RELEVANSI PASKAH DAN UPAYA MERAWAT KEINDONESIAAN

Menyambut perayaan Paskah tahun ini, Senin, 10/04-2017, Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, menyelenggarakan seminar sehari bertajuk “Dengan Makna Paskah Kita Memperkuat Wawasan Kebangsaan”. Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri antara lain: Pdt. Em. Dr. Andreas Yewangoe, Daniel Tagu Dedo, SE dan Pdt. Dr. Mesakh A.P. Dethan.

Dalam Perjanjian Lama (PL) Paskah menurut Pdt. Andreas Yewangoe, adalah peristiwa di mana Allah mengaruniakan kebebasan dan memelihara kehidupan serta menciptakan Israel sebagai bangsa.

Selanjutnya dalam Perjanjian Baru (PB) Paskah adalah sebuah peristiwa peringatan memoria: memoria passionis Christi (peringatan akan penderitaan Kristus). Memoria ini memberi energi baru bagi kehidupan. Hal ini sesuai dengan perkataan Yesus, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan mempunyainya dalam seluruh kelimpahan”.

Bila Paskah merupakan perayaan kehidupan, Jumat Agung menunjuk kepada kematian. Kematian itu lalu ditaklukkan dan Allah menawarkan kehidupan kepada manusia.

Lantas apa sangkut-paut Paskah bagi kehidupan berbangsa? Sejarah penjajahan kata Yewangoe, merupakan penyebaran budaya kematian. Karena itu, proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah momentum bagi kebangkitan, yaitu terciptanya sebuah harapan baru bagi penyebaran budaya kehidupan. Kenyataan ini yang hendak diwujudkan bersama dalam sebuah Negara Bangsa atas dasar Pancasila dan bukan atas dasar agama tertentu.

Namun, belakangan kata Yewangoe ada sekelompok anasir yang tidak merasa puas dengan dasar negara Pancasila atau negara bangsa dan melakukan teror di mana-mana.

“Ada anasir yang mengganggu negara bahkan ada upaya untuk mewujudkan sebuah khilafah menurut model abad pertengahan yang bakal meliputi seluruh dunia ini. Tentu saja cita-cita khilafah model abad ke-6 dan 7 itu tidak mudah diwujudkan diabad 21. You mimpi saja di siang bolong. Nggak ada itu,”tandas Yewangoe.

Mantan ketua PGI yang dikenal luas karena tulisan-tulisannya yang kritis di berbagai media, dengan lantang mengatakan, “Sekali lagi saya tegaskan bukan atas dasar agama. Kendati orang-orang indonesia adalah orang-orang beragama jadi jangan mengacaukan orang-orang Indonesia yang beragama dengan negara agama. Ini pengacauan sekarang. Dan harus dikatakan ulang-ulang. Tidak usah malu-malu karena anda berhak. Anda konstitusional kalau mengatakannya. Tidak usah malu hati karena mereka besar. Nggak ada. Di sini tidak ada besar kecil tapi apakah kita punya hak historis atau tidak.”

Sementara Daniel Tagu Dedo, yang saat ini digadang-gadang menjadi calon gubernur NTT, membenarkan apa yang dikemukakan oleh Pdt. Yewangoe, bahwa dewasa ini sedang tumbuh ideologi yang disebut ideologi tertutup. Ideologi ini sedang menjadi ancaman disintegrasi bangsa karena cara penyebaran ideologi ini melalui propaganda dan teror. Sebagai kader partai dari PDI Perjungan Tagu dedo mengemukakan bahwa, sebagai partai ideologis PDI Perjuangan sedang bertarung habis-habisan untuk menjaga keutuhan bangsa. Tiga tokoh fenomenal yakni Jokowi, Ahok dan Djarot oleh Mega Center akan menjadi parameter sejauhmana kebangsaan Indonesia di masa depan.

Dalam konteks NTT, Tagu Dedo menyayangkan sikap primordialisme yang kian menguat. Sebagai mantan direktur utama Bank NTT ia mengaku sentimen suku dan agama sering mengemuka dalam penerimaan dan promosi jabatan karyawan. Hal ini juga ia saksikan dalam birokrasi. “Saya lihat primordialisme mengancam persatuan dan kesatuan di NTT. Kita diam-diam tapi terjadi. Primordialisme itu merusak kaderisasi di segala bidang dan itu merugikan NTT. Saya saksikan itu sendiri. Karena dia Protestan orang Sabu dan kebetulan bos-nya Katolik dari Flores tidak bisa naik jabatan, padahal ilmunya dia itu yang harus dipakai. Yang rugi siapa? Rakyat. Memangnya kalau orang Katolik yang pimpin daerah ini apakah dia hanya perhatikan Flores? Tidak.” Kata Tagu Dedo.

Pada kesempatan yang sama Pdt. Dr. Mesakh A. P. Dethan yang menyoroti Paskah menurut teologi Rasul Paulus dalam surat Roma menjelaskan bahwa situasi jemaat Roma saat itu berada dalam ketegangan antara orang Yahudi,  Kristen Yahudi dan bukan Yahudi. Ketegangan itu dipicu oleh adanya konflik teologis mengenai siapa yang selamat dan siapa yang tidak. Bagi orang Yahudi keselamatan adalah milik mereka sebagaimana janji Allah kepada bapak leluhur mereka Abraham. Sedangkan bagi orang kristen non Yahudi keselamatan itu telah dialihkan kepada mereka oleh karena orang Yahudi telah menolak Mesias yang telah datang melalui Yesus Kristus.

Terhadap perdebatan itu, Rasul Paulus merumuskan teologi keselamatan demikian: Pertama, Tuhan Pencipta yang memberi janji keselamatan telah menentukan bahwa keselamatan diberikan kepada orang-orang beriman (Roma 9:6-29). Kedua, Bangsa Israel bertanggung jawab atas penolakannya karena mau membenarkan diri dan tidak mau dibenarkan karena iman (9:30-10:21) dan Ketiga, meski Israel ditolak namun akan tiba satu hari dimana seluruh Israel akan diselamatkan (11:1-36).

Seminar sehari ini dibuka oleh rektor UKAW Ir. Frangky Salean. Dalam sambutannya, ia mengemukakan bahwa saat ini baik di skala nasional, regional maupun dalam kehidupan bergereja persoalan wawasan kebangsaan menjadi keprihatinan bersama. Karena itu, Paskah menjadi momentum refleksi menghayati makna kematian dan kebangkitan Yesus dalam rangka membangun kehidupan baru antar sesama dan alam semesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *