Mewariskan Iman Bagi Keluarga (Kejadian 24: 1-9)

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Dewasa ini anak-anak remaja dan pemuda cenderung punya dunianya di luar rumah. Mereka lebih akrab dengan teman-teman sebaya, atau teman-teman sepermainan. Mereka menemukan dunia yang menyenangkan ketika bersama teman-temannya di luar sana. Atau kalaupun mereka betah di dalam rumah, mereka akan sibuk dengan teknologi: TV, Internet, gadget: game atau media sosial lainnya. Melalui game atau dunia maya, mereka menemukan ruang ekspresi diri yang menyenangkan hati.

Pdt. Gusti Menoh, M.Hum

Akibatnya sering kali anak-anak terasing dengan orang-orang dalam rumah: dengan ayah, ibu, dan saudara-saudaranya sendiri.  Percaya atau tidak, mari kita cek anak-anak kita. Masih berapa banyak anak-anak remaja dan pemuda yang masih mau curhat ke orang tua soal masalah sekolah, pendidikan, relasi, atau percintaannya? Ketika mereka menghadapi masalah, umumnya mereka lari kepada teman-teman atau pada hal-hal di luar rumah dari pada bercerita kepada ayah dan ibu. Atau mereka akan mengungkapkan persoalannya melalui dunia maya. Anak-anak seolah lepas dari orang tua. Bahkan dalam hal pasangan hidup, orang tua menyerahkan kepada anak-anak, karena mereka menemukan sendiri melalui pergaulan di luar.

Apa yang terjadi dewasa ini berbeda dengan zaman dulu. Dulu, relasi orang tua dan anak-anak sangat kuat. Anak-anak bergantung penuh pada orang tua, karena dalam segala hal orang tua mengurusi kehidupan anaknya hingga mereka berumah tangga. Sebaliknya, orang tua pun bertanggung jawab penuh pada anak-anak dalam seluruh aspek kehidupannya, termasuk dalam hal penentuan jodoh anak-anak. Hal itu nampak dalam kehidupan keluarga Abraham. Dalam bacaan di atas, nampak kerinduan Abraham untuk mencarikan jodoh untuk anaknya, Ishak. Abraham ingin memastikan Ishak menemukan orang yang tepat sebagai pasangan hidup demi kelangsungan panggilannya sebagai bapa yang beriman. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Abraham bukan semata-mata soal tanggung jawab secara lahiriah, melainkan tanggung jawab iman juga.

Abraham tidak lupa akan panggilannya. Ia terikat janji dengan Allah, bahwa Allah akan senantiasa memberkatinya, dan di sisi lain, Abraham pun diharapkan menjadi bapak orang percaya bagi banyak bangsa. Karena itu, Abraham memastikan dirinya tetap berada dalam janji Allah. Itulah sebabnya ketika ia sudah tua, ia ingin anaknya, Ishak menikah dengan perempuan yang baik hati. Abraham minta kepada pembantunya yang paling senior dan berkuasa untuk mengambil seorang perempuan dari bangsanya (ay. 4).

Pertanyaannya, mengapa Abraham tidak mengambil perempuan dari Kanaan, tempat mereka berdiam bagi Ishak? Sebagaimana diketahui, bangsa Kanaan masih sangat kuat menyembah berhala.  Karena itu Abraham tidak ingin Ishak mengawini perempuan yang menyembah ilah lain. Abraham ingin keturunannya tetap berada di jalan Tuhan, yakni percaya kepada Allah. Abraham kuatir kalau Ishak beristerikan seorang perempuan yang tidak mengenal Allah, jangan sampai Ishak terpengaruh dengan ilah lain dan meninggalkan Allah nenek moyangnya. Itulah sebabnya Abraham memilih bagi Ishak seorang perempuan dari kaum keluarganya, sehingga mudah membangun rumah tangga yang percaya kepada Allah.

Apa yang dilakukan Abaraham merupakan kehendak Tuhan sehingga Tuhan juga menuntun Eliezer (hamba Abraham) dalam menemukan Ribka, calon isteri Ishak. Sebab awalnya Eliezer ingin membawa serta Ishak, tetapi Abraham menahannya karena Abraham percaya bahwa malaikat Tuhan akan menyertai pembantunya itu (ay.7). Dan dalam ayat-ayat selanjutnya dikisahkan bahwa ternyata Tuhan sendiri mempertemukan pembantu Abraham itu dengan Ribka, sehingga ia membawa pulang Ribka kepada Ishak. Kerinduan Abraham akhirnya terkabul. Tuhan menyertai Eliezer sehingga Ishak mengawini perempuan yang tepat.

Beberapa hal dapat kita pelajari dari bacaan ini. Pertama, setiap orang tua (ayah dan ibu) harus sungguh-sungguh menjadi orang percaya. Mereka harus hidup dalam Tuhan dan menjadi teladan iman bagi anak-anak. Bapak/ibu harus setia dalam ketaatan iman kepada Allah, hidup dalam takut akan Tuhan, dan memimpin seisi rumah untuk datang kepada Allah. Seorang ayah/ibu berkewajiban memastikan keluarga dan keturunannya hidup dalam Tuhan. Kalau mereka memberi teladan iman bagi anak-anak, hal itu akan menjadi warisan yang sangat berharga bagi mereka.

Kedua, orang tua harus membangun kedekatan/keakraban dengan anak-anak. Orang tua harus meluangkan cukup waktu bersama dengan anak-anak setiap hari, agar anak-anak tidak lari ke tempat lain atau menghabiskan waktu di dunia maya. Setiap orang tua wajib mengasihi anak-anak dan seluruh keturunannya dan menunjukkan kasih sayang mereka secara konkret setiap saat sehingga anak-anak pun merasa nyaman bersama mereka. Bila itu terjadi, anak-anak pun tidak sungkan melibatkan orang tua dalam urusan-urusan pribadi sekali pun, termasuk dalam pemilihan pasangan hidup. Orang tua akan dimintai pendapatnya tentang calon pasangan hidup yang ideal. Ini tidak berarti orang tua harus melarang anaknya bergaul dan berpacaran dengan orang yang tidak seiman, tetapi kalau anak-anak sudah berakar dalam imannya, dan mereka dekat dengan orang tua, maka mereka akan setia dengan imannya, dan mau mendengar arahkan orang tua dalam situasi yang membingungkan mereka ketika diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit.

Ketiga, orang tua harus bertanggungjawab atas seluruh kehidupan anak-anak, baik kebutuhan ekonomi, pendidikan, maupun iman anak-anaknya. Tanggung jawab iman ditunjukkan dengan memastikan anak-anak tumbuh di dalam Tuhan. Untuk memudahkan mereka supaya tetap beriman kepada Kristus, orang tua harus mendidik anak-anak sejak kecil untuk mengenal Yesus, mengajari mereka untuk berdoa, membaca alkitab, dan menghadiri ibadah. Ketika ini dilakukan orang tua pada anak-anak, sesungguhnya orang tua sudah meninggalkan warisan iman bagi mereka.

Warisan iman itu sangat penting, karena itu yang akan menentukan generasi kita. Kisah berikut menjadi contoh. Dalam bukunya You and Your Family, Tim La Haye memberikan diagram silsilah dua orang yang hidup pada abad 18. Yang pertama adalah Max Jukes, seorang penyelundup alkohol yang tidak bermoral. Yang kedua adalah Jonathan Edwards, seorang Pendeta yang saleh dan pengkhotbah kebangunan Rohani. Edward menikah dengan seorang wanita yang mempunyai iman dan karakter diri yang baik. Melalui silsilah kedua orang itu diketahui bahwa dari Max Jukes terdapat 1.026 keturunan: 300 orang mati muda, 100 orang dipenjara, 190 orang pelacur, 100 orang peminum berat. Dari Edwards terdapat 729 keturunan: 300 pengkhotbah, 65 profesor di universitas, 13 orang penulis, 3 orang pejabat pemerintah, dan seorang wakil Presiden Amerika.

Kisah ini menunjukkan bahwa bila suatu keluarga mengasuh anak-anaknya dalam iman kepada Tuhan, maka keturunan mereka pun akan menjadi orang yang baik dan benar. Keturunan Edwards adalah orang-orang baik dan berhasil, karena mereka tumbuh dalam keluarga yang saleh, terdidik, terhormat. Sebaliknya, keturunan Jukes banyak mengalami masalah, karena anak-anaknya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak mengenal Allah dan nilai-nilai kebenaran.  Dengan kata lain, adalah tanggung jawab setiap orang tua untuk memastikan generasinya tetap berada di dalam iman kepada Tuhan melalui pola asuh dan pendidikan iman yang sungguh-sungguh kepada anak-anaknya. Warisan iman lebih berharga dari segala kekayaan, karena iman itu yang akan membuat keluarga dan generasi kita tetap menjadi orang-orang yang baik dan benar, manusia gambar Allah. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.