PENDETA BERTANI, EKONOMI JEMAAT BERSERI

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Tatkala kebanyakan orang termasuk  sejumlah pendeta memakai media sosial untuk selfi dan memuat status yang tidak karu-karuan, ia memanfaatkan waktu luangnya untuk bertani dan menjual produk pertaniannya lewat facebook. Bersama anggota jemaatnya ia menanam aneka sayuran dan buah, mulai dari tomat, terung, buncis, wortel, kacang panjang, peria, bawang, brokoli, kentang, melon, semangka dan tak lupa cabe yang kini harganya melangit. Dari tahun ke tahun  berton-ton aneka sayur hasil kerja keras mereka dipasarkan.

Pdt. Markus Leonupun, demikian nama lengkapnya. Umurnya baru  menginjak 35 tahun. Ia mengaku hobi bertani berawal dari dorongan istrinya Desrianti Rohi Djami, yang berlatar belakang sarjana pertanian.

Ditempatkan di jemaat Imanuel Ruteng tahun 2013 menjadi awal mula ia belajar bertani. Dengan menggandeng kelompok tani jemaat dan juga individu, mereka  menanam bermacam sayuran sebagaimana disebut di atas. Kerja keras mereka tidak sia-sia. Hasilnya lumayan. Tak tanggung-tanggung keuntungan yang diperoleh mencapai 50-60 juta rupiah.

DARI KOTOR KE KANTOR

Tahun 2016, Pdt. Markus Leonupun dimutasikan dari jemaat Imanuel Ruteng-Flores ke Yayasan Tanaoba Lais Manekat-Kupang. Kebiasaan bergelut kotor tanah kini beralih ke kantor megah di belakang meja. Namun, peralihan itu tidak menyurutkan niatnya bertani meski bekerja di kota. Melihat lahan kebun tetangga di Nasipanaf-Penfui yang hanya ditanami jagung pada musim hujan, ia mengajak 4 orang tetangganya untuk bertanam sayur. Dengan modal 5 juta rupiah, mereka memulai usaha bertani.

Di tengah derasnya hujan, Kamis, 2 Pebruari 2017 kami menyambangi kebun sayur Pak Pdt. Markus. Di kiri-kanan jalan tampak kebun-kebun warga ditanami jagung. Tak satu pun yang menanami kebunnya dengan sayur-mayur. Memang begitulah kebiasaan para petani di desa-desa di NTT. Mereka percaya bahwa musim hujan bukan waktu yang tepat untuk menanam sayuran. Banyak yang takut sayuran diserang hama ulat yang banyak berkembang biak pada musim hujan. Ada juga yang khawatir air hujan yang berlebihan akan merusak dan mematikan sayuran.

Cara pandang petani desa yang tradisional bertolak-belakang dengan pengalaman Pdt. Leonupun. Pengalaman itu yang meyakinkannya menanam aneka sayuran justru di musim hujan. Ia tentu paham hukum ekonomi: Persediaan sedikit harga melangit.

Memasuki kebun sayur, tampak ratusan pohon tomat sedang berbuah lebat. “Kalau tomat kami ada tanam  700 pohon. Satu atau dua hari sudah panen pertama,”jelas om Okto Lakat, pemilik lahan. “Di sebelahnya itu, buncis, ada  400 pohon.” Dahi saya mengernyit, mencoba menghitung-hitung dalam hati berapa laba yang di peroleh dari sayuran sebanyak ini.

Pdt. Markus membantu saya menghitung. “Harga tomat sekarang Rp. 15 ribu/kg. Satu pohon menghasilkan paling kurang 2 kg. Jadi, 700 pohon X 2 kg X 15.000 = Rp. 21.000.000,- (dua puluh satu juta rupiah). Itu kalau 2 kg/pohon, sedangkan kalau 1 pohon menghasilkan 4 kg, tinggal di kali 2.  Itu baru tomat. Belum buncis, peria, bawang, dan melon yang jumlahnya 700 pohon.” Saya menarik napas panjang mendengar jumlah rupiah yang akan masuk kantong mereka hanya dalam waktu relatif pendek, yakni 3-4 bulan menanam.

Diiringi rintik hujan, saya teringat lagu kidung jemaat 403: Hujan Berkat ‘kan Tercurah itulah janji Kudus. Saya pun pamit pulang, sambil mengantongi sekantung buah peria ole-ole dari pak Marko, sapaan sehari-hari Pdt. Markus Leonupun. Sepanjang perjalanan pulang ke kantor sinode, saya membayangkan, kalau seandainya saja ¼ dari 1.300 pendeta GMIT mencontoh apa yang telah dimulai Pdt. Markus Leonupun, perlahan namun pasti sekali waktu NTT akan mendapat predikat baru, entah apa namanya, yang pasti bukan lagi provinsi termiskin. Dan yang paling membanggakan adalah apabila Gereja yang memelopori hadirnya tanda-tanda perubahan itu ditengah masyarakat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *