LITURGIA KREATIF DAN DAMPAKNYA BAGI PERSEKUTUAN IBADAH JEMAAT

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Sudah sejak lama, GMIT bergumul dengan persoalan menurunnya angka kehadiran warga dalam ibadah, baik pada kebaktian hari  Minggu maupun ibadah-ibadah lainnya. Meski secara kasat mata terlihat minat warga jemaat yang berbondong-bondong menghadiri kebaktian masih cukup banyak namun  ada juga fakta lain di mana warga jemaat yang tidak mengikuti kebaktian pun tak sedikit jumlahnya. Paling banter perbandingannya seimbang alias fifty-fifty (50:50).

Fluktuasi Partisipasi Jemaat

Realitas di atas kami temukan melalui warta jemaat maupun dalam percakapan informal dengan sejumlah pimpinan atau mantan pimpinan jemaat di wilayah klasis Kota Kupang dan sekitarnya. Sebut saja Jemaat Maranatha Oebufu, Jemaat Syalom Airnona, Jemaat Silo Naikoten, Jemaat Efata Liliba, Jemaat Emaus Liliba, Jemaat Galed Kelapa-Lima, Jemaat Betel Oesapa, Jemaat Pniel Oebobo, Jemaat Rehobot Bakunase dan  Jemaat Marturia Oetete.

Tingkat kehadiran warga jemaat di beberapa gereja tersebut rata-rata hanya berkisar 50-60% setiap minggu. Angka ini baru bisa bertambah sedikit pada hari raya atau pada saat Perjamuan Kudus.  Selebihnya, prosentasi kehadiran jemaat bersifat fluktuatif bahkan stagnan pada angka 50%.

Selain keengganan dan semangat beribadah yang acapkali kendur, ada pula kecenderungan sejumlah warga yang merasa tidak puas dengan model tata ibadah di gereja asalnya, lantas memilih ikut beribadah di gereja denominasi lain bahkan ada yang secara diam-diam maupun terang-terangan pindah gereja.

Bila hal ini terjadi, jangan cepat-cepat menarik kesimpulan bahwa jemaat tidak peduli dengan gereja (Tuhan) atau dihinggapi roh malas. Sebab bisa jadi masalahnya bukan pada jemaat yang malas melainkan salah satu sebabnya adalah liturgi yang monoton dan statis. (tentu masih ada faktor lain: kunjungan pastoral, kualitas pemberitaan khotbah dll.)

Upaya GMIT dan Soal yang Muncul

Cukup lama GMIT menggumuli kecenderungan warga GMIT terutama kaum mudanya yang berpindah-pindah mencari suasana ibadah yang lebih ekspresif. Banyak kali muncul silang pendapat antara kebutuhan kaum muda yang menginginkan pembaharuan liturgi seiring perkembangan IPTEK versus status quo kaum tua sebagai pemelihara tradisi bergereja.

Untuk mengatasi benturan itu salah satu alternatifnya adalah mengakomodir liturgi KPI (Kebaktian Penyegaran Iman) pada kebaktian minggu. Dalam penerapannya ada jemaat yang lantas mengadakan perangkat musik drum band, ada  yang membolehkan jemaat bertepuk tangan, ada juga yang mengundang pengkhotbah KPI atau sekurang-kurangnya meminta pendeta merubah gaya berkhotbah dengan sesekali berseru “amin saudara-saudara” dsb-nya.

Apakah cara ini efektif memenuhi kebutuhan jemaat secara umum dan kaum muda khususnya? Dan apakah metode ini serta-merta menaikan angka partisipasi warga dalam mengikuti kebaktian? Pertanyaan ini masih membutuhkan penelitian. Namun, fakta bahwa saat ini gereja-gereja denominasi yang berlatarbelakang kharismatik terus bertumbuh dan berkembangnya terutama di kota Kupang yang tentu saja anggota-anggotanya merupakan simpatisan atau pindahan dari warga GMIT, sedikit banyak menunjukan bahwa metode Ibadah KPI belum sepenuhnya menjawab kebutuhan dan persoalan di sekitar partisipasi jemaat.

 

 

Langkah Kreatif Jemaat Benyamin Oebufu

Di tengah upaya menemukan model liturgi yang sesuai dengan kebutuhan jemaat yang terus berubah sekaligus cocok dengan teologi GMIT, Jemaat Benyamin Oebufu menempuh cara yang terbilang kreatif dan inofativ. Ketimbang mengadopsi gaya beribadah gereja-gereja kharismatik, jemaat ini memilih melakukan kontekstualisasi liturgi. Pada setiap Minggu, isu-isu sosial, ekonomi, politik, budaya, pendidikan dst, baik nasional maupun lokal dijadikan bahan refleksi yang diramu dalam tema-tema teologis. Termasuk mengangkat situasi-situasi khusus yang menjadi pergumulan iman jemaat dan menjadikannya sebagai titik tolak membangun refleksi-teologis yang dikemas dalam bahasa liturgis yang inspiratif, apik dan sarat makna.

Cara menyajikan realitas atau isu-isu tersebut dalam bahasa liturgis pun variatif. Ada yang dibuat dalam bentuk narasi monolog dan dialog, namun ada juga yang dipentaskan  dalam bentuk fragmen maupun drama teatrikal. Hasilnya cukup mengejutkan. Suasana kebaktian lebih dinamis, menyenangkan, menghibur, memulihkan, kritis, kreatif, reflektif dan edukatif. Bukan hal yang aneh bila dalam kebaktian jemaat boleh bertepuk tangan, tertawa lepas, berseru koak atau eki, terharu hingga menitik air mata.

Bagaimana mengelola semua itu? “Di sinilah peran pendeta sebagai inspirator dan motivator dalam memaksimalkan unit-unit pelayanan dalam jemaat. Kami punya bengkel liturgi yang dikelola oleh pemuda. Tugas saya mengawal proses dan memastikan teologi yang mereka kembangkan itu tidak melenceng” kata ketua majelis jemaat, Pdt. Semuel Pandie.

Jemaat yang  merupakan bagian dari klasis Kupang Tengah ini memiliki 496 kepala keluarga atau anggota jemaat sebanyak 2.123 orang. Salah satu kemajuan jemaat ini adalah tingkat partisipasi jemaat dewasa dalam beribadah yang mencapai rata-rata 90-95% atau berkisar 1000 sampai 1300 orang setiap minggu. Jumlah ini mengindikasikan bahwa hampir semua orang tua (ayah dan ibu) dari setiap keluarga senantiasa mengambil bagian pada setiap kebaktian Minggu.

Angka ini terbilang tinggi bila dibandingkan dengan jemaat-jemaat lain di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya sebagaimana disebut di atas. Jemaat Betel Oesapa misalnya, dengan jumlah kepala keluarga sekitar 700, jumlah jemaat yang menghadiri kebaktian kata Pdt. Emile Hauteas (sebelumnya adalah Ketua Majelis Jemaat di Jemaat ini) hanya berkisar 40-50%.

Ditemui seusai kebaktian minggu sengsara IV, Ketua Majelis Jemaat Benyamin Oebufu, Pdt. Samuel Pandie mengisahkan bahwa sejak memulai penataan liturgi kebaktian, tingkat partisipasi jemaat terus meningkat. Secara sederhana ia menjelaskan bahwa untuk peran liturgi setiap minggu melibatkan sekitar 50 orang. “Kalau yang berperan itu anak-anak, sudah pasti orang tuanya ikut kebaktian. Atau kalau pemuda, paling tidak pacarnya hadir. Apalagi pembagian peran dalam liturgi selalu bergiliran antar rayon, sehingga kompetisi untuk senantiasa menampilkan yang terbaik dalam liturgi menjadi daya tarik bagi jemaat,” ujarnya.

Jemaat Benyamin Jadi  Jemaat Model

Minggu, 19/03-2017 kebaktian Minggu Sengsara IV,  mengusung tema “Hukum Telah ditimpakan”. Liturgi dikemas dalam budaya Alor-Pantar.  Kebaktian diawali dengan fragmen  yang diangkat dari cerita rakyat Pantar dari kampung Kakamauta. Kisahnya bercerita tentang perseteruan 4 orang bersaudara Nai’ilu, Bes’ilu, Seli’ilu dan Kai’ilu. Berseteruan bermula dari perebutan hak kesulungan. Konflik antar saudara yang kemudian menjadi konflik suku itu berhasil didamaikan melalui sebuah kesepakatan hukum adat yang disebut “Kabus Humas Kakamauta Me’ (Busur Hukum di Kakamauta).

Intisari dari hukum adat ini adalah siapa yang mencuri, menipu, mengambil apa yang bukan haknya, menuduh dan memutarbalikan kebenaran, ia akan timpa malapetaka di mana tubuhnya mati terbelah dua seperti dada burung kakatua yang ditembus anak panah.

Mite ini menjadi pintu masuk khotbah yang disampaikan oleh Pdt. Niko Lumba Kaana, M.Th dari Injil Markus tentang tuduhan palsu terhadap Yesus ketika Ia dihadapkan kepada Mahkamah Agama (15:53-63).

Ditanyai komentar terkait upaya kontekstualisasi liturgi, Pdt. Daniamaputra Pattinaja, S.si Teol, M.Sn yang juga dosen Musik Gereja STAKN – Kupang, ia mengapresiasi upaya yang telah dilakukan jemaat Benyamin.

“Saya mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh presbiter di jemaat ini dimana mereka berhasil mengkontekstualisasikan liturgi, musik, bahasa, tarian, busana sehingga menjadi bagian dari cara berteologi umat. Seringkali kita seolah terjebak dalam dua budaya; budaya di dalam gereja dan di luar gereja. Mestinya kebudayaan itu menyatu baik di dalam maupun di luar gereja. Saya berharap kebudayaan kita yang beraneka ragam bisa diakomodir dalam ruang-ruang perayaan ibadah kita. Menyangkut kreatifitas yang ditampilkan dalam kebaktian minggu ini sudah sangat luar biasa.” tuturnya.

Catatan kritis Dosen musik gereja ini adalah volume musik yang masih mendominasi dalam mengiringi nyanyian jemaat. “Hari ini saya kira semuanya oke, pesan budayanya, ekspresinya sangat hidup dan terasa, pesan firman yang dikaitkan dengan budaya Alor juga kuat, cuma beta rasa power musiknya terlalu mendominasi suara jemaat padahal yang utama dalam musik gereja adalah suara jemaat,” tambahnya.

Pdt. Daniamaputra Pattinaja berharap ke depan jemaat Benyamin bisa menjadi jemaat model di GMIT. Sebagai salah satu pengurus dalam tim pengembangan liturgi dan musik gereja MS GMIT, ia yakin dengan apa yang sudah dikembangkan oleh jemaat ini dapat menjadi modal bagi Majelis sinode GMIT untuk meningkatkan kualitas pelayanan di bidang liturgi kontekstual.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *