KOREKSI LITURGI MINGGU, 28 MEI 2017

Bahan Tata Ibadah

Minggu ke-6 sesudah Paskah

Etnis Sabu

28 Mei 2017

KERAGAMAN BUDAYA

SEBAGAI KEKAYAAN

DALAM TUBUH KRISTUS

 

ATRAKSI SITUASIONAL

(Seorang Laki-laki dan Perempuan berpakaian Sabu masuk sambil membacakan Pengantar Tema)

Lk      : Penduduk asli Sabu adalah suku bangsa Sabu. Secara geneologis, suku bangsa Sabu Raijua terbagi atas klan-klan yang disebut Udu. Udu-Udu ini merupakan kesatuan kelompok yang berasal dari satu keturunan. Udu-udu ini terbagi lagi menjadi sub klan (kerogo-kerogo)

Berdasarkan pembagian wilayah adat, maka kelompok-kelompok Udu terbagi dalam 5 lokasi atau wilayah adat, yakni: wilayah adat Seba (Habb’a) dan Menia, wilayah adat Mesara (Mehara), wilayah adat Liae, wilayah adat Dimu, dan wilayah adat Raijua, yang terpisah dari wilayah Sabu.

Pr       : Wilayah adat Seba menamakan dirinya orang Seba (Do Habb’a), wilayah adat Mesara menamakan dirinya orang Mesara (Do Mehara), wilayah adat Liae menamakan dirinya orang Liae (Do Liae), wilayah adat Dimu menamakan dirinya orang Dimu (Do Dimu) dan wilayah adat Raijua menamakan dirinya orang Raijua (Do Raijua).

Lk      : Orang Sabu (Do Hawu) meski berdomisili dalam wilayah adat yang berbeda tetapi tetap memiliki bahasa persatuan yang sama, yaitu bahasa Sabu (Lii Hawu). Untuk mengenali dan membedakan asal wilayah adat/kampungnya bisa didengar melalui dialeknya pada saat berkomunikasi. Dialek do Mehara berbeda dengan do Hawu lainnya.

Dalam berbagai aspek kehidupan, orang Sabu tidak memilki hambatan karena adanya komunikasi yang lancar dan saling mengerti bahasanya.

Pr       : Orang Sabu memiliki beraneka ragam budaya yang sampai saat ini tetap lestari dan terjadual dalam Kalender Ritual Adat. Meskipun mereka menganut agama yang taat pada ajaran agamanya masing-masing, namun kegiatan adat yang sifatnya massal tetap dilaksanakan dan diikuti, seperti Pesta Adat Hole, Pehere Jara (atraksi kuda hias), B’ui Ihi yang diisi dengan Seni Budaya Pedoa dan Ledo Hawu.

Lk      : Budaya Sabu yang sampai saat ini dilakukan turun-temurun dan sangat populer adalah cium Sabu (hengadd’u), yaitu hidung ketemu hidung antara orang bersaudara saat bertemu, baik sebagai sambung rasa maupun pertanda damai.

Pr       : Mitos bahwa ciuman Sabu dapat menyelesaikan semua perkara, itu tidak benar, karena orang Sabu taat hukum. Tidak semua perkara selesai dengan cium Sabu. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak hal bisa diselesikan dengan duduk bersama, baik intern maupun antar Udu.

Tarian Pedoa …………. (kalau dapat nyanyiannya mengisahkan tentang pembagian wilayah Sabu dan nilai-nilai yang disebutkan di atas…. diperagakan dalam 2/3 menit) ………

(masuk seorang Ibu berpakain etnis Sabu) ………

Kau dengar semua itu

Setiap Udu dalam sapaan menyatu

dalam bingkai kata ‘do’ dari kata ‘dau (orang yang dikaitkan dengan tempat asal)

‘Do’ atau orang, mengajarkan suatu nilai penghormatan

Suatu hikmat pengajaran tentang identitas manusia

yang kaya makna

Meskipun berdomisili dalam wilayah adat yang berbeda tetapi tetap memiliki bahasa persatuan yang sama, yaitu bahasa Sabu (Lii Hawu), perbedaannya hanya terletak pada dialeknya.

Meski berbeda dalam wilayah tempat tinggal dan dialek bahasa yang berbeda

Semuanya membentengkan satu harapan:

Kamu memang berbeda,

tetapi kamu adalah satu di dalam tubuh Kristus

Rame had’a rai lua kaja kete’e paa d’ara ngi’u Kristus

(Keragaman budaya adalah kekayaan dalam tubuh Kristus) ….

(teriak gaya sabu) …………

Musik Kreatif Gong Sabu ………………..

Instrumen ‘Serikat Persaudaraan’………..

 

DIALOG BUDAYA DAN KEKRISTENAN

Penatua 1         : Tuhan menciptakan setiap negeri

dengan kekayaannya

Tuhan menuntun manusia dalam

peradaban hidupnya

Tuhan menenun manusia dalam

berbagai perbedaan warna kulit

Dan setiap kali manusia berjumpa dengan sesama

Tuhan meminta aksi kebaikan

Aksi yang membalut perbedaan

dan menemukan keragaman yang indah

Lihatlah di negeri Do Hawu ………..

Hikmat tentang keragaman adalah kekayaan

Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus Tuhan ……

Hendaklah kita saling menata kehidupan

Ingatlah makna kebenaran ini …

Rame had’a rai lua kaja kete’e paa d’ara ngi’u Kristus

(Keragaman budaya adalah kekayaan dalam tubuh Kristus) ….

Musik Kreatif Gong Sabu …………

PROSESI IBADAH

Pemberita         : (Pendamping Pendeta bersama Pelayan berjalan dari arah depan)

Hari ini, Tuhan mengutus hamba-Nya

Ia akan berbagi kebenaran dan membuka isi hati Allah

Dan kita belajar, untuk mau melepas kehidupan berselubung dosa

(Pemasangan Simbol Adat, Pelayan menuju mimbar) ………….

Berdirilah sekarang, beribadahlah dalam kehangatan kasih Tuhan:

Musik Kreatif Gong Sabu …………

Nyanyi             : Wartakan Damai 2

TAHBISAN IBADAH

VOTUM

Pelayan        :    Teguhkan hatimu untuk beribadah hanya kepada Tuhan …

Semua           :  (duduk)

 

KAJIAN KEKAYAAN BUDAYA DALAM MENGHARGAI KERAGAMAN

(Masuk 2 orang etnis Sabu) ……………..

Ibu                   : Dahulu kala, dua orang bersaudara Muj’i Bab’o dan ‘Lau Bab’o, bertengkar tentang pewarna nila. Pertengkaran itu membuat keduanya menciptakan corak tenunan yang berbeda. Muj’i Bab’o menciptakan corak ‘hubi ae’ (mayang besar) dan ‘Lau Bab’o menciptakan corak ‘hubi iki’ (mayang kecil)

Kantoria           : (Bersahutan menyanyikan sepenggal syair Pado’a dan mengajak jemaat bernyanyi bersama ……. bagian ini dapat diciptakan sendiri)

Bapak               : Kau dengar itu hai anak-anak pewaris titisan darah Rai Due Nga Donahu

Kita semua diciptakan dalam perbedaan

Ketika perbedaan itu dibesarkan

Yang ada hanya kehancuran dan dendam melukai

Perbedaan mesti kita jalani dengan hikmat

Hingga kita dapat menghasilkan corak kehidupan yang saling memperkaya

Kantoria           : (Bersahutan menyanyikan sepenggal syair Pado’a dan mengajak jemaat bernyanyi bersama ……. bagian ini dapat diciptakan sendiri)

Nyanyi             : ‘Nyamanlah Jiwaku’ versi Sabu………….

Para murimada pa raiwawa d’e

Ludu d’o ti hedui herui

Tapulara Yesus do era penau

Ketanna, ketanna ade ya

Refr:   Ketanna ade ya

Ketanna, ketanna ade ya

 

PENGAKUAN DOSA & KOMITMEN HIDUP BARU

(Instrumen J’ula Huba’) ……………..

Suara 1            : Rame had’a rai lua kaja kete’e paa d’ara ngi’u Kristus

Apakah yang dapat kita banggakan?

Saat pikiran kita tertuju hanya kepada

saling membeda-bedakan?

Manusia membiarkan hatinya

dikuasai kecemburuan

hatinya bertunas kemunafikan dan kebusukan

Ingatlah bahwa semua itu adalah dosa

Itu adalah gerbang derita yang memalukan

Kantoria           : (Menyanyikan J’ula Huba [Pasrah Diri] bait 1 Bahasa Sabu & Bahasa Indonesia)

(petugas secara bergilir membaca di depan meja perjamuan) …………

Suara 2            : Terkadang aku malu, melihat kelakuan

orang-orang di sekitarku

Aku hadir dalam hidup mereka,

tetapi mereka tak pernah menganggapku

bagian dari mereka

Aku mengasihi mereka apa adanya,

tetapi mereka mengasihi aku seadanya

Dan kulihat gemuruh perbedaan kini

melesat dalam kehidupan ini

Segala kata-kata yang diucapkan,

hanya penghinaan dan segala cap

yang menjadi bahan lelucon

Padahal mereka membaca Alkitab yang sama

Mereka percaya kepada Tuhan yang sama

Dan aku tidak mau berlaku seperti mereka

Bagiku, kehidupan ini adalah bagaimana mengelola

segala perbedaan sebagai kekayaan

Terima kasih Tuhan,

Engkau mau menerima diriku apa adanya

Minaharre ke Muri yae, Do hamme ke ngi’u ya ………..

Jemaat             : (Menyanyikan J’ula Huba [Pasrah Diri] bait 2 Bahasa Sabu & Bahasa Indonesia)

Suara 3            : Aku telah hidup di negeri ini

berpuluh-puluh tahun

Tetapi mereka masih menyebutku

sebagai pendatang

Mereka menghina peradaban

dari mana aku berasal

Mereka suka melihatku terjatuh

Dan membenci aku,

jika aku ternyata lebih dari mereka

Padahal di mana kakiku berpijak

Di situlah aku merasa rumah dan kehidupanku

Sekarang aku hanya bisa diam

Diam untuk mendengar,

diam untuk melakukan

apa yang mereka kehendaki

Dan aku membenci mereka,

menurutku: mereka semua itu bodoh

Aku akan selalu berdoa dan mengasihi mereka

Tuhan ampunilah mereka ……

Muri jii, Deo jii, Pehuba nehala ludu ro

Jemaat             : (Menyanyikan J’ula Huba [Pasrah Diri] bait 3 Bahasa Sabu & Bahasa Indonesia)

Penatua 2         : Saudaraku ………….

Hanya dengan mengakui segala dosa, maka kita akan memahami arti kehadiran kita di bumi ini. Hanya dengan bertobat dan merenungkan semua kehendak Tuhan, kita akan memancarkan kemuliaan Allah yang penuh kebaikan.

Dengarlah kebenaran ini: Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. (2 Petrus 1:10).

Dengan memahami panggilan dan pilihan hidup kebaikan, marilah kita bersama-sama ucapkan komitmen hidup baru:

Pnt 2 + J           : Tuhan, Maha Pengampun

Ajarkan kami makna kebaikan

Karena Engkaulah yang mengetahui

kekurangan dan kelemahan kami

Kami mau kebaikan bernaung di dalam hati

dan di dalam rumah

Sebab pertobatan adalah kekuatan kami

Pertobatan adalah cara kami

meraih rancangan Tuhan

Dalam menikmati kemuliaan-Mu

dalam keragaman ciptaan,

Saat ini ………

Kami mau melepaskan keegoisan diri

Di setiap darah yanrwg mengalir

Rasukilah kasih karunia-Mu

Agar hati kami mengenal-Mu,

pikiran kami dipenuhi hikmat-Mu

Dan kami tidak ragu meramu segala yang baik

Sehingga tanah tempat kami berpijak menumbuhkan keselamatan

Dan akhirnya kami mengerti:

‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat’ (Matius 4:17).

Nyanyi             : NKB 17:1 ‘Agunglah Kasih Allahku’ (versi Sabu)

Haj’a ‘d’ai nga ruba Muri tarra-tarra ne madalae

Do d’ai la rae made mada

J’e do d’ai la d’ida liru

Jad’i Noo ta ‘dau rai wawa, ri mone ae haj’a ‘d’ai

Ta ma kale ‘dau do huli, ta pehuba hala

Refr:   Tarra-tarra ne mone ae haj’a ‘d’ai Muri dii

Do peloro, do ketutu, haj’a ‘d’ai Muri dii

 

PEMBACAAN MAZMUR

Pemazmur         : Mari kita berdiri dalam pujian berbalasan menyanyikan Mazmur 33

(duduk)

 

PEMBERITAAN FIRMAN

  • Pelayan: Mengajak Jemaat menyiapkan hati dan menyanyikan ‘Firman Allah Kekal usai nyanyian jemaat disilahkan berdiri ………
  • Doa dan pembacaan firman dari 1 Korintus 12:12-31 oleh Pelayan
  • Ucapan Bahagia …………
  • Nyanyian KJ. 473b ‘Haleluya’

Haleluya —  Haleluya  —  Haleluya (duduk)

  • Khotbah
  • Saat Teduh

 

PENGAKUAN IMAN

Penatua 2         : Marilah kita berdiri dan bersama-sama menyanyikan KJ 280 dalam versi bahasa Sabu ………….

Nyanyi             : Manno nga kaho nga parahaj’a ya

Pa Deo Ama Mone Tao

Do pe’era liru nga rai wawa

J’e do haj’a nga, ‘dau rai wawa

Manno nga kaho nga parahaj’a ya

Pa Ana no do Mone Miha

Do’lla pe made j’e kaddi wari

Ha’e la era, ‘mau megala

Manno nga kaho nga parahaj’a ya

Pa Deo do ‘mau do megala

Nga pa G’reja do heuj’u he’de

J’e megala ya, pa d’ara No                 (duduk)

 

PERSEMBAHAN

(Petugas kolekte mengambil persembahan. Dari arah depan, Tarian mengantar pembawa hasil bumi dan petugas persembahan etnis Sabu) ……………

Pendoa             : Wo Deo Woro Deo panynyi dabb’o huka ‘dau pe keteme, pe j’au we ne ngalu apa dahi apa, rue taru harro menyilu nga ti d’ara rae kowa ya d’ara ammu kemali ya, j’e wie nga ketii kemelo, wie mi lua mara b’ahhi para hab’a la’a, j’e gape pedoe we ne mangngi natuu ya para ammu kemali, pad’a manga b’ada, j’e heruge ya para hab’a wadu.

                          (Oh Ilah Pencipta, jauhkanlah angin jahat, laut jahat, segala malapetaka dari dalam negeriku, dan dalam rumah tanggaku, dan berilah kekuatan dan keteguhan, berilah kekuatan dalam melaksanakan mata pencaharian [pekerjaan]).

(Pembawa hasil bumi meletakkan persembahan, penari keluar dan persembahan dijalankan oleh petugas)

Nyanyian          :           NKB. ‘Syukur Pada-Mu Ya Allah’ dalam versi Sabu

Kolo lii ie nga ae ped’ae ri yaa pa Muri

Rowi rubad’ara Muri, rowi haj’a nga ‘d’ai noo

Rowi b’ara unu oha, rowi nga’a nga nginu

Rowi ihi d’ara ammu, do pehaj’a do pe’d’ai

Kolo lii ie nga ae, ped’ae ri yaa pa Muri

Rowi hari hari lai, do woie do memud’e

Rowi lai hedui herui rowi rui nga kedii

Huli d’o yaa ne ruj’ara, rowi lii dara Muri

Kolo lii ie nga ae, ped’ae ri yaa pa Muri

Rowi lua pehaj’a pe’d’ai pa ra ammu kemali

Rowi lua heuj’u he-‘de, ta tu ahhu do manno

Rowi lua ito nga henao, tade lod’o namii mii

Diaken 1           : (Mengajak jemaat berdiri dan berdoa, Nazar dan Perpuluhan dikumpulkan, jemaat menyanyikan ‘Persembahan Kami’)

DOA SYAFAAT

PENGUTUSAN

Sabu                : (Teriak gaya Sabu) ……….

Keragaman sebagai kekayaan dalam tubuh Kristus

Semua itu membuka mata persaudaraan

Kristus akan menopang kita dengan Roh kasih

Sehingga tak ada lagi perpecahan

dalam persekutuan

Hai anak-anak Rai Manynyi Nga natta (negeri berminyak dan manis)

Beritakan bagi semua orang:

Ama, Ina, Nawanni, Namone, A’a, Ari, Ana, Appu Banni, Appu Mone, Nakue, Makemone, Ma Ae, Ma Iki, Ama Ha’o, Ina Ha’o.

Ajaklah semua orang mencintai perbedaan

Dengan cara itu, bumi akan terus diberkati……….

(Teriak gaya Sabu) ……….      

Jemaat             : (Berdiri dan menyanyikan ‘Dia Sanggup’ versi Sabu)

Nara No, nara No

Toi r’ya ta nara No

Muri do nara ta d’ede hala ya

Refr:   Pe’ie ri No do apa

Do akke, pegolo

Do beko kako mola

Do b’addu ta ngaddi

BERKAT

Pelayan            : Arahkan hati kepada Tuhan dan terimalah berkat-Nya:

Tuhan memberkati kamu, cahaya kemuliaan-Nya akan menyinari kamu. Ia menjaga dirimu dari panasnya matahari, Ia menjaga dirimu dari kegelapan malam yang menakutkan. Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus memberkati keluar masukmu dari sekarang dan selama-lamanya.

Nyanyi             : ‘Amin’

Amin  —  Amin  —  Amin

 

 

Gong Kreatif Sabu mengantar pelayan untuk berjabatan tangan ………….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *