PROF. ADRIANUS MOOY: “KITA PERLU DUKUNG GEREJA”

JAKARTA, www.sinodegmit.or.id, “Saya harapkan dukungan dari kita masing-masing. Mungkin kita berikan dari kelebihan tapi Tuhan katakan berikan juga dari kekurangan. Jadi kita perlu dukung Gereja (GMIT, red.),” ujar Prof. Adrianus Mooy dalam sambutannya pada acara Mama GMIT Panggil Pulang Peduli Pendidikan, Jumat, 20/10-2017.

Mengapa upaya GMIT menyelamatkan sekolah-sekolahnya perlu didukung? Menurut mantan Gubernur BI era Soeharto ini, setidaknya ada tiga faktor pendukung kemajuan satu daerah, yakni: sumber daya alam, sumber daya manusia dan dana. Tiga hal ini kata Mooy, sangat terbatas di NTT. Karena itu dukungan warga GMIT di luar NTT sangat dibutuhkan.

“Ada tiga faktor untuk membangun: Ada faktor alam, manusia dan dana. Tiga-tiga kita miskin di daerah kita. Tapi Yang paling menentukan adalah manusia. Bukan jumlahnya tapi kualitasnya dan oleh karena itu saya kira kita harus memberi perhatian pada daerah kita di bidang pendidikan. Saya mau bilang, kita asal dari GMIT, segala keterbatasan ada di daerah kita, tapi beberapa dari kita Tuhan berikan kesempatan dan anugerah. Apa maksud Tuhan dibalik itu? Tidak mungkin semua orang di NTT Tuhan kasi kesempatan datang ke Jawa. Tentu maksud Tuhan adalah anda ke sana dan nanti saatnya anda kembali. Itulah maksud “Mama GMIT panggil pulang” ini.

Sebagai salah satu pengurus di Yayasan Pelita Harapan (UPH), Prof. Moy mengatakan bahwa guna mendorong peningkatan kualitas pendidikan di NTT lembaganya telah melakukan kerja sama dengan GMIT melalui intervensi beberapa sekolah di Kupang yakni Sekolah Lentera Harapan.

“Saya sekarang di Pelita Harapan. Di Kupang kami over dua sekolah yakni di Bonipoi dan di Naikotaen menjadi sekolah Lentera Harapan. Sekolah yang sama juga sudah kami bangun di Rote tahun lalu.”

Prof. Mooy, lahir di Rote, 10 April 1936, adalah seorang ekonom. Ayahnya adalah seorang pendeta sekaligus guru sekolah rakyat. Kini, ia bergabung di Bapenas.***

Leave a Reply

Your email address will not be published.