Hidup Yang Bercahaya – Matius 5:14-16

Nats Pembimbing : Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. (Matius 5:16)

 

Seorang teman, yang bekerja di toko, mengeluh karena memiliki memiliki bos baru yang berlagak seperti diktator di toko. Itu membuatnya benar-benar tidak nyaman dan mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Padahal tidak mudah mencari pekerjaan. Lagi pula posisi yang ia dapatkan saat ini adalah hasil kerja kerasnya selama  dua tahun. Saat ia meminta pertimbangan, saya menyuruhnya sabar. Tapi malahan kata-kata saya membuat dia menangis. Ia sepertinya benar-benar tertekan.

Kami lalu mencoba membuat analisa untung ruginya dari setiap pilihan yang ada. Kalau dia berhenti bekerja, ada begitu banyak kesulitan yang akan dihadapinya karena harus menghidupi dua orang anaknya. Belum lagi perjuangannya selama ini akan sia-sia belaka. Kalau ia tetap bertahan, ia memang akan tertekan, tapi ia juga akan diberkati. Setidak-tidaknya ia belajar untuk menjadi bijaksana, saat berhadapan dengan pemilik toko baru yang diktator. Kebijaksaan ia dapatkan tapi harus  membayar dengan harga yang mahal.

Saudara-i, hidup tidak mungkin tanpa masalah. Selama kita hidup pasti akan menghadapi berbagai macam tekanan dan persoalan. Semua itu dapat kita syukuri karena menjadikan kita manusia yang jauh lebih baik, jauh lebih dewasa dan lebih beriman. Sama seperti bintang di langit yang jauh dan kecil, justru terlihat saat keadaan benar-benar gelap. Hidup pun akan lebih baik, akan lebih bercahaya saat semakin banyak masalah yang menerpa. Saat memiliki pasangan yang keras dan suka marah-marah, berterima kasihlah pada Tuhan untuk anugerah pasangan seperti itu. Kalau memiliki pasangan yang cerewetnya minta ampun, jangan lupa untuk juga berterima kasih kepada Tuhan. Karena orang-orang seperti itu adalah guru kehidupan yang terbaik. Paling tidak dari mereka, kita belajar tentang kesabaran. Kita tidak perlu membayar mahal untuk itu.

Pertama, berhentilah mengeluh untuk setiap persoalan yang kita hadapi. Kita mengeluh dan menjadi frustrasi oleh karena selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang negatif. Padahal semakin banyak kesulitan hidup yang harus kita hadapi, akan memungkinkan semakin besar kesempatan bagi kita untuk memiliki hidup yang bercahaya. Tuhan tidak pernah membiarkan sesuatu terjadi pada kita tanpa alasan yang baik. Hanya mereka yang berusaha untuk menemukan maksud baik Tuhan di balik setiap persoalan, yang akan keluar sebagai pemenang. Karena ia mencenderungkan dirinya untuk berpikir positif dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang tujuan Allah yang penuh kebaikan. Dengan begitu maka ia akan bertumbuh menjadi manusia yang jauh lebih baik dan lebih bercahaya bagi Tuhan.

Kedua, pencarian paling mendalam manusia adalah kebahagiaan. Segala hal dilakukan dan diusahakan oleh manusia supaya bisa menikmati kebahagiaan. Tolak ukur kebahagiaan diukur dari pemuasan keinginan. Menjawab kecenderungan kebanyakan manusia ini, dunia hadir dengan menawarkan rupa-rupa kebahagiaan. Semuanya demi pemuasan keinginan manusia. Segalanya seperti cahaya terang yang penuh dengan godaan yang memanggil orang untuk mencari di sana. Padahal kebahagiaan yang ditawarkan dunia bersifat semu. Kekecewaan hidup biasanya berawal dari mencari kebahagiaan di luar diri kita. Banyak orang yang terjebak dalam lingkaran ketidakbahagiaan karena mengira kebahagiaan dapat diperoleh dengan pemuasan diri. Padahal semakin ia berusaha memuaskan diri dengan kenikmatan dunia, semakin ia tidak akan bahagia.

Cara terbaik agar memiliki kebahagiaan yang sesungguhnya dan abadi adalah milikilah hidup yang selalu bercahaya di dalam diri. Hati yang bercahaya dimungkinkan kala orang mampu mengelola hatinya untuk semata-mata dihidupi oleh kasih dan kebaikan. Tuhan Yesus menegaskan, ‘adalah lebih baik memberi daripada menerima’. Tindakan memberi memungkinkan orang menemukan hidupnya berarti. Di situlah ia menemukan kebahagiaan dan kepuasan yang sesungguhnya.

Pada saat kita mengulurkan tangan untuk menolong dan memberkati orang lain, kita akan menemukan senyum kebahagiaan pada diri mereka. Itu akan menghadirkan sukacita yang jauh lebih besar dalam diri kita. Pada saat kita membahagiakan orang lain, kita telah menjadi cahaya terang yang menarik orang untuk mencari Kristus melalui kita. Maka betapa berdampaknya hidup kita untuk kemuliaan Tuhan saat bisa menjadikan hidup sebagai daya tarik pencarian sesama akan Tuhan Yesus. Jadikanlah hidup bercahaya yang memancarkan kasih Tuhan Yesus. (Pdt. Leny Mansopu, S.Th)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *