PERENCANAAN DALAM PERSPEKTIF TEOLOGIS

PERENCANAAN DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI

Andreas Yewangoe

 

  1. Ada Perbedaan?

Apa yang membedakan perencanaan yang dilakukan oleh sebuah lembaga gerejawi dan yang non-gerejawi? Kelihatannya tidak ada perbedaan. Berbagai aspek manajerial sama-sama diterapkan. Ada visi. Ada misi. Ada proyeksi, dan seterusnya. Dalam keadaan seperti ini tetaplah kalau gereja juga memanfaatkan berbagai keahlian dan ketrampilan yang dimiliki dunia ini untuk mencapai tujuannya. Namun kalau diperhatikan lebih saksama, ada juga perbedaan.

  1. Visi Kerajaan Allah

Secara mendasar dapat dikatakan bahwa visi besar gereja adalah visi Kerajaan Allah itu sendiri. Visi itu tidak diciptakan oleh manusia. Visi itu berasal dari Allah. Kalau begitu gereja hanya ikut memberlakukan visi Kerajaan Allah itu. Segala sesuatu yang dilakukan gereja pada masa kini dan di sini selalu menunjuk kepada Kerajaan Allah itu sendiri. Kalau tidak, maka perbuatan gereja tidak berbeda dengan perbuatan lembaga-lembaga sosial lainnya. Memang di dalam kenyataannya sering yang dilakukan lembaga-lembaga sosial itu bisa lebih baik dari gereja. Tetapi hal itu tidak boleh menjadi alasan pemaaf untuk tidak berencana dan tidak bekerja.

Harus diperhatikan bahwa visi Kerajaan Allah itu jauh lebih dalam dan lebih substansial di dalam memanusiakan manusia, yang tidak hanya diperlengkapi secara material saja, melainkan juga spiritual. Ini mencegah manusia terjatuh ke dalam sikap-sikap materialistis dan hedonistis. Sekaligus juga tidak terperangkap dalam kerakusan. Secara positif bias juga dikatakan bahwa di dalam mengupayakan kesejahteraan, segi-segi keadilan sosial harus diperhatikan dengan sunguh-sungguh.

Dalam kaitan ini kita mengangkat di sini Lukas 4:18-19: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Perhatikanlah kata-kata “Roh Tuhan” dan “mengurapi”. Segala sesuatu yang dilakuka oleh si Pembawa Kabar Baik itu hanya dimungkinkan oleh Roh Tuhan yag mengurapinya. Roh macam apa itu? Itulah Roh Pencipta, Roh yang mempunyai rencana agung. Roh yang tidak pernah meninggalkan buatan tangan-Nya. Itulah Roh Allah sendiri yang menjamin adanya creation continua, penciptaan yang terus-menerus.

Filsof Hegel (1770-1831) pernah juga berbicara tentang “Roh Mutlak”, yang tidak sadar akan dirinya, namun mewujudkan diri di dalam kebalikannya, yaitu materi dan karena itu menjadi sadar akan dirinya. Maka segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia (sebagai wujud dari Roh Mutlak itu) di dalam realitas ini adalah ungkapan diri roh mutlak itu yang telah menjelma di dalam kebalikanya. Tetapi kemudian “proses” itu diserahkan kepada mekanisme alamiah yang dialektis: these-anti these-sinthese. “Sinthese” menjadi “these” baru yang segera direspons oleh “anti-these” yang menjelma (lagi) ke dalam “sinthese” dan seterusnya. Proses yang dialektis ini tidak pernah berhenti. Di sini peranan Allah yang terus mencipta dan terus berencana seakan-akan diabaikan dan diserahkan kepada proses alamiah yang dialektis.

Karl Marx yang dating belakangan memakai dan menjabarkan filsafat Hegel ini di dalam dialektika sejarah: these-anti these-sinthese yang berujung bukan saja pada keunggulan masyarakat tanpa kelas, malainkan juga keutamaan materislistik di mana agama dilihat sebagai candu bagi masyarakat (Religion ist der opium des Volkes).Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa pandangan ini juga terkandung di dalam setiap faham yang menafikan peranan Allah di dalam alam dan sejarah, seperti misalnya di dalam “kapitalisme” dan “neo-kapitalisme”. Salah satu sinyalemen Arend van Leeuwen di dalam bukunya, De Nacht van het Kapitalisme terhadap The Wealth of Nationnya Adam Smith (Teoretikus Pasar Bebas) adalah, bahwa di dalam manusia mengupayakan kesejahteraan bagi dirinya, dua proses berjalan secara serentak yaitu, sekularisasi dan sakralisasi. Di dalam prose situ Allah disekularisasikan dan uang disakralisasikan.

 

III.         Allah Adalah Allah Yang Berencana

Allah adalah Allah yang bekerja di dalam sejarah. Artinya Ia masuk ke dalam ruang dan waktu, Ia masuk ke dalam sejarah, Ia mencipta. Pada saat yang sama Ia juga adalah Allah yang memelihara. Ia mempunyai hubungan yang terus-menerus dengan seluruh ciptaan-Nya. Rasul Paulus mengikhtisarkan pemahaman itu dalam Roma 11:36: ‘Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.’

Karya Allah di dalam pemeliharaan berarti bahwa alam-semesta dan kehidupan tidak ditaklukkan oleh (dank e bawah) kuasa-kuasa kejahatan. Berarti juga “sejarah” tidak boleh dikuasasi oleh kuasa-kuasa kejahatan. Karl Marx dengan interpretasi ekonomis-materialistis terhadap sejarah memang bermuara pada utopia, masyarakat tanpa kelas. Ternyata tidak terwujud. Tetapi pada pihak lain, kegagalan Marx ini tidak boleh dipakai oleh gereja sebagai alas an pemaaf bagi tidak diperjuangkannya perwujudan keadilan sosial.

Apakah ini adalah interpretasi dari pemahaman terhadap “Rencana Allah”?Tergantung gereja bagaimana menginterpretasikannya.

Kita bias membahas pokok ini secara panjang-lebar. Tetapi saya kira tidak perlu. Tugas kita sekarang adalah untuk menjawab pertanyaan, adakah dasar-dasar teologis yang makin menguatkan bagi GMIT di dalam menyusun rencana kerjanya. Jawabanya sangat gambling. Ada. Ada dasar dan motivasi teologis yang kuat, namun tidak diabaikan juga instrument-instrumen yang ditemukan manusia untuk suksesnya rencana itu.

 

 

_________________

*) Disampaikan Dalam Semiloka Penyusunan Rencana Kerja GMIT, 21 November 2016

**) Mantan Ketum PGI, Ketua Majelis Pertimbangan PGI (2014-2019), Pendeta Emeritus Gereja Kristen Sumba.

 

Kupang, 21 November 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *