KUTIPAN-KUTIPAN DARI SUATU EVALUASI KEADAAN MENTAL ROHANI GMIT

KUTIPAN-KUTIPAN DARI SUATU EVALUASI KEADAAN MENTAL ROHANI GMIT*

(Dr. Frank L. Cooley)

“… Akhir-akhirnya GMIT hanya kelihatan dalam sidang-sidang sinode tetapi tidak dalam kenyataan hidup dan pelayanan. Majelis sinode tidak menjadi dangau (gubuk, red.) bagi tukang kebun untuk keamanan pekerjaan. Ia lebih banyak kelihatan sebagai satu busut (sarang semut red.) kering di tengah-tengah satu kolam besar.

Relasi perangkat putus. Relasi pelayan dibuat dalam suasana kucing-kucingan. Salah mempersalahkan. Menghitung perkiraan beban dan tanggungjawab. Tidak heran kalau diwaktu-waktu lampau sidang-sidang raya sinode lebih memperlihatkan suatu sidang pengadilan. Para peserta sidang, terutama para ketua klasis mengambil tempat di dalam sidang sebagai jaksa atau penuntut umum. Pimpinan gereja karena tuntutan “jaksa” itu mendapat tempat sebagai terdakwa, tetapi bertugas sekaligus sebagai hakim.

Pengalaman pahit ini berjalan sebagai suatu penderitaan iman jemaat di seluruh wilayah dan tubuh GMIT dan masih terus berusaha memunculkan dirinya sampai dengan sekarang ini.

MASALAH PENDERITAAN IMAN

Pemekaran pelayanan dari klasis berjumlah di bawah 10 pada 1959 menjadi sebanyak 29 sekarang ini, melampaui suatu proses yang menelan waktu panjang. Kegelisahan banyak lahir karenanya. Kegelisahan karena terancam persekutuan rohani yang indah diwaktu lalu. Juga kegelisahan tentang bagaimana indah pemekaran itu, apa sifatnya, dan apa yang mau dicapai dan dengan cara apa? Di tengah kegelisahan ini ada pula gambaran-gambaran putus asa yang diterjemahkan ke dalam sikap-sikap bertindak sepihak untuk tidak nyata sebagai suatu jalan menuju colapse (kehancuran).

Pengalaman-pengalaman putus asa yang kebetulan mempunyai kesempatan konsentrasi baik, telah menimbulkan macam-macam ekses rohani; pernyataan-pernyataan ilahi, aksi-aksi kebangunan rohani, rumah sakit ilahi, orang ilahi, mujizat ilahi yang dibanggakan dsb. Kita kurang belajar dari kejadian-kejadian itu; mengapa sampai terjadi, begaimana ia sudah terjadi? Orang-orang bagaimanakah terlibat di dalam kejadian itu dan bagaimanakah memahaminya?

Tidak kurang pelayan yang terlibat secara sadar. Tidak kurang warga gereja bersikap memaksakan Roh Kudus untuk menampakan mujizat-mujizat. Tidak kurang hasrat hati yang membaja disamakan begitu saja dengan Kata Roh atau Kehendak Roh Kudus. Penderitaan iman begitu hebat sehingga orang tidak takut-takut untuk menjual kebohongan-kebohongan untuk mendapatkan satu kemewahan hidup sendiri. Penderitaan iman begitu parah sehingga orang tidak canggung menjual kemiskinan GMIT hanya untuk bisa mendapat sedikit uang. Hubungan-hubungan dengan luar negeri tidak lagi dikerjakan dalam hubungan persekutuan orang percaya, melainkan dalam hubungan kemiskinan dan kemewahan.

Di lain pihak para petugas gereja sendiri tidak mampu menghadapi, menolong, menggumuli masalah penderitaan iman itu. Mereka sendiri menjadi takut terhadap diri dan panggilan mereka sebagai pelayan dan sebagai gembala. Tidak heran kalau orang mengatakan para pelayan tidak memiliki Roh Kudus sebab mereka kelihatan loyo di dalam menghadapi dan mencari solusi baik.

Buku-buku seperti “Like a Mighty Wind” “The Revival in Indonesia” dsb, ikut memperjelas warna penderitaan iman dalam lingkungan GMIT.

Kuman-kuman apakah yang telah melahirkan untuk GMIT penderitaan-penderitaan iman itu? Krisis organisasi, krisis mental, krisis kepemimpinan, krisis akhlak, sebagai sebahagian dari krisis akhlak manusia menyeluruh. Krisis kepercayaan, krisis organisasi jelas di dalam kebangunan otonomi atas dasar potensi-potensi setempat. Krisis mental di mana orang membalik masalah umum kristen tidak sebagai titik tolak tetapi sebagai titik henti….

Sikap-sikap indeferensiasi terhadap pekerjaan, relasi kerja dan pekerjaan sendiri melahirkan keragaman sistem kepemimpinan di daerah-daerah, sedang di pusat nilai-nilai kepemimpinan menjadi cepat kerdil.

Krisis kepemimpinan begitu parah sehingga GMIT seperti yang disampaikan lewat wahyu kepada Yohanes di pulau Patmos: Tidak panas, tidak pula dingin. Dalam kenyataan sehari-hari kepemimpinan GMIT sama seperti sebatang labu yang asyik berdaun muda dan berbunga indah diranting-rantingnya tetapi di pohonnya sendiri tidak kelihatan lagi sepucuk daun meskipun ia banyak disiram. Krisis akhlak begitu hebat sehingga harga-menghargai di antara sesama pelayan hilang atau kabur. –memfitnah kawan kerja- melumpuhkan jaringan yang sehat bukan lagi hal yang tabu.

Motif dari semua penderitaan iman di GMIT ini ialah: perasaan tidak puas; tidak puas terhadap apa yang mestinya ada tetapi tidak ada. Tidak puas terhadap orang. Tidak puas terhadap apa yang direncanakan dan apa yang diharapkan dicapai. Menjawab ketidakpuasan ini masing-masing mulai mencari penyelesaian sendiri-sendiri. GMIT karena itu mempunyai raut muka sebagai suatu unitatis esensia dengan plurosme yang pluralistis. Satu kesatuan hakekat dengan kejamakan yang jamak.

GMIT menjadi tidak jelas sebagai persekutuan orang-orang percaya. Warga GMIT tidak lagi menampakkan dirinya sebagai satu kongregasi melainkan sebagai satu konglomerasi. Ekses-ekses kejahatan lahir dari penderitaan itu. Tamak, tinggi hati, zinah, penipuan dsb-nya. Alkitab dijadikan sebagai buku kutika (kutukan) dan buku nasib. Pengakuan dosa dibuat dengan dorongan-dorongan ketakutan akan malapetaka dalam hidup ini dan bukan karena kesadaran bahwa berbuat dosa tidak lain daripada melawan Allah. Alat-alat kebaktian, pakaian-pakaian jabatan dipakai untuk mengenali kejahatan-kejahatan rohani.

Dengan demikian kita sebenarnya malah berdalih untuk mengatakan bahwa ada juga kejahatan-kejahatan yang suci.

Gereja Masehi Injili di Timor tidak lagi menjadi seperti apa yang Yesus katakan: Di dalam dunia tetapi bukan dari dunia. Di dalam dunia dengan sikap takut melihat dunia ini. Takut terlebih dengan kenyataan-kenyataan di dunia ini. Bukan dari dunia karena itu tidak mau bergaul dengan dunia ini. GMIT karena itu hilang pegangan di dalam pergaulan rangkapnya: Setia kepada Tuhan dan melayani di dunia ini.

POTENSI YANG IMPOTENT

GMIT bukan massa yang tidak mampu. Ia mampu dalam segi-segi vitalnya: alam, manusia dan kemampuan. Semua sumber kemampuan menjadi tidak mampu sebab kemampuan itu dikembangkan terbatas untuk tempatnya di luar hubungan kekerabatan orang percaya. Potensi itu tidak berdaya sebab ada pemikiran-pemikiran ghetto dari tempat ke tempat, dari latar belakang kemasyarakatan satu dengan yang lainnya. Karena itu suatu rehabilisasi mobilisasi semua potensi yang ada pada GMIT harus disadari untuk dikerjakan. Rehabilisasi mobilisasi moral Kristen. Rehabilisasi perbuatan Kristen. Rehabilisasi semua perbendaharaan GMIT. Yang paling dasar untuk diperbaiki ialah sikap mental. Dan karena itu pembinaan warga GMIT harus mendapat bentuk yang serasi dan diberi tekanan yang serius. Mempergunakan potensi kemasyaraktan jemaat GMIT dari tempat ke tempat memerlukan suatu pematangan yang tidak asal-asal saja. GMIT tidak mampu menyampaikan pemberitaan kepada alatnya yang baik jika GMIT tidak tahu di mana dia berada, bagaimana ia harus berada. Karena itu masalah: sosiologi, antropologi, histori, psikologi dari semua etnis yang ada di GMIT ini tidak dapat diabaikan jika GMIT mau melayani sesuai hakekat Gereja…”

*catatan kritis ini merupakan kutipan dari buku “Benih yang Tumbuh 11” hal. 191-194. Kalimat yang di bold  berasal dari redaksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *