HIKMAT DAN GURU ASNAT

Bahan Renungan Pemuda dan Kaum Bapak

HIKMAT DAN GURU ASNAT

Amsal  1.1-7

Pdt. Jahja A. Millu

  • Bulan Agustus ditetapkan oleh GMIT sebagai Bulan Pendidikan. Sepanjang bulan ini, GMIT bermaksud membangun pemahaman dan aksi iman bersama terkait Pendidikan. Semua kita sadar bahwa pendidikan menunjukkan derajat bangsa. Namun fakta menunjukkan bahwa kondisi pendidikan kita masih memprihatinkan. Indeks Pembangunan Manusia NTT tahun 2016 yang dilansir BPS hanya sebesar 63,13 dan menduduki ranking ketiga terburuk di Indonesia. Persentase buta huruf juga masih memprihatinkan di angka 7,27% dari total penduduk NTT pada tahun 2015. Sementara penduduk berusia 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah sekolah/tidak tamat SD pada tahun 2015 hampir mencapai sepertiga penduduk NTT (30,12%).
  • Kondisi pendidikan seperti ini tentu tidak dapat dibiarkan. Semua pihak mesti terlibat untuk memperbaikinya. Tak terkecuali gereja. Itu sebabnya perayaan bulan Pendidikan ini kiranya memberikan landasan iman yang kokoh bagi semua upaya kita membangun pendidikan, termasuk pendidikan GMIT. Ada banyak contoh yang dapat kita pelajari tentang usaha-usaha yang dilakukan untuk memajukan pendidikan GMIT. Salah satunya oleh Asnat Bell, guru SD GMIT di Desa Teluk, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten TTS.[1] Sebagaimana realitas para guru sekolah GMIT, guru Asnat melakoni pekerjaannya yang berat nan mulia, tapi dengan upah amat rendah. Berikut adalah cuplikan kisah Asnat Bell.

“Tentang gaji, nominalnya memang memprihatinkan. Ketika memulai karier sebagai guru di SD GMIT pada tahun 2003, Asnat hanya mendapatkan gaji tujuh ribu rupiah per bulan. Padahal, dia sudah menikah dan memiliki tiga anak. Namun, panggilan hati serta tanggung jawab moral sebagai guru membuat Asnat tetap bertahan. “Biar gajinya sedikit, tetapi saya rela berkorban demi masa depan negara. Anak-anak biar cerdas,” katanya. Baru pada tahun 2004 gajinya naik menjadi 25 ribu dan bertahan sampai tahun 2010.

Kemudian, pada 2010 gajinya meningkat menjadi lima puluh ribu. Asnat juga sempat mendapatkan insentif dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Timor Tengah Selatan sebesar dua ratus ribu per bulan. Namun, ini hanya berlangsung satu tahun. Sementara itu, … upah Asnat dan guru-guru honorer lainnya naik menjadi seratus ribu per bulan.

“Gaji saya sekarang seratus ribu per bulan. Saya juga dapat bantuan dari dana BOS sebesar dua ratus ribu. Jadi, setiap bulan saya dapat uang tiga ratus ribu rupiah sekarang,” paparnya.

Bisa dibayangkan betapa Asnat harus membanting tulang untuk membiayai kehidupannya sehari-hari dan menyeimbangkannya dengan tuntutan pekerjaannya sebagai seorang guru. Apalagi, Asnat kini menjadi orangtua tunggal bagi ketiga anaknya. Pada 14 April 2014 lalu suaminya meninggal dunia karena sakit keras.”

  • Ibu guru Asnat mungkin bukan penafsir Amsal yang hebat, namun ia melampaui rata-rata kita yang mengkalim diri sebagi penafsir kitab suci. Ia menunjukkan pada kita semua, betapa dengan sungguh ia mempraktekkan apa yang menjadi amanat kitab Amsal, tentang perlunya hikmat bagi sebuah bangsa. Ia sadar betul bahwa hikmat adalah indikator utama martabat bangsanya. Dan itu ditempuh antara lain melalui pendidikan. Itu sebabnya ia ingin memajukan kecerdasan anak-anak di daerahnya. Ia tahu persis langkahnya ini penting bagi martabat negaranya. Martabat gerejanya. Dan itu melampaui kepentingan pribadi, 3 anaknya, bahkan ia tetap tegar setelah kematian suaminya.
  • Apa yang dilakukan ibu guru Asnat sungguh sejalan dengan teks ini. Teks menunjukkan betapa eratnya relasi antara hikmat dan didikan. Terdapat pola berulang dalam 1:2 dan 1:7, di mana dalam kedua ayat itu kata hikmat dipasangkan didikan. Konsep “didikan” juga disebutkan tiga kali dalam teks ini (1:2,3,7), menunjukkan pentingnya konsep ini untuk mencapai hikmat. Amsal mau mengatakan bahwa didikan adalah pendamping hikmat yang amat diperlukan. Hikmat tidak mudah didapat. Ia mesti diperjuangkan. Diperlukan adanya suatu proses pendidikan yang menuntut komitmen dan disiplin, baik dari pelajar dan juga guru. Pemasangan kata hikmat dan didikan ini juga mengasumsikan adanya produk dan proses. Hikmat adalah produknya dan didikan adalah prosesnya.
  • Tindakan ibu guru Asnat ini amat penting untuk menolong anak didiknya. Diperlukan orang-orang yang mau bekerja keras membangun dunia pendidikan, terutama bagi anak-anak di pedalaman “untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda.” Orang-orang seperti ibu Asnat ini perlu ditopang agar mampu mewujudkan sasaran pendidikan sebagaimana dimaksudkan Amsal. Capaian-capaian pendidikan itu antara lain:
  1. “Kepandaian”, tidak saja dalam arti intelektual, tapi juga kemampuan untuk mengamati situasi dan meresponsnya dengan tepat. Ini menyiratkan tingkat kedewasaan dalam menghadapi berbagai tantangan kontekstual.
  2. Menjadi pelaku “kebenaran, keadilan dan kejujuran.” Tiga kebajikan ini menguraikan dimensi etis dari hikmat dalam hal bagaimana bertindak dengan benar. Kebenaran mengacu pada kesesuaian dengan standar, keadilan berbicara tentang apa yang benar dan kejujuran menggambarkan jalan hidup yang lurus.
  3. Konsep “kecerdasan” menyampaikan gagasan tentang kelihaian dan kepintaran. Kelihaian ini menyiratkan kemampuan untuk melihat apa yang tidak secara jelas terlihat, kemampuan membaca yang tersirat. Ini juga adalah kelihaian pemikiran dalam membuat keputusan yang benar.
  4. “Pengetahuan” adalah konsep yang terkait dengan “menjadi sadar akan”. Konsep ini dalam sebagian besar Amsal selalu menjadi lawan kata kebodohan. Konsep kebodohan disini bukanlah suatu ketidakmampuan untuk belajar atau memperoleh pengetahuan, melainkan penolakan atau penghinaan terhadap pengetahuan.
  • Mewujudkan apa yang diamanatkan dalam Amsal ini tentu tidak mudah. Mungkin ia lebih sering jadi jargon pendidikan. Juga konteks sekolah GMIT dengan segala keterbatasannya dapat ikut menghambat perwujudannya. Tapi kita bersyukur pada Tuhan yang mengaruniakan bagi GMIT orang-orang hebat seperti ibu guru Asnat. GMIT dianugerahkan Tuhan banyak pejuang pendidikan yang mau membaktikan seluruh hidupnya untuk mewujudkan pesan amsal ini. Mereka mengajarkan pada kita bahwa Takut akan Tuhan bukan saja permulaan pengetahuan. Tetapi lebih daripada itu, Takut akan Tuhan mendorong mereka untuk mengembangkan pengetahuan dan membangun hikmat bangsanya. Mari kita mendoakan mereka, mendukung dengan dana, juga aksi-asksi solidaritas kita. Terima kasih ibu guru Asnat buat pengabdianmu yang hebat, yang tentu lahir dari iman yang hebat pula. Terima kasih juga untuk semua guru-guru sekolah GMIT yang mengabdi dengan sungguh bagi Tuhan dan bagi negara. “Dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”***

[1] Tim Kick Andy, Semangat & Totalitas Membangun Negeri. (Yogyakarta:Bentang, 2015), 118-122.

Leave a Reply

Your email address will not be published.