HKUP Mesti Jadi Acuan Persidangan

AMANATUN, www.sinodegmit.or.id, Haluan Kebijaksanaan Umum Pelayanan (HKUP) GMIT yang merupakan dukumen perencanaan pelayanan periodik harus menjadi acuan dalam persidangan-persidangan di lingkup jemaat, klasis dan sinode. Penegasan ini disampaikan Ketua MS GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon saat menyampaikan  suara gembala pada Persidangan Majelis Klasis Amanatun Selatan, Senin 22/1-2018.

“Pendeta-pendeta perlu perhatikan HKUP karena keberhasilan atau kegagalan kita dinilai dari sejauh mana kita melaksanakn HKUP. Dalam HKUP sudah diatur tahun 2015 – 2019 apa yang mesti dikerjakan di jemaat, klasis dan sinode? Jadi setiap sidang Majelis Jemaat (MJ), Majelis Klasis (MK), Majelis Sinode (MS) harus buka HKUP dan lihat apa yang sudah dan belum dikerjakan sehingga kita tidak terjebak pada pelayanan rutin,” jelas Pdt. Mery.

Ia juga mengingatkan persidangan disetiap lingkup  dapat menerjemahkan amanat HKUP tersebut ke dalam program tahunan sesuai kebutuhan konteks masing-masing.

Selain fokus pada HKUP, Ketua MS GMIT meminta perhatian persidangan pada semua lingkup terkait sejumlah isu yang menjadi rekomendasi Persidangan Sinode 2015 di Rote, diantaranya:  isu kekeringan yang senantiasa menjadi bencana rutin di NTT, isu tanam air, buruh migran dan perdagangan orang, pendidikan (sekolah GMIT), penjulan tanah kepada investor, pekerja anak, kesehatan (gizi buruk, kerdil/stunting), pilkada serentak 2018 dan partisipasi gereja dalam pembangunan desa melalui program dana desa.

Terkait yang disebut terakhir ini, ketua MS GMIT berulangkali menegaskan kepada para presbiter untuk sungguh-sungguh terlibat sebab menurutnya perencanaan dan pengeloaan dana desa yang baik akan berdampak luas terhadap sejumlah aspek yang berhubungan kesejahteraan masyarakat desa.

“Pendeta-pendeta tolong terlibat dalam perencanaan pembangunan di desa. Jiwa dari Undang-Undang Desa adalah perencanaan yang partisipatif. Oleh karena itu, pendeta, penatua, diaken, pengajar tolong hadir dalam Musrembang. Banyak orang muda tinggalkan desa menjadi buruh migran karena tidak ada harapan di sana. Sekarang melalui dana desa ada harapan di desa. Saya harap gereja dan pemerintah bangun kerja sama yang baik,” kata Pdt. Mery.

Sebagai anak yang dibesarkan di Amanatun, Pdt. Mery juga menyatakan keprihatinannya pada isu pekerja anak.

Menurutnya, sebagian besar anak-anak yang bekerja di pasar-pasar di kota Kupang sebagai pendorong gerobak berasal dari Amanatun. Karena itu ia meminta  klasis-klasis di Amanatun dan juga di klasis Kota Kupang agar memastikan pelayanan kepada mereka .

“Kalau tanya anak-anak yang dorong kereta di pasar Naikoten dan Oeba dari mana mereka berasal, mereka bilang dari Oenlasi. Ibu ketua sinode pung kampung. Mereka bilang, mereka kerja supaya bisa kirim uang kasi orang tua di kampung. Bagaimana mungkin orang tua dong tidur sonu dan anak-anak kerja di sana? Bukan orang tua kerja untuk anak tapi anak-anak kerja untuk orang tua,” ujar Pdt. Mery.

Guna memastikan pelayanan kepada pekerja anak, menurutnya perlu pendekatan hulu-hilir. Jemaat asal dan jemaat tujuan anak-anak tersebut perlu ada kerja sama timbal balik.

“Saya bilang jemaat Anugerah Eltari, Jemaat Paulus Naikoten, jemaat Ebenhaezer Oeba, jangan pikir mereka (pekerja anak, red.) tidak masuk rayon. Mereka yang tinggal di pasar, di gerobak, di kost-kost harus diperhatikan. Mereka juga menjadi bagian dari rayon. Akan tetapi pendeta-pendeta di Amanatun juga mesti tahu ke mana anak-anak itu pergi,” sambungnya.

Sementara terkait Pilkada serentak 2018, Ketua MS GMIT menyerukan agar gereja mesti waspada godaan politik uang dan kampanye melalui mimbar gereja.

“Gereja harus berhati-hati pada tamu-tamu yang datang 5 tahun sekali. Jangan sampai gereja disandra untuk kepentingan-kepentingan politik. Gereja adalah ibu, kata Calvin. Karena itu Gereja merangkul semua calon, akan tetapi jangan jadikan gereja ajang kampanye,” tegas Pdt. Mery.

Persidangan Majelis Klasis Amanatun Selatan ke enam ini berlangsung di mata jemaat Ekklesia Op yang diawali dengan kebaktian pembukan dipimpin Vic. Yusmiati Neonufa. Hadir dalam acara pembukaan, ketua MK, Pdt. Doliandri Selan-Oematan, Camat Nunkolo, David G. Kase.

Klasis ini memiliki 68 jemaat dan mata jemaat dan 3 pos pelayanan dengan jumlah tenaga pendeta 8 orang, 1 ketua MK dan 1 pendeta emeritus. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *