Kisah Para Rasul 5:1-11 – Pdt. Yandy Manobe

Pendahuluan

Dua keterangan yang menarik dari teks adalah :

  1. Cara hidup jemaat mula-mula yang dengan rela hati selalu berbagi dengan orang lain sehingga ‘tidak ada seorang pun dari mereka yang berkekurangan’ (Pasal 4:34)
  2. Kisah tentang Barnabas yang karena digerakkan oleh Roh Kudus menjual harta miliknya dan menyerahkan uangnya kepada jemaat (Pasal 4:36-37).

Untuk dua tindakan ini, jemaat menyetujuinya. Tindakan mereka semata-mata merupakan reaksi yang wajar atas kehadiran Roh Kudus yang penuh dengan kemurahan dalam diri mereka sehingga mereka bersedia memberi jika ada yang membutuhkan, bahkan kalau perlu menjual milik mereka. Tidak ada persyaratan maupun syarat. Ananias dan Safira juga melakukan hal yang sama tetapi tidak memiliki Roh Kudus dalam hati mereka. Sebagai akibatnya mereka menjual tanah mereka tapi menahan sebagian. Kisah ini mungkin akan berbeda bila satu diantara mereka mau mengingatkan bahwa hal itu adalah dosa dan perbuatan yang mendustai Allah.

Penjelasan Teks

Ayat 1-2: Seperti Barnabas, Ananias dan Safira menjual sebidang tanah. Ananias, dengan setahu istrinya, menetapkan menetapkan rencana untuk menyerahkan sebagian uang yang diperoleh dari penjualan itu kepada para rasul tetapi dengan berpura-pura bahwa mereka menyerahkan seluruh hasil penjualan tersebut.

Kita membayangkan apa yang menjadi latar belakang :

  1. Mereka mau melakukan hal itu seperti Barnabas supaya dibilang hebat
  2. Mereka menahan sebagian untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Ayat 3 : Tidak diceritakan bagaimana Petrus mengetahui penipuan ini tapi mungkin melalui sebuah pencerahan ilahi. Petrus tidak menuduh bahwa Ananias menipunya tapi menipu Roh Kudus. Urusan Ananias adalah dengan Roh Kudus dan bukan dengan Petrus.

Ayat 4 : Program membagi kekayaan di gereja mula-mula merupakan suatu tindakan murni dan bukan kewajiban yang dipaksakan. Selama sebidang tanah itu masih menjadi milik mereka maka hak Ananias sepenuhnya untuk mempersembahkan sesuai kerelaan hatinya; dan bahkan sesudah ia menjual sebidang tanah itu, yang hasil penjualannya dapat dibagikan sesuai keinginannya. Soalnya adalah ketika ia mengatakan harganya begitu. Dosa ananias bukan terletak pada menahan sebagian dari uang hasil penjualan tetapi pada kelakukan seakan-akan menyerahkan sepenuhnya pada Allah padahal dengan sengaja ia tetap menyimpan sebagian uang tersebut. Ini merupakan dosa penyerahan yang tidak sungguh-sungguh, yang artinya menipu Allah.

Ayat 5: ketika diperhadapkan pada kehebatan dosanya, Ananias menjadi tidak berdaya sama sekali dan segera rebah serta putus nyawanya. Kita tidak diberitahu apa penyebabnya. Apakah ia meninggal karena serangan jantung atau apa. Jelas bukan Petrus yang menyebabkan kematian itu. Entah ia meninggal karena kejutan emosional yang menyebabkan jantungnya berhenti atau bukan. Hal yang pasti adalah kematiannya merupakan hukuman Allah terhadap pengabdian diri yang munafik.

Ayat 6 : Pada zaman dahulu di Timur Tengah, penguburan langsung dilaksanakan tanpa penundaaan karena persoalan kebusukan mayat. Mereka tidak lagi menunggu keluarganya datang dan mereka tidak melakukan perundingan apapun. Begitu nyawa Ananias putus, ia langsung dibawa untuk dikuburkan.

Ayat 7 : Safira pasti berada agak jauh dari tempat itu sebab berita tentang kematian suaminya tidak cepat sampai kepadanya.

Ayat 9 : Petrus menuduh Safira berkomplot dalam meremehkan Allah. Mencobai Tuhan (Band.Keluaran 17:2; 6:16) yaitu menguji sampai sejauhmana seseorang dapat memanfaatkan kebaikan Allah, merupakan dosa yang menakutkan. Ini adalah salah satu pencobaan yang dihadapi Tuhan Yesus (Matius 4:7).

Ayat 10 : Nasib Ananias menimpa Safira. Ia terjatuh dan meninggal dunia. Tidak ada alasan untuk beranggapan bahwa mereka bukan orang-orang yang sudah diselamatkan. Kematian jasmani mereka adalah penghukuman yang tidak melibatkan masalah keselamatan yang sudah mereka peroleh. Kenyataan bahwa mereka adalah orang percaya justru menentukan kehebatan dari dosa mereka. Mereka berpura-pura menyerahkan semua padahal menahan sebagian dari Allah.

Ayat 11 : Peristiwa ini mendatangkan rasa hormat dan takut yang luar biasa dari jemaat kepada Allah. Peristiwa ini juga mempunyai pengaruh memurnikan. Di pasal ini juga untuk pertama kali kata gereja ‘ekklesia’ muncul. Ekklesia artinya dipanggil dan menunjuk pada pemanggilan warga Yunani dari ruman mereka untuk berkumpul di tempat umum bagi maksud-maksud kesejahteraan bersama. Kata ini diambil alih oleh Perjanjian Lama berbahasa Yunani dan dipakai untuk Israel sebagai umat Allah. Penggunaannya dalam PB dengan demikian menunjuk bahwa gereja adalah umat baru milik Allah. Kata ini tidak pernah dipakai untuk pengertian bangunan melainkan gereja secara keseluruhan (Kisah 5:11; 9:31; 20:28) dan juga kumpulan-kumpulan orang percaya setempat (Kisah 11:26; 13:1).

Pertanyaan

  1. Sebutkan beberapa contoh godaan masa kini tentang kemungkinan terjadinya persengkokolan untuk berbuat dosa
  2. Jika kita diajak untuk mengambil bagian dalam persengkokolan itu, apa yang harus kita lakukan?

Hasil Diskusi

  1. Peranan Roh Kudus yang luar biasa dalam kehidupan berjemaat sering kali diremehkan. Dalam peristiwa Ananias dan Safira, ada hal yang sangat penting dalam kehidupan beriman sebagai tanda kekhasan dari beriman kepada Allah Bapa, Kristus dan Roh Kudus. Kekhasan itu adalah kekhasan Kekristenan yakni berbagi. Dengan demikian indikator Kekristenan adalah berdiakonia yakni menyerahkan total kehidupan dibalik apa yang kita miliki.
  2. Pada zaman ini banyak anggota gereja yang menipu dalam gereja. Ada yang memberikan banyak tapi dari hasil korupsi. Lalu bagaimana Roh Kudus menyortir itu dan kemudian menegur dengan cara Allah. Memang zaman ini orang tidak mati seketika itu juga seperti apa yang terjadi pada Ananias dan Safira dan butuh waktu yang lama untuk mendapatkan penghukuman yang langsung. Mudahnya orang menipu dalam gereja karena Roh Kudus ditempatkan sebagai pelengkap sehingga dalam doa kadang kita menipu dan lupa bahwa Roh Kudus melihat dan memiliki kekuatan yang luar biasa yang sangat bisa membuat kita mati seperti Ananias dan Safira. Maka tugas kita adalah memperhatikan sampai sejauh mana hati kita mengontrol kita untuk jujur kepada Tuhan.
  3. Kita mesti jujur bahwa dalam banyak hal kita tahu apa yang benar dan baik dan apa yang harus kita lakukan namun itu tidak menjamin bahwa kita mau melakukan apa yang kita tahu. Ada jarak antara apa yang saya tahu dan apa yang saya lakukan. Kolekte ada yang memberi dari hasil korupsi dan ia sendiri yang tahu tapi ia mau melakukannya. Hukuman bisa seperti Ananias dan Safira tapi bisa juga perlahan. Sementara kita sebagai gereja sulit untuk menyortir kolekte dalam kantung persembahan dari korupsi atau dari hasil keringat.
  4. Kadang demi kepentingan tertentu kita memberi diri untuk ada dalam mufakat untuk melakukan hal yang tidak baik.
  5. Cerita ini sadis. Tanah milik adalah milik Ananias dan Safira dan mereka memiliki kebebasan untuk memberi sesuka mereka. Persoalan menahan saja maka mereka langsung mati. Pertanyaannya adalah kira-kira apa cerita dibalik teks. Cerita ini akan menjawab konteks. Sebab kalau tidak maka pasti semua manusia sudah mati. Jawabannya ada pada kondisi jemaat mula-mula yakni pertama, setelah Roh Kudus dicurahkan maka tanda kehadiran Roh Kudus menyertai seluruh jemaat sehingga mereka sangat berani melakukan penginjilan. Kedua, mereka berani menegur dengan keras. Ketiga, mereka langsung berhadapan dengan persoalan ketika ada upaya memblok kebenaran dan itu dihadapi dengan tegas. Keempat, jemaat sudah melakukan kesepakatan bersama dalam hal berbagi dan kekayaan dapat dijual untuk kepentingan semua jemaat tercukupi kebutuhannya maka ketika ada yang melanggar pasti ia mati. Contohnya seperti kehidupan orang di Boti dimana karena sudah ada kesepakatan bersama dan kuatnya nilai serta ajaran agar jangan mengambil barang orang lain yang terjatuh maka ketika ada yang berani langgar, ia pasti mati. Persoalannya adalah mereka sudah sepakat bersama.
  6. Kisah tentang Ananiass dan Safira adalah kisah yang mengandung sejumlah masalah yang sulit. Cara hidup jemaat sudah seperti ini dan mereka semua sudah sepakat untuk mengambil bagian dalam pelayanan lalu kemudian disodorkan tokoh Barnabas yang menjual tanahnya dan memberikan semuanya bagi pelayanan supaya jangan ada di antara mereka yang berkekurangan. Lalu kisah yang sangat bagus ini, muncul sosok Ananias dan Safira. Di tengah kehidupan jemaat yang sudah baik, muncullah tokoh yang mewakili orang yang merusak persekutuan. Ini akan berefek pada kehancuran jemaat secara keseluruhan. Jemaat yang sebelumnya baik-baik saja pada akhirnya dapat dirusak. Kesalahan Ananias dan Safira dapat menggeser hal baik yang telah terpelihara. Memang ada kemungkinan lain selain hukuman mati seketika yakni bisa saja Ananias dan Safira ditegur di depan umum dan itu dapat menimbulkan efek jera. Dapat pula kesalahan mereka diumumkan kepada jemaat dan seluruh jemaat dilarang melakukan hal yang sama. Bisa juga mereka dapat diminta untuk memperbaiki kesalahan dan bertobat. Namun Allah memutuskan mereka harus mati. Pertanyaannya adalah mengapa hukuman yang sama tidak dijatuhkan pada jemaat masa kita yang banyak menipu Roh Allah juga? Hal yang pasti yakni Roh Kudus selalu ada dan tahu apa yang kita buat. Lirik lagu Sekolah Minggu ini dapat digunakan untuk menggambarkan teguran bagi kita : “Hati-hati gunakan tanganmu. Hati-hati gunakan tanganmu. Kar’nab Bapa di Sorga melihat ke bawah. Hati-hati gunakan tanganmu. Hati-hati gunakan mulutmu. Hati-hati gunakan mulutmu. Karena Bapa di sorga melihat ke bawah. Hati-hati gunakan mulutmu. Hati-hati gunakan matamu, hidungmu, dan seterusnya.”

Telah di PA di Kantor Sinode GMIT pada Sabtu, 2 April 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.