PDT. DR. ANDREAS YEWANGOE: “SAMPAI KUCING BERTANDUK KITA TIDAK MAJU”

GMIT GELAR PASTORAL POLITIK BAGI PASLON WALIKOTA KUPANG

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Sebagai salah satu kekuatan sipil masyarakat, gereja mempunyai tanggungjawab politik terhadap kesejahteraan umat. Misi gereja di bidang politik termasuk didalamnya membekali setiap anggota gereja yang terjun dalam dunia politik. Itulah yang dilakukan Gereja Masehi Inijili di Timor terkait pilkada kota Kupang kepada Pasangan Calon (Paslon) walikota Kupang Paket Sahabat dan Firmanmu yang di gelar di jemaat GMIT Maranatha Oebufu, Senin 16/1-2017. Pastoral politik tersebut di dahului dengan penggembalaan oleh tim pastoral politik MS GMIT dan ditutup dengan ibadah pengutusan yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Junus Inabuy.

Pdt. Dr. Andreas Yewangoe, mantan ketua umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dalam nasehat pastoralnya kepada kedua paslon menyoroti beberapa prinsip kepemimpinan kristen yakni: Pertama, seorang kristen dan menjalankan kepemimpinan kristen. Kedua, seorang kristen tetapi tidak menjalankn prinsip kepemimpinan kristen. Ketiga, seorang yang bukan kristen tapi menjalankan prinsip-prinsip kristen. Di Indonesia ada banyak orang seperti ini. Artinya ia menjalankan kepemimpinan tidak atas dasar suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Dan keempat, orang bukan kristen dan tidak menjalankan prinsip-prinsip kristen.

Terkait tipe-tipe kepemimpinan tersebut, menurut Pdt. Yewangoe, masyarakat harus terus dididik untuk memilih pemimpin tidak lagi atas dasar SARA. Ini penyakit yang masih ada di Indonsia dimana orang memilih pemimpin karena dia satu agama atau satu suku/etnis. “Kita, kata Yewangoe, sudah 71  tahun merdeka dan mestinya masyakarat kita sudah dewasa dan harus keluar dari perangkap-perangkap ini. Kalau tidak, sampai kucing bertanduk pun kita tidak maju-maju. Dan kita akan kembali ke itu-itu juga setiap 5 tahun dan berputar-putar terus di situ. Kita harus berani keluar dari situ.”

Sementara dalam hubungan dengan upaya meraih dan mengelola kekuasaan politik yang menjadi tujuan dari percaturan politik, Pdt. Yewangoe mengajukan dua istilah kuasa dalam Perjanjian Baru (PB) yaitu, eksousia dan dunamis. Eksousia adalah sebuah kuasa yang mencharge, kuasa yang diberikan. Misalnya, terpilih menjadi walikota itu adalah eksousia. Tapi itu saja tidak cukup menurut PB. Itu harus diperlengkapi dengan dunamis/dinamit yaitu kemampuan untuk mengangkat daya orang lain. Jadi bukan hanya dari atas tapi juga dari bawah. Ini kuasa menurut pemahaman PB. Dan seringkali kita hanya menekankan eksousia, kita lupa kepada dunamis yang justru memberdayakan dan membuat orang menjadi mempunyai harga diri. Karna itu, tidak bisa hanya mengandalkan program-program dari atas tapi harus di baca apa persis yang diharapkan oleh masyakat yang kita pimpin.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.