Allah dengan melalukan hal yang baik dan benar dalam hidup. Perintah bagi kita adalah lakukan kebenaran karena kasih karunia Alah. Sementara tindakan berjuang untuk kebenaran melalui pertikaian tidak dibenarkan. Apapun bentuk pertikaian selalu mengancam persekutuan sekalipun itu dibangun atas dasar kebenaran. Bapak-bapak gereja yakni Martin Luther dan John Calvin, ketika proses reformasi terjadi, menekankan tiga prinsip yakni sola gratia, sola fide dan sola scriptura. Keselamatan adalah anugerah yang harus disambut dalam iman dan iman itu adalah iman yang membawa kita pada tindakan melakukan perbuatan baik sebagaiman yang Allah kehendaki dalam firman-Nya.
  2. Ada banyak soal yang dihadapi gereja. Gereja sementara menghadapi pergumulan soal kehadiran tempat karaoke Happy Puppy yang tepat di depan GMIT Koininia Kuanino. Ada juga persoalan tambang. Akhir-akhir ini koran memberitakan beberapa berita yang harusnya menggelisahkan, pertama, ada 126 kasus perceraian di Kupang. Pada saat yang sama banyak alumni Kali Jodoh, yang lokasi prostitusinya ditutup, berhasil ditangkap di Kupang. Kedua, persoalan kesehatan yang berkaitan dengan masalah kebersihan yakni demam berdarah yang sudah mulai menyerang Kota Kupang. Ketiga, anjuran untuk hati-hati kepada politik uang dalam rangka suksesi kepemimpinan. Keempat, alumni Gafatar telah kembali ke Kupang dan ada 23 orang yang sudah dikembalikan ke tengah masyarakat. Keenam, pembangunan masjid di Batuplat yang diijinkan pemerintah tanpa melihat keresahan masyarakat. Keenam, orang gila ada 76 orang di Kota Kupang dan yang ditangani baru 34 orang dan diduga banyak orang akan gila. Kritik kepada gereja adalah perhatian gereja lebih banyak dan bahkan hanya ditujukan kepada orang waras. Menghadapi berbagai persoalan serius ini, gereja sebenarnya sudah melakukan banyak hal. Hanya soalnya apakah yang sedang kita perjaungkan adalah kebenaran sejati atau pencitraan supaya orang melihat kita bukan anjing, pekerja yang jahat atau penyunat palsu.

Selain itu persoalan pendidikan dan kemiskinan harus menjadi pergumulan serius gereja. Sekolah-sekolah GMIT dulu ada banyak dan di daerah ini malah hanya ada sekolah GMIT. Namun banyak yang sudah ditutup. Justru gereja lain yang dianggap berorientasi pada ‘keakanan’ malah menjadi pelopor sekolah-sekolah berkualitas. Sementara di pihak lain, gedung-gedung gereja kita semakin berdiri megah padahal pelayanan holistik mandek hingga yang tersisa bagi kita adalah gedung gereja yang megah sementara rumah sakit dan lembaga pendidikan ditutup. Selain itu isu kemiskinan dimana kita tetap harus mengkritisi kemiskinan sebagai orang miskin karena malas atau miskin karena dimiskinkan. Disini gereja mesti bersikap. Kita mesti belajar dari model pelayanan Paulus mula-mula. Paulus bukan saja pemberita firman tapi pekerja keras yang hidup dari menjahit tenda. Hendaklah kita juga menunjukkan kehadiran kita betul-betul untuk pelayanan yang menyentuh keprihatinan warga gereja supaya nyata doa Yesus melalui kehadiran gereja yakni ’Datanglah kerajaan-Mu di bumi seperti di sorga.’

PA Kantor Sinode GMIT, Sabtu, 12 Maret 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *