PESAN TERAKHIR PDT. EMR. DR. ALEX TELNONI: “RAWAT GEREJA KITA DENGAN BAIK”

SINODEGMIT.OR.ID-KUPANG, Minggu pagi 4/9 Gereja Masehi Injili di Timor kehilangan salah satu putra terbaiknya, Pdt. Emr. Dr. Jehezkiel Alexander Telnoni. Mendiang meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Siloam-Kupang dalam usia 68 tahun karena sakit. Kebaktian pemakaman berlangsung di Jemaat Ebenhaeser Oeba pada Rabu 7/9 dihadiri oleh jemaat para pendeta, dosen, mahasiswa juga turut hadir walikota Kupang, Jonas Salean. Ibadah pemakaman dipimpin  Pdt. Dr. J. E.E. Inabui, STM, pengajar dari fakultas teologi UKAW-Kupang.

Mengacu pada bacaan kitab 2 Korintus 12:7 dan Roma 8:37-39 Pdt. Inabui mewartakan dua hal; pertama, duri (Yun: sarx)dalam daging. Bahwa Rasul Paulus mengalami sakit yang sangat mengganggu, ada penafsir yang menduga ia menderita malaria di Yunani Selatan, namun betapun sangat mengganggu, itu hanya menyentuh pada sarx  bukan pada pada bagian yang paling menentukan, pada yang rohani (pneuma).  Untuk duri dalam daging itu Paulus sudah 3 kali berseru kepada Tuhan. 3 kali artinya bersungguh-sungguh minta kepada Tuhan. Berseru  adalah suatu kesungguhan. Tapi jawaban Tuhan, “cukuplah kasih karunia-Ku bagimu karena dalam kelemahanlah kuasa-Ku sempurna dalammu.”Menurut Paulus, menyangkali kelemahan sama dengan meninggikan diri (ay.7).  Kedua,  Pandangan Paulus dalam kitab Roma 8, bagi Paulus setiap kelemahan dan kesulitan tidak dapat memisahkan kita dari kasih karunia Kristus (ay.38,39). Itulah penghiburan bagi orang beriman, bagi keluarga. Itulah kemenangan yang sempurna.

Pada kesempatan yang sama juga ketua sinode GMIT Pdt. Mery Kolimon yang juga mantan mahasiswa mendiang di fakultas teologi UKAW menyampaikan dukacita yang dalam. “Gereja-gereja di Indonesia bersyukur untuk seorang teolog dari tanah Timor. Ia pergi namun pikiran-pikirannya tetap hidup melalui buku-buku yang ia tulis, melalui murid-muridnya yang tersebar di GMIT, GKS dan gereja-gereja lain,”tutur Pdt. Mery. Saat mengunjungi mendiang di Rumah Sakit, tambahnya, Pak Alex hanya mau bicara dalam bahasa Timor. Pak Alex berkata, “Ibumu adalah sepupuku; ayahmu adalah teman masa mudaku. Mereka telah mendahului pergi ke rumah Bapa, dan kami semua, generasi kami akan mendahului kalian. Kalian adalah kolekte kami. Rawat gereja kita dengan baik.”Itulah pesan terakhir Pak Alex Telnoni.

Pdt. Emr. Dr. Jehezkiel Alexander Telnoni, meninggalkan seorang istri, Pdt. Enrieke Theldanita Deselani Funai dan dua orang anak: Aldarine Molidya dan Patrick Adolf. Semasa hidupnya Ia menulis beberapa buku antara lain: Tafsiran Kidung Agung, Tata Bahasa Ibrani, Gereja berasas Presbiterial Sinodal, Tafsiran Kitab Kejadian 1-11, tafsiran kitab Habakuk dan sejumlah artikel dan karya ilmiah teologi. Doa kami kiranya damai sejahtera Allah senantiasa menguatkan keluarga dan semoga kasih Kristus mengawali Bapak Alex menuju Rumah Bapa di Sorga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *