Pasca Sarjana UKAW Adakan Sekolah Perdamaian II

Dari kiri ke kanan: Pdt. Dr. Fredrik Doeka, Prof. Olaf Schumann, Dr. Paula Steenbrink, Pdt. Dr. Mery Kolimon dan Prof. Karel Steenbrink

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Memperkuat relasi antar iman dikalangan akademisi muda, Program Pasca Sarjana Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW)-Kupang, menggelar Sekolah Perdamaian Angkatan II. Kegiatan ini menghadirkan dua prefesor emeritus dari Universitas Hamburg-Jerman yakni Prof. Dr. Olaf Schumann dan Prof. Dr. Karel A. Steenbrink, guru besar emiritus Universitas Utrecht, Belanda.   

Pdt. Dr. Fredrik Doeka, Direktur PPs UKAW mengatakan kegiatan ini bertujuan para peserta pemuda lintas iman saling bertukar pengalaman melalui dialog lintas iman dan saling menerima kelebihan dan kekuarangan satu sama lain, saling belajar dan bekerja sama dan kemudian saling mendorong untuk mempelajari kearifan lokal dan mendedikasikan diri sebagai agen perdamaian dalam pembangunan kerukunan hidup.

Kegiatan yang bertema “Berbeda Tetapi Bisa Hidup Bersama Dengan Damai” ini dibagi dalam dua sesi yakni kunjungan lapangan dan seminar yang berlangsung di Aula Pps UKAW. Rabu pagi (17/10), peserta secara berturut-turut mengunjungi komunitas agama suku Boti di Amanuban Selatan, Gereja GMIT Maranatha Soe, Gereja Katolik Soe, Mesjid Raya Soe dan Pura Soe.

Peserta Sekolah Perdamaian Angkatan II mengikuti seminar di UKAW-Kupang.

Gubernur NTT, Victor Laiskodat dalam sambutannya, mengapresiasi kegiatan ini seraya meminta para peserta agar melalui kunjungan ke Boti maupun sesi seminar ini, dapat menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah mengenai konsep resolusi damai baik dari perspektif agama suku maupun enam agama-agama modern.

Selanjutnya Gubernur NTT juga menegaskan bahwa di tengah pluralisme agama dan suku di Indonesia, tidak boleh ada ada konsep mayoritas-minoritas.

“Saya marah kalau ada yang bilang kami ini adalah minoritas. Minoritas itu hanya ada pada mereka yang otaknya kecil. Orang-orang yang tidak berdaya. Sebagai manusia Indonesia kehadiran kita mesti memberi sumbangsih bagi bangsa ini tidak peduli apa latar belakangnya,” kata Laiskodat.

Para pembicara dan topik materi dalam kegiatan ini terdiri dari: Prof. Dr. Olaf Schumann, “Teologi Agama-Agama sebagai Wahana Kerukunan dan Perdamaian”; Prof. Dr. Karel A. Steenbrink, “Jejak Radikalisme dan Terorisme dari Eropa, Timur Tengah dan Asia Tenggara”; Viktor B. Laiskodat, M.Si, “Paradigma Kerukunan Indonesia”; Dr. Moch. Nur Ichwan, M.A. (Wakil Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta), “Makin Berbudaya, Makin Beriman Perspektif Islam”; Dr. Philipus Tulle, SVD (Rektor UNIKA Widya Mandira Kupang), “Makin Berbudaya, Makin Beriman Perspektif Katolik”; dan Pdt. Dr. Mery L. Y. Kolimon, (Ketua Majelis Sinode GMIT), “Makin Berbudaya, Makin Beriman Perspektif GMIT”.

Sekolah Perdamaian Angkatan II ini dilaksanakan atas kerja sama PPs UKAW dengan Pemerintah Propinsi NTT, Pps UII Yogyakarta, PPs STFK Ledalero, PPs Unika Widya Mandira Kupang, Universitas San Pedro dan Hiskkia. ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *