LITURGI ETNIS HADIRKAN SUASANA SERASA DI KAMPUNG HALAMAN

KUPANG, WWW.SINODEGMOT.OR.ID, Kebaktian menggunakan liturgi etnis Rote, Minggu, 21/05-2017 di jemaat GMIT Koinonia-Kuanino-Kupang, dalam rangka perayaan bulan bahasa dan budaya disambut gembira warga jemaat. Sebagian kaum perempuan mengenakan busana adat lengkap dengan bula molik (hiasan di kepala berbentuk bulan sabit). Sementara kaum laki-laki tampak gagah dengan ti’ilangga (topi khas Rote). Ruang kebaktian juga didesain bernuansa etnik dengan dilengkapi perangkat-perangkat budaya seperti: haik, nyiru, sasandu, bunga dan buah lontar, gula air dan peralatan menyadap lontar lainnya.

“Kebaktian dengan liturgi etnis Rote hari ini membuat beta merasa seperti di rumah sendiri. Walaupun kotong ada di Kupang tapi rasa seperti di Rote. Apalagi ulasan-ulasan teologi budaya dalam khotbah tadi seperti makna gong, tiilangga dst, itu ternyata mengandung nilai-nilai iman yang mesti diwariskan,” ujar Don Pollo, salah satu anggota jemaat Koinonia Kuanino-Kupang.

Kebaktian minggu ketiga bertema “Bermusik Bagi Allah” dipimpin oleh Pdt. Samuel Pandie. Dalam khotbah yang mengacu dari Mazmur 33:1-9, Pdt. Sem, panggilan akrabnya, mengatakan  musik mesti melahirkan identitas iman. Pemazmur mengungkapkan identitas iman kepada Allah dan mengagungkan Allah dengan perangkat-perangkat musik. Karena itu bermusik bagi Allah mengajak kita mendesain karakter Allah dengan nada dan irama yang membuat manusia merasakan kemuliaan Allah. Itulah sebabnya bermusik bagi Allah tidak boleh asal-asalan. Pemazmur katakan “petiklah kecapi baik-baik”. Kata “baik” yang dalam bahasa Ibrani tov yang digunakan di sini adalah kata yang sama di kitab Kejadian saat Tuhan Allah menciptakan manusia tatkala Allah berkata, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik.” Oleh sebab itu bermusik bagi Allah harus mempersembahkan yang terbaik.

Selain nuansa etnis mewarnai keseluruhan liturgi, narasi kritis yang bertujuan menggugah kesadaran terhadap realitas sosial masyarakat NTT juga menguat dalam liturgi seperti: kerusakan alam, kekerasan rumah tangga dan perdagangan orang.

Pnt. Lasarus Ledoh, mengapresiasi upaya GMIT merawat warisan budaya melalui tradisi bulan bahasa dan budaya. “Beta senang dengan liturgi hari ini. Banyak nilai-nilai budaya yang bisa memperkaya iman kita. Kreatifitas dalam liturgi yang ditampilkan sangat menyentuh termasuk dalam khotbah. Liturgi dan khotbah harus begitu, jangan kamatek-kamatek,” tutur opa Sarus yang terkenal dikalangan PAR GMIT (sekolah minggu) dengan gaya bicara yang ceplas-ceplos khas orang Rote.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *