Kerangka Khotbah Bulan Keluarga Oktober 2014 – Bahan Minggu I, II dan III

KERANGKA KHOTBAH

BULAN KELUARGA 2014

Tema : KELUARGA SEBAGAI BASIS PELAYANAN GEREJA

MAJELIS SINODE GMIT

Minggu, 5 Oktober 2014

KELUARGA YANG SETIA PADA FIRMAN ALLAH (Keluaran 20:1–17)

Pengantar : Kewajiban utama (kewajiban asazi) umat Allah adalah percaya, taat dan setia pada Firman Allah. Mengapa ? Karena Ia yang telah menciptakan manusia “baik adanya” tidak pernah dan tidak akan membiarkan umat-Nya menjadi korban sia-sia akibat dosa-dosanya. Dalam sejarah Israel sebagai umat Allah (sebagaimana disaksikan dalam Alkitab) Allah “memberikan kepada umat-Nya” hukum-hukum-Nya sebagaimana terbaca dalam Kel.20:1-17 (//Ul.5:1-21). Semua hukum-hukum itu saling terkait satu dengan yang lainnya. Semua umat Allah (baik individu maupun keluarga) yang mesti setia kepada Allah mesti juga menaati hukum-hukum-Nya atau firman-Nya.

Pesan Teks : Bagian Alkitab ini bisa dibagi atas dua bagian besar, yaitu : Bagian pertama, terdiri dari hukum kesatu sampai keempat, yang mengatur hubungan antara umat Allah dengan Allah (ay.3-11). Bagian kedua, terdiri dari hukum kelima sampai kesepuluh, yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (ay.12-17). Kedua bagian ini bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan karena merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak dapat pisahkan satu dari yang lainnya. Apa maksud Allah memberikan hukum-hukum-Nya ini kepada umat-Nya ? Tentu bukan sekedar supaya Allah gembira kalau umat-Nya bisa melakukannya, tetapi merupakan kasih Allah kepada umat-Nya. Karena mengasihi umat-Nya, maka Ia memberikan kepada mereka hukum-hukum-Nya agar umat-Nya menikmati berkat-berkat-Nya secara konkrit. Hal ini merupakan penyataan diri Allah kepada umat-Nya yakni melalui hukum-hukum atau firman-Nya. Hukum-hukum yang Allah berikan menciptakan harmonisasi antara Allah dengan umat-Nya maupun diantara umat dengan umat sendiri. Tanpa harmonisasi umat tidak dapat menikmati segala kelimpahan rahmat-Nya.Oleh sebab itu untuk menerima segala kebaikan Tuhan, umat mutlak harus mematuhi hukum-hukum-Nya. Karena semuanya ini diberikan untuk kebaikan umat-Nya, maka hendaknya umat menerima dengan sukacita.

Bagaimana hubungan hukum-hukum Allah dengan Jemaat masakini? Jangan sekali-kali kita berpendapat bahwa Jemaat masakini (kita) tidak lagi membutuhkan hukum-hukum Allah, sebab zaman anugerah telah datang dan zaman taurat telah berlalu. Hukum-hukum Allah itu menunjuk kepada standar moral dari Allah yang harus dikenakan kepada manusia yang adalah gambar-Nya. Standar moral ini merupakan tuntutan abadi Allah kepada semua manusia yang tidak pernah berhenti dan melaluinya manusia hendak digiring kepada anugerah Kristus. Kristus telah membebaskan kita dari tuntutan hukum taurat dan membenarkan kita bukan karena melakukan taurat, tetapi karena korban penebusan-Nya.

Dengan kata lain, hukum-hukum Allah diberikan-Nya kepada kita untuk membawa kita kepada citra Allah. Dalam hal ini, jelaslah bahwa seseorang yang mau mematuhi hukum-hukum Allah akan memiliki sebuah kehidupan yang bermutu. Dalam penjelasan Yesus kepada seorang pemimpin agama Yahudi yang mengingini sebuah kehidupan yang berkualitas, Tuhan Yesus menawarkan hukum-hukum-Nya (Mrk. 10:17-21). Hidup kekal hendak menunjuk kehidupan yang berkwalitas. (Kata „kekal‟ dalam ucapan pemimpin agama Yahudi itu bukan saja hendak menunjuk kepada hidup abadi di sorga tetapi juga mutu hidup saat ini). Pada akhirnya, Jemaat masakini (kita-pun) mesti mentaati firman pertama sampai kesepuluh bukan karena hukum itu sendiri (Gal. 5:18), mesti menjadi karakter kita atau terpersonifikasikan dalam hidup kita. Selama kita hidup di dalam dunia, hukum-hukum Allah tetap menjadi panduan oleh pimpinan Roh Kudus yang membawa kita kepada kehendak Allah yang sempurna. Hal ini terjadi sebab selama kita hidup, pertumbuhan untuk mentaati hukum-hukum Allah adalah proses yang berlangsung seumur hidup.

Aplikasi : Ada satu pertanyaan penting untuk kita (segenap anggota GMIT) renungkan selama bulan keluaga ini, yakni : Apakah keluarga-keluarga kita semakin hari semakin tangguh sebagai keluarga Kristen ? Pertanyaan ini muncul karena bagaimanapun juga, peranan keluarga-keluarga Kristen sangat menentukan perkembangan, pertumbuhan Jemaat dan masyarakat dalam segala hal. Untuk bisa memainkan peranannya yang menentukan itu, maka syaratnya adalah setiap keluarga perlu dan harus selalu menjadikan hukum-hukum dan firman Allah sebagai “santapan harian” mereka tiap saat. Maksudnya, hukum-hukum dan firman Allah sebagaimana disaksikan dalam Alkitab mesti selalu dipelajari untuk dipahami serta dilaksanakan. Supaya hal yang utama dan penting ini terjadi, maka peranan setiap orangtua dalam keluarga sangat dibutuhkan. Bagaimana bapak-bapak dan mama-mama ? Apapun jawaban kita, salah satu tugas utama bapak dan mama dalam keluarga adalah mewartakan hukum-hukum dan firman Allah kepada anggota keluarganya. Namun untuk bisa melakukan hal ini maka terlebih dahulu bapak dan mama harus menjadi orang yang rajin, tekun dan selalu menjadi pembaca Alkitab.

Dalam hidup berjemaat maupun bermasyarakat, setiap orang atau setiap keluarga harus mempunyai hubungan yang harmonis dan akrab dengan Tuhan, sesama dan lingkungannya. Di sini fokus kehidupan beragama tidak hanya berurusan dengan hal-hal “surgawi” saja tetapi bagaimana nilai-nilai surgawi itu menjadi nyata dalam kehidupan di dunia ini dalam segala aspek kehidupan. Itu berarti pemahaman kita tentang bagaimana hidup beragama (berjemaat) yang baik tidak dapat dipisahkan dari bagaimana hidup berkeluarga dan bermasyarakat yang baik. Untuk maksud itu maka nilai-nilai moral berdasarkan ajaran agama harus mendapat tempat juga dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Keluaran 20:1-17 dalam tradisi kehidupan orang Yahudi (kemudian dilanjutkan dalam Gereja) dibagi atas dua bagian, yaitu (I) Berkaitan dengan bagaimana seharusnya umat mengasihi Allah (lih.ay.3-11) dan (II) Bagaimana umat yang mengasihi Allah itu harus saling mengasihi satu dengan yang lainnya (lih.ay.12-17). Inilah makna Firman Tuhan sebagaimana diuraikan dengan sangat mendetail dalam bacaan tadi, dan harus menjadi perilakuk kehidupan kita umat-Nya.

 

Minggu, 5 Oktober 2014

KELUARGA YANG SETIA PADA FIRMAN ALLAH

(Lukas 10:25-37)

Pengantar : Semua orang entah dia penatua, diaken, tukang pencuri, penjahat ulung, tukang minum laru maupun perampok kalau ditanya apakah kamu mau selamat dan masuk masuk surga ? Semuanya pasti mau, apa lagi kalau yang kita tanyakan adalah pada orang yang aktif dalam kegiatan gereja pasti jawaban mereka “ya sorga yang baka”. Dalam Alkitab yang kita baca ini, ada seorang ahli taurat datang dan bertanya kepada Yesus bagaimanakan caranya untuk mendapatkan hidup yang demikian ? Dalam ay.25 dikatakan bahwa pertanyaan ahli taurat itu untuk “mencobai” Yesus. Kata “mencobai” itu menunjukkan bahwa si ahli Taurat itu tidak sungguh-sungguh ingin bertanya. Ia ingin menguji Yesus dengan sebuah pertanyaan “jebakan” : Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal ?”. Terhadap pertanyaan ini, Yesus bertanya kepadanya “Apa yang tertulis dalam Hukum Taurat, apa yang kaubaca di sana ? Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan.

Ahli Taurat itu sangat jelas mengatakan bahwa syarat untuk mendapatkan hidup yang kekal itu adalah : “: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Terhadap jawaban yang “hebat” ini Yesus lalu berkata “perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup”.

Pesan Teks : Dalam kehidupan umat beragama, salah satu “penyakit” adalah suka omong-omong bahkan sampai berdebat soal pemahaman tentang ayat-ayat Kitab Suci namun “lemah” dalam hal melaksanakan ayat-ayat Kitab Suci dimaksud. Penyakit ini juga dihadapi oleh Yesus ketika ada seorang ahli taurat yang datang kepadanya dan bertanya tentang bagaimana cara memperoleh hidup yang kekal. Si ahli taurat itu tentu bukan orang goblok dan bodoh, namanya saja ahli taurat. Hal ini terlihat ketika Yesus balik bertanya kepadanya, ternyata dia sanggup menjawab pertanyaan Yesus secara benar, bahkan jitu (lih.ay.27). Terhadap jawabannya itu, Yesus mengatakan kepadanya bahwa “Jawabanmu itu benar, perbuatlah demikian, engkau akan hidup”. (ay.28). Mengasihi Tuhan dan sesama adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mengasihi Allah sementara hubungan kita dengan orang lain sangat buruk. Pengetahuan si ahli taurat tentang hukum taurat berkaitan dengan pokok bagaimana caranya untuk mendapatkan hidup yang kekal terlalu mantap, tetapi sayangnya tidak terbukti dalam kehidupannya setiap waktu.

Untuk “membela diri dan membenarkan dirinya” si ahli taurat bertanya lagi kepada Yesus tentang “siapakah sesamaku manusia” (ay.29). Agak mengherankan bahwa si ahli taurat justru tidak tahu bahkan tidak mengenal siapakah sesamanya ? Suatu pertanyaan yang yang memperlihatkan kebodohannya dalam memahami hukum taurat. Terhadap si ahli taurat yang bodoh ini, selanjutnya Yesus mengemukakan cerita sebagaimana diuraikan dalam ay.30-37. Cerita ini sebenarnya, Yesus sedang berupaya “membuka otak dan mata” si ahli taurat tadi tentang apa yang dikatakannya tentang “mengasihi Allah dan mengasihi sesama“ (ay.27).

Ay.30 “Ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho, ia jatuh ketangan penyamun-penyamun…….memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati”. Pada zaman Yesus “rute perjalanan” dari Yerusalem ke Yerikho tidak aman karena seringkali terjadi perampokan di sana, korbannya disiksa, bahkan dibunuh lalu hartanya dirampas. Di kalangan orang-orang Yahudi ada dugaan (bahkan tuduhan) bahwa para pelaku kejahatan itu adalah orang-orang Samaria. Karena itu setiap kali orang-orang Yahudi melihat atau bertemu dengan orang Samaria, mereka selalu menganggap diri baik dan orang Samaria itu tidak baik.

Ay.31-32 “Ada seorang Imam…..ada juga seorang Lewi…ketika mereka melihat orang itu, melewatinya dari seberang jalan”. Imam dan orang Lewi adalah orang-orang yang sehari-hari berurusan dengan ibadah dan kebaktian, merekalah yang setiap hari berbicara tentang hukum taurat dan bagaimana melaksanakannya (bd.Pdt, Pnt,Dkn, Pengajar dalam jemaat GMIT). Rupanya mereka menganggap bahwa “mengasihi dan menolong” onag yang sedang mengalami penderitaan itu bukan tugas mereka, itu tugas orang lain, karena itu mereka “jalan lewat” saja. Bagi mereka cepat-cepat sampai ke tempat ibadah dan beribadah lebih penting dari menolong dan mengasihi orang yang “hampir mati”.

Ayat 33-35 “Ada seorang Samaria…..ketika melihat orang itu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan…………ia membalut lukanya….menyiraminya dengan minyak dan anggur…………..menaikkannya ke atas keledainya, membawanya ketempat penginapan dan merawatnya……..dst”. Orang Samaria – yang tidak membaca hukum taurat – yang dicap jahat oleh orang-orang Yahudi ternyata melakukan apa yang diperintahkan dalam hukum taurat (yang tidak dilakukan oleh Imam dan orang Lewi tadi). Nampak jelas bahwa orang Samaria ini lebih memahami apa itu “mengasihi sesama” daripada orang-orang lain yang ada disekitarnya. Perbuatan orang Samaria ini memperlihatkan bahwa ia justru adalah “pelaku” hukum taurat, tidak seperti Imam dan orang Lewi tadi yang hanya “tukang omong” tentang hukum taurat.

Ayat 36-37 : Setelah memaparkan cerita ini Yesus meminta pendapat si ahli taurat tadi dengan mengajukan sebuah pertanyaan “siapakah diantara ketriga orang tadi…adalah sesa manusia bagi orang yang jatuh ketangan penyamun itu ?” Si ahli taurat menjawab dengan benar, lalu Yesus memerintahkannya untuk “pergilah dan perbuatlah demikian” (bukan omong doang).

Aplikasi : Melalui bacaan ini kita dapat mempelajari lebih lanjut dua hal :

  1. Terlepas motivasi mencobai, pertanyaan ahli taurat tadi penting kita renungkan. Sebab jangan-jangan kita juga masih sama dengan baptua, masih bertanya bagaimana untuk memperoleh hidup yang kekal. Kita sudah membaca Firman Tuhan, tetapi tidak melakukan. Itulah sebabnya maka Yakobus mengatakan Iman tanpa perbuatan adalah mati (bd.Yakobus 2:20, 26) 2.
  2. Hidup adalah sebuah perjalanan. Dalam perjalanan itu banyak hal kita jumpai ada orang-orang yang menderita dan harus ditolong. Bagaimana sikap kita mengenai hal ini? Ada kecenderungan cari dan pilih jalan aman, ini menjadi bahaya bagi kemanusiaan dan kenyamanan hidup yang didambakan setiap manusia. Perlu kembali kita renungkan bagaimana Yesus – Tuhan dan Juruselamat kita dalam menjalani hidup-Nya, Ia tidak mau hidup dalam zona aman yakni kepentingan dirinya, tetapi Ia mau menderita bahkan mati bagi keselamatan umat manusia.

 

Minggu, 5 oktober 2014

KELUARGA YANG SETIA PADA FIRMAN ALLAH

(Galatia 1: 6-10)

Pengantar : Surat Galatia adalah tulisan yang amat penuh perasaan. Pembukaannya memiliki sifat yang amat berbeda dengan surat-surat Paulus lainnya, nama pengirimnya singkat dan jelas Paulus. Ia menegaskan ia seorang rasul bukan karena manusia dan bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah Bapa. Surat Galatia adalah surat dari Rasul Paulus yang sangat keras, ini terlihat dari awal surat Paulus yang menegur dengan keras jemaat di Galatia. Paulus terkoyak antara kesedihan dan kemarahan karena memikirkan orang-orang Galatia begitu cepat mundur. Paulus heran bahwa jemaat Galatia begitu mudah berbalik dari Injil yang sejati kepada Injil Palsu. Injil palsu sangat berbahaya. Paulus menganggap suatu hal yang serius ketika jemaat tidak menyadari bahaya masalah ini. Dua kali Paulus mengucapkan kutukan terhadap mereka, dan dalam kutuknya itu mencantumkan semua yang akan memberitakan injil yang lain dari apa yang disampaikannya kepada mereka, siapapun mereka itu. Kesalahan dalam hal agama bisa berakibat pengrusakan nature, iman, karakter manusia. Injil sejati akan membawa manusia kembali kepada Allah. Injil yang palsu akan mengejar kesukaan manusia belaka. Injil sejati/agama sejati /akan membawa manusia bertobat/mengakui dosa-dosanya dan hidup menyangkal diri. Mempermainkan injil berarti mempermainkan Tuhan dan melawan Allah.

Pesan Teks : Paulus menyebut dirinya rasul “apostolos” yang artinya seorang yang diutus oleh Tuhan untuk pelayanan dan pemberitaan. Paulus dalam bacaan ini bermaksud menarik pusat perhatian semua orang kepada injil. Penting untuk kita perhatikan ada beberapa kata yang diulang-ulang dalam ayat 6,8, 9 ; kata suatu injil dan injil ayat 6,7,8,9. Serta kata terkutuklah dia yang diulangi pada ayat 8 dan 9.

Secara terus terang Paulus mengungkapkan pernyataannya di ayat 6; “aku heran”, Paulus terkejut, bagaimana orang galatia melupakan panggilan Allah. Panggilan itu adalah suatu undangan yang begitu indah. Panggilan itu datang dalam bentuk injil/ kabar baik “euanggelion”. Menurut Paulus, Injil adalah sesuatu yang bermutu tinggi. Hanya ada satu Injil yang benar-benar Injil, tidak ada yang lain. Tidak dapat dipahami kalau orang-orang Galatia telah membuang Injil itu sewaktu ditawarkan kepada mereka injil lain.

Ayat 7 ; injil lain yang dimaksud disini adalah kuk perhambaan, dan orang-orang yang mengacaukan jemaat di Galatia memutarbalikkan Injil, artinya Injil mereka jadikan bukan injil. Hanya ada satu injil yang benar. Tidak ada kompromi, dalam hal ini Injil tidak pernah abu-abu, hanya ada putih dan hitam. Injil tidak dapat dicampur adukan dengan pertimbangan apapun. Pendapat ini paulus tuturkan dengan jelas dengan 2 kata kerja , mengacaukan dan memutarbalikan.

Ayat 8,9 ; Paulus menegaskan dalam ayat ini kewibawaan seseorang bukan karena pengaruh kedudukan/ jabatannya dalam memberitakan injil, melainkan apa isi kabar yang disampaikan itu. Apakah kabar yang dibawa itu berisikan injil dan pengajaran yang baik. Sangat penting kalimat ini diucapkan oleh paulus sehingga dalam ayat 8 dan 9 ini ada kalimat yang sama yang diulangi oleh Paulus dan ini menjadi sangat penting….”.seorang/orang yang memberitakan kepadamu suatu injil yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia”. Kedua ayat ini diakhiri dengan kalimat kunci, terkutuklah dia. Penekanan kalimat akhir ini merupakan ucapan yang menjelaskan betapa pentingnya Injil itu dikabarkan secara murni, tanpa dicampur adukan dengan perintah yang lain. Karena kebenaran dalam iman kepada Yesus Kristus sangat penting.

Ayat 10; muncul suatu pertanyaan yang harus disikapi dengan tegas, jadi bagaimana sekarang? Tindakan yang diambil Paulus menjadi prinsip dan karakter hidup beriman Paulus. Aku tidak mencari kesukaan manusia, melainkan kesukaan Allah. Mencoba berkenan kepada Allah adalah upaya untuk menyakinkan orang lain untuk diubah dan diperbaharui. Mencoba berkenan kepada Allah adalah mengubah diri sendiri artinya manusia harus merestorasi dirinya dengan membuka hati dihadapan Allah. Paulus hendak menekankan bahwa tidak perlu membujuk Allah supaya Allah berkenan kepada manusia, tetapi sebaliknya manusia(paulus sendiri) mau mentaati Allah. Bila kita coba berkenan kepada manusia, biasanya tingkah laku kita ditentukan oleh kemauan orang tersebut, upaya untuk berkenan kepada manusia bertentangan untuk menjadi hamba/pelayan Kristus. Hanya ada satu komitmen melayani Tuhan dan berkenan kepadaNya.

Aplikasi : Dalam bulan keluarga ini mari kita merefleksikan kehidupan persekutuan keluarga kita dalam jemaat, masyarakat dan rumah tangga kita. Apa kita sudah menjadi orang yang setia dan taat pada Firman Allah. Setia dalam arti menjaga persekutuan yang utuh dan kokoh sebagai umat Allah. Jangan jadi orang yang mengacaukan atau memutarbalikan kebenaran Injil dalam perilaku kita yang tidak menyenangkan hati Tuhan melalui kebersamaan dalam hidup persekutuan kita. Memberitakan injil Tuhan dalam bentuk yang nyata lewat karya dan pelayanan kita.

Berbeda itu wajar tetapi membuat apa yang diajarkan berbeda dengan apa yang dilakukan menjadi soal dalam persekutuan hidup bersama. Keluarga yang setia kepada Firman Tuhan adalah keluarga yang memulainya dengan setia terhadap pasangan hidup yang Tuhan anugerahkan kepadanya. Anak –anak yang setia dan taat kepada Firman Tuhan adalah anak yang mampu menghidupkan firman itu secara nyata dalam perilakunya setiap hari. Apakah anda dan saya sudah menjadi anak yang baik, orangtua yang bijak, pasangan hidup yang setia, bertolak dari kebenaran Firman Allah. Berapa lama kita mempunyai waktu untuk duduk bersama sebagai keluarga dalam kesibukan kita hari ini, di sekitar Firman Tuhan? Apa yang kita lakukan bukan untuk menyenangkan hati manusia tetapi berkenan kepada Allah dan memuliakan namaNya. Selamat hidup berdampingan dalam keluarga yang setia kepada Firman Allah.

 

Minggu, 12 Oktober 2014.

KELUARGA YANG GEMAR MELAKUKAN KEBENARAN

(Kejadian 32: 1-21)

Pengantar : Esau dan Yakub adalah dua orang kakak beradik yang cerita kehidupan mereka tidak asing lagi bagi kita. Yakub adalah anak kesayangan ibunya. Sifatnya berbeda dengan kakaknya, Esau. Esau gemar berburu dan hidup di hutan sedangkan Yakub lebih suka berada di rumah bersama-sama dengan ibunya. Cerita tentang Esau dan Yakub adalah bagian dari sejarah kehidupan umat Israel sebagai umat Allah, yang mestinya mereka mengasihi Allah dan saling mengasihi seorang dengan yang lain.

Pesan Teks : Saat ini kita akan membahas secara detail kehidupan Yakub. Yakub berarti penipu. Karakter ini melekat dalam kehidupannya. Ia menjadi orang yang menipu atau merampas apa yang bukan menjadi miliknya. Tentu kita masih ingat kisah tentang sub kacang merah dan tubuh berbulu buatan yang mengantar Yakub untuk „merebut‟ hak kesulungan dari kakaknya sekaligus „merebut‟ berkat yang harusnya diberikan kepada Esau kakaknya. Dan tentu tak dapat dilupakan peristiwa „mengakali mertua‟ yang ia lakukan pada hewan ternak laban.

Dalam bacaan kita, kita melihat bahwa Yakub akhirnya menuai apa yang telah ia tabur kurang lebih 20 tahun yl. Yakub takut bertemu dengan kakanya Esau. Sebagaimana judul perikop bacaan ini. Saya membayangkan bahwa perasaan ini tentu bukan muncul secara tiba2, tetapi rasa ini yang selalu bergejolak dalam kehidupannya selama 20 tahun. Selama itu ia harus hidup dengan beban rasa bersalah dan tekanan karna luka masa lalu. Dan sampai sekarang ia tetap diliputi oleh rasa itu bahkan kemungkina ia pun membenci dirinya sendiri ketika ia melihat sejarah hidupnya.

Akan tetapi ada sebuah kabar baik bagi Yakub dalam ketakutan dan kegelisahannya, yaitu malaikat Tuhan datang menjumpainya dalam perjalanan pulang ke negeri nenek moyangnya. Perjalanan yang sebenarnya merupakan titik balik kehidupan Yakub. Karna pada saat inilah ia mulai berani untuk menghadapi beban masa lalunya, ketakutannya kepada Esau.

Melepaskan rasa bersalah bukan hal yang mudah. Tekanan yang dialami Yakub sungguh tidak mudah. Ia harus mengalami tekanan jiwa dan roh. Hal ini terlihat jelas dalam ayat 7 dan 16, Yakub mengatur segala iring-iringan keluarganya, ia membagi pasukannya menjadi dua bagian. Semua ini dikarenakan tekanan yang dialaminya. Ketakutan dan rasa bersalah begitu kuat merongrong kehidupannya.

selain itu, ia juga mencoba untuk mengambil hati Esau dengan memberi persembahan (18-21). Ia berharap dengan memberi persembahan yang diantar lebih dahulu, ia akan bisa memprediksikan tanggapan Esau. sehingga ia bisa mengatur langkah selanjutnya. karna itu pada saat persembahan itu diantar, Yakub bermalam di perkemahan.

Aplikasi :

  1. Setiap tindakan ada latarbelakang

Semua yang terjadi dalam kehidupan Yakub bukan terjadi begitu saja akan tetapi ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Dan salah satu faktornya adalah perhatian orangtua yang berlebihan kepada salah seorang anak. hal ini yang membuat ia harus melarikan diri dari keluarganya.

Istilah anak emas dalam keluarga bukan hal yang perlu untuk dipertahankan dalam pendidikan keluarga. orangtua harus memberikan kasih yang merata kepada setiap anak dengan berbagai keberadaan mereka. hal ini menolong anak untuk bertumbuh dalam penerimaan diri sehingga pada akhirnya mereka siap untuk bertumbuh dalam lingkungan yang lebih besar.

  1. Setiap tindakan ada konsekuensi / akibat.

Yakub harus menanggung akibat dari perbuatannya dimasa lalu. Termasuk ketakutannya untuk bertemu dengan Esau kakaknya. Ia harus menanggung itu sendiri. Setiap orang harus bertanggungjawab dengan tindakannya. Oleh karena itu lebih bijaksana untuk selalu memikirkan terlebih dahulu segala hal secara matang sebelum bertindak. sehingga tidak ada penyesalan disetiap tindakan.

  1. Setiap kemauan baik pasti ada jalan keluar

Melakukan kesalahan itu manusiawi, menyadari kesalahan dan mau memperbaikinya adalah tindakan ilahi. Apapun kesalahan dan sebesar apapun kesalahan yang kita buat dalam hidup kita, sepanjang ada kemauan untuk memperbaiki diri pasti ada jalan keluar. Yakub akhirnya berdamai dengan kakaknya dan menikmati kebahagiaan sebagai sebuah keluarga yang bahagia.

 

Minggu, 12 Oktober 2014.

KELUARGA YANG GEMAR MELAKUKAN KEBENARAN

(Lukas 11 : 29-32)

Pengantar : Dalam Injil-Injil Sinoptis, khususnya Injil Lukas ada banyak kesaksian tentang karya pelayanan Yesus yang membuat banyak mujizat, antara lain : Ia meredakan angin ribut (8:22-25), Mengusir roh jahat dari yang merasuki seorang laki-laki di Gerasa (8:26-39), Membangkitkan anak perempuan Yairus (8:40-56), Memberi makan 5000 orang (9:10-17), Mengusir roh jahat yang dikuasai roh jahat (9:37-43a). Tanda-tanda mujizat ini merupakan cara Yesus untuk “memperkenalkan diri-Nya” kepada orang-orang disekitarnya, khususnya orang-orang Yahudi yang sedang menantikan kedatangan Mesias. Namun demikian, karena Ia melakukan banyak mujizat, maka banyak orang datang berbondong-bondong kepada-Nya dengan maksud yang bermacam-macam, termasuk untuk “menonton mujizat” lagi. Ada juga segelintir orang yang justru “mencela” apa yang dilakukan Yesus dengan tuduhan bahwa ia melakukan semuanya dengan kuasa beelzebul, penghulu setan (lih.11:15). Mereka jelas-jelas tidak memahami janji tentang Mesias sebagaimana dinubuatkan dalam Kitab Suci oleh para Nabi. Akibatnya jelas, bahwa mereka tidak memahami siapa Yesus dan karya pelayananNya dengan benar.

Pesan Teks : Bagian Alkitab yang kita baca saat ini paralel (sejajar) dengan Mat.12:38-42 sehingga alangkah baiknya kita membacanya juga untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang perikop ini. Menurut Injil Matius, karena Yesus telah melakukan banyak mujizat yang mengherankan semua lapisan masyarakat maka Ia semakin tenar dan mendapat perhatian besar dari hampir semua orang, kecuali beberapa ahli taurat dan orang-orang Farisi beserta kroni-kroninya (Mat.12:38). Mereka inilah yang “menyusup” di antara banyak orang yang berbondong-bondong mengikuti dan mengerumuni Yesus, dengan maksud untuk bisa menguji dan mencobaiNya. Jadi motivasi mereka untuk mendekati dan datang kepada Yesus bukan untuk memuliakan-Nya tetapi (sekali lagi) untuk menguji dan mencobai-Nya. Ini jelas-jelas suatu tindakan munafik, salah bahkan merupakan suatu bentuk perbuatan dosa.

Kepada merekalah Yesus berkata “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda tetapi mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus “ (ay.29 ; bd.Mark.8:11,12). Yang dimaksud dengan tanda nabi Yunus adalah menunjuk pada peristiwa “masa lampau” tentang Yunus tinggal dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Peristiwa itulah yang bisa mereka pahami, namun apa yang Yesus lakukan sekarang tidak mereka pahami karena apa yang dilakukan Yesus menunjuk pada karya penyelamatan-Nya melalui peristiwa kematian dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati (tiga hari kemudian). Selanjutnya, dalam ay.31 Yesus mengarahkan para pengikut dan pendengarNya kepada peristiwa “penghakiman” di mana Ia “menubuatkan” bahwa saat itu ratu dari selatan (hal ini menunjuk pada cerita dalam I Rj.10:1-13 tentang Ratu Syeba yang karena mendengar khabar tentang luar biasanya Salomo – Raja Israel – maka ia datang untuk mengujinya dengan teka-teki, pada akhirnya ia memuji kehebatan Salomo dan memuliakan Allah Israel).

Kini orang-orang yang sedang mengikuti Yesus dan berkumpul disekitarnya tidak perlu mengarahkan pandangan kepada nabi Yunus atau ratu dari selatan itu, tetapi mengarahkan pandangannya kepada Yesus – yang lebih “hebat” dari keduanya. Ia-lah yang akan bangkit untuk menghakimi setiap orang sesuai kehendak dan keadilan-Nya. Yang harus diperhatikan oleh umat-Nya cuma satu, yaitu : Datang kepadaNya dan melakukan kebenaranNya.

Aplikasi : Pertama, Dewasa ini masih banyak orang yang gemar untuk “menonton” apa yang disebutnya tanda-tanda heran, ajaib bahkan sering disebut mujizat. Perhatikan kalau ada KKR, biasanya penyelenggara mencari pembicara atau pengkhotbah yang bisa membuat mujizat. Menariknya, kemudian di pembicara itu diiklankan melalui brosur, baliho dan lain-lain. Tidak jarang banyak orang mau datang ke KKR bukan untuk mendengar Firman dan Kebanaran Allah melainkan untuk menonton si pengkhotbah yang (menurut iklan) bisa membuat mujizat. Apa yang dikatakan ini bukan rahasia lagi biasa terjadi di sekitar kita. Pada umumnya banyak orang kemudian merasa ditipu dan kena tipu, namun sayangnya si pengkhotbah itu telah kembali ke “kampung halamannya” dan hilang juga berita tentangnya.

Kedua, Orang-orang yang kepingin menonton mujizat dari Yesus harus kecewa karena Ia tidak meladeni permintaan mereka yang “salah” itu. Mujizat Yesus bukan supaya orang “tercengang” terhadapNya melainkan merupakan kesaksian bahwa Ia sungguh Messias – Allah yang mahakuasa, Tuhan dan Juruselamat, yang mengerjakan bagi kita penyelamatan dan pembenaran. Yang paling penting dan utama untuk menjadi motivasi kita mengikuti Yesus adalah untuk memuliakan dan melakukan kebenaran yang Ia kehendaki. Inilah yang mesti menjadi tugas setiap orang, setiap keluarga, setiap rumah tangga kristiani.

Ketiga, di Bulan Keluarga ini marilah kita semua semakin berupaya untuk memahami siapa itu Yesus dan apa makna karyaNya bagi kehidupan setiap keluarga sebagai warga jemaat dan warga masyarakat. Itu berarti kita harus semakin berupaya untuk “gemar” belajar tentang kebenaran yang Ia ajarkan sebagaimana disaksikan dalam Alkitab. Itu berarti “Gerakan Membaca Alkitab” mesti menjadi lebih penting dari kegiatan seremonial lainnya di Bulan Keluarga ini. Jangan sebaliknya, sangat asyik dan merepotkan diri dengan berbagai kegiatan yang dilakukan juga oleh orang lain, lalu tidak ada kesempatan untuk “mempelajari isi Alkitab”.

 

Minggu, 12 Oktober 2014.

KELUARGA YANG GEMAR MELAKUKAN KEBENARAN

(Galatia 5:16-26)

Pengantar : Surat Galatia ditulis antara tahun 49-55 oleh Rasul Paulus ditujukan kepada Jemaat di Galatia, yang secara sosiologis terdiri dari dua kelompok besar yaitu kelompok orang-orang berlatarbelakang Yahudi dan non-Yahudi. Relasi antara kedua kelompok orang ini tidak harmonis karena kelompok Jemaat berlatarbelakang Yahudi (yang mayoritas) berpandangan bahwa kelompok orang-orang non-Yahudi yang menjadi Kristen harus tunnduk pada hukum taurat dan adat istiadat Yahudi terutama hal “sunat” supaya mereka dapat diselamatkan. Surat ini adalah tanggapan Paulus terhadap persoalan ini. Menurut Paulus keselamatan adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada umat-Nya (tanpa kecuali) berdasarkan kemurahan-Nya yang berpuncak pada karya agung Yesus Kristus. Karena itu setiap orang percaya haruslah menyadari bahwa ia harus beriman kepada Yesus Kristus, bukan kepada yang lain. Semua anggota Jemaat adalah ahli waris Allah sebagai anak-anakNya. Status atau kedudukan ini tidak diperoleh karena perbuatan, melainkan hanya oleh Iman kepada Yesus Kristus. Dengan demikian maka kehidupan orang percaya haruslah mengacu pada kebenaran yang dikehendaki oleh Allah di dalam Yesus Kristus.

Pesan Teks : Bagian Alkitab yang kita baca dan dengar hari ini merupakan “lanjutan” dari pasal 5:1-15 yang oleh LAI diberi judul “Kemerdekaan Kristen”. Dalam perikop ini Rasul Paulus antara lain mengatakan bahwa “Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat, tidaklah mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih” (5:5,6). Kata-kata Paulus ini menunjukan bahwa kebenaran Allah adalah hal yang terutama untuk dilaksanakan oleh setiap orang percaya. Selanjutnya, Rasul Paulus membedakan karakter/sifat dan sikap hidup manusia dalam dua kategori (bentuk) yaitu : “Hidup menurut daging dan hidup menurut Roh”. Kedua bentuk kehidupan ini saling bertentangan dan berlawanan.

Hidup menurut Roh artinya hidup dipimpin, dibimbing dan diarahkan oleh kehendak Roh Allah (yaitu kebenaran yang sempurna). Orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Allah tidak hidup dibawah hukum taurat (5:18), melainkan dalam kesetiaan dan ketaatan kepada Allah. Kehidupan yang demikian, akan menampakkan buah-buah Roh yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (5:22-23).

Sebaliknya, hidup menurut daging adalah kehidupan yang dipimpin, dibimbing dan diarahkan oleh “roh kejahatan” yang merupakan dosa atau perlawanan kepada kehendak Allah. Rasul Paulus merinci bentuk-bentuk kehidupan dalam daging antara lain “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (5:19-21).

Berdasarkan pemahaman seperti ini, maka Jemaat sebagai “milik Kristus” jangan hidup menurut keinginan daging (keinginan manusiawinya saja) melainkan hidup oleh Roh. Kata Rasul Paulus “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (5:24).

Aplikasi : Salah satu masalah yang sedang dihadapi gereja dewasa ini adalah banyak Warga Gereja yang berperilaku seperti anak kecil yang suka“palese”. Ia tidak suka jika kehidupannya yang buruk disinggung apalagi dikritisi. Ia akan marah ! tetapi sebaliknya ia akan senang dan makan puji jika dipuji-puji (sekalipun pujian itu tidak ada dasarnya sama sekali). Akibat dari perilaku seperti ini maka kehidupan warga Gereja (orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan karena itu dia adalah milik-Nya) menjadi tidak jelas. Artinya, tidak bisa dibedakan dengan kehidupan orang-orang yang tidak mengenal kebenaran. Perilaku ini bukan cuma dilakonkan oleh setiap individu, tetapi juga oleh keluarga-keluarga warga Gereja (keluarga Kristen).

Mencermati pesan teks sebagaimana digambarkan di atas, ada dua hal patut direnungkan lebih lanjut dalam kehidupan berjemaat, khususnya dalam konteks GMIT : Pertama, Apakah keluarga-keluarga warga GMIT semakin hari “semakin kristiani” atau sebaliknya semakin memprihatinkan kualitas kektristenannya. Apapaun jawaban terhadap pertanyaan ini, kita tidak dapat menutup mata terhadap berbagai kecenderungan yang sedang terjadi (atau mungkin menjadi-jadi) dalam kehidupan berjemaat masakini. Ada banyak hal yang mestinya dilakukan oleh setiap orang atau setiap keluarga (warga Gereja) justru tidak dilaksanakan. Bukankah banyak orang atau banyak keluarga kristen yang sudah semakin jarang berdoa, membaca Alkitab dan mengikuti ibadah-ibadah sebagai tanda ucapan syukur dan penyerahan diri kepada Allah ? Karena itu janganlah heran jika berbagai bentuk kejahatan akibat “mengandalkan nafsu dan keinginan” manusia, semakin terjadi dan menjadi-jadi yang pada gilirannya merusak kehidupan bergereja, juga bermasyarakat.

Kedua, Dewasa ini kita sedang hidup dalam suatu konteks di mana ada begitu banyak “pengaruh dan godaan” dari segala penjuru dalam segala hal yang membawa akibat-akibat negatif (buruk) bagi kehidupan berjemaat kita. Kita sedang berada dan berhadap-hadapan dengan globalisasi (memudar bahkan runtuhnya nilai-nilai yang selama ini dipegang teguh oleh suatu masyarakat karena “dihantam” oleh nilai-nilai baru), materialisme (mengutamakan benda-benda buatan manusia), kapitalisme (mengutamakan hal-hal yang berhubungan dengan uang dan barang), hedonisme (mengutamakan kesenangan diri) dan lain-lain. Tidak jarang, nilai-nilai moral yang diamanatkan oleh Allah di dalam Alkitab (sebagai firman dan kehendak-Nya) semakin terabaikan dalam kehidupan berjemaat. Banyak orang masih gemar beribadah tetapi tidak suka melakukan dengan sungguh-sungguh apa kehendak Allah. Banyak keluarga yang masih disebut keluarga kristen tetapi kehidupan kekristenannya semakin hari semakin pudar.

Kalau Rasul Paulus dalam bacaan tadi menekankan agar Jemaat hidup menurut Roh, maka bagaimana mestinya kehidupan berjemaat kita masakini di sini?

 

Minggu, 19 Oktober 2014.

KELUARGA SEBAGAI PANGKALAN PEKABARAN INJIL

(Ulangan 6:1-9)

Pengantar : Kitab Ulangan pertama-tama ditujukan kepada “generasi baru Israel” yang hidup di tanah perjanjian (Kanaan). Mereka ini tidak merasakan secara langsung peristiwa keluar dari Mesir, pengembaraan di padang gurun dalam perjalanan panjanhg menuju Kanaan. Mereka (generasi baru) ini perlu di ajar dan belajar bagaimana semstinya mereka harus hidup dalam hubungan yang benar dengan Allah. Oleh sebab itu maka mereka harus diingatkan untuk hidup dalam iman dan ketaatan yang sungguh kepada Allah, sehingga hukum-hukum Allah yang telah difirmankan-Nya kepada nenek moyang (generasi pendahulu) mereka diualng kembali kepada mereka supaya sungguh-sungguh harus diperhatikan untuk dilaksanakan.

Tema utama kitab ini adalah : Hanya Allah saja yang mahabesar dan mahamulia, karena itu maka ketaatan kepada-Nya akan mendatangkan berkat, sebaliknya ketidaktaatan kepada-Nya mendatangkan hukuman. Kasih yang sungguh-sungguh kepada Allah dibuktikan dengan kehidupan yang kudus dan mengasihi sesama. Kuasa dan kesetiaan Allah harus diajarkan kepada anak-anak agar mereka takut kepada-Nya dan memegang teguh perintah-perintah-Nya.

Pesan Teks : Setiap keluarga mempunyai fungsi dan peranan sebagai bagian dari persekutuan umat Allah. Artinya, ada tanggungjawab yang mesti dilaksanakan sebagai wujud kesetiaannya kepada Allah. Kitab Ulangan menegaskan hal yang penting ini berkali-kali pada berbagai kesempatan. Bagian Alkitab yang kita baca sekarang merupakan “anjuran” (perintah) kepada setiap keluarga (baca:orangtua dalam keluarga) untuk mendidik anak-anak dan cucu-cucunya agar memiliki kepercayaan, kesetiaan dan ketaatan kepada Allah sehingga masadepan mereka “cerah”.

Dalam ayat 1,2 ada kesan bahwa perintah ini ditujukan kepada para orangtua, terutama para kepala keluarga, agar harus bertanggungjawab untuk“mengajar” anggota keluarganya (anak dan cucu) supaya mereka menjadi generasi yang takut akan Allah dan berpegang pada ketetapan-ketetapan dan perintah-perintahNya. Dengan melaksanakan tanggungjawab ini maka ada jaminan bahwa “supaya lanjut umurmu”. Maksudnya, dengan melaksanakan tanggungjawab ini dengan baik maka Allah akan memberikan berkat sepanjang hidup mereka, “Supaya baik keadaanmu, supaya kamu menjadi sangat banyak dan menduduki negeri yang Allah berikan kepadamu” (bd.ay.3). Apakah tugas yang menjadi tanggungjawab setiap keluarga, para orangtua, lebih khusus para bapak dalam setiap keluarga ? Tugas itu ialah “mengajarkan” anggota keluarga untuk mengenal dengan baik dan sungguh siapa Allah (yang kita kenal dan sebut sebagai Bapa, Putera dan Roh Kudus) serta mengasihiNya dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan (lih.ay.4-5). Mengapa “hati, jiwa dan kekuatan” ditonjolkan di sini sebagai “media” di mana umat Allah harus mewujudkan kasihnya kepada Allah ? Hati, disebutkan pertama-tama sebagai sarana untuk mengasihi Allah. Hati dalam Alkitab dipahami sebagai “titik awal, dapur” dari seluruh pemikiran dan kehendak manusia.

Disitulah segala sesuatu digodok, dirancang, disimpan dari yang paling baik sampai yang paling buruk. Hati itulah yang diminta untuk sepenuhnya menjadi alat dan tempat untuk mengasihi Allah. Jiwa, adalah cerminan diri, tampilan diri yang banyak kali terlihat dalam sikap, tingkah laku, tutur kata manusia. Dari semuanya itu kita dapat mengebnal kepribadian dan karakter seseorang. Jiwa itulah juga harus menjadi medan di mana kita mewujudkan kasih kepada Allah. Kekuatan, manusia terlihat dari dan di dalam daya tahannya untuk memikul tanggungjawab atau tugas. Kekuatan itu mencakup kekuatan fisik dan batin, seluruh kekuatan diri kita dalam memikul tugas dan tanggungjawab dalam kehidupan harus diarahkan untuk mengasihi Allah. Tugas-tugas utama ini harus diperhatikan untuk dilaksanakan, jangan diabaikan (ay.6).

Keluarga menjadi semacam “Sekolah Agama” bagi setiap orang yang berada di dalamnya, karena itu maka para orangtua “diwajibkan” untuk mengajarkan tentang Allah dan kehendakNya dam kesetiaan kepadaNya secara “berulang-ulang…..membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (lih.ay.7). Tidak cuma ini saja, para orangtua diperintahkan untuk “mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu….dan menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu” (ay.9). Ungkapan ini mau mengatakan bahwa hendaknya kehendak Allah selalu terlihat jelas dalam setiak aktifitas kehidupan keluarga – umat Allah.

Aplikasi : 

  1. Peranan setiap keluarga dalam kehidupan berjemaat sangat penting, sebagai “wadah, tempat” untuk belajar menjadi umat Allah yang tangguh, handal dan bertanggungjawab kepada Allah. Kalau begitu, maka fungsi orangtua (bapak dan ibu) dalam setiap keluarga adalah menjadi Guru, Nabi, Imam dalam keluarganya masing-masing. Mereka harus menjadi guru “agama” untuk mengajarkan kehendak Allah kepada anggota keluarganya. Sebagai Nabi, mereka wajib melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya “bersama” dengan anggota keluarganya. Sebagai Imam, mereka harus menjadi “pemimpin Ibadah” bersama anggota keluarganya. Pertanyaan yang harus dijelaskan lebih lanjut adalah : Kalau begitu, apakah hal-hal tersebut di atas telah terlihat dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga kita ? Jika belum (atau tidak terlihat) maka pasti ada hal yang tidak beres dalam kehidupan setiap keluarga dan rumah tangga kita, yang tidak menjadi keluarga dan rumah tangga kristen yang “terbaik”.
  2. Setiap keluarga, rumah tangga harus “ditata” agar menjadi tempat di mana cinta kepada Allah bertumbuh dengan baik. Mengapa ? Sebab disinilah sebenarnya letak kedamaian, kesejahteraan, kenyamanan hidup dalam jemaat dan masyarakat. Setiap keluarga haruslah menjadi “pangkalan pekabaran Injil”. Sayangnya, banyak keluarga, rumah tangga kita sekarang sudah tidak dapat diandalkan lagi untuk fungsi demikian, karena orang-orang yang berada di dalamnya (semuanya) sudah jarang berdoa dan membaca Alkitab, kalau hari minggu masih lancar ke gedung kebaktian untuk beribadah di sana namun ibadah-ibadah di rayon terabaikan. Jika perilaku dan kebiasaan seperti ini semakin diteruskan maka sebenarnya keluarga dan rumah tangga kita semua sedang menjadi penghambat Pekabaran Injil di mana kita berada sekarang.

 

Minggu, 19 Oktober 2014.

KELUARGA SEBAGAI PANGKALAN PEKABARAN INJIL

(Lukas 12 : 1-12)

Pengantar : Pelayanan Yesus makin hari makin meluas, bukan saja dikalangan orang-orang Yahudi tetapi juga non-Yahudi. Banyak orang berbondong-bondong datang “mengerumuni-Nya” untuk mendengarkan ajaran-Nya. Namun di pihak lain, adapula orang-orang yang merasa sangat terganggu dengan kehadiran dan karya-Nya sehingga mereka berupaya secara sistematis untuk menghambat, bila perlu menghentikan-Nya. Salah satu modus yang mereka pakai adalah memprovokasi orang-orang yang ada di sekitar Yesus untuk meragukan, bilaperlu jangan mempercayai-Nya. Apakah mereka berhasil ?

Dalam Injil Lukas, orang-orang Farisi adalah sekelompok orang (biasanya bersama-sama dengan ahli-ahli taurat) selalu “berseberangan” dengan Yesus. Kemana Yesus pergi, mereka membuntuti-Nya dengan tujuan untuk menguji, mencobai dan mempersalahkan-Nya. Tidak jarang, Yesus “menghantam” mereka dengan kata-kata yang kasar dan keras karena apa yang mereka lakukan adalah mau menghambat karya pemberitaan Yesus.

Pesan Teks : Perikop ini oleh LAI diberi judul “Pengajaran khusus bagi murid-murid”. Menurut ay.1, yang dimaksud dengan “murid-murid” di sini bukan cuma menunjuk kepada keduabelas murid (mula-mula) dan murid-murid yang lain (lih.10:1-12) tetapi juga “beribu-ribu orang banyak yang telah mengerumuni dan berdesak-desakan disekitar-Nya”.

Pengajaran khusus diberikan Yesus kepada mereka sebagai “persiapan” untuk menghadapi orang-orang yang membenci-Nya (dan karena itu juga membenci murid-murid). Dengan kata lain, bahwa ada “krisis” yang sedang dan akan mereka hadapi sebagai bentuk“perlawanan” terhadap Yesus (Sang Guru) dan mereka sendiri yang sudah pasti dimotori oleh para farisi dan ahli taurat. Kepada para murid-Nya, Yesus meminta perhatian mereka untuk“Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi”. Waspada artinya hati-hati, bersiap-siaga, selalu awas. Sedangkan kemunafikan artinya berpura-pura, suka atau selalu mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya, bermuka dua, tidak jujur. Yesus menguatkan para murid-Nya untuk jangan takut, jangan pana‟u. Para murid jangan termakan oleh godaan dan tekanan dari para pihak yang mau menghambat pelayanan-Nya, karena tidak ada sesuatu apapun yang bisa menghambat, apalagi membatalkan karya pelayanan-Nya (lih.ay.2,3).

Dalam ay.4-5, Yesus menyapa para murid-Nya dengan sapaan “hai sahabat-sahabat-Ku” suatu sapaan yang memperlihatkan relasi solidaritas (kesetiakawanan) dan bukan relasi yang lain. Ia tidak melihat mereka sebagai “babu dan jongos” tetapi sebagai sahabat, rekan, saudara. Para sahabat-Nya diingatkan supaya “janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa”. Selanjutnya, Yesus mengarahkan perhatian para murid untuk harus “takutilah Dia yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke neraka”.Dia adalah diri-Nya sendiri.

Jaminan yang ia siapkan untuk para murid-Nya yang melakukan apa yang dikehendaki-Nya itu adalah cinta kasih-Nya yang sungguh luar biasa, dahsyat dan mengagumkan (bd.ay.6,7). Para murid diajak-Nya untuk memperhatikan kehidupan burung pipit dan rambut di kepala mereka, yang selalu diperhatikanNya. Janji dan cinta kasih-Nya yang menyertai para muridNya adalah jaminan sempurna dan luar biasa bagi mereka. Hal seperti ini tidak akan mereka dapatkan darimanapun.

Untuk menegaskan penyertaan-Nya kepada para murid-Nya yang melakukan kehendak-Nya, ia berjanji bahwa “Setiap orang yang mengakui Alku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah” (ay.8,9). Di sini yang dituntut dari para murid adalah ketaatan, keberanian dan kesediaan untuk mewartakan karya-Nya bersama-sama denganNya. Dalam rangka tugas ini, kalau toh harus menghadapi krisis yang hebat dimana mereka diperhadapkan didepan “sidang pengadilan” janganlah kuatir tentang apa yang harus dikatakan, sebab pada saat itu Roh Kudus akan mengajari mereka tentang apa yang harus mereka katakan (ay.11,12). Demikianlah para murid dibekaliNya untuk menghadapi masa krisis dan tekanan akibat menjadi murid-Nya. Bahwa Ia akan membela mereka dengan sempurna.

Aplikasi : 

  1. Dalam konteks masakini, siapakah yang disebut murid-murid Yesus ? Jawabannya ialah : Kita semua. Semua orang yang percaya kepadaNya. Jadi bukan cuma segelintir orang tetapi kita semua, termasuk didalamnya semua anggota keluarga kita tanpa kecuali. Hal ini mesti menjadi perhatian kita semua sehingga tidak ada orang yang merasa bahwa dia bukan murid Yesus. Sebagai seorang murid, tugasnya adalah mendengar dengan baik ajaran Sang Guru, lalu mengatakannya kepada orang lain untuk merekapun mengetahuinya sebagaimana yang dikehendaki Sang Guru.
  2. Para murid – kita sekalian – mesti menjadi pekhabar Injil-Nya. Hal ini patut disadari, kita bukan hanya menjadi pendengar Injil (secara permanen) tetapi (sekali lagi) menjadi pekhabar Injil. Kita mengabarkan Injil kepada siapa saja, tetapi terlebih dahulu mulai dari diri sendiri, keluarga sendiri dan rumah tangga sendiri. Para murid tidak menjadi murid secara permanen tetapi mereka “naik kelas” menjadi sahabat-sahabatNya. Itu berarti, ada tugas dan fungsi yang harus menjadi perhatian utama mereka.
  3. Tidak jarang ada banyak hambatan, tantangan bagi setiap “sahabat” yang mau memberitakan Injil. Waspada ! Supaya jangan karena itu lalu kita menyerah, bangun lari meninggalkan tugas panggilan-Nya untuk mewartakan Injil-Nya. Dia tahu bahwa ada resiko yang akan dialami oleh para sahabat-Nya karena kesetiaan kepada-Nya, oleh sebab itu ia menjadi jaminan bagi mereka. Cinta kasih-Nya akan selalu menyertai untuk membebaskan dari berbagai rupa hambatan, tantangan dan tekanan.

Tim Penyusun : Pdt. Emr. Meang Mbau – Lidda, Pdt. Yabes A. Runesi, Pdt. Dessy Rondo – Efendy, Pdt. Any Sapay – Mella, Pdt. Yudith Nunuhitu – Folabesy, Pdt. Boy R. Takoy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *