Natal, Roh Tuhan Ada Padaku – Yesaya 61 : 1 – 11

Oleh : Pdt. Daniel Nenot’Ek

Saudara-saudara seiman yang dikasihi Tuhan,

Natal sudah tiba. Sebagai peringatan, kita merayakan kesediaan Allah menjadi manusia didalam Kristus Tuhan yang dikandung dan dilahirkan oleh anak dara Maria. Ia datang ke dunia dan tinggal didalam kita, supaya kitapun tinggal didalam Dia. Menurut kesaksian nabi Yesaya, tinggalnya Tuhan didalam kita berupa Roh-Nya. Roh Tuhan ada pada-Ku (ayat 1). Dan tidak seorangpun yang tidak punya Roh Tuhan. Tapi mengapa perilaku orang beriman yang punya Roh Tuhan, justru membuat orang lain terbelenggu dan terpenjara didalam diri sendiri? Sebab ada orang beriman yang mengaku menerima Tuhan dan punya Roh Tuhan. Tetapi Roh Tuhan yang ada padanya hanya sebagai koleksi. Roh Tuhan sebagai harta yang sangat berharga,   hanya di simpan dan tidak boleh disentuh apalagi di manfaatkan. Yang dimanfaatkan oleg orang beriman dalam berelasi, berkarya dan mengabdi, lebih banyak rohnya sendiri, bukan Roh Tuhan. Akibatnya bukan khabar baik yang disampaikan melainkan khabar buruk.

Mereka yang sebelumnya ada dalam suasana sukacita dan damai sejahtera, menjadi orang-orang sengsara dan remuk hati, menjadi orang-orang tertawan dan yang terkurung, karena ulah orang yang punya Roh Tuhan, tapi Roh Tuhan hanya disimpan, karena yang digunakan adalah roh mereka sendiri. Padahal tanggung jawab orang beriman yang punya Roh Tuhan, bukan membawa khabar buruk, melainkan khabar baik kepada orang-orang sengsara, merawat orang-orang yang remuk hati, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kelepasan kepada orang-orang yang terkurung.

Natal yang kita rayakan, mengandung makna dan pesan tersendiri bagi semua umat beriman yang merayakannya. Pertama, dengan merayakan natal, kita diminta untuk tidak menjadikan Roh Tuhan yang ada pada kita hanya sekedar koleksi. Tapi hendaknya Roh Tuhan yang ada pada kita, digunakan seoptimal mungkin dalam kita berelasi, berkarya, mengabdi dan melayani bersama orang lain. Sambil terus berupaya mengendalikan desakan-desakan keinginan dari roh kita sendiri. Disini kita perlu mengambil keputusan pribadi. Dan keputusan untuk memulai suatu langkah hidup yang baru, bukan tanpa hambatan dan tantangan.

Hambatan dan tatangan yang akan kita hadapi, datangnya dari orang-orang dekat kita, yang dengan mereka dihari-hari hidup yang telah berlalu, kita bersama dalam kebiasaan lama yang kita jalani berdasarkan desakan keinginan roh kita sendiri. Tiba-tiba kita ambil sikap untuk sendiri memulai suatu hidup yang baru dalam bimbingan Roh Tuhan yang ada pada kita, pasti kita akan dicemooh dan diolok-olok. Tapi bila kita bertekad untuk memulai suatu hidup baru, tekad kita itu tidak akan sia-sia. Sama seperti kisah berikut ini : kisah tentang perjuangan tunas bakung. Satu tunas bakung, menyembul keluar disebuah tebing yang curam. Melihat tunas bakung yang muda itu, pohon-poho di hutan menertawakan dia; rerumputan mengejak dia; dan hewan liar menyuruhnya menghentikan niatnya untuk bertumbuh. Tetapi tunas bakung yang muda yang baru bertumbuh itu, tidak peduli dengan ejekan dan hambatan yang ia hadapi. Ia tetap memantapkan niatnya untuk bertumbuh menjadi bunga yang indah. Ia menyerap sinar matahari, dan air yang cukup dari dalam tanah, untuk pertumbuhannya dan demi terwujudnya impian, menjadi bunga bakung yang indah menawan.

Melihat ketetapan hatinya itu, pohon-pohon dihutan, rerumputan, dan hewan liar kembali melemahkan semangatnya. Sudahlah, sekalipun keinginanmu tercapai, yaitu menjadi bunga yang indah, tetapi tak seorangpun yang akan datang menyaksikan keindahanmu. Sebab tumbuhmu ditebing yang curam. Namun si tunas bakung yang muda ini, hatinya tak tergoyahkan dengan kata-kata ini. Ia hanya merindukan satu hal yang harus ia kejar dan raih dalam pertumbuhannya, yaitu: memancarkan keindahan yang menawan hati banyak pihak. Waktu terus berjalan, sampai tak terasa, sudah tiga bulan dan bunga bakung ini sudah semakin tinggi, sambil mulai memperlihatkan beberapa kuncup bunga. Pohon-pohon di hutan, rerumputan dan hewan liar, masih saja meragukan eksistensi si bunga bakung ini. Tetapi seminggu kemudian, kuncup-kuncup itu mekar, dan memperlihatkan keindahan sambil menebarkan keharumannya sebagai bunga bakung. Kini, pohon-pohon di hutan, rerumputan, dan hewan liar, diam seribu bahasa. Si bunga bakung terus berkembang dan semakin banyak, sehingga mulai menutupi sebagian besar tebing. Warna putih kini menggantikan rerumputan yang tumbuh ditebing yang sama. Tampaknya rerumputan hanya memiliki sedikit keinginan untuk bertumbuh, sehingga dengan mudah dikalahkan oleh bunga bakung yang memiliki tekad dan keinginan yang kuat, untuk bertumbuh dan memancarkan keindahannya sebagai bunga bakung.

Tidak lama kemudian, tebing yang tadinya tidak menarik, kini seluruh tebing itu ditutupi bunga-bunga bakung yang indah, bagaikan permadani putih yang terhampar. Orang-orang dari berbagai penjuru, mulai berdatangan untuk menyaksikan indahnya tebing yang ditutupi bunga bakung. Pohon-pohon di hutan, rerumputan dan hewan liar, terus tersipu malu dan diam membisu.

Bila ada keinginan berubah untuk bertumbuh dalam iman menurut bimbingan Roh Tuhan, yakinlah bahwa keinginan itu akan terwujud. Mendengar kata-kata sinis dan cemoohan dari sesama saudara seiman, bisa melemahkan tekad untuk bertumbuh. Tetapi tekad dan keinginan yang baik itu, bukan tanpa dasar dan pegangan. Bila tekad yang baik itu diletakan dalam iman percaya kepada Tuhan, oleh bimbingan Roh-Nya, mimpi itu bukan sesuatu yang mustahil untuk menjadi kenyataan. Sehingga pada waktunya, hidup yang baru, akan menjadi seperti bunga bakung yang indah, yang terhampar bagaikan permadani putih yang menutupi tebing-tebing terjal pada jalan hidup masyarakat dunia, yang tidak indah.

Kedua, natal yang kita rayakan mengandaikan kalau keindahan hidup yang ditampilkan atas bimbingan Roh Tuhan tidak untuk kepentingan diri. Peri kehidupan yang sudah menjadi khabar baik punya kekuatan besar untuk mengubahkan kehidupan mereka yang terbelenggu; dan punya daya tarik untuk mengubahkan kehidupan mereka yang tertindih, akan terangkat kembali, dan menjadi seperti yang diibaratkan dalam ayat tiga bagian terakhir; “supaya orang menyebut mereka pohon tarbantin kebenaran, tanaman Tuhan untuk memperlihatkan keagungan-Nya”. Kalau langit menceritakan kemuliaan Allah; cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya dan kehidupan mereka yang tertindih kembali menjadi seperti pohon tarbantin kebenaran, tanaman Tuhan untuk memperlihatkan keagungan-Nya, ini semua mengandung makna bahwa Firman Tuhan memiliki pesan yang bernuansa cinta lingkungan hidup. Nuansa cinta lingkungan hidup, cukup kuat disuarakan Alkitab. Supaya hendaknya sebagai umat beriman yang merayakan natal, satu tugas penting yang patut dikerjakan adalah menjaga dan memelihara lingkungan hidup. Sebab lingkungan hidup punya kekuatan menceritakan kemuliaan Allah; dan daya pikat untuk memperlihatkan keagungan Tuhan. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpancar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai keujung bumi.  Selamat natal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *