Grup Qasidah Meriahkan Ibadah Penahbisan Gereja

ALOR, www.sinodegmit.or.id, Di tengah pasang-surut isu konflik antar umat beragama di berbagai wilayah di Indonesia, suasana harmonis umat Kristen dan Islam di kabuputen Alor bisa menjadi panutan. Hal itu tercermin dari kebersamaan mereka menggagas dan terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.

Selasa-Rabu, (10-11/7), bukti persaudaraan diwujudkan melalui penampilan dua grup Qasidah masing-masing dari remaja mesjid Nurul Karim Lobang-Dulolong dan  ibu-ibu dari majelis taqlim An’nur Doluwal dari mesjid Darul Jalil-Pura. Kedua grup qasidah ini memeriahkan ibadah penahbisan dan peresmian gedung kebaktian jemaat GMIT Esa Afengmale dan Jemaat Elim Dadi Bira, klasis Alor Barat Laut.

“Tahun 1917 Bapak Saya sekolah di sekolah GMIT, dulu kami sebut sekolah zending, lokasinya di Alor Kecil. Waktu bapak besar pulang dari Mekah, dia terkejut lihat bapak saya sekolah di sekolah Kristen. Sementara nenek saya juga dari Kristen, jadi kami orang Islam dan Kristen di sini bersaudara. Kalau saudara-saudara Kristen bangun Gereja kami saling bantu kerja, begitu juga sebaliknya. Itu sudah berlangsung sejak dulu. Jadi hubungan umat Kristen dan Islam di sini sampai dunia mau terbalik juga kami tetap bersaudara,” ujar Haji Sharul Umar Bara, tokoh Muslim dari Mesjid Nurul Mujahidin.

Hal senada juga disampaikan Rahman (52). Ketua taqmir mesjid Darul Djalil-Pura ini menjelaskan awal mula berdirinya gedung Gereja Elim Dadi Bira-Pura pada 1940-an tak lepas dari peran aktif umat Muslim. Itu terbukti dari patung ayam yang masih tersimpan di gereja hingga saat ini.

“Dulu profesi tukang kebanyakan orang pantai (orang Muslim, red.), jadi saudara-saudara Kristen waktu bangun Gereja, minta orang tua kami buat patung ayam jantan yang dipasang di menara. Setelah gedung gereja lama rusak dan bangun yang baru, patung ayam diturunkan dan diganti dengan simbol PX (bhs.Yunani χρ: Kristus).* Demi mengingat sejarah kebersamaan di masa lalu itu maka pada peresmian gedung gereja yang baru ini, saudara-saudara Kristen minta kami ikut dalam liturgi ibadah untuk mengarak patung ayam ke dalam ruangan kebaktian sebagai bentuk pengakuan dari saudara-saudara Kristen bahwa umat Islam juga ikut berperan dalam perkembangan gereja di Pura.”

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada umat Muslim dan Kristen di Alor yang sungguh-sungguh merawat relasi persaudaraan tidak hanya dalam acara-acara keagamaan tetapi juga dalam praktik hidup sehari-hari.

“Di Afeng Male ini, kakak adik dari gunung dan dari pantai, basodara Muslim dan Nasrani hidup bersama. Dalam susah dan senang kita telah berdiri untuk saling membantu. Tahul menjadi sebuah tindakan budaya sekaligus tindakan iman umat lintas agama di kampung-kampung kita di daerah ini. Jaga baik-baik persaudaraan. Jaga baik-baik tradisi yang luhur ini sebagai praktik hidup yang merekatkan kita kakak adik di Alor tercinta ini,” ujar Pdt Mery dalam khotbahnya.

Bupati Alor Drs. Amon Djobo, yang juga hadir pada peresmian dan penahbisan kedua gedung gereja ini memuji eratnya persaudaraan antar umat Kristen dan Islam di wilayahnya.

“Hari ini air mata saya sampai tadudu (bhs. Kupang: terharu,red.) menyaksikan qasida dari basaudara Muslim. Dalam syair qasida yang mereka bawakan itu justru mereka ajak kita untuk bangun persekutuan. Itu luar biasa. Peristiwa begini tidak ada di tempat lain, hanya ada di Alor saja. Kekayaan-kekayaan rohani seperti ini tidak boleh pudar dari kehidupan orang Alor,” ujar Amon.***

*Simbol Chi Rho  tersusun dari penumpangtindihan dua huruf pertama (dalam bentuk huruf besar) Chi dan Rho (ΧΡ) dari kata Yunani “ΧΡΙΣΤΟΣ” = Kristus. Umumnya gedung-gedung ibadah jemaat GMIT di Alor menggunakan simbol ini di menara gereja.

Leave a Reply

Your email address will not be published.