Kerangka Khotbah Bulan Keluarga Oktober 2014 – Bahan Minggu VI dan 31 Oktober

KERANGKA KHOTBAH

BULAN KELUARGA 2014

Tema : KELUARGA SEBAGAI BASIS PELAYANAN GEREJA

MAJELIS SINODE GMIT

 

Minggu, 26 Oktober 2014.

KELUARGA YANG SELALU BERADA DALAM RELASI YANG AKRAB DENGAN TUHAN

(Lukas 12:22-32)

Pengantar : Kekuatiran adalah bagian dari kehidupan manusia, itu artinya siapapun dia pasti pernah mengalami kekuatiran. Kuatir itu sama dengan cemas atau takut. Ada orang yang mengatakan bahwa kuatir itu salah. Apa benar kuatir/cemas/takut itu salah? Mari kita melihat bagaimana Alkitab menjawab pertanyaan tersebut.

Pesan Teks : Kuatir, cemas atau takut adalah karunia Tuhan. Adanya rasa takut, cemas atau kuatir adalah tanda bahwa kita masih mempunyai kepedulian, cinta dan kasih sayang. Misalnya istri merasa kuatir terhadap suami yang pergi melaut semalam suntuk belum pulang-pulang juga, apakah ini salah? Tidak. Kuatir disini merupakan tanda bahwa sang istri mencintai suaminya.

Ayah dan ibu merasa kuatir tentang anaknya yang sudah larut malam belum pulang ke rumah, apakah ini salah? Tidak. Rasa kuatir, cemas, takut adalah tanda bahwa kedua orang tua mengasihi dan peduli kepada anak mereka.

Kita kuatir terhadap masa depan bangsa dan negara, karena kita melihat kehidupan kebersatuan yang semakin hari semakin longgar, apakah itu salah? Tidak. Kekuatiran ini justru pertanda bahwa kita masih memiliki kesadaran nasionalis yang tinggi. Jadi kuatir dalam arti tertentu itu baik.

Rasa kuatir, takut, cemas adalah sesuatu yang menusiawi. Ada tokoh-tokoh Alkitab yang juga mengalami rasa takut, kuatir.

Abraham. (Kejadian 20 : 11 – 13)·

Tuhan Yesus sendiri pernah merasa takut. (Matius 26 : 37 – 38)· “Dan Ia membawa Petrus dan dua anak Zebedeus sertaNya, maka mulailah Ia merasa takut dan gentar (cemas, kuatir). Lalu kataNya kepada mereka: HatiKu sangat sedih seperti mau mati rasanya….dst” Kalau kita masih merasa kuatir, cemas, takut, berbahagialah karena itulah pertanda bahwa kita masih manusia. Rasa kuatir, cemas, takut, Tuhan karuniakan kepada kita sebagai rem dalam hidup kita. Sebagaimana mobil yang kalau remnya blong pasti celaka, maka hidup kita pun akan celaka kalau rem itu blong. Kita tidak takut lagi berbuat dosa, kita tidak takut lagi berbuat salah.

Berselingkuh tidak takut, korupsi tidak takut, menyeleweng tidak takut. Tuhan menanamkan rasa takut dalam diri kita supaya kalaupun kita melakukan kesalahan, kita berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Kuatir membuka pintu pertobatan dan pengampunan. Pertanyaannya bagi kita adalah kalau kuatir itu baik, mengapa Tuhan Yesus mengatakan agar kita jangan kuatir akan hidup ini? Ada dua hal yang Tuhan Yesus mau jelaskan melalui ungkapan itu.

  1. Kuatir itu baik asal pada tempatnya. Artinya kuatir mengenai hal-hal yang harus kita kuatirkan, atau kuatir ketika kita memang harus kuatir. Yang menjadi persoalan bagi kita saat ini adalah kuatir yang tidak pada tempatnya. Misalnya kita kuatir tidak mendapat promosi jabatan lalu kita tidak peduli lagi kalaupun untuk memperoleh jabatan itu, kita harus menjual diri ataupun menyangkali iman kita kepada Kristus, atau menginjak-injak kebenaran dan keadilan. Kita begitu kuatir akan kesehatan lalu kita tidak peduli kalaupun kesembuhan itu datang melalui dukun atau kuasa-kuasa gelap. Inilah yang dipersoalkan Tuhan Yesus dalam ayat 23 bahwa kekuatiran kita mengenai kebutuhan-kebutuhan itu begitu rupa, sehingga melebihi kekuatiran kita tentang hidup itu sendiri. Kebutuhan hidup telah ditempatkan jauh lebih penting daripada hidup itu sendiri.
  2. Menurut Tuhan Yesus kuatir itu boleh dan wajar. Kuatir akan sandang dan pangan boleh dan wajar saja, tapi jangan kekuatiran itu begitu besar sehingga hidup kita hanya dikuasai oleh kekuatiran.

Ayat 25: “Siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? “ Bukan rahasia lagi bahwa orang yang hidupnya dikuasai oleh kekuatiran mengalami berbagai penyakit: hipertensi, infeksi lambung, ginjal bahkan ada yang mengalami 3S: Stress, stroke, stop.

Bapamu tahu bahwa memang kamu memerlukan semuanya itu. (ayat 30) Arti dari kalimat ini adalah: Tuhan barangkali tidak akan memberikan semua yang kita inginkan tetapi Ia tahu dan Ia akan memberikan semua yang kita butuhkan. Disini memang menunjukkan adanya hubungan antara kekuatiran dan iman kita. Orang yang hidupnya hanya dikuasai oleh kekuatiran jelas kuasa Tuhan tidak akan nampak dalam hidupnya, karena ia lebih berpegang pada kekuatiran dan bukan pada Tuhan. Berbahagialah kita yang berpegang kepada Tuhan/yang mengandalkan Tuhan.

Janganlah kita jadikan Allah sebagai “salah satu” tetapi yang “satu-satunya” dalam hidup kita. (ayat 32) Allah hanya akan bertindak dan menyatakan kuasanya dalam kehidupan orang-orang yang berserah penuh kepadaNya atau dalam kehidupan orang-orang yang mempercayakan totalitas hidupnya kepada Allah.

Pokok-pokok “bahasan” yang perlu disampaikan dalam khotbah :

  1. Apakah yang menyebabkan kita begitu kuatir akan kebutuhan-kebutuhan hidup ini ?
  2. Menghadapi realita kehidupan yang semakin hari semakin sulit, apa yang seharusnya dilakukan oleh keluarga Kristen ?
  3. Apa perbedaan antara keinginan dan kebutuhan ?
  4. Apa jaminan bagi keluarga Kristen yang selalu menjaga keharmonisan relasinya dengan Tuhan ?

 

Minggu, 26 Oktober 2014.

KELUARGA YANG SELALU BERADA DALAM RELASI YANG AKRAB DENGAN TUHAN

(Yesaya 1:2-9)

Pengantar : Menjadi anak Bapa bukan karena kebaikan Israel melainkan karena prakarsa dan tindakan kasih Allah semata. Dalam hubungan dengan itulah Israel dituntut untuk hidup selalu dalam ketaatan kepada Allah. Namun dalam kenyataannya Israel tidak berlaku sebagai anak yang baik dan setia, Israel justru mendurhaka dan meninggalkan kasih Bapanya oleh karena itu hukuman Tuhan tidak dapat lagi dihindarkan dan Israel akan kehilangan segala kemuliaannya, dan nyaris mengalami nasib seperti Sodom dan Gomora tapi karena anugerah Tuhan, Israel tidak habis dibinasakan, karena Tuhan masih meninggalkan “sedikit orang yang terlepas”, dan itulah Allah, Tuhan dan Bapa kita yang kasihNya melebihi pendurhakaan anak-anakNya.

Pesan Teks : Ayat 2 – 3, Seharusnya Israel malu karena sebagai manusia/makhluk ciptaan yang termulia/sebagai anak Bapa, Israel memiliki kemuliaan dan kehormatan melebihi makhluk ciptaan yang lain, tapi kalau langit dan bumi dijadikan saksi untuk menyaksikan kebobrokan hidup mereka bukankah itu berarti bahwa Israel telah jatuh harga? Mengapa Allah merendahkan mereka? Allah menghendaki agar Israel sadar bahwa walaupun mereka diangkat sebagai umat pilihan/anak kesayangan Allah tetapi jika hidup mereka jauh dari Allah karena dosa dan pendurhakaan, mereka tidak bebas dari penghukuman Allah, karena pengangkatan sebagai anak Bapa bukan hak istimewa yang mutlak. Mazmur 8 : 4 – 9 menyaksikan bahwa karena kasihNya Allah memahkotai manusia termasuk kita keluarga Kristen dengan kemuliaan, kehormatan dan kuasa yang hampir sama dengan diriNya sendiri, dan melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus kita telah diangkat menjadi Israel baru/anak-anak Bapa yang terus harus menjunjung tinggi kemuliaan Allah dalam seluruh karya dan hidup kita, bukan menghempaskan dan menginjak-injaknya. Murka dan hukuman Allah akan berlaku bagi siapa saja yang hidup durhaka dan berpaling dari kehendak Allah.

Seruan kepada langit dan bumi untuk dijadikan saksi atas pendurhakaan Israel adalah sebuah pernyataan dari Allah sendiri yang menyatakan bahwa Dialah Allah dan Tuhan Israel, Dialah yang menguasai segenap langit dan bumi, tak ada Allah lain selain Dia, Allah yang patut disembah, dipuji, dikagumi, dan ditakuti, kemuliaanNya memenuhi segenap langit dan bumi (Yesaya 6 : 1 -3) dan dengan kehendakNya yang berdaulat, mutlak Ia memimpin sejarah bangsa-bangsa (Yesaya 10 : 5 – 11) dan sejarah kehidupan rumah tangga atau keluarga Kristen dan sejarah perjalanan gereja Tuhan khususnya GMIT. Semoga pujian dan penyembahan kita kepada Tuhan tidak hanya lip service belaka sementara hati dan perilaku kita sebagai keluarga (suami-istri, orang tua, anak-anak) atau gereja sesungguhnya jauh dari kehendak Allah. Hati-hati karena setiap pelanggaran dan pendurhakaan kepada Allah pasti ada akibatnya.

Seruan kepada langit dan bumi dst juga merupakan pemberitahuan dan peringatan bahwa dosa dan pendurhakaan yang kita lakukan kepada Allah tidak hanya mengakibatkan hukuman bagi diri kita tapi seluruh alam semesta akan terseret didalamnya.

Seruan kepada langit dan bumi dst adalah pendahuluan yang menunjukkan betapa pentingnya sabda yang akan diberikan, seluruh alam semesta supaya memperhatikan dan menyaksikannya. (bandingkan Ulangan 4 : 26, 30 : 19, 32 : 1) Sabda/firman Tuhan sangat penting dalam kehidupan kita. Pemazmur 119 : 105 menyaksikan bahwa firman itu pelita bagi kaki dan terang bagi jalan kita. Karena itu sebagai keluarga Kristen kita seharusnya menjadikan firman Tuhan sebagai landasan dari seluruh kehidupan dan pelayanan kita agar kita selalu dituntun untuk berjalan dalam kebenaran dan terang Tuhan. (bandingkan II Timotius 3 : 12) Selain tiga kebutuhan primer yang dibutuhkan manusia maka firman Tuhan juga harus dijadikan kebutuhan pokok terpenting dalam kehidupan keluarga Kristen. Banyak penyimpangan dan kejahatan terjadi dimana-mana, relasi kita dengan Tuhan dan sesama juga terganggu karena kita tidak menjadikan firman Tuhan sebagai dasar pijak yang menguasai seluruh aspek kehidupan kita.

Allah kecewa karena kasih kepada anak-anakNya disia-siakan. Allah memperbandingkan Israel dengan lembu dan keledai dan ternyata Israel lebih rendah dari kedua binatang itu karena Israel tidak mengenal siapa Allah, Tuhan dan Bapa yang telah melepaskan, menyelamatkan dan menjadikannya sebagai umat dan anak kesayangan Allah. Betapa menyedihkan kalau dalam kehidupan kita sebagai orang tua dikhianati, ditinggalkan dan tidak dipedulikan oleh anak-anak yang kita lahirkan, besarkan, dengan kasih sayang tak terbatas. Seperti itulah kesedihan Allah karena ketidaksetiaan Israel.

Ayat 4 -6, Pendurhakaan Israel benar-benar telah mencapai klimaksnya. Perhatikan beberapa istilah yang dipakai Nabi Yesaya dalam ungkapan-ungkapannya: “celakalah bangsa yang berdosa”, “umat yang sarat dengan kesalahan”, “benih yang berbuat jahat”, “anak-anak yang korup”, “mereka telah meninggalkan Tuhan”. Semua ungkapan ini mau memberi gambaran bahwa Israel dengan sadar dan secara aktif bahkan dengan tekun mengerjakan kejahatan, meninggalkan dan menista Tuhan. Seluruh jalan hidup mereka dipenuhi dengan kejahatan, dosa dan pendurhakaan terhadap Allah. Untuk semua ulah yang dilakukan Israel, Allah tidak tinggal diam. Celakalah artinya Allah tidak bisa tidak harus menghukum mereka. Israel akan mengalami malapetaka sebagai akibat dari dosa dan keberpalingan mereka dari Allah. Upah dosa adalah maut, itulah hukuman bagi anak-anak Allah yang meninggalkan Dia jadi jangan pernah bermain-main dengan dosa dan meremehkan kasih dan kemurahan Allah.

Seluruh tubuh telah rusak oleh dosa tetapi tak ada upaya untuk menyembuhkan luka-luka tubuh akibatnya luka baru dan luka lama menyatu menjadi borok yang menjijikkan dan semakin parah. Ungkapan dari telapak kaki sampai kepala mungkin menunjuk kepada keboborokan seluruh lapisan masyarakat dari pimpinan tertinggi sampai yang paling rendah. Dosa membuat kita tidak berdaya dan jauh dari hadirat Tuhan, semakin kita jauh dari Tuhan semakin kita tenggelam dalam lumpur dosa. Hanya ada satu cara yakni datang kepada Allah, bertobat dan memohon kelepasan tapi Israel sama sekali tidak peduli.

Ayat 7 – 8, Tanah Kanaan adalah tanah warisan yang kudus kini dinajiskan dan diinjak-injak oleh orang kafir, hal ini yang menyebabkan keparahan itu semakin menjadi-jadi. Yerusalem/Putri Sion sebagai lambang kesentosaan, kemegahan, kesucian dan keindahan telah menjadi sunyi sepi. Kemungkinan hal ini menunjuk kepada pengepungan kota Yerusalem pada tahun 701 SM oleh Sanherip. Inilah keterpurukan yang dialami Israel sebagai akibat dari dosa dan kekerasan hati mereka menentang Allah. Kondisi ini kiranya menjadi peringatan bagi kita orang percaya (keluarga Kristen) untuk selalu terjaga agar tidak mempermainkan kasih dan anugerah Allah dalam hidup kita tetapi dengan sadar menghadirkan dan menjaga agar mezbah Tuhan dalam kehidupan rumah tangga kita tetap dan terus menyala.

Ayat 9, Penutup yang member pengharapan dan penghiburan. Tuhan disebut YHWH Tsebaot yaitu Tuhan Semesta Alam, Tuhan inilah yang sebenarnya berkuasa penuh untuk melaksanakan hukuman terhadap kemurtadan Israel, akan tetapi demi kemurahanNya saja hukuman total seperti yang dialami Sodom dan Gomora tidak dialami Israel karena Tuhan berkenan untuk melepaskan “satu sisa” yang diselamatkan/”sedikit orang yang terlepas” sesuai teks ayat 9. Menarik untuk diperhatikan bahwa sisa orang yang diselamatkan bukan karena mereka bertobat dalam arti mempunyai niat sendiri untuk kembali berlaku setia sebagai anak Bapa, tetapi justru YHWH Tsebaot yang berprakarsa untuk menyelamatkan, melepaskan “sedikit sisa” agar lolos dari kebinasaan. Semua ini Allah lakukan karena Ia setia pada janjiNya, dank arena kasih dan kemurahanNya yang tak terbatas bagi anak-anakNya.

Pokok-pokok “bahasan” yang perlu disampaikan dalam khotbah :

  1. Apa tanggungjawab kita sebagai keluarga Kristen dalam meresponi kasih dan kemurahan Allah ?
  2. Apakah totalitas pelayanan dalam kehidupan keluarga, kehidupan berjemaat dan kehidupan bermasyarakat telah mencerminkan Allah sebagai Tuhan yang disembah, dimuliakan dan yang kekuasaanNya mutlak dalam kehidupan kita ?
  3. Apa kiat kita sebagai keluarga Kristen untuk memelihara relasi yang akrab dengan Allah ?
  4. Apa akibat ketidaktaatan kita kepada Tuhan dan apa jaminannya kalau kita setia kepada Tuhan?

 

Minggu, 26 Oktober 2014.

KELUARGA YANG SELALU BERADA DALAM RELASI YANG AKRAB DENGAN TUHAN

(I Tesalonika 4 : 1 – 12)

Pengantar: Kekristenan Jemaat Tesalonika pada abad pertengahan mengalami kemerosotan. Salah satu bentuk memerosotan yang Nampak adalah sinkritisme (percampuran keyakinan ). Percaya kepada Tuhan dan penyembahan berhala. Mereka yang jadi Kristen, tetapi berlatar belakang Yunani masih menyembah dewa dan dewi. Salah satu bentuk penyembahan kepada dewi adalah melakukan prostitusi religious di kuil-kuil. Tindakan ini dibenarkan oleh si penyembahnya, karena dianggap wajar dan diterima oleh umum. tetapi tidak benar menurut Tuhan. Tuhan menciptakan libido seksual sebagai karunia agar manusia menggunakan secara bertanggung jawab.Semua bentuk hubungan seksual diluar pernikahan yang syah, melanggar kebenaran dan mencemarkan kekudusan hidup. Allah tidak memanggil kita bagi kecemaran melainkan bagi kehidupan kudus. Inilah kehendak Allah supaya orang tidak menyerahkan anggota tubuh menjadi senjata kelaliman.

Pesan Teks: Syarat kekudusan Jemaat Kristus (4 : 1 – 8 ), Syarat kekudusan bagi Jemaat Kristus secara eksplisit tercantum pada ayat 7, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar,melainkan apa yang kudus.” Inilah kehendak Allah, supaya kita menjadi kudus. Supaya kita dapat menjauhkan diri dari segala macam dosa dan kenajisan. Tubuh kita bukan untuk melakukan percabulan/perzinahan. Tubuh kita dipersembahkan kepada Allah sebagai alat yang kudus. Oleh Kristus, kita dikarunia hidup yang baru dan Roh Kudus. Tujuannya supaya kita dapat hidup menurut syarat kekudusan itu.

Peningkatan mutu kasih anggota-anggota Jemaat (4:9-10), Kasih membuktikan bahwa seseorang telah diberi tabiat yang baru. Ia telah dilahirkan kembali. Bukti kasih ini telah tumbuh dalam ikatan persaudaraan mereka. Paulus menghendaki agar kasih itupun terus bertambah-tambah. Dengan bertambahnya nilai kasih inilah, kita diberi kesempatan untuk lebih mengasihi. Kasih itu dibuktikan kepada sesame Kristen, tetangga-tetangga maupun mesuh sekalipun.

Sikap Jemaat terhadap pekerjaan (4:11-12), Alkitab mengajarkan supaya setiap orang harus bekerja mencari nafkah. Hal ini dinasehatkan Paulus karena dimasa sekarang banyak orang mengharapkan sesuatu dengan Cuma-Cuma. Merampas atau mengambil sesuatu dari seseorang dan memberikannya kepada orang lain. Inipun tidak dibenarkan dan dikehendaki karena tidak adil. Berharap kepada orang lain untuk kehidupan sendiripun tidak dibenarkan. Kita harus bekerja supaya ada yang dapat diberikan kepada orang-orang yang sungguh perlu ditolong. Alkitab tidak membenarkan kemiskinan yang disebabkan karena orang tidak mau bekerja. Alkitab tidak membenarkan orang Kristen yang hidup bergantung pada orang lain tanpa bekerja. Kita bekerja dan mempunyai sesuatu untuk menolong orang yang perlu ditolong, dari pada tidak bekerja dan meminta-minta kepada orang lain.

Aplikasi: 

  1. Hidup kudus merupakan martabat kekristenan yang diperoleh dari Kristus. Kristuslah yang menguduskan kita. Kekudusan tidak dapat dihasilkan seseorang tanpa Kristus. Kekudusan merupakan kehormatan yang patut dijunjung. Kekudusan tidak boleh dinodai dengan karena hawa nafsu yang rendah.
  2. Meningkat nilai dan kualitas kasih menutup kemungkinan bagi manusia untuk hidup dalam dosa. Kasih menutup banyak dosa. Semakin nilai kasih diamalkan semakin kecil peluang dan ruang bagi manusia untuk berbuat dosa. Kasih mengungguli dosa. Kebaikan ditebarkan. Manusia menuai hidup dalam ketenangan, dibebaskan dari saling mendengki dan dendam.
  3. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan dapat menolong sesama adalah suatu kehormatan. Kemalasan pangkal kemiskinan. Meminta-minta tanpa bekerja dengan tangan, merendahkan martabat/harga diri.

 

Jumat, 31 Oktober 2014.

KELUARGA SEBAGAI BASIS DAN KEKUATAN GEREJA

(Yesaya 6 : 1 – 8)

Pengantar: Kitab Yesaya dinamakan menurut nama penulisnya : Yesaya, salah seorang Nabi “besar” Israel yang menjalankan tugas kenabiannya antara tahun 745 – 680 sebelum Masehi. Selama masa pelayanannya, pada saat itu Israel secara rohani sangat miskin karena mereka tidak menaati kehendak Allah dan juga hidup meniru perilaku bangsa-bangsa “asing” (kafir) disekelilingnya. Dalam konteks seperti ini, Yesaya menubuatkan hukuman Allah atas mereka. Jika mereka tidak segera bertobat dan berbalik dari jalan-jalan mereka yang jahat, maka mereka akan ditawan oleh bangsa Babel. Akan tetapi, tidak semuanya gelap. Yesaya-pun meyakinkan bangsa ini bahwa mereka yang akan ditawan oleh bangsa Babel itu akan dioerbolehkan nanti untuk kembali ke Yerusalem. Akan lahir bagi mereka seorang “Hamba Tuhan yang menderita”, Dia adalah Messias, Dia-lah yang akan membawa keselamatan yang sempurna dan kekal bagi mereka.

Yesaya dalam pelayanan kenabiannya selalu memperkenalkan Allah itu sebagai Penghibur, Pembebas dan Penyelamat umat-Nya. Allah akan mengampuni segala dosa umat-Nya manakala umat-Nya pun berpaling kepada-Nya. Allah itu kudus sehingga Ia-pun menghendaki agar umat-Nya hidup dalam kekudusan.

Pesan Teks: Bagian Alkitab ini oleh LAI diberi judul “Yesaya mendapat panggilan Allah” (ay.1-13). Cerita tentang panggilan Yesaya ini dapat kita sandingkan dengan cerita tentang panggilan Yeremia (Yer.1:4-10). Cerita tentang panggilan Yesaya, dimulai dengan “Allah menyatakan diri-Nya” kepada Yesaya pada tahun matinya Raja Uzia. Yesaya melihat “Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci” (ay.1). Para serafim (malaikat) berdiri mengelilingiNya (ay.2). Para serafim (malaikat) itu berseru seorang kepada yang lain (bersahut-sahutan) katanya : “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya” (ay.3). Seruan (atau nyanyian) para serafim ini menunjukan bahwa Allah itu sungguh maha besar, maha tinggi, maha mulia, maha agung dan maha kudus. Kata-kata manusia tidak cukup untuk menggambarkan siapa Dia. Keberadaan-Nya melampaui kata-kata manusia. Alam semestapun tak mampu untuk “memuat-Nya”, Ia melampaui alam semesta. Bukankah alam semsta itu adalah buatan tangan-Nya ? Ketika para serafim itu “memuji-Nya” bergoyanglah alas ambang pintu dan tempat (rumah) di mana Yesaya berada penuh dengan asap (ay.4). Peristiwa ini mengingatkan pada peristiwa “persembahan di Bait Allah”, di mana “puji-pujian dan asap korban bakaran” dipersembahkan bagi Allah karena Ia menyelamatkan umat-Nya. Oleh sebab itu, kejadian ini hendak menunjukkan bahwa untuk menyelamatkan dan membebaskan umat-Nya, maka Allah bertindak “menyelamatkan” Yesaya untuk menjadi pewarta berita penyelamatan dan pembebasan itu.

Menyaksikan “kehadiran Allah” dan pujian para serafim, membuat Yesaya untuk mengaku dengan sungguh bahwa “Celakalah aku, aku binasa. Sebab aku seorang yang najis bibir dan tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam”(ay.5). Yesaya mengaku bahwa ia tidak pantas untuk menyaksikan semua peristiwa itu, namun dibalik itu dia sangat bersyukur karena Allah memperlihatkan diri-Nya kepadanya. Melalui kata-katanya ini tersirat bahwa Yesaya-pun sebenarnya memuliakan Allah namun ia merasa “sangat kecil, najis dan tidak pantas” berdiri di hadapan Allah dan menyebut nama Allah dan “melihat” Allah yang maha kudus itu.

Selanjutnya, dalam ay.6-7 diceritakan bahwa seorang dari para serafim itu terbang mendapatkan Yesaya, ditangannya ada bara yang diambilnya dengan sepit dari mezbah. Ia menyentuhkannnya kepada mulut Yesaya sambil berkata “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni”. Peristiwa ini menjadi sangat berarti bagi kehidupan Yesaya selanjutnya, ia yang najis bibir dikuduskan oleh Allah dengan cara Allah sendiri tanpa berkompromi dengannya. Allah punya rencana yang indah terhadap Yesaya, hidup dan karyanya. Yesaya mendapat “keselamatan dan pembebasan” dari kenajisan dan dosanya oleh Allah, sekaligus Allah “menetapkan” dia untuk suatu missi bagi Allah.

Dalam ay.8, lalu Yesaya mendengar suara “pertanyaan” Tuhan kepadanya :” Siapakah yang akan kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk aku ?” Yesaya menjawab :”Ini aku, utuslah aku”. Sungguh luar biasa dan menakjubkan ! Yesaya menunjukan kepercayaan dan kesetiaannya kepada Allah yang mahakudus, sekaligus komitmennya untuk menjadi hamba-Nya tanpa syarat. Ia tidak menunggu waktu lama atau berdalih untuk “menawar” atau menolak panggilan dan pengutusan Allah ini. Hal ini terjadi karena ia meyakini sungguh-sungguh bahwa Allah yang memanggilnya itu adalah pemegang nafas kehidupannya. Seperti seorang anak yang taat kepada bapaknya, Yesaya mengatakan : Ya ! kepada pilihan dan pengutusan Allah terhadapnya.

Apa yang sekarang menjadi tugas Yesaya – sebagai orang yang diutus dan pergi – untuk Allah ? Dalam ay.9-13 dikatakan bahwa Allah berfirman kepada Yesaya :” Pergilah, dan katakan kepada bangsa ini, Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti jangan. Lihatlah sungguh-sungguh tetapi menanggap jangan. Buatlah hati bangsa ini keras…….dst”. Tugas Yesaya ini tentu bukan berdasarkan keinginannya, tetapi keinginan Allah yang memanggil dan mengutusnya. Ia diperintahkan untuk “mendegilkan, membutakan dan men-tuli-kan” bangsa Israel yang rohaninya sangat parah itu. Mereka “dikeraskan” hatinya untuk nanti mendapat hukuman Allah. Suatu hal yang tentu bertentangan dengan kata hati Yesaya sebagai bagian dari orang Israel itu sendiri. Namun, ia harus mengatakan dan berbuat demikian, karena di atas dan didalam “kedegilan” Israel itu Allah akan “memperlihatkan” kepada mereka kekuasaan-Nya yakni menawan mereka dan dibuang ke Babel, namun Ia juga-lah yang akan membawa mereka “kembali ke Yerusalem”. Inilah tugas pewartaan Yesaya sebagai seorang Nabi.

Sampai kapan tugas pewartaan ini harus disampaikannya ? Menurut ay.11-13, Allah berkata kepadanya : “Sampai kota-kota telah lengang, sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi………..dan jika disitu masih tinggal sepersepuluh dari mereka, merekapun harus sekali lagi ditimpa kebinasaan namun keadaannya akan seperti pohon beringin dan pohon jawi-jawi, yang tunggulnya tinggal berdiri pada waktu ditebang. Dan dari tunggul itu akan keluar tunas yang kudus….”. Kata-kata Allah ini merupakan suatu “penegasan” dari-Nya bahwa dalam kasih dan kemurahannya, juga dalam kesetiaan dan kekudusan-Nya, Ia akan “memurnikan” umat-Nya melalui peristiwa pembuangan ke Babel untuk “disekolahkan-Nya” di sana, lalu Ia juga akan membawa mereka kembali dengan “sorak-sorai ke Yerusalem” untuk memulai suatu sejarah kehidupan yang baru sebagai “tunas yang kudus”.

Aplikasi: Hari ini GMIT merayakan HUT ke-67 dan reformasi…..dua peristiwa yang sarat makna bagi kehidupan bergereja kita masakini dan nanti. Melalui pesan firman Tuhan ini ada sejumlah pokok pemahaman yang kiranya perlu mendapat perhatian lebih lanjut :

Pertama, Bahwa GMIT sebagai Gereja milik Tuhan, adalah “alat dalam tangan Tuhan” untuk mewartakan (melalui pikiran, perkataan dan perbuatan) apa yang dilakukan Allah, yakni menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia “yang degil”. Gereja bukan menara gading yang ada untuk dirinya dan “ditonton” orang, melainkan untuk menjadi hamba yang setia kepada Tuhan. Jika gereja tidak melakukan hal ini maka patutlah dipertanyakan keberadaannya. Karena itu sebagai Gereja – kita – harus hidup untuk memuliakan Tuhan dengan memberlakukan kehendakNya. Inilah fungsi kenabian Gereja.

Kedua, Setiap anggota Gereja (baca : GMIT) memang orang berdosa, tetapi kita yakin bahwa karya penyelamatan Allah didalam dan melalui Yesus Kristus, kita diselamatkanNya. Itu berarti, sebagai orang-orang yang telah diselamatkanNya ada peranan yang harus dilaksanakan, yaitu : menjadi umat Allah yang sungguh percaya, setia dan taat kepada-Nya. Inilah tugas kita sebagai umat Allah, sebagai warga Gereja-Nya. Gereja ini bukan milik kita yang kita perlakukan dan atur-atur menurut mau dan kehendaknya kita, melainkan harus menurut kehendak Dia yang adalah pemilik dan kepalanya. Oleh sebab itu hendaklah kita senantiasa bersyukur kepada Allah karena Ia menyelamatkan kita dan mempercayai tugas yang mahapenting ini kepada kita.

Ketiga, Berdasarkan pemahaman poin pertama dan kedua, maka setiap keluarga atau rumah tangga GMIT adalah basis dan kekuatan Gereja. Hal yang mendasar ini patut diperhatikan dengan sungguh, sebab akhir-akhir ini peranan dan fungsi setiap keluarga atau rumah tangga untuk menjadi “nabi” ditengah-tengah Jemaat dan masyarakat mengalami krisis. Mestinya dari dalam setiap keluarga atau rumah tangga “memproduksi” orang-orang yang handal dalam kehidupan beriman kepada Allah. Peranan ini tidak bisa digantikan oleh siapapun. Peranan para orangtua untuk mendidik anak-anaknya mengenal dan memahami karya Allah dan menaatiNya tidak bisa digantikan oleh siapapun. Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita menjadikan keluarga atau rumah tangga kita sebagai “persekutuan orang percaya” yang sungguh. Di sini peranan dari setiap anggota keluarga – terutama para orangtua – jangan terabaikan.

Keempat, Marilah kita saling mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” satu dengan yang lain, sambil berupaya untuk memperkuat persekutuan kita dengan Tuhan dan dengan sesama untuk maju, menyongsong masadepan yang Allah siapkan bagi kita. Untuk maksud itu maka setiap orang harus mengatakan pada Allah sebagaimana yang dikatakan oleh Yesaya : Ini aku, utuslah aku.

 

Jumad, 31 Oktober 2014.

KELUARGA SEBAGAI BASIS DAN KEKUATAN GEREJA

(Lukas 14 : 25-35)

Pengantar: Ada seorang tokoh gereja pernah berkata “Menjadi orang yang beragama itu gampang, tetapi menjadi orang beragama yang beriman itu tidak gampang”. Maksudnya, hampir (bahkan) semua orang disekitar kita adalah orang-orang yang beragama (apapun nama agamanya) namun demikian tidak berarti semua orang itu sudah beriman baik, karena Iman itu mesti nampak dalam perbuatan. Kita semua yang ada dalam ruang ibadah ini semuanya beragama kristen, namun tidak berarti kita semua telah sungguh-sungguh hidup beriman kristen yang baik (maaf oo). Kalau begitu mesti ada yang dibenahi ! Diantaranya adalah “melepaskan diri” dari berbagai hal yang mengikat kita sehingga tidak bisa hidup dan berperilaku sebagaimana mestinya seorang yang beriman.

Hari ini segenap anggota GMIT memperingati HUT ke-67 dan Reformasi ke-497 dengan penuh sukacita, meriah bahkan gegap gempita. Apakah maknanya bagi kehidupan kita selanjutnya ? Pertanyaan ini mesti dijawab, jika tidak maka sebenarnya kita sedang berhura-hura saja. Kasihan GMIT, kalau di HUT-nya yang ke-67 anggotanya lebih mengutamakan hura-hura ketimbang melakukan hal yang lebih utama yakni : Berupaya untuk semakin kristiani lagi dan menjadikan setiap keluarga, rumah tangga anggotanya sebagai basis dan kekuatan gereja.

Pesan Teks: Perikop ini khas Lukas, artinya hanya terdapat dalam Injil Lukas. Diawali dengan gambaran situasi dan kondisi “Jemaat” waktu itu.“…..banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus daalam perjalanan-Nya” (ay.25). Apakah Yesus gembira karena orang banyak yang berduyun-duyun itu, kita tidak tahu persis. Tetapi yang pasti, “sambil berpaling (kepada mereka) Ia berkata : “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri ia tidak dapat menjadi muridKu”(ay.26). Mendengar dan mencermati kata-kataNya ini, Yesus sebenarnya sedang mengintrodusir suatu konsep pemikiran “baru” bagi para pengikut-Nya tentang bagaimana mestinya mereka berada disekitar-Nya sebagai murid-murid-Nya. Dengan kata lain, Ia sedang mengajarkan suatu konsep pemuridan (tuntutan kemuridan) yang harus mendapat perhatian dari orang-orang yang berduyun-duyun mengikuti-Nya. Apa yang diajukan Yesus ini jauh berbeda dengan konsep pemuridan yang lazim pada berbagai zaman dalam berbagai komunitas.

Hal-hal prinsip dari konsep pemuridan yang dianjurkan Yesus adalah :

  • Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu(ay.27).
  • ….tiap-tiap orang diantara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya tidak dapat menjadi muridKu(ay.33).

Apa artinya ? Bahwa Yesus memperingatkan massa yang mengikutiNya bahwa menjadi muridNya berarti bersedia untuk menempatkan tuntutan-tuntutanNya di atas tuntutan-tuntutan dari siapapun (termasuk keluarga). Hal ini bukan berarti Yesus mengajari para muridnya untuk “lupa dan tak peduli”pada keluarga, tidak. Yang Ia peringatkan adalah jangan menjadikan “keluarga” sebagai alasan untuk tidak serius dan sungguh-sungguh melaksanakan tugas dan fungsi sebagai muridNya. Bukankah banyak kali yang terjadi adalah orang menjadikan keluarga sebagai alasan untuk menolak “mengikut Yesus” termasuk di kalangan para pelayan gereja ?

Sang murid harus mau “memikul salibnya” artinya siap sedia menghadapi tantangan bahkan maut sekalipun oleh karena mengikut Yesus. Oleh sebab itu maka setiap murid Yesus harus bisa menimbang untuk menentukan sikapnya yang benar sebelum memulai “penyerahan dirinya” apakah ia sanggup atau tidak sanggup menjadi pengikut Yesus yang baik.

Untuk menjelaskan maksud ini lebih lanjut, Yesus menggunakan dua kiasan yaitu :

  1. Ada sebuah menara yang dibangun oleh seseorang tetapi karena tidak cermat menghitung biaya pembuatannya maka pekerjaan pembangunannya tidak terselesaikan, sehingga semua orang yang melihatnya mengejek dan berkata “orang itu mendirikan tempat, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya (ay.28-30).
  2. Ada raja yang maju untuk berperang melawan musuhnya tidak lebih dahulu memperhitungkan kekuatan tentaranya sehingga yang ia lakukan bukan berperang melawan muswuhnya tetapi mengirim utusan kepada musuhnya untuk menyerah (ay.31-32).

Kedua kejadian ini terjadi karena suatu “kebodohan”.

Yesus mengakhiri “pengajaranNya” dengan mengatakan “Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar dengan apakah ia diasinkan ? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja” (ay.34-35a). Seorang murid Yesus ibarat garam yang harus baik untuk menyedapkan dan mengawetkan makanan, namun jika garam itu telah kehilangan keasinannya (menjadi tawar) maka sebenarnya ia sudah tidak berguna lagi, malahan untuk dibuang di ladang untuk menjadi pupuk pun sudah tidak bisa.

“Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar”.

Aplikasi: 

  1. Dalam ajaran gereja, ada prinsip bahwa setiap anggotanya adalah hamba, murid dan pelayan Tuhan (Imamat am orang percaya). Tidak ada yang cuci tangan dan menganggur dalam hal ini. Untuk itulah maka Tuhan “memperlengkapi” setiap orang dengan karunia dan talenta sesuai kehendak-Nya untuk dia dapat menjalankan tugasnya sebagai hamba, murid dan pelayan itu bersama-sama dengan orang lain sebagai sesama “anggota keluarga Allah”. Karena itu proses menjadi hamba, murid dan pelayan Tuhan adalah bagian tak terpisahkan dari panggilan hidup setiap anggota gereja (orang percaya).
  2. Kita bisa membayangkan betapa besarnya talenta dan karunia yang Allah berikan kepada GMIT yang kini memiliki 1.200-an pendeta, 60-an ribu penatua dan diaken, ratusan ribu anggota PD, puluhan ribu PS/VG, 1,4 juta anggota baptisan…..dst. Seandainya saja semua ini berfungsi dengan baik dan menjalankan fungsinya dengan sungguh-sungguh maka dapat dipastikan bahwa tanda-tanda Syalom Allah akan semakin terang-benderang dalam konteks dimana kita berada sekarang. Sayangnya, banyak diantara semua yang disebutkan di atas hanya menjadi orang yang “pikul nama” saja, ibarat garam yang sudah menjadi tawar dan menjadi persoalan bagi gereja Tuhan sendiri.
  3. Marilah kita mengaktualisir dan merevitalisasi peranan kita masing-masing sebagai para hamba, murid dan pelayan Tuhan dengan lebih baik lagi, salah satu caranya adalah : Menjadikan keluarga, rumah tangga kita sebagai basis dan kekuatan gereja (baca : GMIT).

 

Tim Penyusun : Pdt. Emr. Meang Mbau – Lidda, Pdt. Yabes A. Runesi, Pdt. Dessy Rondo – Efendy, Pdt. Any Sapay – Mella, Pdt. Yudith Nunuhitu – Folabesy, Pdt. Boy R. Takoy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *