KONTROVERSI PENGGUNAAN ALKITAB DIGITAL DALAM IBADAH

WWW.SINODEGMIT.OR.ID, BANDUNG,. Bentuk alkitab telah melalui proses yang sangat panjang. Mula-mula, berbahan papirus dan perkamen dan kemudian berkembang lagi dalam bentuk buku yang berbahan kertas. Alkitab berbentuk buku cetak mulai ada sejak ditemukannya mesik tik oleh Johannes Gutenberg pada tahun 1455.  Namun, seiring perkembangan teknologi digital, kini alkitab buku makin tersaingi dengan hadirnya  alkitab elektronik.  Alkitab Elekronik merupakan software yang terinstal dalam handphone atau computer sehingga memudahkan orang untuk menggunakannya. Melalui aplikasi ini, orang tidak perlu repot membawa alkitab fisik dalam perjalanan. Hanya dengan gedget atau smartphone yang kecil, ringan dan tipis penggunanya bisa mengakses firman Tuhan sesuai kebutuhan kapan saja dan di mana saja hanya dengan sekali klik.

Meski memberi cukup manfaat, namun penggunaan alkitab digital melalui smartphone dalam ibadah mengundang banyak perdebatan. Gereja-gereja di Indonesia berbeda pandangan. Yang satu ekstrim menolak dan yang lainnya merasa sah-sah saja. Dalam kegiatan Konsultasi Nasional VII (KONAS) Gereja dan Komunikasi yang diselenggarakan di GKPB Fajar Pengharapan Bandung 27-30 September 2016, polemik ini juga dipertanyakan para peserta khususnya dari gereja-gereja arus utama seperti HKBP, GMIT, GMIH, GMIM, GPM, GKI, GKJ dan lain-lain.

Pdt. Gomar Gultom M.Th, Sekretaris umum PGI dan Dr. F.K. Sitorus, yang merupakan narasumber pada kegiatan KONAS ini menanggapinya positif. “Dulu orang pakai papirus lalu perkamen dan alkitab cetak. Sekarang berubah lagi dalam bentuk elektronik. Nanti sekali kelak berubah lagi, kita tidak tahu seperti apa bentuknya. Jadi, yang suci isinya bukan kemasannya. Saya kalau bepergian dan muatan dalam tas terbatas, saya tidak bawa alkitab buku. Hanya yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai batray habis atau gedgetnya error. Itu saja resikonya, ungkap Pdt. Gomar Gultom.

Hal senada juga disampaikan Dr. Fitzerald K. Sitorus, dalam materinya “Gereja Digital Dalam Masyarakat Digital”. Ia katakan, “Bagi generasi tua, penggunaan alkitab elektronik dalam ibadah mungkin agak menggangu karena di dalam handphone ada fitur-fitur lain yang bisa mengalihkan konsentrasi, akan tetapi kita (gereja, red.) perlu mengakomodasi keinginan anak-anak muda. Contoh, kita generasi tua lebih suka main bola di lapangan sebaliknya anak-anak muda sekarang lebih suka main bola secara elektronik (game sepak bola,red.). Sebagian kita sukanya baca buku fisik yang bisa dicoret atau kalau kita tidak suka argumentasi penulisanya bisa kita banting bukunya, tetapi anak-anak muda sukanya baca buku elektronik, trus mau diapain lagi? Itu kebutuhan dan dunia mereka. Kita tidak boleh paksa mereka baca buku fisik.”

Sebagai wujud pemanfaatan media digital dalam pemberitaan Injil, pada kebaktian penutupan KONAS VII yang difasilitasi oleh Gereja Kristen Pasundan, pelayan firman tidak menggunakan alkitab buku melainkan alkitab digital. Saat mengajak jemaat membuka alkitab pelayan berkata, “Bapak, Ibu, Saudara-saudara, mari kita membuka dari “alkiteb” bacaan Roma 10:13-18…”. Mendengar ungkapan “alkiteb” para peserta senyum-senyum sambil membuka teks alkitab dari tablet smartphone masing-masing.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *