Percaya Walau Tak Melihat (Yohanes 20:24-29)

Renungan Minggu, 15 April 2018 oleh Pdt. Dr. Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA

Pendahuluan: Sekarang ini banyak orang bahkan para teolog termasuk di Indonesia yang meragukan peristiwa kebangkitan Yesus. Ada yang mengatakan bahwa peristiwa kebangkitan Yesus hanyalah halusinasi para murid. Banyak teolog dan warga Kristen Indonesia yang akhir-akhir suka ikut-ikutan latah dan membelokan kebenaran Firman Tuhan dengan mengatakan bahwa peristiwa salib adalah “keinginan dan permintaan Setan” dan bukan dalam rencana penyelamatan Tuhan Allah; atau ada yang mengatakan Alkitab hanyalah cerita fiksi. Saya kira mereka tidak sekedar latah, tetapi mereka punya target dengan “sensasi” yang mereka ciptakan yaitu supaya menjadi tenar dan mau lebih terkenal dari pada para artis, seperti artis Tukul Arwana atau Dewi Persik, heheheh. Melalui cerita tentang peristiwa kebangkitan seperti yang diceritakan dalam Injil Yohanes 20:24-29 justru memberi keyakinan iman agar orang Kristen tidak akan pernah mundur dari imannya walaupun pun banyak penyesat yang muncul dan mengganggu iman mereka.

  1. Pesan teksnya jelas (penafsir Jerman Udo Schnelle, Einleitung in das NT, halaman 527, menempatkan teks ini dalam kumpulan kisah penyataan, penderitaan, pemuliaan, kebangkitan dan penampakan diri Yesus, mulai pasal 13:1-20:29) bahwa kebangkitan Kristus bukan saja  memberi kekuatan untuk mengubah hidup, tetapi juga memberikan “kuasa” (power) untuk berani menghadapi kehidupan itu sendiri. Judas tidak sempat bertemu dengan Yesus bangkit, karena duluan bunuh diri (karena malu dan takut menghadapi kenyataan, dengan cara gantung diri Matius 27:5), sebagai bukti bahwa kehidupan di luar kuasa kebangkitan Kristus hanya menuju kegelapan dan kematian yang sia-sia.
  2. Hanya banyak orang yang tidak percaya: contohnya Tomas, yang menuntut bukti nyata, dan menuntut untuk lansung bertemu dan berhadapan dengan Tuhan Yesus. Menurut Siegfried Eckert, teolog dan penafsir Jerman, Tomas dengan gaya bicaranya dan bahasa tubuhnya adalah contoh orang skeptis dan sinis dalam peristiwa kebangkitan Yesus. Para murid yang lain meyakinkannya bahwa mereka telah melihat Tuhan Yesus yang bangkit (20: 25), tetapi Tomas tetap pada pendiriannya dengan mengatakan: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” (20:25).
  1. Kita juga sering tidak yakin akan kuasa Tuhan yang sanggup menolong kita. Banyak yang lari ke dukun, orang pintar, dll. Kita sering meragukan kuasa Tuhan yang bekerja lewat orang-orang di sekitar kita.
  2. Ada kisah di sebuah kota terjadi hujan lebat yang terus-menerus dan banjir yang hebat sehingga telah menenggelamkan rumah-rumah penduduk. Banyak orang-orang yang berusaha menyelamatkan dirinya ke tempat yang tinggi. termasuk seorang abdi Tuhan atau bapak Penatua yang aktif di gereja dan rajin melayani. Dalam keadaan panik si penatua berdoa agar Tuhan menunjukkan kuasanya untuk menolongnya sehingga banjir berhenti dan air surut. Air banjir justru makin lama makin tinggi sehingga naiklah ia ke lantai 2 rumahnya.  Dari jauh ia melihat ada perahu karet yang mendekatinya dan orang-orang di atas perahu itu berteriak kepadanya untuk bersiap, karena mereka mau menolongnya untuk menaikan dia ke perahu karet itu. Tetapi sang penatua menolak karena yakin Tuhan akan datang menolong dengan menghentikan banjir dan air akan surut. Maka perahu karet itu berlalu. Namun air tidak semakin surut, tetapi semakin tinggi dan sang penatua harus naik lagi kebagian yang lebih tinggi lagi, dan muncul lagi perahu karet yang kedua untuk menolongnya, tetapi ia menolak naik ke atasnya. Bahkan ketika dia sudah berada di puncak bubungan rumahnya, dan saat air sudah di batang lehernya, datang lagi perahu karet yang ketiga, ia pun tetap menolak untuk naik ke perahu itu, karena masih yakin akan kuasa Tuhan untuk menghentikan banjir dan air akan surut. Akan tetapi ternyata sampai perahu karet penolong yang ketiga pun tidak terlihat lagi, air makin tinggi dan rumah pun tertutup air dan sang penatua pun mati tenggelam. Sewaktu berada di akhirat, sang penatua bertemu Tuhan dan bertanya sambil mengeluh: “Tuhan ee, sampai hati tidak datang menolong saya sewaktu terjadi banjir melanda kota kami, padahal sepanjang hidupku dengan setia saya selalu melayani-Mu dengan setia.” Jawab Tuhan: “Anakku siapa bilang saya tidak tidak menolongmu. Tidak tahukah kamu, saya telah mengirim tiga perahu karet untuk menolongmu, tetapi tiga kali juga kamu telah menolaknya!”
  3. Kadang kita terlalu fokus dan terlarut pada masalah yang kita hadapi, sehingga lupa melihat dan menyadari bahwa Tuhan sedang bekerja dan berusaha menolong kita melalui sesama kita, keluarga kita, orang-orang dekat kita, tetangga kita, bahkan mungkin juga orang-orang yang tidak kita kenal sekalipun, etc. Kadang kita tidak melihat hal-hal kecil sebagai pertolongan dan mujizat Tuhan yang sedang bekerja dalam hidup kita karena membanyangkan dan bermimpi tentang hal-hal besar yang Tuhan akan buat bagi kita, yang kita sendiri tidak sanggub mewujudkannya. Kadang kita seperti sudah ada “memegang telur di tangan, tetapi kita melepaskannya karena melihat burung di udara”. Apa yang salah kita kurang fokus atau gagal fokus, tolong Aqua, heheh. Penulis Injil Yohanes mengajak kita untuk belajar dari kisah  Thomas, bahwa walau sudah mendengar dari para murid Yesus yang lain tentang kuasa kebangkitan Yesus, namun ia belum mau percaya, kalau belum berjumpa dan melihat Yesus secara langsung.  Ia masih larut dengan kedukaan dan keputus asaan karena kematian Yesus. Padahal Yesus sudah bangkit! Tomas belum “move on” dari “zaman Old (peristiwa kedukaan karena kematian Yesus) ke zaman Now (peristiwa kebangkitan yang memberikan kekuatan untuk menghadapi kehidupan)”.
  4. Tomas yang disebut Didimus (20:24) memang beruntung bisa bertemu Yesus yang bangkit secara langsung (Injil Yohanes mencatat hanya sedikit orang saja yang beruntung bertemu Yesus yang bangkit: Maria Magdalena (20:11 dyb); para murid kecuali Thomas (20: 19 dyb), dan terakhir dengan para murid di Danau Tiberias termasuk Thomas ada (21:1 dyb). Tetapi kata-kata dan pesan Tuhan Yesus dalam Yoh 20:29 sangat jelas bahwa berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya: “maka,rioi oi` mh. ivdo,ntej kai. pisteu,santejÅ “ (makarioi hoi me idontes kai pisteusantes).
  5. Banyak yang cari kerja dan berdoa agar Tuhan memberikan pekerjaan yang layak. Tetapi tidak pernah mendapatkan karena itu mereka tetap menganggur. Mungkin karena pekerjaan yang tersedia tidak tidak sesuai dengan harapan, mungkin gajinya dianggap kecil. Tetapi juga banyak mau kerja dan mau langsung gaji besar serta dapat kedudukan yang baik. Banyak yang kerja mau langsung jadi “Bos”. Mental Bos inilah yang membuat Indonesia tidak akan maju-maju. Bukankah Tuhan  Yesus juga telah mengatakan bahwa kita harus mulai dari hal-hal kecil, baru kemudian kita dipercayakan atau diberi tanggungjawab untuk mengurus perkara yang besar? (Matius 25: 21). Banyak warga NTT yang lebih suka jadi TKI atau TKW di luar negeri dan rela menderita sengsara di sana dari pada bekerja dan membangun kampungnya sendiri. Ini tantangan bagi Pemerintah Daerah, para Wakil  Rakyat, LSM dan para pemimpin gereja untuk menyakinkan warganya untuk bersedia tinggal dan bekerja membangun kampungya daripada pergi membangun kampung orang lain di luar negeri sana. Cara bagaimanakah Pemerintah, para Wakil Rakyat, LSM dan pemimpin gereja menyakinkan warganya, ini merupakan PR yang harus dipikirkan secara matang, terencana, sistimatis dan masif, melalui program-program strategis dan terukur yang pro rakyat, yang “memberdayakan” mereka dan bukan sebaliknya “memperdayakan” (menipu dan memanipulasi) mereka karena kepentingan politik sesaat, karena bukan untuk itulah mereka dipilih Tuhan sebagai para pemimpin rakyat.
  6. Cerita kebangkitan memberikan kepada kita kekuatan dan keberanian untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Murid-murid yang semula takut dan putus asa dan kehilangan harapan, mendapatkan kekuatan baru untuk menghadapi kehidupan. Mereka yang semua tercerai berai kembali berkumpul, menyatukan kekuatan mereka, dari situlah muncul cikal bakal jemaat Kristen yang pertama. Pesan para penulis Injil dan Injil Yohanes sendiri sangat jelas bahwa Kristus yang bangkit memberikan kekuatan dan kuasa untuk menghadapi kehidupan. Kekuatan itu menurut Yesus terletak pada iman yang harus melebih iman yang dimiliki Tomas, dimana walaupun kita tidak bertemu secara langsung muka dengan muka denganNya seperti Tomas, tetapi kita percaya. Itulah kelebihan kita menurut Yesus. Maka jadilah kuat menghadapi kehidupan ini bersama Yesus di mana pun kita berada. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *