Perempuan, Siapa Yang Engkau Cari? – Brian Purfield

Brian Purfield

www.sinodegmit.or.id, Perempuan berperan dalam setiap tahap pelayanan Yesus dalam Injil, dan khususnya ketika kematian-Nya semakin dekat.[1] Marta dan Maria tampil menonjol dalam kisah kebangkitan Lazarus; seorang perempuan mengurapi Yesus dengan minyak berharga; Yesus berbicara kepada para perempuan Yerusalem ketika Dia menuju ke tempat penyaliban; dan pada saat kematian-Nya, Maria ibu-Nya diikuti oleh perempuan-perempuan yang Yesus temui kemudian dalam pelayanan-Nya. Namun sepanjang sejarah Kristen, kontribusi para perempuan ini sering kali diremehkan, diabaikan atau disalahartikan. Misalnya, Maria Magdalena sering diidentifikasi sebagai pelacur, meskipun tidak ada buktinya dalam Perjanjian Baru.

Dalam Injil Markus, para murid laki-laki tidak memahami pembicaraan Yesus tentang diri-Nya sendiri sebagai seorang Mesias yang menderita. Mereka menolak hal ini dan akhirnya meninggalkan Dia. Para perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem muncul sebagai murid sejati dalam kisah Sengsara. Mereka mengerti bahwa pelayanan Yesus bukanlah pemerintahan dan kemuliaan kekuasaan, melainkan diakonia, ‘pelayanan’ (Mrk 15:41). Para perempuan tampil sebagai pelayan dan saksi Kristen sejati. Sementara Petrus dan murid laki-laki lainnya mengatakan bahwa mereka akan tetap setia pada Yesus dan tidak akan pernah menyangkal Dia (Mrk 14:31), para perempuan digambarkan sebagai lebih setia kepada Yesus ketika kematian-Nya mendekat. Inilah perbedaan antara mengatakan dan melakukan. Jadi mungkin tidak mengherankan bahwa Yesus menampakkan Diri pertama kali kepada para perempuan.[2]

Para perempuan juga yang pertama percaya kebangkitan Yesus. Di awal masa kepausannya, Paus Francis berkata, ‘Para Rasul dan murid merasa lebih sulit untuk percaya kepada Kristus yang Bangkit. Namun tidak demikian para perempuan![3] Paus Fransiskus memahami ini, tetapi itu mungkin merupakan kebenaran yang tidak menyenangkan dalam budaya Gereja mula-mula, yang sebagian besar patriarkal.

Injil Yohanes (20: 1-18) memberi tahu kita bahwa pagi-pagi sekali pada hari pertama minggu itu, Maria Magdalena pergi ke kubur seorang diri dan melihat bahwa batu penutup makam telah digulingkan. Dia berlari untuk menemui Petrus dan murid yang terkasih [Yohanes]. Merasa bingung, kuatir, Maria memberi tahu Petrus bahwa mayat Yesus sudah hilang. Petrus dan murid yang terkasih lari ke kubur. Murid yang terkasihi tiba lebih dulu, mengintip ke dalam, tetapi tidak masuk. Petrus tiba, memasuki makam dan melihat kain kafan. Kemudian murid yang terkasih masuk, “melihat dan percaya.”

Tapi pada titik ini dalam kisah itu apa yang dia percaya? Apakah laporan Maria Magdalena? Apakah hanya fakta bahwa makam itu kosong? Apakah para murid percaya bahwa Yesus telah hidup kembali, bahwa ia telah bangkit? Penginjil Yohanes menambahkan dengan agak misterius bahwa mereka belum memahami Kitab Suci, yang menubuatkan bahwa Dia akan bangkit dari kematian. Mungkin karena itu dia menambahkan bahwa mereka lalu pulang saja.

Di mana Maria? Dia ‘berdiri menangis di luar makam.’ Beberapa orang berpendapat ini adalah tanda ketidaksediaannya untuk percaya seperti yang dipercayai oleh murid terkasih itu, tetapi itu mungkin juga merupakan pertanda kasih-Nya yang besar kepada Yesus. Yohanes menyebutkan dua kali bahwa Maria menangis. Mungkin ini dimaksudkan sebagai pengingat akan Yesus yang menangis di kuburan Lazarus (Yoh 11: 35-36), seolah-olah Yohanes ingin mengatakan, “Lihat betapa dia mengasihi Dia.”

Ketika Maria menangis, dia membungkuk untuk melihat ke dalam kubur dan melihat dua sosok berwarna putih. Perhatikan bahwa para malaikat tidak menampakkan diri kepada Petrus atau murid yang dikasihi, tetapi kepada seorang perempuan. Mereka bertanya kepadanya, “Perempuan, mengapa kamu menangis?” Dia menjawab, “Mereka telah mengambil Tuhanku, dan aku tidak tahu di mana mereka telah meletakkan Dia.”

Maria berbalik dan, dari kegelapan makam, ia melihat cahaya fajar. Dia melihat Yesus, tetapi tidak mengenali Dia. Yesus mengajukan pertanyaan yang sama seperti para malaikat itu: “Perempuan, mengapa engkau menangis?” Yesus menambahkan pertanyaan, “Siapa yang engkau cari?” – menggemakan pertanyaan yang Dia tanyakan kepada Andreas dan murid lainnya di awal Injil Yohanes (1: 38). Yesus yang Bangkit memahami kesedihan Maria dan dengan lembut berusaha membantunya. Kemudian kalimat yang aneh: sekiranya Dia adalah tukang kebun, dia berkata kepada-Nya, “Tuan, jika kamu membawa-Nya pergi, katakan kepadaku di mana kamu telah meletakkan Dia, dan aku akan membawa Dia pergi.”

Bagaimana Maria tidak mengenali pria yang telah dia ikuti sekian lama? Apakah dia begitu dibutakan oleh kesedihan sehingga dia tidak bisa berpikir jernih? Apakah matanya penuh air mata (tangisannya disebut tiga kali)? Atau apakah posisi tubuhnya menawarkan penjelasan yang lebih sederhana? Maria telah membungkuk di dalam makam dan, saat mendengar suara Yesus, menengok keluar. Mungkin dia menatap cahaya terang fajar, dan tubuh Yesus berselimut cahaya, membuat Dia sulit dikenali. Atau adakah penjelasan yang lebih teologis? Tubuh yang dimuliakan tidak memiliki penampilan yang sama dengan tubuh duniawi-Nya. Kita tidak tahu mengapa, tetapi Maria berpikir Dia adalah tukang kebun.

Apa pun alasan ketidakmampuan Maria untuk mengenali Yesus, yang berikut adalah salah satu bagian yang paling lembut dalam seluruh Injil: ‘Yesus berkata kepadanya, “Maria”. Dia berbalik dan berkata kepadanya dalam bahasa Ibrani “Rabbouni!”[4] Bayangkan bagaimana perasaannya, mendengar suara yang akrab itu menyebutkan namanya. Pengalaman itu tidak akan terlupakan. Dia pasti akan mengulangi kata-kata yang sama itu setiap kali dia menceritakan kisah itu, mula-mula kepada para murid, mungkin kepada penginjil, dan kepada siapa saja yang mau mendengarkan, mungkin sampai hari kematiannya.

Hanya ketika Yesus menyebutkan namanya, Maria mengenal Dia. Pada awalnya dia tidak bisa mengenali Dia, tetapi Maria tahu suara khas itu: suara yang menyembuhkan dia ketika mengusir iblis apa pun yang merasuknya; suara yang menyambutnya ke dalam persekutuan para sahabat-Nya; suara yang memberitahunya bahwa dia dihargai di mata Tuhan; suara yang menjawabnya atau tertawa saat makan; suara yang berseru kesakitan dari kayu salib. Maria tahu suara itu karena itu adalah suara yang berbicara kepadanya dalam kasih. Maka dia tahu siapa itu. Kadang-kadang melihat bukanlah percaya; tetapi mengasihi adalah percaya.5]

Seringkali kita belajar mengenali suara Tuhan dalam hidup kita hanya secara bertahap. St Ignatius Loyola mengatakan bahwa suara Tuhan dapat dikenali karena mengangkat, menghibur, membesarkan hati. Seiring waktu, kita belajar mendengarkan suara itu di hati kita; menjadi lebih mudah untuk diidentifikasi, dan ketika kita mendengarnya dengan jelas, lebih mudah untuk menjawab. Suara Tuhan memanggil kita untuk menjadi diri kita yang semestinya. Suara itu memanggil Petrus dari jalanya di Laut Galilea, Matius dari gerai pemungut cukai, Bartimeus dari pinggir jalan, Zakheus dari pohon ara – dan Maria Magdalena dari apa pun yang membuatnya tidak bebas. Gembala yang baik memanggil domba-dombanya dengan nama dan mereka tahu suaranya (Yoh 10: 11-16).

Ketika Maria meraih untuk memeluk Yesus, Dia berkata, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Itu pasti membingungkan Maria. Yesus merujuk pada kenaikan-Nya, yang akan terjadi di hadapan para murid. Ketika Dia menampakkan Diri kepada Maria, Yesus tidak dalam keadaan Dia dapat disentuh – tetapi ini berubah ketika Dia menampakkan Diri kepada para murid nanti. Kemudian Yesus akan menunjukkan bahwa ia adalah jasmani dengan memakan ikan di depan mata mereka dan mengundang mereka untuk, ‘Sentuhlah aku dan lihatlah; karena hantu tidak memiliki daging dan tulang seperti yang kamu lihat.” (Luk 24:39). Yesus akan mengundang Tomas untuk meletakkan jarinya di bekas paku di tangan, kaki, dan sisi lambung-Nya. Tapi tidak sekarang.

‘Jangan sentuh aku’, mungkin memiliki arti lain. Maria sangat mengasihi-Nya dan hanya ingin memeluk-Nya, tetapi Yesus mengingatkannya bahwa tugas yang lebih mendesak adalah menyebarkan Kabar Baik. Seperti halnya kita ingin mempertahankan, dalam arti tertentu, pengalaman-pengalaman spiritual yang mendalam, seringkali pengalaman itu diberikan kepada kita agar kita dapat memberitakannya. Yesus memberi Maria suatu misi. Dia berlari ke para murid untuk melaksanakannya dan menyatakan, “Aku telah melihat Tuhan.” Dia menceritakan semua yang telah dia lihat. Dia adalah ‘Rasul untuk Para Rasul.’ Dia adalah orang yang diutus untuk memberitakan Kabar Baik kepada mereka yang diutus untuk memberitakannya.

Maria Magdalena mengingatkan kita bahwa alat yang paling ampuh untuk menyebarkan Kabar Baik bukanlah pengetahuan, tetapi pengalaman. Ada ruang untuk keduanya. Beasiswa dan pembelajaran telah memberikan kekayaan berharga bagi iman. Tetapi murid yang sebenarnya tidak hanya mengatakan, “Saya telah mempelajari Yesus,” tetapi seperti Maria Magdalena, “Saya telah melihat Tuhan.”

Catatan:
[1] Mrk 5: 25-34; 7: 24-30; Mat 9: 18-26; 27: 55-56; Luk 7: 11-17; 8: 1-3; 13: 10-13; Yoh 11: 1-44;12: 1-8.
[2] Elisabeth Schüssler Fiorenza, In Memory of Her: A Feminist Theological Reconstruction of
Christian Origins (New York: Crossroad, 1983), xiv.
[3] Paus Francis, Audiensi Umum, 3 April 2013.
[4] Nama yang Yesus sebut memanggil Maria dan jawaban Maria adalah transliterasi bahasa Aram dari bahasa Yunani, meskipun sang penginjil menjelaskan bahwa itu adalah bahasa Ibrani. Lih Francis J. Moloney SDB, The Gospel of John, Sacra Pagina series (Collegeville MN: Liturgical
Press, 1998), p.528.
[5] James Martin SJ, Jesus: A Pilgrimage (New York: HarperCollins, 2014), p.406.
————-
Brian Purfield adalah anggota tim Mount Street Jesuit Center, London UK, dan mengajar kursus singkat dalam bidang teologi. Diposting pada: 6 Maret 2015
Sumber: https://www.thinkingfaith.org/…/%E2%80%98woman-who-are-you-…
[Terjemahan Zakaria Ngelow, 14 April 2020]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *