PENGUSAHA TENUN IKAT DI KUPANG RAUP UNTUNG HINGGA 20 JUTA SELAMA BULAN BAHASA DAN BUDAYA GMIT

KUPANG, WWW.SINODEGMIT.OR.ID, Perayaan Bulan Bahasa dan Budaya Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) pada Mei 2017 ini tidak hanya menarik perhatian jemaat-jemaat di seluruh wilayah pelayanan GMIT tetapi juga mendongkrak pendapatan para pengrajin dan para penyedia layanan sewa/jual tenun ikat dan aksesoris adat NTT. Neng Djami (36) pemilik art shop “Seni ASA” (Anak Sabu Asli) di jalan Ir. Soekarno-Bonipoi mengaku selama bulan Mei usahanya meraup untung hingga 20 juta rupiah.

“Selama bulan Bahasa dan budaya kotong pung penghasilan meningkat dibanding bulan-bulan lain. Hampir semua aksesoris habis diserbu jemaat-jemaat yang butuh. Selain sewa ada juga yang beli. Kalau di sini yang beta ingat jemaat yang datang sewa dari Kisbaki, Penfui dan Airnona. Untuk penjualan dan sewa selama bulan Mei saja kotong punya keuntungan sekitar 20 juta rupiah,” ucap Neng.

Menurutnya, ditahun-tahun sebelumnya antara bulan Januari hingga Juli rata-rata usaha sewa jual tenun ikat sepi dari pelanggan lantaran di Januari orang baru selesai hari raya Natal dan tahun baru, sementara antara Februari-April orang memasuki minggu sengsara dan paskah. Di Bulan Juni-Juli orang mulai menabung untuk ongkos sekolah anak-anak jadi praktis agak sepi pengunjung tapi beruntung dengan GMIT memajukan bulan Bahasa dan Budaya dari Oktober ke Mei usahanya mengalami peningkatan yang signifikan.

Kotong bersyukur bulan Bahasa dan Budaya ditetapkan di bulan Mei sebab bulan Januari sampai April itu sepi pelanggan karena baru abis perayaan.  Tamu-tamu juga sonde datang. Tapi karena bulan bahasa dan budaya dimajukan ke bulan Mei, kotong kebanjiran order dan keuntangan besar buat kotong. Jadi bulan Mei ini sangat tepat. Dengan adanya permintaan yang banyak seperti ini, jadi pengalaman bagi kotong untuk tahun depan persiapan lebih banyak, ujarnya.

Neng, warga jemaat GMIT Syalom Airnona-Kupang yang sudah menggeluti usahanya selama 5 tahun ini juga mengaku seringkali meminjamkan secara gratis sejumlah perlengkapan busana adat kepada gereja-gereja untuk keperluan desain ruangan. Ia berharap tahun-tahun mendatang  bukan hanya petugas liturgi yang mengenakan busana adat tapi juga jemaat. Hal ini katanya ikut membantu promosi cinta budaya lokal pada generasi muda tapi juga meningkatkan ekonomi para penenun di desa-desa.***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.