PELATIHAN PENDETA GMIT SUKA TANI

KUPANG, www.sinodegmit.or.id  Berawal dari keprihatinan akan kemiskinan di satu pihak dan luasnya lahan-lahan tidur di berbagai wilayah pelayanan GMIT di NTT, perkumpulan para pendeta GMIT yang menamakan diri “Komunitas Pendeta GMIT Suka Tani”,  menyelenggarakan pelatihan tanaman holtikultura.  Kegiatan yang bertujuan memperluas jaringan dan berbagi pengalaman bertani ini berlangsung selama 3 hari di Sekolah Lapangan Nekamese sejak Kamis, 27/04-2017 dengan melibatkan 50 orang peserta.

Tak tanggung-tanggung panitia yang diketuai Pdt. Jefri Watileo dan sekretaris Pdt. Markus Leonupun menghadirkan 7 orang nara sumber handal yakni, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon, Ir. Zet Malelak dari Fakultas Pertanian UKAW, Dirut BPR TLM, Robert Fanggidae, Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi NTT, Viktor Abola dan Dirjen Pengembangan Kawasan Pedesaan Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Yosua Markus Joltuwu, Ketua Komisi V DPR RI, Ir. Fary Francis dan Direktur Yayasan Alfa Omega Pdt. David Fina. Tiga nara sumber pertama mendapat kesempatan pada hari pertama dan dua orang berikutnya mengisi hari kedua dan dua terakhir mengisi hari ketiga.

Kegiatan diawali dengan ibadah pembukan yang dipimpin Pdt. Samuel Pandie. Mengacu pada kisah Zakheus dalam Lukas 19, Pdt. Sem, panggilan akrabnya, mengemukakan bahwa gerakan kasih yang memberdayakan senantiasa membuat orang tiba pada komitmen untuk mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Itulah yang dilakukan Yesus. Untuk menyelamatkan sebuah kota dari gurita ekonomi yang dikuasai kaum kapital, Yesus menerima Zakheus, si pegawai pajak. Pertobatan Zakheus berdampak luas. Kesediaannya untuk mengembalikan uang kepada rakyat kecil, membuat perekonomian kota Yerikho dan sekitarnya kembali menggeliat.  Belajar dari gerakan kasih Yesus ini, diharapkan pendeta dapat memberi spirit bagi jemaat untuk memulai gerakan perubahan yang dapat meningkatkan ekonomi jemaat.

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Mery Kolimon, dalam sambutannya  mengapresiasi kegiatan yang diinisasi para pendeta muda ini. Di tengah arus berpikir separuh orang terutama anak muda  NTT bahwa menjadi petani adalah kabar buruk, ia berharap gerakan ini bisa menjadi spirit bersama di GMIT. “Kalau anak-anak di Timor ditanya cita-citanya tidak pernah ada yang menjawab mau menjadi petani. Mereka lebih suka jadi pendeta, guru, perawat, dst,” kata Pdt. Mery.  Sebagai “gerakan dari pinggir” yang dipelopori pendeta-pendeta yang melayani di kampung, Ketua Majelis Sinode GMIT mengharapkan dapat mengubah cara pandang negatif tentang teologi tanah di benak anak-anak NTT namun Pdt. Mery Kolimon juga mewanti-wanti agar para pendeta tidak terjebak pada usaha memberdayakan diri sendiri. “Kita mesti jujur memeriksa motivasi kita bertani. Jangan sampai jemaat susah-payah tapi para pendeta punya rekening gendut. Kita sudah ada gaji pokok, sudah ada tunjangan karena itu, mari kita memberi diri untuk membangun ekonomi jemaat,”himbau Pdt. Mery.

Pada kesempatan yang sama Ir. Zet Malelak yang membawa materi “Merubah Pola Pikir Bertani Holtikultura” mengulas kesenjangan antara kerusakan lingkungan, ketersediaan pangan  dan pertumbuhan penduduk NTT. Menurut pengajar pada Fakultas pertanian UKAW ditengah pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan ketersediaan pangan yang kian menurun maka pendeta harus berada pada posisi menggerakkan sumber daya pangan dan menekan ledakan penduduk.

Dengan nada bicaranya yang  suka nyeleneh tapi kritis, Pak Zet mengoreksi cara berpikir orang kebanyakan yang sering keliru mengenai fungsi produksi. Menurutnya, ada 4 fungsi produksi yang banyak kali disalahpahami yakni: tanah yang tidak diolah dengan benar, tenaga kerja yang terbatas pengetahuan dan pengalaman, bibit lokal yang yang hasilnya tidak seberapa dan air hujan yang disalahartikan. “Dalam fungsi produksi tanaman tidak  butuh air hujan. Tanaman butuh air, bukan hujan. Lalu kenapa kita tanam di musim hujan? Semua orang tanam tunggu hujan. Pendeta juga mau tanam doa minta hujan. Ini salah pikir. Tanaman butuh air, tidak butuh hujan. Tapi anehnya kita di NTT bahkan seluruh Indonesia menetapkan tanam pada musim hujan. Bagaimana kalau tidak ada hujan?” Tanya Pak Zet yang disambut tawa peserta.

Pada kesempatan berikutnya, Dirut BPR-TLM, Robert Fanggidae meyakinkan peserta bahwa BPR-TLM siap mendukung “Gerakan Pendeta Suka Tani”. Dukungan itu dalam bentuk memperluas jaringan, modal dan membuka pasar. Tiga hal ini bisa dilakukan asal ada jaminan standar produk dan kepastian ketersediaan produk.

Pada sesi tanggapan Ketua Majelis Sinode GMIT berharap ditengah potret buram pertanian di NTT,  “Gerakan Pendeta GMIT Suka Tani” memberi harapan kepada para petani bahwa pertanian bisa diandalkan dalam meningkatkan ekonomi jemaat.***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *