JEMAAT NIFUKIU PANEN PERDANA BAWANG TUKTUK

FATUBUBUT, sinodegmit.or.id, Tanah liat bukan halangan bagi petani di mata jemaat GMIT Nifukiu, wilayah Fatububut, klasis Amanuban Selatan bertanam bawang tuk-tuk. Buktinya mereka mampu memproduksi 1 ton bawang di lahan seluas 10 are. Bila harga bawang di jual perkilo 30 ribu maka mereka meraup 30 juta rupiah dalam tempo 4 bulan.

Ketua Majelis Sinode (MS) GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon dalam suara gembala pada panen perdana bawang tuk-tuk tersebut mengapresiasi upaya pemberdayaan ekonomi jemaat  di bidang pertanian yang disponsori oleh komunitas Pendeta GMIT Suka Tani (PGST) yang bekerja sama dengan perusahaan benih PT Panah Merah.

“Kami menyambut dengan gembira panen perdana hari ini karena kerja keras bapak-ibu berhasil. Meski masih dalam skala kecil namun ini tanda bahwa di tanah liat seperti ini kalau ada kerja keras yang sungguh-sungguh ada harapan yang Tuhan berikan,” ungkap Pdt. Mery.

Kepada Pdt. Jefri Watileo, ketua majelis jemaat setempat, Pdt. Yanto Balukh, ketua majelis klasis Amanuban Selatan dan semua jemaat yang hadir, Pdt. Mery juga mengingatkan agar upaya pemberdayaan ekonomi jemaat jangan sampai mengabaikan pelayanan iman.

“Para pendeta saya ingatkan untuk menjaga keseimbangan antara pelayanan di bidang pemberdayaan ekonomi dan pelayanan iman. Jangan sampai kita begitu giat dengan usaha-usaha suka tani lalu mengabaikan pelayanan rohani kepada jemaat. Dua-duanya harus jalan sama-sama,” tegasnya.

Lebih dari itu ketua MS GMIT juga menyatakan keprihatinannya terkait  banyaknya anak-anak muda yang menjual tanahnya lalu meninggalkan kampung dan menjadi buruh migran ke luar pulau Timor hingga ke luar negeri. Kepada jemaat, ia mengingatkan supaya berhati-hati menjual tanah sebab menurutnya masyarakat adat yang tercabut dari tanahnya akan menjadi budak di kampungnya sendiri.

Timotius Tameon (37) salah satu anggota kelompok petani bawang mengaku bersukacita dengan hasil yang diperoleh. “Kami sangat bersukacita karena walaupun banyak tantangan tapi Tuhan kasi kami berkat banyak. Waktu kami mulai kerja ada banyak bahasa yang melemahkan kami karena kami belum pernah tanam bawang tuk-tuk. Tapi kami minta Tuhan tolong kami. Ke depan kami mau tanam lebih banyak lagi.”

Selain menanam bawang tuk-tuk, jemaat wilayah Fatububut yang masuk dalam wilayah desa Oe’ekam kecamatan Noebeba ini juga memanfaatkan air dari di salah satu embung yang dibangun pemerintah  pada tahun 2004 di tanah milik gereja dengan tanaman holtikultura lainnya seperti cabe, tomat dan terung serta memelihara ikan dan ayam dengan sistem kandang terapung.

Ketua komisi V DPR RI Ir. Fary Francis yang juga adalah anggota MS GMIT secara terpisah berharap jemaat GMIT wilayah Fatububut dapat menjadi jemaat contoh yang barhasil memanfaatkan embung secara optimal untuk pengembangan ekonomi.

“Jemaat Fatububut bisa menjadi contoh bagaimana mereka benar-benar memanfaatkan embung yang dibangun pemerintah. Di beberapa daerah embung yang dibangun belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pertanian namun di sini masyarakat cukup antusias dan karena itu kami mendukung penuh upaya yang dilakukan oleh warga.”

Pdt. Jefri berharap pengembangan ekonomi di bidang pertanian, peternakan dan perikanan di jemaatnya terus didukung oleh pemerintah desa terutama mendapatkan pupuk  yang memadai guna meningkatkan produktivitas di masa mendatang.***

 

2 thoughts on “JEMAAT NIFUKIU PANEN PERDANA BAWANG TUKTUK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *