Kajian Biblis Perjanjian Lama-Kontekstual Atas Tema dan Sub-Tema Sidang Sinode GMIT 2019

Pendahuluan

Pdt. Dr. Welfrid Fini Ruku

Kajian Biblis-kontekstual berupaya untuk menguraikan tema dan sub-tema dalam dua konteks, konteks Perjanjian Lama (Maz. 104:30 dan 1 Sam. 16:13) dan konteks pergumulan GMIT. Dua pertanyaan kunci patut digumuli melalui tulisan ini yakni bagaimana peranan Roh TUHAN dalam konteks Mazmur 104:30 dan 1 Samuel 16:13? Bagaimana peranan Roh TUHAN dalam kehidupan gereja pada masa kini?

Saya ingin meyakinkan kepada pembaca bahwa gereja hadir dan melayani hingga kini hanya karena bimbingan kuasa Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus, gereja tidak akan mampu melakukan tugas pelayanan sampai sekarang.

Saya memulai pembahasan ini dengan kajian teks tentang peranan Roh TUHAN dalam konteks PL seperti yang tercantum dalam Maz. 104:30 dan 1 Sam. 16:13, dilanjutkan dengan pemaparan konteks yang sedang kita hadapi di GMIT; akhirnya saya hendak melihat kaitan antara tema dan sub-tema dengan konteks pergumulan GMIT.

Roh TUHAN dan peranan-Nya dalam PL

Frase ‘Roh TUHAN’ (ruakh Yahweh) adalah sama dengan ‘Roh Allah’ (ruakh elohim) dan ‘Roh Kudus’ (ruakh qadasy). Ketiga frase itu menunjuk kepada satu pribadi yaitu Roh milik Allah. Kata Ibrani ruakh menunjuk kepada angin, nafas, atau elemen yang memberikan kehidupan; sedangkan kata sifat ‘kudus’ mengarah kepada aspek keillahian yang ada pada TUHAN. Dalam tulisan ini penyebutan nama Roh Allah, Roh TUHAN atau Roh Kudus digunakan secara bergantian karena tidak ada perbedaan di antara ketiganya. Uraian berikut dimulai dari teks Mazmur 104:30 yang menjadi landasan kajian tema SS GMIT 2019.

Menurut Longstaff, peranan Roh Kudus dalam PL mencakup tiga penekanan utama. Pertama, Roh Kudus sebagai salah satu agen penciptaan. Ia hadir sejak semula bersama-sama dengan Allah dan sekaligus merepresentasikan kuasa Allah (nafas dari Allah) yang maha agung dalam karya penciptaan (mis, Kej. 1:2; Maz 33:6).Kedua,  Roh Kudus sebagai sumber inspirasi dan kuasa. Di sini Roh Kudus memberikan inspirasi kepada para nabi untuk bernubuat dan bersaksi. Roh Kudus memperlengkapi semua pemimpin Israel (Musa sampai Yosua, hakim-hakim, raja-raja, dan bahkan hamba TUHAN dalam kitab Yesaya), dengan karunia hikmat, keberanian, dan kuasa untuk memikul tanggungjawab mereka masing-masing (Contoh: Daud diurapi menjadi rja, 1 Sam. 10:9-13). Ketika Roh TUHAN menjauh dari mereka maka mereka tidak dapat berbuat apa-apa (1 Sam 16:14; 19:9). Ketiga, kehadiran Roh Kudus sebagai pertanda presensia Allah dalam komunitas perjanjian. Dalam komunitas itu, Roh Kudus memberikan pengharapan eskatologis dan harapan akan pembaharuan umat Israel di masa depan (Yeh. 11:14-21; 36:22-32).[2]

Berdasarkan kategorisasi Longstaff di atas maka Mazmur 104:30 termasuk dalam kategori pertama dan kedua yang menekankan pada peranan Roh TUHAN sebagai agen penciptaan, pemberi inspirasi dan kuasa untuk melakukan pembaharuan. Bunyi ayat tersebut dalam BHS: tesyalakh rukhaka yibbareun utehaddes peney adamah. NIV menerjemahannya sebagai berikut: “When you send your spirit, they are created, andyou renew the face of the earth.” Oleh TB-LAI diterjemahkan: “Apabila Engkau mengirim roh-Mu mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.”Di sini sangat jelas bahwa pemazmur mengakui daya/kuasa kreatif dari Allah melalui Roh-Nya serta kuasa untuk mengadakan pembaharuan.

Mazmur 104:30 mempunyai rangkaian yang utuh dengan ayat-ayat sebelumnya. Secara keseluruhan,Mazmur 104 berisi hymne, puji-pujian kepada Yahweh oleh karena kebesaran dan kemuliaan-Nya yang tampak dalam ciptaan-Nya. Ia membentangkan langit (ay.2), menjadikan awan-awan (ay 3), melepas mata-mata air (ay 10), memberi minum segala binatang dan memuasi gunung-gunung dengan air (ay 11,13), menumbuhkan rumput bagi hewan (ay 14), membuat bulan dan matahari sebagai penentu waktu (ay 19), menentukan waktu bekerja dan beristirahat bagi manusia (ay 23), menciptakan laut dengan segala makluk di dalamnya (25), menjadi tempat berlayar kapal-kapal (ay 26); memberikan makanan pada waktunya (ay 27); dandi ayat 29 pemazmur menegaskan, bila TUHAN menyembunyikan wajah, mereka terkejut, dan jika TUHAN mengambil roh mereka, mereka akan mati (ay 29). Kematian yang dialami di ayat 29 ini akan berakhir jika TUHAN mengirim Roh-Nya dan mereka tercipta serta bumi diperbaharui (ay 30). Menanggapi kebesaran TUHAN ini, Calvin mengatakan bahwa kebijaksanaan, kekuatan, dan kebaikanTUHAN dalam penciptaan dunia, dan dalam penataan alam, mendorong kita untuk memuji Dia sebagai ayah bagi kita.[3]

Mazmur 104 tidak mencantumkan nama pengarang sehingga konteks penulisan mazmur ini pun menjadi kabur. Saya sendiri cenderung menempatkan mazmur ini pada periode pasca-pembuangan di Babel. Ini adalah salah satu hymne yang dikumandangkan di Bait Allah Yerusalem kedua. Alasan saya bertolak dari ayat 29-30. Gambaran tentang kematian di ayat 29 bukanlah kematian fisikal seperti yang dialami semua makluk hidup. Kematian dimaksud adalah kematian sebagai akibat dari ‘TUHAN menyembunyikan wajah-Nya’ dan Roh TUHAN telah diambil dari tengah-tengah umat Israel. Itu terjadi karena dosa penyembahan berhala yang mereka lakukan pada jaman pra-pembuangan. Sebagai akibatnya, TUHAN meninggalkan Bait Allah Yerusalem dan Nebukadnezar dengan mudah mengepung, menyerbu Yehuda, serta menghancurkan Bait Allah Yerusalem. Lalu, orang-orang Yahudi ditawan ke Babel (2Raj 24-25). Nabi Yehezkiel menggambarkan masa kelam tanpa harapan itu seperti adanya suatu lembah kematian yang dipenuhi tulang-tulang kering (Yeh. 37:1-3).[4]

Nabi Yehezkiel memberitakan bahwa kondisi seperti yang tergambar di atas hendak TUHAN pulihkan. Hanya dengan mengirim Roh-Nya (‘nafas hidup’) tulang-tulang kering itu tercipta kembali, memiliki kehidupan, dan memiliki semangat hidup untuk mengupayakan pembaharuan di negeri mereka. Melalui nabi Yehezkiel TUHANberjanji: “Aku akan menaruh Roh-Ku di dalam kamu dan kamu akan hidup … maka kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang berfirman dan bahwa Aku telah melakukannya”(Yeh 37:14).[5]

Yehezkiel 37:14 mempunyai kaitan erat dengan Mazmur 104:29-30. Baik Yehezkiel maupun Mazmur menekankan tentang peranan vital Roh Allah dalam persekutuan umat TUHAN. Jika Roh Allah diambil dari mereka maka mereka akan mati; sebaliknya bila Roh Allah ada bersama mereka maka mereka akan hidup kembali dan memiliki pengharapan baru. Proses pemulihan umat Yehuda yang ‘mati’ karena dibuang ke Babel, dimulai ketika Allah mencurahkan Roh-Nya ke dalam hati Koresh, raja Persia. Melalui karya Roh Kudus, TUHAN menggerakkan hati Koresh sehingga ia memenangkan perang melawan Babel dan mengijinkan semua tawanan bangsa Yehuda di Babel untuk kembali ke negeri asal mereka. Bukan hanya itu. Ia juga mengembalikan seluruh perbendaharaan Bait Allah yang dibawa ke Babel; demikian juga ia mendukung pembangun kembali kota dan Bait Allah Yerusalem. Perubahan kondisi itu terjadi karena Roh TUHAN bekerja dan menggerakkan hati Koresh (2 Taw 36:22-23; Ez. 1:1-8).

Dari kajian tentang konteks munculnya hymne Mazmur 104 (lebih khusus ayat 29-30) dapat ditarik tiga pesan penting sebagai berikut: pertama, bahwa Roh Kudus mempunyai misi untuk menciptakan kembali atau memperbaiki kondisi ciptaan/suatu bangsa yang sudah rusak/binasa oleh ulah manusia; kedua, untuk maksud itu Roh Kudus memperlengkapi satu atau sejumlah orang (in/out group) dengan hikmat, inspirasi, dan kuasa untuk melakukan proses penciptaan kembali atau pembaharuan tersebut; ketiga, karena karya Roh Kudus berkarya lintas suku, bangsa, budaya, agama atau kepercayaan maka keberhasilan suatu proyek pembaharuan sangat bergantung kepada keberhasilan membangun relasi kemitraan dengan semua pihak yang mempunyai misi yang sama, yaitu membangun kemanusiaan sejati.

Sekarang saya beralih kepada pembahasan tentang 1 Samuel 16:13 sebagai landasan Biblis bagi sub-tema SS GMIT 2019.

Dalam pembahasan tentang Koresh, raja Persia, ada hal yang tidak tersentuh, yaitu bagaimana orang seperti Koresh, diangkat ke dalam jabatan raja Persia. Tetapi, dalam tradisi iman orang Israel, seorang raja yang hendak memerintah perlu diurapi terlebih dahulu. Minyak urapan terbuat dari rempah-rempah pilihan, yakni mur, kayu manis, tebu, kayu  teja, dan minyak zaitun (Kel. 30:23-25). Diurapi dengan minyak yang diolah dari rempah-rempah pilihan itu memiliki tujuan agar raja yang diurapi kelak dapat mengusahakan kemakmuran bagi warga di wilayah kekuasaannya. Ritus pengurapan berlangsung dalam pimpinan seorang imam, entah disaksikan atau tidak oleh sejumlah orang. Pengurapan raja untuk pertama kali terjadi atas diri Saul, anak Kish dari suku Benyamin. Ia diurapi menjadi raja pertama Israel oleh Samuel atas petunjuk TUHAN. Sesudah menerima minyak urapan, Roh Allah berkuasa atas Saul.Roh itu menggerakkan hati Saul untuk bertindak membebaskan bangsanya dari gangguan musuh dan juga bernubuat seperti para nabi dalam waktu yang singkat (1 Sam. 9:15-17; 10:1,6; 11:6). Peranan Roh Allah dalam diri Saul sangat mirip dengan peran-Nya atas para hakim Israel seperti Otniel, Gideon, Yefta, dan Simson (Hak 14:6, 19; 15:14). Dalam masyarakat Israel yang belum memiliki penguasa sentral, indikator seseorang dituntun oleh Roh TUHAN, yaitu jika ia mampu menghimpun tentara dari suku-suku lain, maju berperang, dan menang atas musuh-musuh.[6] Indikator seperti itu sudah hilang dari diri Saul ketika Saul gagal membunuh Goliat. Lalu, Saul mengalami penderitaan psikis: diliputi rasa takut/cemas, panik, mudah tersinggung, merasa tersaingi, gila hormat, dan lain lain. Penulis kitab Samuel menilai kondisi psikis Saul sebagai indikator mundurnya Roh TUHAN dan adanya gangguan roh jahat yang dari TUHAN. Gangguan psikis itu akan sedikit berkurang jika ia mendengar bunyi kecapi. Daud dibutuhkan dalam kondisi seperti ini (1Sam 16:14-23).[7]

Sementara itu, Samuel menemui Daud di Betlehem dan mengurapinya sebagai raja pengganti Saul (1 Sam 16:13). Sejak menerima urapan itu, Roh TUHAN berkuasa atas Daud. Indikator kehadiran Roh TUHAN yakni munculnya keberanian yang menggebu-gebu untuk menghadapi musuh Israel, manusia raksasa Filistin (Goliat) seorang diri. Daud mengandalkan kuasa TUHAN, bukan kelengkapan senjata,banyaknya tentara, atau pengalaman perang. Ia hanya mempunyai nama TUHAN dan umban dengan batunya. Hanya dengan alat sederhana tetapi disertai semangat yang besar dan didukung oleh kuasa TUHAN maka akhirnya Goliat dan para pengikutnya dikalahkan (1 Sam 17:45-49). Rasanya tidak masuk akal jika seorang anak muda seperti Daud bisa mengalahkan seorang jagoan perang, bertubuh besar, disegani, memiliki pengalaman perang seperti Goliat. Tetapi, kehebatan seperti itu sangat tidak berarti di hadapan orang yang mengandalkan TUHAN dan dituntun oleh Roh Kudus.

Kajian terhadap konteks 1 Samuel 16:13 mengantar kita kepada kesimpulan: pertama, pengurapan dengan minyak urapan bukan hanya memberikan legitimasi bagi jabatan raja, tetapi sekaligus menjadi sarana pemberian Roh Kudus kepada pejabat yang diurapi; Roh Allah memberikan hikmat dan kuasa kepada sang pejabat untuk melaksanakan tugasnya; kedua, pengurapan dengan minyak urapan yang dibuat dari rempah-rempah yang khas di Israel memberikan tanggungjawab moral kepada orang yang diurapi untuk menggunakan jabatan itu demi mendatangkan kemakmuran bagi mereka yang dipimpinnya; ketiga, orang yang menerima Roh Kudus sudah seharusnya berserah secara penuh dan membuka diri untuk senantiasa berada di bawah tuntunan/bimbingan/arahan Roh Kudus itu; keempat, seperti orang beriman lainnya, orang yang diurapi juga pasti menerima tantangan-tantangan, tetapi ketika berhadapan dengan tantangan/kesulitan, orang yang diurapi itu selalu mengandalkan nama TUHAN; ketika ia mengandalkan kuasa TUHAN, maka sehebat apapun kekuatan musuh, sebesar apapun tantangan yang dihadapi, pasti ada jalan keluar; kelima, dari alat sederhana (umban dan batu) yang Daud pergunakan untuk menumbangkan Goliat, kita belajar bahwa meskipun dengan perlengkapan/modal yang minim dan sederhana, kita bisa melakukan perubahan besar dalam hidup bila mendasarkan niat itu pada kuasa Illahi.

Pertanyaan yang perlu dikaji dalam bagian berikut adalah bagaimana menghubungkan hasil kajian teks Mazmur 104:30 dan 1 Samuel 16:13dengan kondisi GMIT pada masa kini? Perbedaan konteks antara PL dan GMIT membuat tidak mudah menghubungkan keduanya.

Konteks GMIT; Tema dan sub-tema

Kita sudah memahami bahwa konteks pelayanan GMIT memiliki sejumlah permasalahan yang kompleks. Kompleksitas pemasalahan dimaksud bervariasidan kait-mengait satu sama lain antara sebab dan akibat, antara akar masalah dan turunannya, baik internal maupun eksternal GMIT. Berikut saya menyebutkan beberapa masalah internal GMIT yang membutuhkan perhatian kita: integritas diri sebagai hamba TUHAN (menyatunya kata dan tindakan) sering mendapat sorotan; relasi yang kurang harmonis antar sesame pelayan; konflik intern jemaat yang berbuntut pada perpecahan jemaat; kemampuan kita menangani konflik dipertanyakan; kasus pengelolaan keuangan dan harta milik gereja; maniak medsos para pelayan, dll. Rupanya GMIT membutuhkan satu lembaga pastoral untuk menangani kasus-kasus yang membutuhkan penanganan serius, dengan melibatkan pendeta emiritus.

Secara eksternal, GMIT sedang bergumul dengan: alam (musim kering yang panjang, kekurangan air bersih, kerusakan hutan, krisis lingkungan); masalah-masalah sosial (sisi negatif pemberlakuan adat, kemiskinan dan dampaknya, KDRT dan dampaknya); relasi antar agama/denominasi (perusakan tempat ibadah, mayoritas vs minoritas, kawin campur). Masalah-masalah ini menuntut adanya kerjasama dengan semua pihak yang berkepentingan.

Selain itu GMIT juga sedang menghadapi pengaruh tersembunyi dari faham-faham falsafi (baca ‘roh jaman’).‘Roh-roh jaman’ itu sedang melanda warga dan para pemimpin gereja, seperti: individualisme (minim kepedulian terhadap sesama), sekularisme (pengaruh agama dipisahkan dari urusan-urusan non-agama), materialisme (tidak mengakui adanya entitas non-material seperti Tuhan dan dunia adikodrati), hedonisme (kenikmatan menjadi tujuan hidup), dan konsumerisme (mis, menghambur-hamburkan uang, termasuk uang gereja untuk sesuatu yang tidak perlu). Ini semua adalah ‘roh jaman’ yang tidak kelihatan tetapi memengaruhi pembentukan karakter warga dan para pemimpin masa kini. Ini semua hanya bisa diatasi dengan pendidikan karakter Kristiani sejak dini, dimulai dari keluarga.

Hadir dalam kondisi seperti digambarkan di atas, GMIT hendak mengadakan Sidang Sinode XXXIV tahun 2019 dan mengambil tema: Roh TUHAN menjadikan dan membaharui segenap ciptaan (Maz 104:30) dan sub-tema: “Roh TUHAN Berkuasa atas Gereja, Masyarakat, dan Semesta” (1 Sam. 16:13). Ketika tema dan sub-tema ini mau dijadikan sebagai landasan atau panduan penyusunan program-program pelayanan GMIT, maka prinsip-prinsip berikut perlu menjadi perhatian: pertama, Roh Kudus harus diberi peran sentral dalam kehidupan dan pelayanan gereja. Saya pribadi melihat bahwa hari raya gereja yang paling heboh itu adalah perayaan Natal dan Paskah, sedangkan yang paling sepi yaitu hari Kenaikan dan hari Pentakosta. Padahal, gereja terbentuk dan menjadi besar karena turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta dan karena semangat PI yang diprakarsai oleh para rasul. Jika hari raya Pentakosta tidak mendapat porsi dalam pelayanan gereja, apakah ini pertanda bahwa kita sedang tidak lagi memberikan waktu dan tempat bagi Roh Kudus? Apakah ini pertanda bahwa semangat PI keluar sudah tidak dibutuhkan lagi? Kedua, para pelayan TUHAN (MJ) perlu mengintrospeksi diri, sejauh mana mereka melibatkan Roh TUHAN dalam perencanaan dan pelayanan gereja; sejauh mana program-program yang kita susun mampu membawa perubahan signifikan bagi kehidupan warga gereja. Ketiga, para pelayan perlu mengoreksi diri, apakah mereka sudah cukup terbuka menerima bimbingan dan arahan dari Roh Kudus dalam seluruh aktivitas pelayanan mereka. Para tokoh Alkitab (Daud, Samuel, para hakim, Koresh) berhasil membawa perubahan dan meraih kemenangan karena kedekatan dan keterbukaan mereka kepada tuntunan Roh Kudus. Keempat, di kalangan jemat-jemaat GMIT terdapat banyak kelompok doa yang mengklaim menerima wahyu dari TUHAN berdasarkan karunia Roh Kudus yang dimiliki. Ini dapat menjadi modal bagi pengembangan pelayanan jemaat sekaligus menjadi potensi konflik dan penyesatan. Di sini kita sebagai pelayan terdidik mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk mendampingi dan mengarahkan agar penggunaan karunia-karunia Roh Kudus tidak menimbulkan ekses. Kelima, berhadapan dengan kompleksitas permasalahan pelayanan di wilayah pelayanan  GMIT, maka kita membutuhkan tokoh-tokoh pembaharu yang oleh tuntunan Roh Kudus, memiliki roh hikmat dan takut akan TUHAN, berani menentang arus, dan bersemangat melakukan inovasi-inovasi pelayanan di aras jemaat.

Penutup

Demikianlah beberapa butir pemikiran yang saya paparkan pada kesempatan diskusi kali ini. Diskusi-diskusi kita akan memperkaya bahan ini agar lebih bemanfaat. Semoga! Amin! ***

[1] Disajikan pada diskusi Tema dan Sub-Tema SS GMIT XXXIV tanggal 14 Juni 2019.
[2]Thomas R. W. Longstaff, “The Holy Spirit”  in Paul J. Achtemeier, Gen. Ed., The HarperCollins Bible Dictionary, Reised Edition, Sanfrancisco: HarperOne, 1996,  p. 432.
[3]John Calvin, Commentary on Psalms, vol. 4, USA: Grand Rapids, p. 132).
[4]Kondisi yang sama pernah dialami oleh Daud ketika nabi Nathan menegurnya lantaran ia memembunuh Uria dan mengambil Batsyeba menjadi istrinya. Daud berdoa: “Janganlah mengambil Roh-Mu yang kudus dari padaku” (Maz. 51:11).
[5]Leland Ryken, Gen. Ed., Dictionary of Biblical Imagery, USA: InterVarsity Press,  1998, p. 1339.
[6] John H. Walton, Victor H. Matthews & Mark W. Chavalas, The IVP Bible Background Commentary: Old Testament, Illinois: InterVarsity Press, 1997, p. 298.
[7] John H. Walton, Victor H. Matthews & Mark W. Chavalas, The IVP Bible…, p. 305.

Leave a Reply

Your email address will not be published.