Perjuangan Untuk Menjadi Doktor Teologi (5)

Pdt. Dr. Andreas Yewangoe

www.sinodegmit.or.id, Saya juga ingin berceritera mengenai keluarga saya selama studi 1976-1979 itu. Bagaimanapun mereka adalah tulang punggung yang menopang suksesnya studi tersebut.

Kami ke Belanda dengan putra kami yang berusia 4 tahun. Sebagaimana lazimnya anak-anak seusia itu mereka sangat cepat menyesuaikan diri. Mula-mula mungkin canggung karena situasi baru, tetapi itu tidak berlangsung lama. Dengan segera ia menyesuaikan diri. Bahasa Belandanya cepat sekali karena di Kleuterschool (Taman Kanak-kanak) banyak kawan-kawannya. Mungkin karena ia “beda” dengan yang lainnya, maka banyak sekali yang ingin berkawan dengannya.

Ada kebiasaan di Negeri Belanda sesudah jam sekolah usai mereka bisa meminta kawannya bermain di rumah mereka. Putra kami mengalami hal seperti itu hampir setiap hari. Ibunya atau kadang-kadang saya harus menjemputnya kembali pulang ke rumah dengan sepeda. Memang alat transportasi dalam kota di negeri itu adalah sepeda. Jangan kuatir keserempet karena sepeda mempunyai jalurnya sendiri. Pokoknya aman. Yang dikuatirkan hanyalah pencoleng sepeda entahkah yang sungguh-sungguh serius mencuri atau yang hanya iseng saja. Maka tidak heran sepeda tidak cukup punya satu kunci saja. Biasanya dua kunci.

Istri saya, melalui anak tadi mempunyai banyak kawan juga. Kendati tidak belajar bahasa Belanda secara formal, namun bisa mempergunakannya berkat pergaulan dengan ibu-ibu dari kawan putra saya.

Setiap Sabtu kami jalan-jalan di Amsterdamse bos seperti juga yang lazim dilakukan penduduk Amsterdam dan Amstelveen. Kalau saya punya tugas banyak yang harus diselesaikan, kadang-kadang tidak ikut jalan-jalan.

Selama di Amstelveen kami tinggal bersama seorang janda di Nolenslaan. Karena ia tinggal sendirian ia menyewakan rumahnya itu. Namun ia juga tetap tinggal bersama. Sebagaimana diketahui rumah-rumah orang Belanda itu terdiri atas 3 bahagian. Lantai dasar yang merupakan ruang keluarga yang digandeng dengan dapur. Ruang tengah, di atas ruang keluarga biasanya untuk tidur. Dan di atas sekali yang disebut zolder. Ini juga dipakai sebagai ruang tidur.

Kami menyewa ruang tengahnya, sedangkan dapurnya dipakai bersama. Ruang zolder pernah disewa oleh Pdt Brotosemedi (GKJ) ketika ia menulis disertasinya di sana. Kemudian juga oleh Prof. Hasan Askari, seorang Syiah dari India yang selama setahun menjadi Guru Besar tamu di VU.

Menjelang akhir studi saya, kami pindah ke Kampen menempati apartemen di Vermuydenstraat. Saya tidak perlu lagi setiap hari ke VU sehingga memang bisa tinggal jauh dari Amsterdam. Biasanya perjalanan Kampen-Amsterdam sekitar 2 jam. Tetapi tidak usah kuatir karena angkutan umum di sana nyaman sekali. Kita bahkan bisa membaca buku selama perjalanan itu.

Demikianlah kami tinggal di Kampen hingga kami pulang kembali ke Kupang pada 1979. Jadi selama 3 tahun kami berdiam di Negeri Kincir Angin itu dan pulang dengan ijazah Drs. Theologia. (bersambung).

*Artikel ini dikutip dan diedit seperlunya dari akun Facebook Andreas Anangguru Yewangoe, atas ijin penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published.