PRODUK VCO SION – ROTE BINAAN PDT. MESRY MODOK DIPAMERKAN DI KOREA SELATAN

(Kisah Perjalanan Seorang Pendeta GMIT Dari Nusa Lontar Menuju Negeri Ginseng-KOREA)

www.sinodegmit.or.id- KUPANG, Ditempatkan sebagai pendeta di wilayah yang terisolir, terpencil dan terkucil tidak mematahkan semangatnya. Justru segala keterbatasan itu dijadikannya sebagai batu loncatan untuk mencapai visinya sebagai pendeta jemaat. Tatkala separuh pendeta menghindar ditugaskan di pelosok desa tanpa listrik, tanpa signal, tanpa jalan aspal, dan tanpa sejumlah fasilitas publik lain yang mendukung tugasnya,  ia memilih menetap di kampung paling selatan di Republik ini. Dialah pendeta Mesry Modok, STh. Pendeta GMIT kelahiran Kupang, 5 Maret tahun 1980 ini, memulai tugasnya pada tahun 2008 di jemaat GMIT  Keka Nusak, Klasis Rote tengah, kecamatan Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao.

Desa Inaoe, tempatnya bertugas, berjarak 35 kilometer dari ibu kota kabupaten. Sepintas tidak ada yang menarik di wilayah ini, kecuali pohon-pohon kelapa yang banyak tumbuh, rimbun dan subur. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari warga memanfaatkan buah kelapa kering untuk dijadikan kopra yang dijual kepada para pengusaha Tionghoa di Baa, ibu kota Kabupaten. Harga kopra yang fluktuatif dan cenderung murah karena praktik monopoli, sangat merugikan petani kopra yang merupakan jemaatnya sendiri. Itulah awal keprihatinan Pdt. Mesry. Ia lalu menggagas pembuatan minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil). Beristrikan seorang guru kimia,  mempermudahnya melakukan serangkaian percobaan guna menghasilkan produk VCO  berkualitas tanpa pengawet. “Tanpa istri, saya tidak mungkin bisa menghasilkan produk VCO ini. Ibu bantu kami untuk sterilisasi alat, penyaringan dan pengemasan,” kata suami dari Ibu Yanti Modok-Nenohai.

Yakin bahwa inovasi produk VCO ini bisa meningkatkan pendapatan jemaat,  Ia mengajak mereka terlibat dan belajar bersama cara pengolahannya.  Dari 73 kepala keluarga, 23 orang jemaat tergerak untuk moncoba. Mereka membentuk kelompok kerja diakonia. Hasilnya lumayan. Lima butir kelapa yang biasanya dibuat kopra hanya seharga Rp. 1500,-  setelah diolah menjadi VCO, 5 butir kelapa itu menghasilkan 1 botol ukuran 250ml seharga Rp. 25.000,- . Harga ini masih tergolong murah dibanding harga di kota Kupang yang mencapai Rp.40.000/botol.  Tidak berhenti di situ, agar produk ini bisa terjamin kualitas dan distribusi penjualan yang lebih luas, ia mengupayakan ijin produk. Setelah melalui serangkaian tes laboratorium di BPOM akhirnya produk VCO yang diberi nama VCO Sion mendapat ijin produksi.

Apa keistimewaan dari kelompok kerja binaan Pdt. Mesry? Inilah bedanya. 20% keuntungan dari penjualan produk VCO dipersembahkan untuk mendukung sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), milik gereja yang baru dirintisnya. Jadi, hasil penjualan tidak hanya dinikmati sendiri oleh para anggota kelompok, tetapi untuk menunjang kebutuhan dasar lainnya terutama pendidikan anak yang juga menjadi tugas utama gereja. Dalam bahasa gereja, upaya ini dinamakan diakonia transformativ.

Entah sebuah kebetulan atau apa namanya, pada Oktober 2013 produk VCO Sion mewakili Kabupaten Rote Ndao pada lomba Tingkat Propinsi NTT Gugus Kendali  Mutu Industri Kecil Menengah Tahun 2013. Pada ajang ini mereka kalah bersaing dari kelompok lain yang sudah lebih dulu memulai usaha mereka. Namun pada waktu yang hampir bersamaan, British Council, sebuah lembaga kebudayaan internasional yang fokus pada pembangunan masyarakat dan melengkapi jalinan kerja sama warga dengan pemerintah serta hubungan antarnegara, membuka pendaftaran Community Entrepreneur Challenge IV. Bentuk kegiatan ini berupa workshop yang didalamnya ada kompetisi bagi  kelompok masyarakat yang usahanya berdampak  bagi transformasi sosial dan budaya di  lingkungan mereka.

Tak disangka, dari 200-an proposal yang masuk, 40 diterima termasuk Pdt. Mesry sekaligus mendapat penghargaan untuk kategori special mention dari 40 peserta dari seluruh Indonesia. Atas prestasi tersebut tak tanggung-tanggung, British Council memberi hadiah sebesar Rp. 50.000.000,- (Lima Puluh Juta Rupiah)

Pada September dan Oktober 2016 British Council kembali mengundang komunitas-komunitas usaha sosial(social entrepreneurship) yang sebelumnya pernah terlibat bersama lembaga ini.  Tak ketinggalan Pdt. Mesry mendapat undangan mengikuti workshop Social Entrepreneurship Catalist Camp di Bali yang dihadiri oleh peserta dari 3 negara yakni 2 orang dari Inggris, 8 orang dari Korea dan 11 orang dari Indonesia. Dalam workshop ini masing-masing mempresentasikan profil dari komunitas social entrepreneurship-nya. Dari 21 peserta, terpilih 6 orang untuk mengikuti studi banding di Korea Selatan pada 2-8 Oktober 2016. Dan kembali lagi Pdt. Mesry terpilih sebagai salah satu peserta. Di negeri ginseng ini mereka belajar sejumlah hal diantaranya, membangun sinergitas dengan para Social Entrepreneurship, pemasaran produk, bertemu sejumlah investor dan lembaga-lembaga sosial yang turut membantu Indonesia. Lebih dari itu, mereka juga  hadir di Pusat Promosi Produk Indonesia di Busan dan menjadi pembicara pada talkshow di Seoul dalam acara Indonesia Social Entrepreneurship Talk.

Kepada British Council ia mengungkapkan pergumulan dan sukacitanya. “Saya sempat merasa puas dengan apa yang saya lakukan bersama komunitas, tapi ketika saya bertemu dengan peserta Camp dari Inggris, Korea dan bagian lain di Indonesia, saya jadi melihat Kewirausahaan Sosial di kacamata yang lebih luas dengan spesialisasi yang berbeda-beda. Dari sharing bersama saya mendapat masukan berharga untuk pengembangan komunitas. Di saat yang sama, kami dihadapkan pada berbagai permasalahan dunia yang kompleks dan unik. Kami diajak mengasah jiwa wirausaha sosial kami untuk terjun langsung dalam memecahkan permasalahan tersebut di masyarakat. Saya senang sekali bisa ikut di Camp ini, terima kasih untuk semua pihak yang terlibat, British Council di Indonesia, British Council di Korea, Korea Foundation, Diageo, Underdog dan semua fasilitator serta teman-teman peserta Camp. Selama lima hari saya bertemu teman-teman baru, belajar, berbagi pengalaman unik, saling menginspirasi, bahkan berkolaborasi untuk mencari solusi di masyarakat. Saya berkolaborasi dalam tim bersama Jy Park (JerryBag) dan Brandon (K.O.A) dari Korea. Sebuah kolaborasi yang akan kami lanjutkan pembahasannya dalam kesempatan berkunjung ke Korea. Lewat Camp ini, saya jadi punya visi baru, bahwa ketika kita bersama bahu-membahu, dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik.”

Belajar dari pengalamannya, Ia mendorong siapa saja terutama para pendeta jemaat agar tidak memikirkan hal-hal yang terlalu besar, melainkan memulai kebaikan dari hal-hal kecil. Orang akan menghargai hal-hal kecil yang kita lakukan yang berdampak positif bagi kebaikan bersama seperti pengalamannya selama 6 tahun ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *