HIDUP YANG BERKENAN KEPADA ALLAH (Ibrani 13 : 1 – 6)

Pdt. Elisa Maplani

Penulis surat Ibrani lewat bacaan ini beri empat petunjuk praktis bagaimana jalani hidup yang berkenan pada Allah:

Pertama, Peliharalah kasih persaudaraan (ay. 1)

Kasih itu dasar untuk membangun hidup persaudaraan. Sebaliknya persaudaraan haruslah dibangun di atas dasar kasih. Tanpa kasih persaudaraan bisa berubah jadi pertikaian, konflik dan permusuhan. Hilang kasih, hilang pula persaudaraan hidup. Kasih persaudaraan itu perlu dibangun di atas dasar kasih Kristus. Bukan atas dasar kepentingan, hubungan darah daging, kesamaan etnis, kesamaan bahasa, warna kulit atau golongan sebab bila itu jadi dasar kasih persaudaraan, kasih model itu tidak akan bertahan dalam perjalanan waktu.

Dalam dunia orang Yunani dikenal empat model kasih:

(1). Kasih Eros.

Kasih model ini biasanya muncul karena ada rasa tertarik pada unsur-unsur lahiriah seperti cantik-ganteng wajah seseorang, putih-hitam kulit seseorang, panjang-pendek rambut, berperawakan tinggi, lesung pipi, senyuman atau tampilan seseorang yang diam dan tenang dan sebagainya. Unsur-unsur lahiriah ini jadi daya tarik seseorang untuk saling mencintai dan mengasihi.  Kata kunci dari kasih eros adalah mengasihi “karena” atau “sebab”.

(2). Kasih Filia.

Kasih model ini ada karena hubungan pertemanan atau persahabatan yang kuat. Relasi persahabatan yang terbangun buat mereka saling mengasihi.

Contoh: Seorang pemuda dapat menanggalkan jaketnya dan memberi pada pemuda yang lain yang kedinginan di malam hari karena ia tau itu teman/sahabatnya. Atau dua orang pemuda dapat merokok dari satu batang rokok yang sama tanpa merasa jijik bahwa ujung batak rokok itu telah dibasahi air liur temannya karena faktor pertemanan/persahabatan. Kata kunci dari kasih filia adalah mengasihi “karena” atau “sebab”

(3).  Kasih Storge

Kasih model ini ada karena hubungan darah daging atau adanya pertalian darah: Lahir dari satu bapak/ibu atau masih satu klan.

Contoh: Anton membela Toni dan siap untuk mati menggantikan Toni yang hendak dieksekusi karenaToni adalah adiknya yang lahir dari satu kandungan ibu. Kata kunci kasih Sstorge adalah mengasihi “karena” atau “sebab”

(4). Kasih Agape

Kasih Agape adalah kasih yang rela berkorban tanpa menuntut balasan dari orang yang menjadi sasaran kasih. Kasih Agape adalah kasih yang memberi diri seutuhnya tanpa memperhitungkan balas jasa atau untung – rugi bagi diri si pemberi. Jenis kasih ini (agape) adalah jenis kasih yang sempurna, sejati, murni dan tidak bercacat.

Kasih Agape ini hanya ada dan kita temukan di dalam diri Yesus. Di dalam Yesus kita mendapatkan kasih Allah yang terbesar, termahal dan yang sejati. Allah rela memberikan Putra Tunggal-Nya yakni  Yesus yang rela menempuh jalan menderitaan, salib dan kematian. Itu wujud nyata pengorbanan diri yang tidak dapat tergantikan. Allah lakukan itu di dalam Yesus supaya manusia yang berdosa ditebus dan boleh hidup dalam persekutuan kembali dengan Allah. Kata kunci kasih Agape: Mengasihi “walaupun” atau “meskipun”.

Allah mengasihi manusia dengan mengorbankan putera tunggal-Nya, Yesus Kristus menderita, mati tersalib dan dibangkitkan demi keselamatan manusia meskipun atau walaupun manusia tidak mengasihi Allah dalam hidup. Allah mengasihi manusia begitu sempurna meskipun dalam hidup, manusia tidak sempurna. Meskipun/walaupun dalam hidup manusia selalu memberontak, hidup jauh dan menciptakan permusuhan dengan Allah.

Penulis Surat Ibrani minta supaya kasih persaudaraan itu perlu dipelihara. Namun kasih persaudaraan itu harus dipelihara atau dibangun di atas dasar kasih Kristus. Hanya dengan belajar dari kasih Kristus persaudaraan itu akan tetap bertahan dalam perjalanan waktu. Kebalikannya adalah persaudaraan akan berubah jadi pertikaian dan permusuhan.

Kasih Eros, Fillia, Storge hanya dapat bertahan jika terbangun di atas dasar kasih Kristus (Agape). Apa sebab? Sebab bila kecantikan atau kegantengan sesorang yang jadi daya kasih (eros) maka seiring perjalanan waktu tatkala semua yang melekat secara fisik itu berlalu maka berakhirlah sudah kasih itu. Atau kita mengasihi karena ikatan persahabatan/pertemanan (filia) maka pertemanan/persahabatan dapat saja berubah jadi permusuhan bila kepentingan diri terabaikan dalam relasi persahabatan. Sebab tidak ada persahabatan yang kekal. Yang kekal itu adalah kepentingan diri.

Sama halnya dengan kasih yang terbangun karena hubungan darah atau pertalian darah-daging (Storge). Kasih model ini tidak akan bertahan dalam hidup. Bukankah pertikaian bahkan pembunuhan selalu terjadi di antara kakak-beradik yang lahir dari satu kandungan? Mereka dapat saling membunuh tanpa memandang latar-belakang kelahiran yang berasal dari satu ayah-ibu hanya karena persoalan tanah atau harta warisan.   Agar kasih Eros, Filia dan storge dapat bertahan maka perlu dibangun di atas dasar kasih Agape yakni kasih Allah di dalam Yesus Kristus.

Kedua, Hidup yang menjadi berkat bagi sesama (Ay 2)

Hidup tidak berorientasi untuk diri sendiri tapi juga untuk sesama umat Tuhan yang ada di sekitar kita. Berkat-berkat Tuhan yang ada pada kita hendaknya dipergunakan untuk melayani sesama. Dalam terang pemahaman yang demikian hidup orang percaya tidak boleh bertumpu pada pengharapan untuk menerima saja tapi juga pada panggilan untuk memberi kepada sesama.

Kita dipanggil untuk memberi bukan dari kelebihan-kelebihan kita tapi dari kekurangan kita pada yang berkekurangan. Kita tidak akan kekurangan hanya karena jadi berkat bagi sesama sebab jadi berkat bagi sesama bukan kehendak kita tapi kehendak Tuhan. Siapa menerima berkat Tuhan dalam hidup ia dipanggil untuk memberi berkat pada sesamanya dan siapa menjadikan diri saluran berkat pada sesamapercayalah bahwa Tuhan akan memberi berkat bagi hidupnya. Dengan demikian panggilan orang percaya tidak saja bertumpu pada pengharapan untuk menerima saja tapi juga pada panggilan untuk menjadi berkat bagi sesama.

Ketiga, Menjaga dan memelihara kekudusan hidup pernikahan (Ay 4)

Harapan utama dari setiap orang yang melangsungkan pernikahan dan membentuk rumah tangga adalah kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga. Tidak ada seorangpun menghendaki agar setelah menikah lalu bercerai. Kendati demikian fakta yang terjadi adalah keretaakan atau kehancuran terjadi dalam rumah-tangga-rumah tangga termasuk di dalamnya rumah tangga Kristen. Rasa cemburu, benci dan dendam, konflik dan pada akhirnya perceraian semakin menambah daftar panjang bilangan mereka yang telah melangsungkan pernikahan dan mengikrarkan janji setia dalam pernikahan.

Biasanya keretakan atau kehancuran suatu rumah tangga Kristen terjadi karena kekudusan hidup suatu pernikahan tidak lagi dipelihara dan dijunjung tinggi dalam hidup. Janji nikah yang telah diikrarkan tidak lagi jadi kekuatan yang mempersatukan. Banyak suami-istri mengingkari janji nikah dan melanggar kekudusan hidup pernikahan itu dengan memberi tempat kepada Pria Idaman Lain (PIL) dan Wanita Idaman Lain (WIL).

Nasehat untuk pentingnya memelihara kekudusan hidup pernikahan sebenarnya terkait erat dengan pengakuan Iman dari orang-orang percaya bahwa Allah yang kita percayai adalah Allah yang kudus. Allah adalah Allah yang kudus dan memanggil umat-Nya untuk hidup di dalam kekudusan. Tanpa kekudusan kita tidak akan melihat Allah dalam hidup.

Keempat, Belajar untuk mencukupkan diri dengan berkat Tuhan yang kita terima dalam hidup (Ay 5-6).

Penulis surat Ibrani beri nasehat agar orang-orang percaya tidak boleh jadi hamba uang tapi harus belajar cukupkan diri dengan berkat Tuhan yang diterima dalam hidup. Hidup dalam spirit keugaharian. Ajar diri untuk cukupkan diri dengan segala berkat Tuhan yang kita terima dalam hidup berarti kita sedang belajar untuk percayakan hidup pada tuntunan dan pemeliharaan Tuhan sumber berkat itu. Kita sadar bahwa kita bukanlah penentu dan pengatur masa depan. Ada Tuhan yang bersama kita di hari esok.

Allah dalam Yesus Kristus adalah Bapa kita yang tidak pernah tinggalkan kita di tengah-tengah aneka tantangan dan krisis hidup. Dia adalah Bapa yang tetap sama di dalam cinta kasih, perhatian dan pemeliharaan-Nya bagi hidup ini. Itu sebabnya meskipun keadaan di sekitar kita sepertinya tidak memberi harapan yang lebih baik; Kesulitan silih berganti terjadi tapi Allah yang tidak berubah itu akan setia menolong hidup ini keluar dari semua kesulitan dan tantangan hidup. Manakala kita belajar mencukupkan diri dengan segala berkat-Nya yang kita terima dalam hidup hari ini, saat itu pula kita sedang hidup dalam penyerahan total akan bimbingan dan pemeliharaan Tuhan di hari esok. Ya….di dalam dan bersama Tuhan dalam hidup selalu ada masa depan yang cerah. Karena itu berusahalah untuk hidup berkenan kepada Allah.

Soli Deo Gloria

Leave a Reply

Your email address will not be published.