Sejarah GMIT

SEJARAH GMIT

Periode perkembangan  sejarah GMIT dibagi sebagai berikut :
1.    Permulaan tumbuhnya gereja pada masa Portugis (1556-1613)
2.    Gereja Protestan selama masa pemerintahan Belanda
a.    Masa Oud Hollandse Zending (1614-1814) zaman misi Belanda lama
b.    Masa Nederlandse Zendeling Genootschap (1814-1860) zaman yayasan penginjilan Belanda
c.    Masa Masa Indische Kerk (1860-1941)
3.    Gereja pada masa pendudukan jepang (1942-1945)
4.    Situasi mejelang pembentukan GMIT (1945-1947)
5.    Masa Gereja Masehi Injili di Timor (1947-sekarang)

 

PERMULAAN TUMBUHNYA GEREJA PADA MASA PORTUGIS (1555-1613)

Kedatangan bangsa-bangsa barat, khususnya Portugis dan Belanda di Indonesia didorong oleh berbagai motif. Motif yang mendorong bangsa Portugis ke Timor ialah kekristenan dan rempah-rempah. Sedangkan bangsa Belanda memiliki motif tambahan yakni faktor politis dan sosial. Agama Kristen dibawa ke NTT oleh orang Portugis. Mula-mula di Pulau Solor dan kemudian ke seluruh Pulau Flores dan Pulau Timor, bagian yang berdekatan dengan Pulau Solor, yaitu Lifao dan Dili. Jadi agama Kristen yang bercorak Roma katolik dibawa oleh para missionaris Portugis. Daerah-daerah dimana agama katolik merupakan jumlah terbesar masyarakat NTT kini ialah yang digarap lebih dulu oleh Portugis., yaitu di Pulau Flores dan dua kabupaten di Pulau Timor yakni Timor Tengah Utara dan Belu.
Tiga ordo memikul tugas misi di asia yaitu Ordo Fransiscan, Ordo Jesuit dan Ordo Dominikan. Yang bertugas di Pulau Solor, Flore dan Timor adalah Ordo Dominikan, tetapi segala usaha pengkristenan di Timor tidak jauh berbeda dengan di Maluku yang telah digariskan oleh Fransiskus Xaverius dari Ordo Jesuit yang tiba di Maluku pada tahun 1546.
Missionaris yang pertama tiba di Pulau Timor adalah Antonia de Taveiro pada tahun 1556. Pada tahun 1562 dikirim lagi para bruder. Setiap orang yang akan dibaptiskan hanya diharuskan mempelajari Credo, Pengakuan Dosa, Doa Bapa Kami, Salam Maria dan 10 perintah. Sistem pengkristenan pertama kali lebih ditekankan pada kuantitas dibanding kualitas. Akibatnya adalah banyaknya orang yang bersedia dibaptis namun selang beberapa waktu setelah dibaptis, mereka kembali ke dalam kekafirannya. Pengluasan penyebaran Injil oleh Portugis di NTT ini mulai menghadapi tantangan pada abad yang XVII dengan datangnya Belanda yang mendirikan bentengnya di Kupang, yang dinamainya “Fort Concordia” pada tahun 1613.

Gereja Protestan Selama Pemerintahan Belanda

a.    Masa Oud Hollandse Zending (1614-1814).
Masa ini adalah masa yang paling panjang dari sejarah pekabaran Injil di Timor dan pulau-pulaunya. Sayangnya data-data mengenai masa ini sangat sedikit. Menurut sumber-sumber resmi, gereja di Indonesia termasuk Timor, dianggap sebagai bagian atau cabang dari gereja Belanda.
Sebagai pemerintah, VOC mempunyai tanggung jawab pemeliharaan dan penyebaran iman Kristen di Indonesia. Gereja di Indonesia harus merupakan copian yang persis sama dengan gereja di Nederland. Terus-menerus gereja di Indonesia diingatkan untuk mengikuti segala sesuatu yang dipraktekkan dalam gereja Belanda dan hidup menurut peraturan yang berlaku di sana.
Pendeta Belanda yang pertama kali tiba di Kupang ialah Drs. Matheus Van der Broek pada tahun 1514. Corak gereja ialah Protestan (Hervormd). Sejalan dengan yang umum berlaku diutamakan pemeliharaan rohani pegawai VOC dalam Benteng Corcondia. Pekabaran Injil keluar benteng belum dilaksanakan secara sistematis dan serius kecuali bila ada waktu luang.
Pendeta Van der Broek harus cepat pulang. Kemudian pulau dan jemaatnya dilupakan untuk lebih kurang 50 tahun. Pada tahun 1670 ditempatkan Ds. Key Sero Kind di Kupang. Belum lama ia diganti oleh Ds. A. Corpius tahun 1687 yang setahun kemudian wafat. Terhitung dari tahun 1688 sampai tahun 1730 hanya terdapat 8 kali perkunjungan oleh pendeta dari Batavia (Jakarta). Sekolah yang pertama kali didirikan di Timor ialah di Kupang tahun 1701. Jumlah muridnya sebanyak 22 orang. Sekolah itu diawasi oleh Majelis Gereja Kupang.
Statistik jemaat Kupang:
Tahun 1702 jumlah anggota 54 orang
Tahun 1719 jumlah anggota 84 orang
Tahun 1729 jumlah anggota 460 orang
Tahun 1753 jumlah anggota 1300 orang
Agama krieten kemudian menuju pulau Rote pada tahun 1739 yang dimulai oleh raja Thi. Mulanya ia ke Batavia untuk suatu urusan tetapi di sana ia berjumpa dengan agama Kristen. Sekembalinya ke Rote, ia dan rakyatnya meminta masuk Kristen. Kemudian disusul oleh raja Lole. Pada tahun 1760 jumlah orang Kristen di Rote sudah mencapai 5870 dengan 1445 murid sekolah.
Di pulau Sabu, agama Kristen masuk pada tahun 1758. Pada tahun 1766 sudah terdapat 5 jemaat yaitu Timu, Seba, Liae, dan Menia. Seringkali jemaat-jemaat di NTT tidak bergembala atau setidaknya tidak layani seperti seharusnya, tetapi Tuhan terus bertindak dan mereka dapat bertahan sampai abad ini.

b.    Masa Nederlandse Zendeling Genootschap (1814-1860)
Pada abad XVII di Eropa barat muncul segolongan orang yang mementingkan saleh, sederhana, beribadat, mempelajari kitab suci serta giat mengajarkan pekabaran Injil. Aliran baru ini terkenal dengan nama Pietisme. Salah satu dari persekutuan PI di Indonesia dan di Timor adalah Nederlandse Zendeling Gennotschap (NZG) yang didirikan tanggal 19 desember 1799, tahun dimana VOC dibubarkan. NZG itu memainkan peranan yang sangat penting di pulau Timor selama lebih kurang 40 tahun , tetapi di Sabu jauh lebih lama.
Cara NZG berbeda dengan Oud Hollandse Zending. Dengan sadar NZG tidak mau melanjutkan propaganda gerakan atau ajaran tertentu, supaya dengan jalan itu mendirikan suatu tipe gereja yang tertentu. Yang ia mau lakukan ialah hanya mengajarkan prinsip-prinsip agama Kristen yang benar kepada orang-orang kafir.
Tenaga NZG yang pertama ialah Dws. R. Le Bruyn. Ia tiba di Kupang pada tahun 1819. Dikarenakan keadaan daerah yang buruk dan fisiknya lemah, maka sepuluh tahun kemudian ia meninggal dunia yakni 21 Mei 1929. Walaupun demikian hasil karyanya tetap cemerlang di Timor.
Yang dikerjakan oleh Ds. R. Le Bruyn sbb:
1.    Mengunjungi anggota jemaat di sekitar Kupang dan Babau, terletak 16 km dari Kupang.
2.    Menterjemahkan thalil ke dalam bahasa Melayu.
3.    Mengarang buku-buku yang berguna bagi PI.
4.    Mendirikan lembaga Alkitab Hindia Belanda.
5.    Mengumpulkan orang untuk memperbaiki gedung gereja Kupang yang sudah ditinggalkan sejak 1797.
6.    Membagi waktu untuk mengunjungi jemaat-jemaat di Rote dan Kisar, yang dilayani dari Kupang juga.
7.    Ia juga mengabarkan Injil dikalangan budak yang banyak memberi hasil dan kadang-kadang melalui budak-budak ini tuan-tuannya dapat ditarik kepada Kristus.
8.    Ia membuka lagi sekolah-sekolah yang sudah ditutup di Kupang dan Rote.
9.    Dengan bantuan Residen Hessert dapat dibangun satu rumah piatu.

Pendeta-pendeta selanjutnya yang dikirim dari Belanda meneruskan pekerjaan NZG. Ada yang berhasil, ada yang tidak, ada yang harus cepat pulang karena sakit, dan ada yang meninggal dunia. Guru-guru sekolah, ada yang merangkap sebagai guru jemaat dan dididik di Kwekschool di Ambon. Oleh karena itu, “pola Ambon” sangat mempengaruhi jemaat-jemaat dan kehidupan di Timor. Sama seperti di Ambon dan Minahasa, juga di Timor bahasa Melayu dianggap dan dipakai sebagai bahasa gereja dan bahasa sekolah resmi.

c.    Masa Indische Kerk (1860-1941)
Indische Kerk yang merupakan gereja negara yang dibentuk di Indonesia pada tahun 1817. Gereja dijadikan suatu lembaga administrasi negara yang mengurus soal-soal rohani. Gereja bergantung pada negara dalam segala hal. Pengurus Indische Kerk dilantik oleh gurbenur jenderal. Pengurus itu yang disebut Kerk Bestuur berkedudukan di Batavia. Pengangkatan pendeta diusul oleh pengurus itu. Tiap-tiap pendeta, syamas dan jemaat harus disyahkan oleh gubernur jendral. Indische Kerk tidak mau mempropagandakan ajaran-ajaran tertentu. Indische Kerk tidak menjadi gereja Gereformeerd atau Hervormd tetapi Protestan. Prinsip-prinsip dari Indische Kerk ialah Protestantisme.
Tujuan utama dari Kerk Bestuur ialah memperhatikan kepentingan, baik dari agama Kristen pada umumnya maupun dari gereja Protestan. Khususnya memperkembangkan pengetahuan agamiah, memajukan adat kebiasaan Kristen, menjaga keamanan dan kerukunan, menanamkan rasa cinta terhadap pemerintah dan tanah air. Dalam tujuan itu hampir-hampir tidak terdapat unsur kerygama Perjanjian Baru. Kerygama itu dirubah dan disesuaikan dengan situasi baru. Maksud ajaran Indische Kerk yakni memperlengkapi anggota-anggotanya dengan nilai-nilai religius dan ethis.
Tokoh-tokoh gereja pada akhir XIX ialah Donselaar dan J.J Niks. Donselaar bekerja sejak NZG berdiri, dan tetap bekerja di Timor sampai wafatnya pada tahun 1883. J.J Niks ditempatkan di Babau dan bekerja disana antara tahun 1874 dan tahun 1894.
Pada tahun 1890 di Rote ditempatkan Ds. J.J Le Grand. Pada tahun 1895 Le Grand menerbitkan kitab Injil Lukas dalam bahasa Rote dan untuk pertama kali khotbah dibuat dalam bahasa Rote. Le Grand juga mendidik siswa untuk menjadi Indlands Leraar (guru pribumi). Atas usahanya dibuka di Rote tahun 1902 sebuah sekolah guru Injil yang disebut STOVIL (School Tot Opeleiding Voor Inslands Leraar).
Pada tahun 1910 di Kupang ditempatkan seorang predikant Voorzitter yang memimpin gereja di seluruh keresidenan Timor, yaitu Ds. William Black. Ia mengusahakan PI di pulau Alor pada tahun 1911. Ds. Groothius berkedudukan di Babau. Ia berusaha menterjemahkan Injil ke dalam bahasa Timor dan berkhotbah dalam bahasa Timor. Pada tahun 1916 Injil baru mulai masuk ke pedalaman Timor. Di pulau Timor pada tahun 1922 tiba Ds. P. Middelkoop yang khususnya mengadakan penelitian mengenai bahasa Timor serta buku-buku nyanyian gereja.
Pada tahun 1922 Stovil dipindahkan ke Kupang dalam tahun 1931 Stovil ditutup oleh gereja sebab timbulnya sesuatu gerakan (yang ditanggapi oleh pimpinan sebagai nasionalisme). Kemudian dibuka lagi sebagai suatu sekolah Theologia di Soe tahun 1936 dan berlangsung sampai perang dunia kedua. Jumlah anggota Kristen di TTS pada tahun 1920 hanya 200 orang saja. Sesudah perang dunia II jumlah meningkat menjadi 80.000 orang.
Di Alor Ds. Binkhuisen memberi banyak perhatian pada bidang pendidikan. Penggantinya Ds. Van Daalen telah membaptiskan ribuan orang antara 1923-1924. Hanya dua orang, yaitu Boeken Kruger dan Mollema tinggal lebih dua atau tiga tahun di Alor. Banyak tenaga jatuh sakit sebab keadaan kesehatan di Alor amat berat bagi orang barat. Tetapi atas usaha orang-orang ini hampir setiap tempat di Alor ada gereja, sekolah dan pesanggrahan, dan kadang-kadang di tempatkan seorang Island Leraar yang bertugas sebagai pendeta dan pengawas sekolah.
Di Pulau Flores juga terdapat beberapa jemaat, khususnya di kota-kota yang dikunjungi dua kali setahun dari Kupang. Begitu juga di beberapa kota sumbawa timur.

 

GEREJA PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG

Dengan mendaratnya Jepang di Kupang pada permulaan tahun 1942, berarti berakhirlah juga pemerintahan Hindia Belanda di NTT. Keadaan gerejapun kocar-kacir. Semua tenaga Belanda ditahan. Jemaat-jemaat masih dilayani oleh pelayannya masing-masing, namun jaminan hidup bagi para pelayan bergantung 100% pada jemaatnya masing-masing, padahal sebelumnya mereka digaji oleh pemerintah. Tiap-tiap pelayan harus berusaha mencari nafkahnya dengan berkebun, berladang, atau sawah.
Pada waktu itu dibentuk suatu badan pengurus untuk mengatur hal-hal gerejawi di Timor. Badan itu disebut Badan Gereja Timor Selatan. Anggota-anggotanya sbb:
Ketua        : Bapak N. Nisnoni, Raja Kupang
Wakil Ketua    : Bapak Arnoldus dari kota Kupang
Sekretaris    : Pedeta E. Tokoh
Bendahara    : Bapak Habel dari Oeba
Anggota-anggota: Penantua Kafin dari Oeba
Penantua Radja dari Nunhila
Pendeta J. Amtiran dari Oenesu
Pendeta Huardao dari kuanino
Anggota gereja disentralisir dan para pelayan digaji dengan gaji tertentu yaitu Pendeta sebesar Rp. 50/bulan; guru jemaat Rp. 25; utusan Injil Rp. 15.
Tugas dari badan gereja ini selain dalam bidang keuangan ialah:
1.    Mengangkat pendeta, guru jemaat dan utusan Injil
2.    Mengedarkan keputusan derma yang dicetak diatas kertas berwarna
3.    Mengawasi sekolah-sekolah oleh pengawasnya Bapak J. nait.
Pada zaman Jepang terdapat juga pendeta-pendeta yang menjadi korban. Yang perlu dicatat ialah Pdt. Dikuanan dan Pdt. Riwu di Alor. Ada juga pendeta atau pak guru Tube di tarus. Dengan demikian, maka dalam periode 1942-1945 gereja Timor masih bertahan kendatipun dalam situasi perang yang sulit. Suatu bukti dari sejarah bahwa Tuhan senantiasa bekerja memelihara gereja melalui berbagai tokoh manusia, baik pendeta maupun awam.

 

SITUASI MENJELANG PEMBENTUKAN GMIT (1945-1947)

Pengaruh dari dalam dan dari luar antara lain dari kompensasi Zending internasional di Edinburg pada tahun 1910 menimbulkan suara-suara dalam Indische Kerk untuk menyerahkan tanggung jawab gerejawi kepada gereja-gereja suku (Ambon, Minahasa, Timor) dengan jalan menginstitusikan gereja-gereja itu sebagai gereja-gereja yang berdiri sendiri. Perkembangan ini bertahun-tahun lamanya ditahan oleh Kerk Bestuur. Pimpinan Indische Kerk khawatir bahwa uniformitasnya akan hilang.
Dalam sidang Am gereja Protestan Indonesia (Indische Kerk) pada tahun 1933, telah diputuskan bahwa gereja-gereja yang akan berdiri sendiri ialah:
1.    Gereja Protestan Injili Minahasa (GMIM)
2.    Gereja Protestan Maluku (GPM)
3.    Gereja Timor.
Pada tahun 1937 suatu komisi persiapan konstitusi gereja Timor mulai pekerjaannya di Kupang dibawah pimpinan Ds. G. P Locher tetapi belum dapat diselesaikan sebelum pecahnya perang.
Pada tahun 1945 datanglah dari negeri Belanda Ds. E. Durkstra. Ia memulai tugasnya dengan menyusun suatu komisi untuk mempersiapkan suatu sinode yang berdiri sendiri. Pada tanggal 31 oktober 1947 gereja di Timor memperoleh kedudukan sebagai gereja yang berdiri sendiri dengan nama Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT).
Ds. Durkstra Predikant Voorzitter terakhir menjadi ketua yang pertama. Sekertarisnya ialah Pdt. E. Tokoh. Pada tahun 1948 GMIT menjadi anggota Dewan Gereja-gereja di Indonesia DGI (sekarang PGI).
Sinode GMIT yang pertama terdiri dari enam klasis, yaitu:
1.    Klasis Kupang yang meliputi Kupang dan Amarasi, dengan Pdt. J. Arnoldus sebagai ketua klasis.
2.    Klasis Camplong yang meliputi Fatuleu dan Amfoang, dengan Pdt. Naiola sebagai ketua klasis.
3.    Klasis Soe yang meliputi Amanuban, Amanatun, Mollo, TTU dan Belu dengan Pdt. M. Bolla sebagai ketua klasis.
4.    Klasis Alor/Pantar dengan Pdt. M. Molino sebagai ketuanya.
5.    Klasis Rote dengan Pdt. J. Zacharias sebagai ketuanya.
6.    Klasis Sabu dengan Pdt. M. Radja Haba sebagai ketuanya.
Disamping enam klasis terdapat juga tiga jemaat yang berdiri sendiri, yaitu Jemaat Kota Kupang, Jemaat Ende (Flores), dan Jemaat Sumbawa (NTB).

MASA GEREJA MASEHI INJILI DI TIMOR (1947-KINI)

1.    Masa 1947-1950 ditandai oleh pimpinan lama dan kelanjutan keadaan (struktur pimpinan keuangan, dan lain-lain) yang lama. Perkembangan pokok ialah:
a.    Mendidik jemaat-jemaat yang telah biasa hidup dalam suasana Indische Kerk tentang apa artinya gereja yang berdiri sendiri dibidang pelayanan, tanggung jawab keuangan, administrasi, dan lain-lain.
b.    Tata gereja yang dipakai ialah boleh dikatakan modifikasi dari praktek pada waktu itu dengan warisan dari periode-periode yang lalu.
c.    Dalam periode ini terjadi perpisahan finansial antara gereja dan negara.
2.    Masa 1950-1975 ditandai oleh pimpinan yang baru dan situasi yang baru pula
Masa ini diawali oleh pengangkatan tenaga-tenaga luar negeri. Hanya Ds. Middelkoop yang tinggal di Soe, khususnya untuk pekerjaan penterjemahan Alkitab dalam bahasa Timor. Hal ini memberikan kesempatan bagi GMIT agar dengan bebas mengusahakan pola-pola dan bentuk-bentuk pelayanan sendiri. Usaha pertama ialah menyusun tata gereja baru, yang Theologis dapat lebih dipertanggungjawabkan tata gereja ini yang disyahkan pada tahun 1952 kemudian 1972 diperluas tapi isinya tetap sama. Pada waktu itu banyak pekerjaan di bidang liturgi. Juga ada studi dan percakapan tentang apa itu perjamuan, apa itu perkawinan, apa itu disiplin gereja.
Pimpinan sinode masa itu:
1950 – 1952 : ketua Pdt. J.L. Ch. Abineno; sekretaris Pdt. A.J. Toelle
1952 – 1953 : ketua Pdt. J.L. Ch. Abineno; sekretaris Pdt. B. Meroekh
1954 – 1956 : ketua Pdt. M. Bolla; sekretaris Pdt. L. Radja Haba
1956 – 1958 : ketua Pdt. J.L. Ch. Abineno; sekretaris Pdt. L. Radja Haba
1958 – 1960 : ketua Pdt. J.L. Ch. Abineno; sekretaris Pdt. A. Dethan
Masa 1960 – 1970 suatu periode dimana dicoba cara ini dan itu mengatasi kesulitan, khususnya kekurangan keuangan, tetapi ciri utama nampaknya kelemahan dalam perkembangan GMIT. Masa ini dapat dibagi dalam dua sub periode.
a.    1960 – 1965 keadaan masyarakat, politik ekonomi yang semakin ambruk, berakhir dalam Nasakom yang pengaruhnya agak besar di beberapa daerah GMIT dan G30S PKI.
b.    1960 – 1970 periode ini meliputi gerakan Roh yang berpusat di Soe dan TTS umumnya, pada satu pihak dan permulaan masa pembangunan di lain pihak.
Pimpinan sinode 1960 – 1970 ketua Pdt. L. Radja Haba; sekretaris Pdt. M. Arnoldus
Masa 1970 – 1975 ditandai oleh pimpinan baru yang lebih muda dan berpengalaman di klasis dan jemaat yang bekerja dalam suasana yang lebih dinamis (pelita I dan pelita II) dengan hubungan oikumuneis yang lebih luas dan intensif.
Ketua Pdt. J.A. Adang STh dan sekretaris Pdt. A.L. Nitti STh.
Tidak terdapat angka yang lengkap dan dapat dipercayai untuk tahun 1974 akan tetapi untuk 1953 jumlah anggota 253.501 dan untuk 1972 yaitu 517.779.

3.    Masa 1975 –Kini