FIRMAN ALLAH SEBAGAI PEMULIHAN RELASI ALLAH DENGAN UMAT-NYA

Bahan Khotbah: Nehemia 8:1-13

Pdt. Elisa Maplani

Bacaan ini merupakan bagian dari stretegi Nehemia membangun kehidupan peribadahan umat Israel sebagai umat pilihan Allah setelah umat mengalami kehidupan yang baru di tanah Yerusalem.
Umat Israel dibawah pimpinan Nehemia telah memulai hidup yang baru di tanah Yerusalem. Atas perkenan Tuhan melalui belas kasihan Raja Arthasasta, Nehemia diijinkan kembali ke Yehuda untuk membangun kembali tembok Yerusalem yang dihancurkan pada zaman Raja Nebukadnezar.

Sebagai seorang pemimpin, Nehemia dengan doa dan Iman kepada Allah serta tekad yang kuat, bersama-sama semua warga Isreal yang bersatu hati telah menyelesaikan pembangunan tembok kota Yerusalem. Tuhan telah turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi Nehemia dan umat meski terdapat banyak tantangan dan kesulitan.
Tembok Yerusalem telah mereka bangun dan berdiri megah. Penduduk yang akan menghuni Yerusalem dan bekerja melayani juga sudah didata secara baik. Kini Nehemia memandang perlu untuk membangun Iman umat supaya hidup beribadah dan melakukan perbuatan-perbuatan yang berkenan kepada Allah.

Nehemia sadar bahwa tanpa membangun kehidupan iman umat agar hidup berkenan kepada Allah, semua upaya dan jerih lelah membangun tembok Yerusalem dan pendataan penduduk kota Yerusalem menjadi kesia-siaan. Itu yang membuat Nehemia sadar sekarang adalah waktu yg tepat membangun kembali ibadah yang sempat hilang dari kehidupan umat akibat penjajahan masa lampau.

Bagi Nehemia, bangsa Israel selaku umat Tuhan memerlukan daya rohani yang kuat dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan dan masalah kehidupan di tengah-tengah pembangunan yang pesat sehingga jangan segala kemajuan membuat umat meninggalkan Tuhan tapi tetap hidup sungguh-sungguh saleh dan bergantung pada Allah.
Dalam menata ibadah dan pengajaran umat, Nehemia merangkul Ezra sang ahli Kitab dan melakukan langkah-langkah konkrit antara lain:

1. Mengajar dan menelaah taurat Allah kepada orang Israel (Ay 1-9;13-15);
Sejak awal Nehemia diutus ke Yerusalem Nehemia sadar bahwa pembangunan tembok Yerusalem tidak hanya berurusan dengan bangunan fisik belaka. Pengutusan untuk membangun tembok Yerusalem juga merupakan persoalan spiritual/rohani. Umat harus didorong untuk hidup dan mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah. Itu sebabnya mengajar dan mempelajari Firman/Taurat Tuhan dengan melibatkan seluruh umat jadi perhatian serius Nehemia. Untuk pembangunan spiritualitas/kehidupan rohani umat Nehemia melibatkan Ezra serta orang-orang Lewi.

Ezra dan orang-orang Lewi dengan tekun membacakan Firman/Taurat Tuhan setiap hari dan mendapat perhatian umat melalui pesta pondok Daun selama 7 hari. Metode pembacaan Firman/Taurat Tuhan itu tidak saja bersifat umum yang melahirkan perhatian umat dan mengamininya. Namun Firman/Taurat itu dibacakan dan didalami dalam kelompok-kelompok kecil dibawah bimbingan petugas-petugas orang-orang Lewi yang telah dilengkapi agar umat dapat memahami kehendak Tuhan secara mendetail (Ay 5,8).

Ada keseriusan yang sungguh-sungguh menata pola ibadah dan pengajaran Taurat Tuhan. Umat meresponi pengajaran itu dengan memperhatikan dan mendengar dengan sungguh-sungguh, mengerti dan mengamini Firman Tuhan sambil mengangkat tangan, berlutut dan menyembah kepada Tuhan (Ay 3-5,7). Tujuannya agar bagaimana umat Israel mengalami hidup baru dan pengharapan baru dalam Tuhan.

Nehemia, Ezra dan para petugas orang Lewi, berusaha membimbing umat hidup sesuai kehendak Tuhan dengan berpusat pada Firman/taurat Tuhan. Firman/Taurat Tuhan dan segala tatanan/aturan Allah jadi keharusan mutlak karena umat Israel telah lama tidak melakukan kewajiban sebagai umat Allah yakni Mengenal Firman/Taurat Tuhan dengan benar.
Segala dosa dan pemberontakan hidup terjadi karena umat kurang mengenal akan Firman/Taurat Tuhan. Itu sebabnya mengenal Firman/Taurat Tuhan itu penting, sebab dengan mengenal Firman/Taurat Tuhan umat mengenal kehendak Tuhan secara baik dan benar.

2. Mengajak setiap umat mengingat kasih dan kemurahan Allah yang menolong dan menyelamatkan dan meresponi kasih Allah itu dengan cara menikmati dengan penuh sukacita berkat-berkat Tuhan dalam hidup sambil belajar berbagi berkat Tuhan pada sesama (Ay 10-13).
Pembaca dan mendalami Firman/Taurat Tuhan itu menimbulkan perasaan haru umat. Mereka menangis karena sadar betapa hidup mereka telah memberontak pada Allah. Mereka berdosa dan jauh dari kebenaran Firman/Taurat Tuhan. Mereka gagal mempertahankan relasi kekerabatan sosial selaku sesama umat pilihan Allah. Mereka ada dalam perenungan diri yang mendalam dan mengidentifikasi diri sebagai orang yang berdosa di hadapan Tuhan. Mereka menyesal dan bertobat.

Revolusi mental (menyesal dan bertobat) harus dilakukan. Atas dasar penyesalan dan pertobatan itu mereka mendapatkan belas-kasihan dan pengampunan Tuhan. Tuhan menguduskan dan memperbaharui kembali mereka. Karena itu Nehemia dan Ezra mengajak umat untuk bersukacita dalam kegiatan utama perayaan tujuh hari pondok Daun sebagai ucapan syukur atas kebaikan Tuhan bagi umat pada masa lampau (Band.14-19). Bersukacita karena tidak terhitung banyaknya pertolongan dan kemurahan Tuhan atas kehidupan umat-Nya. Jangan lagi umat menangis dan bersedih hati. Bersukacitalah untuk kasih dan kebaikan Tuhan sepanjang hidup dimasa lampau hingga penyelamatan-Nya di masa kini.

Umat juga diajak agar dengan sukacita boleh menikmati berkat-berkat Tuhan: Tidak boleh berdukacita tapi makan yang sedap dan minum yang manis karena sukacita dalam Tuhan sehingga tenang dan tidak bersusah hati (Ay 10-12). Mereka juga saling berbagi berkat yang dilandasi pemahaman yang benar akan Firman Tuhan. Di sini nampak bahwa landasan hidup umat menjalani hidup dan menikmati berkat-berkat dengan sukacita serta berbagi berkat dan bersukaria (berpesta) karena pemahaman yang benar akan Firman Tuhan bahwa sesungguhnya di dalam Tuhan hidup mereka telah dikuduskan dan diperbaharui oleh Tuhan.

Sebagai umat Kristen kita baru saja merayakan dua hari raya besar yakni hari natal dan tahun baru 2018. Oleh kasih dan kemurahan Tuhan, kita hendak memasuki minggu ke-tiga di bulan januari tahun 2019. Melalui Firman Tuhan ini, Nehemia hendak menasehati umat Tuhan:

1. Firman Allah merupakan dasar dari pertumbuhan Iman Kristen. Dengan tekun membaca dan mendalami Firman Allah, gereja dan setiap orang Kristen mengenal benar akan diri dihadapan Tuhan, menyadari akan dosa dan kesalahan yang diperbuat, menyesal dan bertobat lalu mendalami Firman Tuhan agar semakin bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan kasih setia Tuhan yang menyelamatkan dan hidup berkenan serta memuliakan Tuhan.
Nehemia dan Ezra ajarkan kita jadi murid yang selalu berdoa dan selalu belajar dari Firman Tuhan untuk bertumbuh dalam Iman kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Bekerja membangun hidup, berdoa dan bertumbuh dalam pengajaran Firman Tuhan itu strategi Nehemia dan Ezra membangun kehidupan umat yang bertanggungjawab yang harus diteladani umat percaya masa kini.

Dengan nada lain Nehemia dan Ezra melalui bacaan ini hendak memberi petunjuk praktis bagaimana setiap orangtua Kristen sebagai pemimpin dalam rumah tangga, memberi perhatian yang seimbang antara pemenuhan kebutuhan fisik dan intelektual anak bersamaan dengan pemenuhan akan kebutuhan rohani/spiritual anak-anak sebagai keluarga-keluarga Kristen.

2. Mengingat kembali kasih dan kebaikan Tuhan dimasa lampau yang menolong dan menyelamatkan akan jadi daya yang membangkitkan orang percaya jalani suasana yang baru di tahun baru ini dengan penuh sukacita, menikmati berkat-berkat Tuhan dengan sukacita dan belajar berbagi berkat dengan sesama.

Ingat, tidak pernah ada masa dalam hidup dimana Tuhan lupa akan umat-Nya dan ingkar akan janji-janji-Nya untuk menolong dan menyelamatkan. Di dalam Kristus Yesus yang telah lahir dan mati itu kita mengalami kebaikan dan pengampunan-Nya dan diperbaharui oleh-Nya. Mari kita jalani hidup dengan sukacita, menikmati berkat-berkat-Nya dan belajar berbagi berkat-Nya pada sesama diatas landasan Firman Tuhan.

Soli Deo Gloria.

Leave a Reply

Your email address will not be published.