MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN KRISTEN YANG BERKUALITAS DI GMIT*

MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN KRISTEN YANG BERKUALITAS DI GMIT*

(Sebuah pendekatan manajemen mutu)

Oleh: Fredrik Abia Kande[1])

  1. Latar Belakang

Pendidikan Kristen di NTT memiliki sejarah yang panjang, yakni sejak 3 abad lalu. Diawali dengan pendirian  lembaga pendidikan Kristen tahun 1701 di Kupang. Beberapa tahun berikutnya dibangun lembaga yang serupa di Rote, Sabu, Alor, Sumba, dan Flores.[1] Selanjutnya sejak GMIT berdiri tahun 1947, dibentuklah sebuah komisi Pengurus Am Persekolahan GMIT  dengan tugas utamanya mengatur dan mengembangkan sekolah-sekolah Kristen yang ditinggalkan oleh pemerintah Belanda setelah Indonesia merdeka. Kemudian sekolah swasta yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Kristen Protestan dikelola oleh Yayasan Usaha Pendidikan Kristen (Yupenkris)[2]. Dengan terbentuknya Yupenkris, yayasan ini mulai mengambil alih penyelenggaraan sekolah-sekolah dari Pengurus Am Persekolahan GMIT pada tahun 1968. Dalam perkembangan berikutnya, tahun 2012 GMIT telah membentuk 13 Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) sebagai upaya desentralisasi guna membagi peran dan tanggung jawab pada seluruh wilayah kerja Yupenkris.

Setahun sebelumnya melalui kesepakatan antara GMIT dan Yayasan Pendidikan Pelita Harapan sejak 2011, maka yayasan tersebut telah mengambil alih pengelolaan lima SD GMIT yang bernaung di bawah Yayasan Usaha Pendidikan Kristen (Yupenkris), satu SMP Kristen dan satu SD Inpres di Kota Kupang selama 12 tahun.  Dari perspektif mutu tentu ini kesempatan yang baik. Oleh karena sekolah-sekolah dimaksud akan diintervensi baik pada aspek manajemen & kepemimpinan,  kurikulum & pembelajaran, ketenagan, pembiayaan, sarana prasarana, serta atmosfir akademiknya (budaya). Proses ini dapat juga dilihat sebagai trigger bagi sekolah-sekolah GMIT terutama bagi pihak penyelenggara (Yapenkris) untuk melakukan pembenahan secara mendasar baik pada aspek sistem, sebagaimana yang sudah terjadi (dari sentralisasi ke desentralisasi), serta dari segi manajemen. Sebab pasca penyerahan kembali setelah 12 tahun nanti, diharapkan sekolah-sekolah tersebut sudah harus mandiri dan berkualitas, dan memiliki brand image sehingga bisa menjadi sekolah rujukan bagi sekolah lain di GMIT. Harapan dimaksud hanya dapat terwujud apabila Yapenkris sebagai induk semang telah siap dengan manajemen yang baik pula.

  1. Permasalahan Pendidikan Kristen

Sekalipun sejarah pendidikan Kristen di NTT telah berkembang 3 abad lamanya, namun diakui bahwa pendidikan Kristen belum menjadi rujukan dan simbol mutu. Bahkan pada wilayah tertentu, sekolah Kristen masih dipersepsikan minor. Salah satu faktor yang ikut memberi andil terhadap rendahnya mutu pendidikan tersebut adalah kesemberautan manajemen. Kalaupun ada sekolah Kristen yang punya nama itu merupakan hasil usaha dari individu-individu bukan dibangun atas semangat kolektivitas. Padahal pendidikan Kristen di NTT merupakan milik publik (komunitas Kristen), yang memiliki modal persekutuan, ekonomi, politik, dan budaya.

Permasalahan pendidikan Kristen di NTT secara umum sama dengan sekolah-sekolah umum lainnya, yakni terkait dengan kualitas guru (rasio guru: siswa, mismatch guru, distribusi guru, sertifikasi, kualifikasi, kompetensi) yang masih timpang. Di samping itu praktek manajemen dan kepemimpinan sekolah serta sarana prasarana juga belum menunjukkan kondisi yang memadai. Secara khusus, sekolah-sekolah Kristen belum memperlihatkan nilai plus, mark, yang membedakannya  dengan sekolah-sekolah lain.

Salah satu permasalahan yang penting untuk didekati yakni menyangkut manajemen. Manajemen berkaitan dengan pengelolaan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan pendidikan kristen. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% kualitas output pendidikan dipengaruhi oleh kualitas manajemennya. Dengan perkataan lain, sekolah dengan manajemen terbaik akan berkontribusi  80% terhadap kualitas lulusannya.

  1. Kiat Mengembangkan Pendidikan Kristen (Pendekatan Manajemen)

Para ahli manajemen pendidikan telah menulis begitu banyak metode dan teknik untuk meningkatkan mutu, kurang lebih terdapat 20 teknik mutu yang dapat digunakan. Mulai dari teknik yang sederhana dan mudah dilakukan karena langkah-langkahnya sederhana sampai teknik dengan langkah-langkah yang lebih panjang. Intinya bagaimana mutu pendidikan bisa ditingkatkan. Salah satu teknik yang dapat digunakan, yakni teknik Total Quality Management (TQM) atau manajemen mutu terpadu (MMT).

  1. Konsep TQM

Total Quality Management (TQM) adalah suatu pendekatan yang dikembangkan oleh W. Edwards Deming terhadap manajemen. Pendekatan ini diperkenalkan ke dalam industri Jepang di tahun 1950 dengan banyak keberhasilan. Implementasi TQM di Barat selama tahun 1980-an tidak pernah cukup efektif. Pendekatan ini digunakan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk jasa, manusia, proses dan lingkungannya.[3] TQM merupakan teknik manajemen yang menfokuskan pada upaya peningkatan mutu pada seluruh aspek organisasi pendidikan secara terus menerus, sehingga menghasilkan kualitas pendidikan yang memenuhi standar dan memuaskan pelanggan[4]. Mutu adalah the totality of features and characteristic of product service that bear on its ability to satisfy stated or implied needs (Kotler, 2003): Keseluruhan gambaran dan karakteristik barang dan jasa yang menunjukkan kemampuannya untuk memenuhi kepuasan dan kebutuhan.

  • Prinsip-prinsip TQM

Kepuasan pelanggan: menyangkut rasa senang, lega, atau kecewa pelanggan. Kepuasan para pelanggan (masyarakat dan siswa) menjadi ukuran kualitas layanan pendidikan.

Respek terhadap setiap orang; setiap orang memiliki permasalahan, kebutuhan dan aspirasi dengan tingkatan yang bervariasi sehingga manajemen diharapkan bersedia mendengar dan menghargai sebagai bagian yang penting dalam organisasi.

Manajemen berbasis data; Pengelolaan sumber daya pendidikan tidak mengikuti selera manajer atau keinginan mayoritas anggota, akan tetapi perlu didasarkan pada data (Data base, information based, dan knowledge based).

Perbaikan terus menerus: Perubahan tidak mungkin berlangsung secara cepat dan dalam skala yang besar sekaligus. Oleh karena itu dalam manajemen mutu diperlukan perbaikan-perbaikan/peningkatan sedikit demi sedikit (Kaizen) dan terus menerus.

Perubahan kultur; “Culture change is not only about changing the behavior of staff. It also requires a change in the way in which institutions are managed and led” (Sallis, 1993)Penegasan Sallis dalam hubungan dengan perubahan kultur menyangkut keseluruhan sistem organisasi. Karena itu perubahan kultur bukanlah hal yang mudah, sebab ia menyangkut keseluruhan aspek yang merepresentasikan identitas dari organisasi tersebut. Perubahan yang teramat sukar adalah perubahan dalam hal kultur.

4.2. Implementasi TQM dalam pengelolaan pendidikan Kristen

Prinsip-prinsip TQM dapat diterapkan dalam pengelolaan pendidikan Kristen di GMIT. Berbagai komponen pendidikan yang semestinya dijaminkan kualitasnya perlu  ditata. Diharapkan pengelolaan terhadap komponen pendidikan dapat berjalan dengan baik, dalam arti memenuhi standar dan memuaskan pelanggan. Perlu dilakukan perbaikan secara terus menerus untuk memenuhi standar mutu. Pengambilan keputusan bukan atas dasar suara terbanyak, apalagi kehendak pemimpin semata, tetapi berdasarkan pada data, informasi, dan pengetahuan yang akurat. TQM juga menghendaki perubahan kultur. Di Indonesia perubahan kultur organisasi sebagai bukti perubahan karakteristik, bahkan kultur yang mau dituju masih dalam bayang-bayang fatamorgana. Ini tidak saja dialami di daerah tetapi juga di tingkat pusat. Kultur sebagaimana dimaksud dalam tulisan ini dapat dirumuskan dari nilai-nilai yang diajarkan Kristus sebagaimana terdapat pada Kitab Suci kita, Alkitab. Alkitab berfungsi sebagai cahaya yang menerangi setiap sudut aktivitas pendidikan. Pada titik inilah kita akan menemukan ciri pembeda, antara pendidikan Kristen dengan pendidikan pada umumnya. Kalau Pemerintah Indonesia menetapkan delapan Standar Nasional Pendidikan, maka Pendidikan Kristen bisa menambahkan satu standar yang lain, misalnya Budaya Kristen.  Menggunakan rumus SNP+X= Standar Nasional Pendidikan  tambah “X”, yang menunjuk kepada keunggulan (ciri khas).

Bagan berikut ini dapat memberi gambaran awal tentang pentingnya TQM dalam meningkatkan mutu pendidikan Kristen.

  1. Catatan Akhir

Menghadirkan pendidikan yang berkualitas memang bukan urusan satu atau dua tahun. Butuh proses! Diharapkan proses yang sudah sedang berjalan tidak boleh berhenti di tengah jalan hanya karena pengelolaannya yang sporadis, terpotong-potong, dan tidak sustainable. Pengelolaan yang tidak sustainable, seringkali disebabkan oleh soal-soal organisasi, seperti persoalan kepemimpinan. Justru kepemimpinan pada berbagai aras di  GMIT harus menjadi guidance untuk mengubah Visi GMIT di bidang pendidikan menjadi kenyataan. Dengan begitu pendidikan sebagai alat pelayanan gereja dapat dikembangkan kualitasnya dan manusia yang mengalami proses pendidikan tersebut dapat memuliakan Allah. God Bless Us.

*Tulisan ini dimuat dalam Majalah Berita GMIT edisi Agustus-September 2016

[1]     Dosen FKIP Universitas Tribuana Kalabahi & Ketua Divisi Pengembangan SDM YayasanBonet Pinggupir (Penyelenggara Sekolah Multikultural TK-SD Cermin Kalabahi, Alor).

[1]    Darmaningtyas. 2006. Pendidikan di NTT: Potret Tantangan dan Arah Solusinya. Majalah Lembaga Penelitian Smeru No. 20: Oktober-Desember Hal: 33-36. dalam Manafe, 2012. Sekolah kristen naungan Yupenkris: Sejarah Keberadaannya Di Nusa Tenggara Timur (NTT).

[2]    Ibid

[3]    Sashkin Marshall & Kiser J. Kenneth (1993). Putting total quality management to work. San Francisco: Berrett-Kohler Publisher.

[4]    Sallis Edward (1993). Total quality management in education, London: Kogan Page Limited Publisher.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *