Pemahaman Alkitab, Minggu, 14 April 2019: Matius 27: 27-31

Diolok dan Direndahkan Untuk Kemuliaan

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Penulis Matius 27:27-31 menceriterakan tentang Yesus yang dicela atau dibully dalam 7 tahapan yang sangat detail dibanding penulis Markus dan Yohanes. Tentu Matius bertujuan memperlihatkan bahwa melalui Yesus, nubuat para Nabi dalam Perjanjian Lama telah terpenuhi. Dengan jalan ini, Matius memperlengkapi orang-orang Kristen untuk melakukan pembelaan terhadap orang-orang Yahudi yang menolak Yesus sebagai Mesias.

Pdt. Dina Dethan-Penpada, M.Th. (Sekbid. Pengembangan personil MS-GMIT)

Pasal 27:27-31 merupakan kelanjutan dari keputusan Pilatus untuk menjatuhi hukuman mati kepada Yesus. Yesus telah diserahkan kepada para tentara Romawi untuk disalibkan.Padahal jika merujuk pada hukum Romawi yang dibuat oleh Senat Romawi di zaman Tiberius, maka setelah dijatuhi hukuman mati, seharusnya Yesus diberi waktu 10 hari untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian-Nya. Tetapi hukum itu tidak diberlakukan bagi Yesus. Justru, Yesus segera dibawa oleh serdadu-serdadu wali negeri ke gedung pengadilan.

Matthew Henry mengatakan bahwa Yesus dibawa dan diolok-olok oleh tentara Romawi di gedung pengadilan, atau rumah/istana Pontius Pilatus. Tempat di mana seharusnya orang-orang yang ditindas dilindungi, justru menjadi tempat terjadinya kebiadaban. Mungkin Pontius Pilatus tidak memerintahkan, tetapi dengan membiarkan hal ini terjadi, jelas ia harus dipersalahkan.

Di sana para serdadu memanggil seluruh pasukan berkumpul, yaitu para tentara yang akan menghadiri pelaksanaan hukuman (keseluruhannya berjumlah satu resimen atau lima ratus orang).

William Barckley mengatakan bahwa para tentara yang membawa Yesus ke gedung pengadilan bukanlah orang-orang yang mengenal Yesus. Mereka datang dari berbagai tempat, dan karena itu mereka memuaskan diri dengan kelakar yang kasar dan menyiksa-Nya dalam ketidaktahuan.

Menurut seorang penafsir Perjanjian Baru R.E.Nixon dalam buku Matthew, New Bible Commentary, kurang lebih ada 8 episode penghinaan yang dilakukan terhadap Yesus. Penulis Injil Matius melukiskan bagaimana Yesus mengalami siksaan yang berat dan siksaan itu itu merupakan perpaduan antara penderitaan fisik dan mental yang sangat kejam.

Pertama: Mereka menanggalkan pakaian-Nya (ay.28a) atau ditelanjangi. Saat itu Ia tidak berkata apapun ketika mereka menanggalkan pakainnya. Meskipun Ia sungguh-sungguh dipermalukan. Calvin mengatakan: dosa itu memalukan karena menyingkap ketelanjangan (Kej. 3:7). Sebagai seorang Yahudi dengan aturan yang ketat soal berpakaian, tindakan melucuti pakaian Yesus di depan umum sungguh merupakan suatu penghinaan luar biasa. Melucuti jubah dan pakaian Yesus sehingga hanya meninggalkan pakaian dalam yang dikenakan-Nya, di depan mata bangsa-Nya sendiri, adalah suatu perlakuan yang amat memalukan. Namun menurut Calvin, Oleh karena oleh dosa, kita dibuat jadi telanjang, dan mempermalukan kita. Anak Allah dilepaskan pakaian-Nya untuk memberi tahu kita bahwa oleh ketelanjangan-Nya, kita telah mendapatkan kehormatan di hadapan Allah. Allah menetapkan bahwa Anak-Nya sendiri harus ditelanjangi, supaya kita, dipakaiani dengan kebenaran-Nya dan dengan hal-hal baik yang berlimpah-limpah, bisa tampil dengan keberanian, padahal sebelumnya karena dosa kita begitu menjijikkan dan memalukan. Manusia memilih untuk berbuat dosa, Yesus memilih untuk menjadi tumbal dari perbuatan dosa manusia itu.

Kedua: mengenakan jubah ungu kepada-Nya (ay. 28b). Jubah ungu itu agak kemerah-merahan seperti yang dipakai oleh tentara Romawi, untuk meniru jubah ungu yang biasa dipakai oleh para raja dan penguasamenjadi suatu pemandangan yang kontradiktif dengan penampilan Yesus sebagai seorang pesakitan sehingga kesan penghinaan semakin nyata.

Ketiga: Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya (ay. 29). Hal ini dilakukan untuk meneruskan ejekan mereka terhadap-Nya, yaitu sebagai raja jadi-jadian. Pengenaan mahkota duri tidak hanya bermaksud mencerca-Nya, tetapi juga untuk menyakiti-Nya dengan cara menancapkan mahkkota duri itu di kepala-Nya.

Keempat: Mereka memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya, seakan-akan itu adalah tongkat Kerajaan-Nya. Ini juga merupakan cemoohan mereka terhadap kebesaran-Nya (ay.29).

Kelima: Mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olok Dia, katanya: “Salam, hai raja orang Yahudi!” Setelah mendandani-Nya seperti raja dengan maksud untuk mencemooh-Nya, mereka lalu berpura-pura menghormati-Nya, dan dengan begitu mengolok-olok kedaulatan-Nya.

Keenam: Mereka meludahi-Nya. Perlakuan ini sudah terjadi sebelumnya, sewaktu berada di rumah Imam Besar (26:67). Meludahi orang lain adalah sebuah penghinaan paling rendah. Di kalangan orang Yahudi, jika seorang meludahi wajah anaknya, maka ia akan dikucilkan selama 7 hari. Yesus diludahi oleh para tentara, tetapi Ia tidak berkata apa-apa, karena Dia menanggung apa yang seharusnya kita terima. Ia bisa saja menghidari perlakuan keji itu dan membalasnya seperti yang dikatakan oleh Calvin, ketika Ia menyelamatkan diriNya sendiri, Ia tidak akan menyelamatkan kita.

Ketujuh: mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.

Benda yang tadi mereka jadikan sebagai alat untuk melecehkan keagungan-Nya, kini mereka pakai untuk melampiaskan kekejaman mereka dengan menyakiti Dia. Besar kemungkinan mereka memukuli mahkota duri di kepala-Nya, supaya tertancap, sehingga luka-Nya bertambah dalam, sebab mereka semakin bersukacita saat melihat kesakitan-Nya bertambah. Begitulah Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan. Dia menanggung semua penderitaan dan penghinaan ini supaya dapat membeli kemuliaan, sukacita, dan kehidupan yang kekal bagi kita.

Kedelapan: menanggalkan jubah ungu yang tadi dipakaikan dan mengenakan kembali pakainNya. Di episode terakhir sebelum mereka membawa-Nya ke tempat penyaliban. Sesudah mengolok-olok dan menyiksa Dia semau mereka, mereka kemudian menanggalkan jubah itu dari pada-Nya, untuk menandakan bahwa kini mereka melucuti segala wewenang seorang raja yang telah mereka berikan kepada-Nya sewaktu mereka memakaikan jubah itu pada tubuh-Nya. Lalu, mereka mengenakan kembali pakaian-Nya kepada-Nya, karena jubah itu akan menjadi bagian para tentara yang akan menjalankan pelaksanaan hukuman. Mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan. Dia seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian, sebagai korban sembelihan di atas mezbah. Kita bisa membayangkan bagaimana mereka menggiring dan menyeret-Nya sepanjang jalan. Dan di ayat-ayat selanjutnya Yesus masih terus diolok-olok dan dihina.

Beberapa pokok Aplikasi untuk didiskusikan:

Pertama: Gedung Pengadilan tempat Yesus dolok-olok seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang disakiti dan dianiaya, tetapi sebaliknya menjadi tempat Yesus mengalami ketidakadilan. Matthew Henry mengatakan mereka yang mempunyai kekuasaan akan bertanggung jawab, bukan hanya untuk kejahatan yang mereka lakukan, atau tetapkan, tetapi juga untuk kejahatan yang tidak mereka cegah, padahal itu ada dalam kuasa mereka.

Pertanyaan bagi kita: Apakah di gereja atau di rumah-rumah kita, termasuk rumah bersama kita, menjadi tempat dimana semua anggota-anggotanya merasakan kenyamanan dan keadilan?

Kedua:Para tentara tidak begitu mengenal Yesus dan tidak memahami duduk persoalan yang sebenarnya, tetapi melakukannya karena desakan atau opini orang banyak/publik. Bagaimana dengan keputusan-keputusan kita, pernyataan-pernyataan kita, apakah kita melakukan sesuatu atau mengambil keputusan terhadap masalah masalah tertentu karena tekanan masa,atau pengaruh orang-orang yang berkuasa ataukah kita cukup memahami tentang orang, atau masalah yang dihadapi? Ataukah hanya informasi sepihak, atau hanya sekedar memuaskan keinginan banyak orang?

Kekuatan massa untuk mempengaruhi opini publik sangat terasa.. Kekuatan-kekuatan itu dapat berwujud dalam berbagai cara: Mungkin saja melalui kekuatan masa, media-media publik, seperti TV, Media social. Mungkin saja kita tidak begitu mengenal seseorang dengan baik atau persoalan tertentu, tetapi karena pengaruh masa sehingga kita terseret atau ikut arus untuk ambil bahagian seolah-olah kita sangat paham.

Ketiga:Yesus mengambil bagian dalam penderitaan manusia secara luarbiasa bukan dengan cara melawan penderitaan itu, tetapi mengidentifikasikan diri sebagai sebagai yang paling hina (rela diolok-olok sampai kehilangan harga/harga diri ada pada titik terendah). Tetapi Ia bersolidaritas bersama manusia dan berjalan bersama-sama melampaui penghinaan itu. Bagaimana sikap kita menghadapi penderitaan karena dihina atau difitnah? Bagaimana kita mendampingi mereka yang mengalami penderitaan karena difitnah atau direndahkan?

Keempat: Menghadapi Pemilu Presiden dan Wapres, serta Pemilu Legislatif, masing-masing figur akan berusaha menjadi yang terbaik, dan sedapat mungkin merendahkan pihak lain dengan cara yang tidak santun, bahkan kejam. Bagaimana kita bersikap? ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.