MEMBANGUN MASYARAKAT MULTIKULTUR (Bahan Renungan Pemuda-Kaum Bapak)

Untuk Ibadah Minggu Pertama Mei 2017

MEMBANGUN MASYARAKAT MULTIKULTUR

 Kejadian 11.1-9

 

Kita hidup dalam masyarakat yang multikultur. Ada suku Alor, Rote, Timor, Sabu, Sumba, Flores, Batak, Manado, Jawa dan yang lainnya. Masing-masing suku memiliki adat istiadat dan budaya masing-masing. Keragaman ini di satu sisi merupakan kekayaan yang luar biasa. Ada tenun ikat yang indah. Ada dialek yang menimbulkan gelak tawa. Juga terdapat filosofi hidup dan ungkapan-ungkapan bijak yang luar biasa. Namun di sisi lain, keragaman ini tentu menimbulkan gesekan dalam kehidupan bersama. Namanya juga perbedaan, tentu ada ketidaksamaannya. Kita tidak dapat mengharapkan masyarakat multikutur yang selalu harmoni dan bebas dari konflik sosial, itu hanyalah imajinasi yang terlalu ideal untuk menjadi kenyataan.

Kesadaran akan sisi positif dan negatif dari keragaman inilah yang menghentar GMIT untuk menetapkan bulan Mei sebagai Bulan Bahasa dan Budaya. Melalui perayaan ini, kita diajak untuk mengelola keragaman dalam masyarakat multikultur ini sehingga dapat hidup berdampingan dalam damai. Kita belajar untuk menjadikan kemajemukan budaya sebagai sumberdaya penting dalam proses pembangunan masyarakat dan gereja.

Bagaimana GMIT memahami kekayaan keragaman bangsa ini? Bagaimana mengelola keragaman sebagai berkat Tuhan dan bukan ancaman atau kutukan? Bila GMIT tidak berperan, kita membenarkan pandangan Marxis bahwa agama bukanlah penyebab penting bagi perubahan struktural dan emansipasi manusia. Inilah pentingnya mempelajari narasi Babel.

 

Tafsiran Teks

Ada banyak tafsiran yang mungkin terhadap teks ini, namun saya memilih satu kemungkinan dalam kaitan dengan Perayaan Bulan Bahasa dan Budaya GMIT yang dirayakan pada bulan Mei tiap tahun. Narasi ini berguna untuk menolong memahami asal usul perbedaan budaya dalam masyarakat. Menurut Hiebert, “Terminologi cerita dan struktur berulang teks ini semuanya berfokus pada ketegangan antara singularitas dan multiplisitas dengan tujuan untuk menjelaskan asal dan keragaman budaya dunia.”

Ceritanya dimulai dengan memberi tahu kita bahwa “seluruh bumi memiliki satu bahasa” dan diakhiri dengan “bumi yang berisi banyak bahasa”. Aktor-aktor manusia dalam cerita berusaha menghindari “terserak ke seluruh bumi” dan ceritanya ditutup dengan mereka “diserakkan Tuhan ke seluruh bumi”. Kita diberitahu bahwa manusia itu “satu bangsa dengan satu bahasa”, namun Tuhan mengacaubalaukan bahasa mereka dan menciptakan budaya dunia.

Mengapa Tuhan digambarkan menentang kesatuan manusia? Ini adalah petanyaan yang membingungkan di tengah seruan Alkitab untuk mengembangkan persekutuan. Saat Alkitab menyuarakan koinonia umat manusia, justru narasi Babel menggambarkan Tuhan dengan cara yang berbeda. Tapi mengapa Tuhan menentang kesatuan manusia?

Alasan utamanya ialah manusia mencari kesatuan dengan mengejar homogenitas. Teks menggambarkan persekutuan manusia yang homogen, yang membatasi diri pada orang sebangsa dan sebahasa sehingga tidak ingin terserak atau bercampur dengan bangsa lain (ay. 6). Alih-alih hidup dalam komunitas yang beragam, mereka mengejar sebuah komunitas dengan kesamaan. Mereka ingin membangun sebuah dunia di mana mereka berbicara satu bahasa dan tinggal di satu lokasi selamanya.

Keengganan untuk hidup bersama orang lain menyebabkan manusia bertindak dalam cara yang disfungsional. Bukannya membangun aliansi, justru mereka membangun penghalang. Niat mempertahankan homogenitas mencegah mereka untuk bercampur, berbaur, dan membangun aliansi dengan yang berbeda darinya.

Kesatuan yang dibentuk dengan homogenistas ini menempatkan upaya membangun peradaban dalam bahaya. Seluruh kerja keras serta upaya-upaya manusia yang paling kreatif dan terbaik sekalipun (disimbolkan dengan “pembangunan kota dan menara”) sebenarnya hanya sekedar cara untuk memisahkan diri dari orang lain. Ini akan menodai atau mencemarkan prestasi mereka. Itu sebabnya Tuhan menghentikan pembangunan kota dan menara tersebut.

Allah mengevaluasi situasi manusia itu negatif, dan Ia bergerak untuk memperbaikinya. Allah menghakimi sebagai tanggapan atas dosa manusia, tetapi itu untuk kepentingan masa depan seluruh bumi. Penghakiman Allah, meskipun menciptakan kesulitan, memiliki satu tujuan yang secara fundamental adalah anugerah.

Tindakan Allah mengacaubalaukan bahasa dan penyerakan manusia di Babel bukanlah sebuah kutukan. Ini dimaksudkan untuk mencegah setiap tindakan serupa, yang menjalani persatuan yang mementingkan diri sendiri, untuk pelestarian diri sendiri. Adalah mungkin bagi manusia untuk melakukan hal serupa yang bahkan bisa lebih merusak di masa depan. Itu sebabnya Allah dikatakan turun tangan menangani masalah ini.

Allah mengcounter upaya manusia untuk tetap menjadi komunitas terisolasi dengan bertindak sedemikian rupa, sehingga mereka tahu bahwa ada pilihan lain yang Allah sediakan. Kekacau-balauan adalah sarana untuk mencapai tujuan Allah: mempromosikan keragaman dengan mengorbankan segala bentuk kesatuan yang berusaha untuk melestarikan dirinya dalam isolasi dengan ciptaan yang lain.

 

Aplikasi

Penulis yang menyusun cerita ini menyadari bahwa kesatuan yang telah mereka perjuangkan dan dalam beberapa hal dipertahankan, bukanlah persatuan yang benar. Dalam perspektif ini, ceritanya berfungsi sebagai peringatan terhadap setiap bentuk persatuan homogen yang menjadi sarana untuk tetap terlindung dari percampuran dengan yang lain.

Banyak orang menganggap bahwa bahasa dan budaya sebagai kutukan. Tidak heran umat manusia tetap terpecah-belah karena budaya, etnis, dan ras. Jika penafsiran teks seperti ini terinternalisasi dengan kuat dalam hidup jemaat, bagaimana mungkin ada harapan atau visi masa depan tentang persatuan multikultural dan multiras?

Masih banyak kelompok masyarakat yang puas dengan homogenitas mereka dan kurang memberi ruang bagi keragaman etnis dan budaya, ras, agama dll. Dimana gereja di tengah pesoalan juangan ini? Jika kita jujur ​​dengan diri kita sendiri, kita harus mengakui bahwa praktek seperti ini juga masih dijumpai dalam gereja. Kebanggan kita selaku gereja yang bersekutu seringkali terjerumus ke ekstrim yang lain yakni menjadi institusi homogen.

Jika gereja ingin memimpin budaya menuju masyarakat multikultur yang lebih adil dan damai, maka hal itu harus dijalankan dengan benar. Jika gereja dipenuhi dengan individu yang tidak berdiferensiasi (homogen), bagaimana gereja sebagai sistem mampu memimpin jalan menuju hal tersebut? Memang disadari bahwa ini adalah tugas yang mengancam. Gereja pasti akan terancam karena ia akan berhubungan dengan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lain. Namun jika gereja tidak bisa mengatasi kendala ini, gereja kehilangan ciri misionernya.

Sejarah manusia telah membuktikan bahwa usaha persatuan dengan mengabaikan atau menekan perbedaan sangat berbahaya. Nazi Jerman yang memberlakukan politik rasis meninggikan bangsa Arya dan merendahkan ras-ras lain. Bangsa Yahudi didiskriminasi dan dikumpulkan untuk dibunuh di kamp konsentrasi. Selain orang Yahudi, kaum Nazi juga mendiskriminasi dan membantai bangsa Gipsi serta bangsa Slavia. Sebelas juta orang meninggal dalam pembantaian Nazi ini. Kita juga menyaksikan bagaimana kesatuan digunakan – terutama oleh mereka yang berkuasa – untuk memperlakukan mereka yang berbeda dengan cara yang sangat tidak adil. Suku bangsa yang berkuasa memperlakuan yang lain secara diskriminatif sehingga terjadi ketimpangan dalam masyarakat. Genosida atau pemusnahan etnis melalui pembunuhan massal adalah contoh nyata hal ini. Dalam perspektif ini, masyarakat yang anti keragaman pada dasarnya sedang meletakkan dasar bagi penindasan.

Semua ini menolong kita untuk memahami kisah Babel sebagai kisah Tuhan yang ikut campur dalam urusan manusia untuk menciptakan dunia multikultural. Tuhan bertindak untuk menginterupsi keinginan manusia yang ingin tetap homogen dengan menciptakan budaya manusia di seluruh dunia. Ceritanya terutama harus dibaca sebagai campur tangan Allah dalam menciptakan sebuah dunia keragaman yang bertentangan dengan homogenitas yang dicari manusia. Pemahaman ini menolong gereja dan anggota jemaat untuk mewujudkan interaksi masyarakat multikultur yang cinta damai, toleran dan menghargai keragaman.

 

Attachments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *