Paulus Ditangkap di Yerusalem – Kisah Rasul 21:1-14

Tubuh kita diciptakan dengan naluri untuk menghindari bahaya. Kalau jari kita tersentuh benda panas, tangan akan secara otomatis ditarik dari sumber panas itu. Agabus memperingatkan Paulus akan nasib buruk yang bakal dia alami saat tiba Yerusalem. Saudara-saudara Kristen di Kaisarea mendesak Paulus untuk membatalkan perjalanan ke sana, tetapi Paulus tetap memutuskan pergi ke Yerusalem.

Bukankah ini sebuah keputusan yang konyol? Apa sebabnya Paulus mengabaikan nubuat Agabus tadi? Hal yang sama terjadi juga pada Yesus. Jauh hari sebelum kematian di Salib, Ia telah mengetahui hal itu. Tetapi Yesus tetap saja berkeras untuk pergi ke Yerusalem pada perayaan paskah. Mengapa, kedua tokoh penting dalam kekristen melakukan hal ini?

Kitab-kitab Injil menceritakan kisah pelayanan Yesus di Galilea selama lebih kurang tiga tahun sejak Yesus dibaptis Yohanes di Jordan. Galilea menjadi basis. Selama itu tiga kali Yesus pergi ke Yerusalem pada musim perayaan paskah. Kisah keempat kitab Injil tentang masa pelayanan Yesus di Galilea bervariasi. Mereka menampilkan episode pelayanan yng berbeda menurut minat masing-masing penulis. Tetapi menjelang saat-saat terakhir kehidupan Yesus, yakni pada perjalanan Yesus ke Yerusalem untuk kali ketiga keempat kitab Injil itu memberi kesaksian yang relatif sama. Perbedaan dalam hal tekanan memang ada, tetapi para penulis kitab Injil sepakat mengenai rangkaian kejadian yang dialami Yesus pada masa akhir pelayananNya.

Memperhatikan kesamaan dan perbedaan ini, para ahli PB menyimpulkan bahwa Matius, Markus, Lukas dan Yohanes sebenarnya berisi kisah penderitaan dan kematian Yesus, yang diperluas ke kebelakang oleh tiap-tiap penulis. Pokok yang hendak diceritakan adalah penderitaan Yesus di Yerusalem. Pelayanan di Galilea sebenarnya adalah pengantar yang ditambahkan kemudian.

Dalam kisah tentang Yesus, para penulis kitab Injil menonjolkan satu dimensi dari kehidupan kristen yang mereka rumuskan dalam kalimat mengikut Yesus. Matius, Markus, Lukas dan Yohanes menunjukkan dengan jelas bahwa kepada orang-orang tertentu yang Yesus jumpai dalam perjalanan  pelayananNya, Yesus mengucapkan perintah berikut: ”Ikutlah Aku!” menjadi murid Yesus artinya mengikut Yesus. Kitab Injil Lukas secara khusus menekankan hal yang satu ini. Itu terjadi waktu Yesus berjumpa dengan Petrus dan Matius (Lk. 5). Ia meminta Petrus dan Matius meninggalkan pekerjaan dan usaha masing-masing untuk mengkuti Dia.

Ikutlah Aku! Kata yang diucapkan Yesus ini sangat berwibawa dan penuh kuasa. Petrus, begitu juga Matius yang sudah memiliki pekerjaan yang tetap sebagai sumber penghasilan serta merta mengikuti Yesus.

Panggilan Yesus tadi, oleh orang kristen masa kini dianggap masih tetap berlaku. Kalau kita membaca kisah hidup beberapa orang yang memutuskan menjadi kristen, mereka dengan jujur berkata bahwa mereka mengalami perjumpaan dengan Yesus. Dan kata-kata penuh wibawa dan kuasa yang diucapkan Yesus kepada Petrus dan Matius lebih dari dua ribu tahun yang lalu, diucapkan sekali lagi oleh Yesus kepada mereka.

Ikutlah Aku! Ini juga kata-kata yang memotivasi Paulus yang sebelumnya bernama Saulus untuk melakukan reorientasi hidupnya secara luar biasa. Memang dalam perjumpaan Paulus dan Yesus di jalan ke Damsyik, Yesus tidak secara langsung mengatakan kepada Paulus kalimat tadi: ”Ikutlah Aku.” Yesus justru bertanya kepada Paulus: ”Apa sebabnya engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9).

Sebelum pengalaman di jalan ke Damsyik, Paulus melawan (menganiaya Yesus). Dia tidak berjalan di belakang atau mengikut Yesus. Ia berseberangan bahkan menantang Yesus. Pertanyaan Yesus kepada Paulus di jalan ke Damsyik: ”Mengapa engkau menganiaya Aku!” dipahami Paulus sebagai panggilan kepadanya supaya tidak lagi mengambil jalan yang bersebarangan dengan Yesus tetapi mengikut Yesus.

Mengikut Yesus. Itulah keputusan yang dibuat Paulus sejak perjumpaan yang dramatis dengan Yesus yang dia alami di jalan ke Damsyik. Sejak saat itu, Paulus secara konsekwen mempersembahkan hidupnya untuk komitmen yang satu itu: mengikut Yesus. Hidup kekristen yang sejati juga bisa kita ringkas dalam kalimat yang satu ini: mengikut Yesus.

Pertanyaan yang muncul ialah: ”Apa artinya mengikut Yesus seperti yang dipahami Paulus?” Kitab Kisah Para Rasul ditulis untuk maksud memperlihatkan apa artinya mengikut Yesus. Kehidupan Paulus dijadikan contoh untuk maksud itu.

Paulus mengikut Yesus. Yesus melewatkan sebagian besar masa pelayanan di Galilea. Ini wilayah orang-orang kafir atau tempat tinggal orang yang berjalan dalam kegelapan (Yes. 9:1). Tiga kali Yesus datang ke Yerusalem untuk merayakan paskah. Tiga tahun Dia bekerja di Galilea untuk memberitakan paskah kepada mereka yang berjalan dalam kegelapan.

Pekerjaan pekabaran injil Paulus juga serupa dengan itu. Tiga kali dia melakukan perjalan penginjilan. Markasnya ada di Yerusalem. Dia datang ke Yerusalem untuk memperkuat komitmen penginjilan atau untuk mempertanggung jawabkan pekerjaannya kepada para rasul lainnya.

Ini juga harus jadi model pelayanan gereja dan org kristen saat ini. Kemuridan kristen harus kita tunjukan di Galilea kita masing-masing, yakni di tempat kerja. Tetapi kita tidak boleh lupa datang bertemu Tuhan di Yerusalem, yakni dalam ibadah minggu. Kita akan mengalami kekeringan dan disorientasi tugas apabila kita menjauhkan diri dari pertemuan ibadah jemaat. Cerita tentang Thomas adalah contoh yang ditunjukan Alkitab untuk kita cermati secara serius.

Paulus mengikut Yesus.Yesus sudah mengetahui nasib apa yang bakal dialami di Yerusalem pada kunjunganNya yang ketiga. Di sana Ia akan ditangkap dan dihakimi secara sewenang-wenang serta dijatuhi hukuman mati. Yesus tidak mengindari perjalanan ke Yerusalem itu.

Waktu Paulus tiba di Kaisarea dalam perjalanannya untuk kali ketika ke Yerusalem, datang seorang bernama Agabus. Ia memperingatkan Paulus tentang nasib buruk yang akan dialaminya di Yerusalem. Di sana ia akan ditangkap oleh pemimpin agama Yahudi dan diperlakukan kasar atau disiksa. Saudara-saudara kristen di Kaesarea mendesak Paulus untuk membatalkan perjalanan ke Yerusalem. Tetapi Paulus berkeras pada pendiriannya semula.

Sudah tahu bahaya yang menanti di Yerusalem, Paulus berkeras untuk pergi juga ke sana. Menurut pertimbangan umum, ini sikap yang konyol atau terlalu PD (percaya diri). Bukankah peringatan itu bisa merupakan pentunjuk dari Tuhan untuk membatalkan kepergian ke Yerusalem? Tapi mengapa Yesus dan Paulus mengabaikan petunjuk itu?

Dikisahkan bahwa Petrus pernah melarikan diri dari kota Roma karena penganiayaan yang dilakukan terhadap para pengikut Kristus dalam masa pemerintahan Nero. Petrus mendengar nasehat para tokoh kristen. Dia pergi pagi-pagi sekali dari kota Roma melalui jalan Apia.

Ketika matahari terbit, Petrus melihat seseorang berjalan mendekatinya. Orang itu datang dari arah matahari terbit. Jalannya sangat terburu-buru, sepertinya ia ingin cepat-cepat tiba di Roma. Pada saat berpapasan, Petrus mengajukan pertanyaan kepadanya: ”Quo Vadis Domine?” Mau ke mana Tuhan.

Petrus sangat terkejut mendengar jawabannya: ”Mau ke kota Roma, karena umatku di sana sekarang tanpa gembala. Orang yang kepadaNya kupercayakan untuk menggembalakan umatku, sedang pergi dari Roma untuk menyelamatkan diri.”

Segera Petrus menjatuhkan diri ke tanah di atas lututnya di hadapan orang asing itu. Dia berkata: ”Tuhan! Biarlah aku saja yang kembali ke Roma.” Petrus lalu berbalik ke Roma. Dia mati di sana bersama-sama dengan banyak orang kristen lain. Kepada orang-orang yang menyalibkannya, Petrus minta untuk disalibkan dengan kepala di bawah dan kaki di atas karena merasa tidak layak digantung dengan cara yang sama seperti Tuhannya.

Paulus tetap melakukan perjalanan ke Yerusalem, betapapun dia tahu di sana dia akan mengalami kesulitan, bahkan bisa dibunuh oleh para pemimpin agama yang marah. Ia tahu bahwa mengikut Kristus mengandung di dalamnya kesediaan untuk menanggung banyak kesulitan. Bukankah Yesus sendiri mengatakan: ”Barangsiapa tidak menyangkal diri dan memikul salib, ia tidak layak menjadi pengikut?”

Mengatakan ini saya ingat seorang teolog Jepang, Kitamori. Ia berbicara tentang kasih yang bersumber dari penderitaan. Kasih yang sejati nampak pada masa-masa kesulitan, penderitaan dan kepahitan. Seorang suami yang mengaku mencintai istri dan anak-anaknya, tetapi tidak siap untuk menjalani hidup bersama mereka pada saat kesulitan, tidak rela berkorban waktu atau tenaga untuk istri dan anak-anaknya, maka kata-kata cinta yang diungkapkannya ibarat menanam tebu di bibir. Cinta kasih yang sejati bersumber dari pengalaman penderitaan.

”Ikutlah Aku!” Demikian kata Yesus kepada Petrus, Matius dan Paulus. Betapa indahnya panggilan itu. Petrus, Matius dan Paulus segera meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus. Kidung Jemaat 370 menggambarkan keindahan itu dalalam kalimat: ”Berjalan melewati lembah berbunga dan berair sejuk.” Betapa kita rugi besar kalau tidak menjawab panggilan itu atau kalau kita berhenti dan menyimpang di tengah jalan. Paulus menyadari kerugian itu.

Tetapi, apakah hanya itu….? Benarkah mengikut Yesus artinya selalu lewat lembah berbunga dan berair sejuk? Ternyata, di jalan mengikut Yesus ada juga lembah bayang-bayang maut yang harus kita lalui. Dalam kesempatan perenungan di masa-masa pra paskah, beberapa pemuda di jemaat saya berkata: ”Pak pendeta, Kami rasa mengikut Yesus itu terlalu sulit. Tetapi kalau mati untuk Yesus, kami sekarang siap.”

Paulus tidak takut melewati lembah bayang-bayang maut demi tetap setia dalam mengikut Yesus. Ia siap menderita, bahkan mau mati bagi Yesus. Mengapa? Dalam Roma 6: 3-5 Paulus katakan bahwa hanya mereka yang siap untuk menderita dan mati bersama-sama Kristus mereka itulah yang akan ikut bangkit dan memerintah bersama Dia di dalam kemuliaan. Amin.

Saudara-saudara. Kita bukan orang-orang malang kalau di jalan mengikut Yesus kita melewati lembah bayang-bayang maut. Sebab, hanya dengan melewati lembah bayang-bayang itulah, kita akan dibangkitkan bersama Yesus. Amin. (Pdt. Dr. Eben Nuban Timo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *