Kebesaran hati

Bahan Alkitab : Filemon 1:8-25

Pengantar — Surat Paulus kepada Filemon ditulis sekitar awal tahun 60-an di Roma, pada saat Paulus berada dalam penjara karena Injil. Filemon adalah seorang tuan tanah berkebangsaan Yunani, anggota jemaat di Kolose. Keluarganya menjadi berkat bagi persekutuan orang-orang percaya dan rumah mereka menjadi salah satu tempat jemaat beribadah karena pada waktu belum ada bangunan resmi sebagai gereja. Onesimus adalah budak Filemon yang telah melarikan diri dan bertemu dengan Paulus di Roma, sehingga ia mengenal kasih Kristus. Paulus menganjurkan Onesimus agar kembali ke rumah Filemon  dan menulis surat kepada Folemon agar mau menerima kembali Onesimus.

  1. Kebesaran hati seseorang terpancar dari cara ia memandang orang lain. Paulus dapat memerintah Filemon namun justru ia meminta kepada Filemon. Di sini terlihat betapa Paulus respek terhadap Filemon (Ayat 8-9). Filemon adalah pemilik budak yang berhak untuk menentukan hidup mati budaknya. Maka Paulus menjelaskan kepada Filemon untuk membangun hubungan yang baru dimana bukan lagi hubungan tuan dan budak melainkan sebagai saudara di dalam Kristus (ayat 10). Sebagaimana Paulus telah menunjukkan belas kasihan, demikian juga seharusnya Filemon terhadap Onesimus. Nama Onesimus berarti berguna atau menguntungkan, dari kata ini Paulus menjelaskan bahwa budak yang dahulu tidak menguntungkan bagi Filemon, sekarang telah menjadi seorang yang sangat berguna (Ayat 11-15). Karena itu Filemon diminta untuk menerima Onesimus kembali.
  2. Di dalam Kristus, status kita diperbaharui. Seperti Onesimus yang mulanya adalah budak Filemon, sekarang menjadi saudara di dalam iman. (ayat 16)
  3. Kasih sejati mesti nyata dalam perbuatan. Ini dilakukan oleh Paulus dengan pernyataan bahwa ia rela mengganti rugi kepada Filemon seandainya itu dituntut. Artinya kasih sejati harus dibuktikan walau kerugian sekalipun. Maka Paulus mengharapkan Filemon melakukan hal yang sama yakni menerima Oensimus tanpa tuntutan (ayat 17-22)
  4. Membalas yang baik dengan yang baik adalah sifat manusiawi; membalas yang jahat dengan yang baik adalah sifat ilahi; membalas yang jahat dengan yang jahat adalah sifat iblis.

Dalam lingkungan sosial, perbedaan strata sosial pasti ada, entah yang tua dengan yang muda, senior yunior, bawahan dan atasan namun konsep family day mesti diunggulkan supaya kita menaruh hormat satu dengan yang lain. Hal ini harus lahir dalam kesadaran yang sungguh bahwa Allah yang memiliki kita dan status sosial.

Kasih adalah kewajiban. Setiap kali kita mengasihi maka kita berhutang kasih dan harus dibayar dengan mengasihi juga. Kalau kasih sudah ada maka lakukan segalanya dengan kasih. Sering kita kehilangan kasih sehingga seluruh tampilan, kata dan tindakan kita menciderai orang lain maka mulailah selalu dengan kasih, berhutang kasih dan pasti akan dibayar juga dengan kasih.

  1. Kondisi hubungan antara Filemon dan Onesimus adalah kondisi hubungan yang sering terjadi di antara kita. Paulus berani memberi rekomendasi yang baik karena ia yakin bahwa Onesimus telah mengalami pertobatan yang sungguh setelah melewati pastoral yang intens. Jadi perubahan tidak tergantung pada yang memberi pastoral tapi yang menerima pastoral. Maka melakukan pastoral adalah tanggung jawab setiap orang percaya namun apabila yang menerima pastoral mengabaikannya, itu menjadi tanggung jawabnya sendiri.
  2. Dalam hal relasi, Paulus telah memiliki relasi yang baik, entah dengan Onesiumus maupun Filemon. Ia mengenal dengan baik Filemon maupun Onesimus dan Roh Kudus bekerja di dalam relasi itu. Untuk memiliki relasi yang baik, diperlukan kerendahan hati sebagai kunci dalam mempertahankan relasi. Orang yang merasa lebih dari orang lain biasanya ia sadar memiliki kekurangan tapi supaya orang tahu ia punya kelebihan maka ia berusaha supaya bisa terlihat lebih. Selain itu diperlukan ketulusan. Kadang kita tidak tulus di dalam membangun relasi. Seorang pejabat akan kita panggil bapak, sementara penjual sayur kita panggil sayur. Kalau relasi rusak dan soalnya karena kita maka sebaiknya kembali kepada asal dan membangun relasi. Masalah ada di dalam diri Oensimus karena itu maka Paulus menganjurkannya untuk kembali kepada Filemon supaya membangun kembali relasi.
  3. Paulus mengajar kita mengenai praktek pastoral. Pertama kepada Filemon dan kedua kepada Onesimus. Pastoral itu tidak dimaksudkan untuk menyetir orang agar menyelesaikan soal dengan memberikan ruang untuk menyelesaikan soal sendiri. Sebagai seorang pastoral, kita mesti memberikan waktu untuk menemukan sendiri masalah mereka.
  4. Teladan dari bacaan ini adalah kehadiran Paulus tidak memperparah hubungan antara Onesimus dan Filemon. Seringkali banyak masalah yang berlanjut karena kehadiran kita justru memperparah persoalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *