Peserta Pesparawi Perempuan GMIT Menurun, KMK Kota Kupang Kecewa

Foto: Peserta Pesparawi Perempuan GMIT Klasis Kota Kupang dari Jemaat Zoar Penkase, Pemenang Pertama Kategori Silver.

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Ketua Majelis Klasis (KMK) Kota Kupang, Pdt. Elyanor Manu-Nalle mengaku kecewa lantaran minat peserta Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Perempuan GMIT Klasis Kota Kupang II tahun 2018 jumlahnya menurun. Sebelumnya pada 2016 yang lalu kegiatan ini diikuti 26 tim, namun pada tahun ini hanya diikuti 19 tim. Jumlah ini sudah termasuk dua tim dari luar klasis Kota Kupang.  

“Saya agak kecewa karena peserta hanya 19 dari 47 jemaat (di Klasis Kota Kupang, red.) Saya berharap semuanya ambil bagian dalam pesta paduan suara ini tapi mungkin oleh berbagai hambatan sehingga 28 jemaat tidak ikut ambil bagian,” ungkap Pdt. Elyanor saat menyampaikan suara gembala pada kebaktian pembukaan Pesparawi Perempuan GMIT Klasis Kota Kupang, Selasa, (11/9).

Ia berharap, pada dua tahun mendatang kegiatan ini dapat diikuti semua jemaat bahkan bila perlu melibatkan paduan suara perempuan dari klasis lainnya.

Sementara itu Pdt. Tien Hawu-Muni saat memimpin khotbah pada kebaktian pembukaan mengatakan bahwa bernyanyi mempersatukan umat manusia baik di bumi maupun di sorga.  Bahkan dengan bernyanyi seseorang memperoleh kekuatan melawan penderitaan. Pengalaman iman itu dialami oleh umat Kristen mula-mula yang mengalami penyiksaan pada masa kitab Wahyu ditulis.

Foto: Dari Kiri ke Kanan, Pdt. Elyanor Manu-Nalle, Maxi Saik, Harland Hutabarat dan Yulius Istarto.

Pesparawi Perempuan GMIT Kota Kupang 2018 berlangsung selama 2 hari bertempat di jemaat GMIT Ebenhaeser Oeba. Demi menjaga netralitas penjurian, panitia menghadirkan tiga juri yakni Yulius Istarto (dosen Seni Musik dari Universitas Kristen Satya Wacana-Salatiga), Harman Hutabarat dan Maxi Saik (Pianis dan Pelatih Paduan Suara) dari gereja Katolik.

Saat menyampaikan komentar terkait penampilan para peserta, Harman mengoreksi teknik bernyanyi peserta yang rata-rata bermasalah pada nada-nada tinggi.

“Nada tinggi bukan berarti suara keras. Saya lihat setiap kali nada tinggi semuanya bernyanyi dengan suara keras,” jelas Harman.

Pesparawi Perempuan GMIT Klasis Kota Kupang II tahun 2018 kali ini dimenangkan Jemaat Ebenhaeser Oeba yang sebelumnya menjadi juara bertahan. Berikut urutan pemenang lomba:

Kategori Gold: Juara 1 dan seterusnya masing-masing, Jemaat Ebenhaeser Oeba, Jemaat Kota Kupang, Jemaat Silo Naikoten, Jemaat Kota Baru, Jemaat Syalom Airnona.

Foto: Peserta Pesparawi Perempuan GMIT asal jemaat Galed Kelapa Lima

Kategori Silver: Juara 1 dan seterusnya masing-masing, Jemaat Zoar Penkase, Betlehem Naikolan, Jemaat Pohonitas, Jemaat HKBP, Jemaat Karmel Fatululi, Jemaat Betel Lili, Jemaat Galed Kelapa Lima, Jemaat Gunung Sinai Naikolan, Jemaat Yarden Labat, Jemaat Lahairoi Namosain, Jemaat Zaitun Tenau dan Talitakumi Pasir Panjang.

Sementara konduktor/dirigen terbaik diraih Jemaat Pniel Manutapen dan penampilan terbaik diraih Jemaat Pohonitas. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *