Menuntut dan Dituntut – Amsal 20 : 1-30

Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada orang yang tidak punya kelebihan, tidak ada orang yang begitu sempurna sehingga tidak memiliki kekurangan. Seberapapun luar biasa dan mulianya seseorang namun kalau kita menengok lebih jauh ke dalam hidupnya maka kita akan menemukan juga begitu banyak kekurangan. Begitu pula sebaliknya. Yang menjadi persoalan untuk masing-masing kita secara pribadi menyangkut kelebihan dan kekurangan adalah yang mana yang lebih banyak atau lebih dominan? Kelebihan atau kekurangan.

Menuntut dan dituntut, kelebihan dan kekurangan dalam kehidupan rumah tangga kadang kala menjadi biang ketidakbahagiaan dan kehancuran dalam keluarga. Sekarang adalah bulan keluarga maka saya mengajak kita untuk membicarakan tentang salah satu hal yang dapat menjadi penyebab kehancuran banyak rumah tangga yakni menuntut dan dituntut kekurangan dan kelebihan.

 

Kekasih-kekasih Tuhan….

Amsal tidak mendorong manusia untuk jadi sempurna dengan melakukan melakukan A atau B. Firman Tuhan di sini menasehati bahwa perilaku yang kurang baik atau salah mendorong manusia pada keadaan rugi sendiri.

Mulai dari ayat pertama, tentang orang yang suka minuman keras, itu tidak bijak. Bukan orang lain yang dirugikan namun dirinya sendiri karena akan membuatnya menjadi pencemooh dan tukang ribut. Disini kita dituntut untuk menghindarinya supaya hidup kita menjadi sempurna. Sikap hidup yang tidak sempurna hanya akan mendatangkan hukuman raja. Sementara orang yang suka menuntut dan berbantah adalah orang yang bodoh. Ia akan jatuh di dalam amarah dan itu mencelakakan dirinya.

Ayat-ayat selanjutnya memberikan gambaran nilai tentang bagaimana memiliki hidup yang sempurna. Yakni haruslah rajin, bukan saja mengumpulkan makanan pada saat ini tapi juga menabungnya sebagai simpanan untuk hari esok. Orang juga mesti pandai, baik hati, setia, kelakukan mesti baik dan seterusnya.

Pada ayat 6,7,9 dan seterusnya, untuk semua nilai kebaikan, orang tidak dapat menilai atau mengukur dirinya sendiri. Lagipula itu tidak perlu. Cukup berlaku setia dan benar. Ini penting karena terkadang kita terlalu terfokus untuk melakukan baik hanya supaya orang nilai kita baik. padahal seberapapun baiknya kelakuan dan kasih yang kita lakukan, tidak akan pernah memuaskan semua orang. Seberapun engkau baik, belum tentu semua orang menilai engkau baik. bahkan zaman sekarang, yang ada di atas angin adalah orang-orang yang jahat. Kejahatan manusia semakin menjadi. Yang jahat yang akan dipuji dan dipuja. Sementara mereka yang benar-benar baik dan setia akan dicemooh oleh orang jahat. Namanya akan diburukkan orang lain. Maka berhentilah menilai diri baik dan berhentilah mengharapkan orang lain menilai kita baik. Lakukan segalanya untuk Tuhan yang nilai. Bekerjalah, melayanilah untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.

Pada akhirnya bukan mereka yang dipuja oleh manusia lalu mereka yang boleh dikelompokkan sebagai orang yang baik. Bukan mereka yang berlimpah harta yang dikelompokkan sebagai orang yang diberkati. Mereka mungkin punya segalanya hari ini, tapi bisa jadi keturunan mereka tidak dberkati Tuhan. Berkat Tuhan bukan soal kekayaan dan jabatan. Berkat Tuhan dapat dilihat dari keturunan yakni anak-anak yang diberkati dengan keberhasilan (ayat 11)

Pengertian ini seharusnya membuat kita tidak cepat-cepat menilai orang lain. Jangan sampai orang sakit lalu kita bilang dia dikutuk Tuhan dan orang sehat adalah orang yang diberkati Tuhan sebab bisa jadi sakit adalah berkat sebab sakit memungkinkan kita menjadi lebih dekat dan bergantung kepada Tuhan. Sementara sehat dapat membuat kita tidak punya kesempatan menengadah ke sorga dan bergantung pada Tuhan. Itulah sebabnya Amsal mengingatkan kita untuk jangan cepat-cepat menilai dan biarkan Tuhan yang menilai. Amsal memakai penggambaran raja yang dapat menilai (ayat 8 dan 26).

 

Kekasih-kekasih Tuhan……

Kembali pada pemahaman iman bahwa semua kita manusia yang punya kekurangan dan kelebihan, punya iman dan dosa, maka yang diminta Tuhan dari kita sebenarnya bukan untuk menjadi super sempurna tanpa kekurangan dan tanpa sedikitpun cela dan dosa. Yang Tuhan mau dari kita adalah semakin hari semakin baik. Tuhan menginginkan kita selalu berjalan di dalam proses berubah dari hari ke hari.

Untuk melengkapi pemahaman ini, saya mengutip Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Panggilan ini menegaskan bahwa perubahan menjadi lebih baik terjadi di dalam proses. Memang kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia yang penuh dosa namun perbuahan itu terjadi di dalam panggilan untuk “berubahkan oleh pembaharuan budimu”. Berubah di sini tidak terjadi dalam sekejab mata. Budi yang berubah dapat digambarkan seperti fisik yang berubah. Waktu, gaya hidup dapat merubah keadaan fisik. Waktu membuat rambut dulu hitam sekarang menjadi putih. Membuat kulit dulu mulus sekarang keriput. Kalau berubah mendadak justru membingungkan dan aneh.

Tuhan tidak akan meninggalkan kita dalam proses berubah. Ia yang akan menolong kita dengan rupa-rupa hal yang memungkinkan setiap orang berubah menjadi lebih baik. Pada akhirnya semua tuntutan Tuhan untuk berubah melalui sikap dan perbuatan yang sederhana seperti yang digambarkan dalam Amsal 20, akan dapat dilakukan apabila orang mampu untuk membedakan apa yang menjadi kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kemampuan untuk membedakan apa yang menjadi kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna adalah hikmat yang diberikan oleh Allah sendiri. Hikmat yang didapatkan dari Allah melalui proses dibentuk Allah dan keinginan dari setiap orang untuk berubah.

Pengalaman para abdi Allah yang melayani Allah, bercerita bahwa Allah tidak memilih manusia sempurna sejak semula untuk melayani-Nya. Allah memakai mereka yang semula penuh dengan kelemahan dan dosa namun mau memberi diri untuk diubahkan Allah dari hari ke hari. Dan Allah akan menolong mereka yang mau berubah. Akhirnya tanpa orang itu sadari, ia telah berubah menjadi lebih baik dan lebih sempurna serta layak untuk melayani Allah.

Manusia dengan kekuatan sendiri tidak akan menjadi sempurna untuk melakukan semua tuntutan dari Allah, sesederhana apapun tuntutan itu. Akan tetapi manusia yang hidup di dalam berserah supaya dibentuk dan diubah oleh Allah akan ditemukan telah menjadi manusia yang luar biasa sempurna.

Banyak orang yang semula hidup di dalam dosa dan benar-benar jahat kelakukannya tapi kemudian ia menjadi pemberita Injil yang dipakai Allah untuk melakukan pekerjaan yang besar. Itu terjadi karena orang mau memberi diri untuk diubah oleh Allah. Sementara banyak orang yang sejak semula sudah jadi Kristen dan hidup dalam keluarga Kristen namun kita tidak berubah sama sekali. Orang bilang dari dolu sampe sekarang sama saa.

Mereka yang bisa diubahkan Tuhan adalah mereka yang menerima diri punya kelebihan dan kekurangan dan mengakui bahwa dirinya jahat dan penuh dosa lalu memberi diri untuk dibentuk dan diubahkan oleh Tuhan. Jadi pilihan ada pada kita. Berhentilah menilai diri sudah sempurna dan biarkan Tuhan menolong kita. Amin.

Oleh Pdt. Leny H.F. Mansopu

Leave a Reply

Your email address will not be published.