METODE TANAM “LINGKARAN PISANG” DARI PATER PIET

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Ia disapa Pater Piet. Lengkapnya, Pieter Sa’u, SVD. Ia mendedikasikan 23 tahun hidupnya berkecimpung di dunia pendidikan dengan menjadi guru sekolah menengah.  “Bosan” terkurung di ruang kelas, ia banting stir menjadi petani sekaligus imam Katolik yang bersahaja.

“Basic saya guru. Setelah 23 tahun menjadi kepala sekolah non stop, saya kembali menjadi petani 10 tahun lalu dan mungkin sampai mati. Saya tidak mau lagi terkurung di ruang kelas,” tuturnya.

Pada September yang lalu, rohaniawan  asal kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) ini diundang sebagai pembicara  dalam sebuah lokakarya teologi inklusiv bertema “Menjalin Relasi Menguatkan Jaringan Mengatasi Kekeringan” yang diselenggarakan oleh UPP Teologi Majelis Sinode (MS) GMIT di Oetalus, klasis TTU.

Kehadirannya dalam lokakarya ini penting oleh karena pengalaman belajarnya di enam negara terkait pertanian lahan kering. Pengalaman itulah yang kemudian ia kembangkan di Timor menjadi model yang ia sebut ‘banana cyrcle” (lingkaran pisang).

“Saya belajar pertanian lahan kering di enam negara. Terakhir di California dan Australia. Sudah enam tahun saya coba dan berhasil. Pisang-pisang yang biasanya hanya 5-6 sisir, dengan metode benana cyrcle bisa mencapai 11-12 sisir,” kisahnya kepada belasan pendeta yang ia ajak untuk melihat secara langsung model benana cyrcle di kebun biara.

Berkeliling kebun biara yang dirawat dan dikelola Pater Piet, kita akan dikejutkan dengan bermacam-macam tanaman buah dengan ukuran buah yang tidak lazim. Selain pisang dengan tandan-tandan panjang tapi juga tanaman avokad dengan rangkai buah yang sangat lebat sebagai hasil dari metode tanam “lingkaran pisang”.

Bagaimana cara pembuatan “benana cyrcle”? Secara sederhana benana cyrcle merupakan lubang untuk menampung sampah organik. Agar cepat terurai, lubang ini dialiri dengan air sisa limbah rumah tangga (air bekas mandi, cuci piring, dll). Cara pembuatannya sebagai berikut:

Galilah sebuah lubang dengan diameter satu sampai 3 meter, tergantung kebutuhan. Pada pinggir lubang taruhlah dengan daun-daun kering setinggi setengah meter atau lebih dan tutuplah dengan tanah setinggi setengah meter. Di atas tumpukan tanah itu taruh lagi dengan daun-daun hijau setinggi setengah meter, lantas tutup lagi dengan tanah. Dengan cara yang sama secara berturut-turut taruh lagi dengan dedak padi, jerami, pupuk kandang, daun kering dan terakhir tutup lagi dengan tanah. Sebisa mungkin lebar tumpukan material selebar satu meter.

Di atas tanah itu, tanamilah dengan pisang melingkari lubang. Jika kemudian muncul tunas pisang di bagian luar dan dalam, gali dan pindahkan. Sisakan saja tunas yang muncul di samping kiri atau kanan. Selain pisang tanamilah dengan sayur-sayuran. Sedangkan lubang besar diisi dengan sampah-sampah organik sebanyak-banyaknya hingga rata.

Dengan menggunakan metode tanam lingkaran pisang, kata mantan kepala sekolah yang suka mamah sirih pinang ini, bisa menyediakan makanan untuk satu keluarga sepanjang tahun.

“Hanya dengan satu lingkaran pisang satu keluarga bisa hidup.  Dengan cara ini tidak butuh lahan besar untuk bertanam. Cukup satu lubang saja, aneka sayur dan buah bisa panen sepanjang tahun,” katanya.

Menurut Pater Piet, satu lubang benana cyrcle bisa menyuplai pupuk selama  belasan tahun. Bahkan tanaman lain dalam radius 100-200 meter bisa juga mendapat pupuk dari lubang yang telah menjadi gudang pupuk ini.

Dengan metode “lingkaran pisang” Pater Piet mengingatkan para petani agar tidak boleh membakar sampah organik.

“Isilah lubang dengan segala macam daun baik kering maupun hijau. Pupuk kandang apa saja, ayam, kambing, sapi, semua-muanya. Dan, tolong jangan pernah membakar bumi sebab bakar bumi berarti bakar Tuhan, bakar diri sendiri. Cukup sudah leluhur kita dengan budaya bakar saat buka ladang dan kebun. Sekarang, daun apapun jangan coba-coba dibakar lagi,” pesannya.

Bagi yang memiliki lahan sempit sekaligus hendak memanfaatkan air limbah bekas mandi, cuci dsb.-nya, metode “lingkaran pisang” ini bisa jadi alternatif. Selain ramah lingkungan metode ini juga bisa meningkatkan gizi keluarga.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *