MEMBACA ULANG PSIKOLOGI POLITIK INDONESIA HARI INI

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Prof. Hamdi Muluk, guru besar fakultas psikologi Universitas Indonesia merasa sedih melihat kondisi bangsa Indonesia akhir-akhir ini. “Sedih juga melihat apa yang terjadi di Jakarta sekarang dengan gelombang demonstrasi 4 November dan 2 Desember,”katanya dalam diskusi terbatas bertema ” Membaca Ulang Psikologi Politik Indonesia 2016″ yang berlangsung di kantor IRGSC, Selasa, 29 November 2016.

Dihadapan belasan aktivis dari beberapa LSM yang hadir, Prof. Hamdi yang didampingi Dr. Dominggus Elcid Li, sebagai moderator, mengungkapkan bahwa apa yang sedang terjadi di Jakarta dan Indonesia sekarang ini tidak terlepas dari apa yang dalam bahasa psikologi di sebut sense of perceive of threat  (perasaan merasa terancam). Perasaan semacam ini mengendap dalam sejarah masa lalu ketika negara ini dibentuk. Pertanyaan tentang dasar Negara menjadi perdebatan dan timbul perbedaan pendapat di antara para pendiri bangsa. Demi mencegah ancaman perpecahan, pada akhirnya mereka (para ulama dan komponen anak bangsa lainnya) bersepakat memilih Pancasila sebagai dasar negara ketimbang berdasar syariat agama tertentu. Inilah titik kulminasi dari perjalanan bangsa ini yang mau dihilangkan oleh kelompok radikal.

Ditambahkan pula bahwa, memori masa lalu itu diperalat oleh kelompok radikal yang mau mendirikan khilafah di Indonesia sekarang ini,  seakan-akan pada masa lalu ada kelompok tertentu yang mengkhianati perjuangan umat Islam. Mereka menebarkan sense of perceive of threat  tersebut sedemikian rupa hingga membuat orang percaya lalu timbul memori sosial dan perasaan ingin membela agamanya dengan membabi buta. Hal ini diperparah lagi dengan liberalisasi media atau demokrasi digital di tengah masyarakat yang belum mapan.  Sekelompok orang itu kemudian memainkan sense of perceive of threat itu melalui memobilisasi dan politisasi kondisi yang ada. Itu yang sekarang terjadi, kata Prof. Hamdi yang juga pakar psikologi politik.

Namun, di lain sisi katanya, “Ibarat air tenang yang di obok-obok sekarang kita bisa lihat lumpur-lumpurnya pada naik ke atas. Ikan yang jelek, ular, kalajengking makin kelihatan. Termasuk ular-ular radikal pada keluar semua. Jadi, belum tentu bagi Presiden Jokowi, situasi ini sebuah malapetaka. Bisa jadi ini blessing (berkat). Ini kesempatan untuk mengecas lagi keindonesiaan kita hari ini.”

Diskusi yang dimulai pukul 19:00 hingga 21:00 tersebut penuh kesahajaan. Bersama semua peserta termasuk Pdt. Dr. John Campbell-Nelson dan Ibu Karen Campbell-Nelson, Prof. Hamdi tampak menikmati ubi bakar dan kue pisang yang di bikin sendiri oleh tuan rumah. Sebagai ucapan terima kasih atas kunjungan dan diskusi hangat tersebut, Prof. Hamdi Muluk di beri kado baju kaos bertuliskan, “Little People Make Big Change”yang langsung dikenakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *